Bangkit dari Ketertinggalan, PS Condongcatur Menang Dramatis atas PS Porab

Sleman — PS Condongcatur (PS CC) mengawali Kompetisi Seri A Askab PSSI Sleman 2026 dengan kemenangan 2-1 atas PS Porab di Lapangan Jangkang, Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Selasa (22/9/2026) sore. Sempat tertinggal melalui tendangan penalti, PS CC mampu membalikkan keadaan dan memastikan kemenangan melalui gol pada menit-menit akhir pertandingan.

Dua gol PS Condongcatur masing-masing dicetak Sakha dan Rikie. Kemenangan tersebut menjadi modal positif bagi tim asuhan Fajar Subekti untuk menghadapi pertandingan berikutnya.

Pertandingan berlangsung ketat sejak awal. Kedua tim tampil dengan kekuatan yang relatif berimbang dan saling menciptakan peluang. Namun, hingga babak pertama berakhir, tidak ada gol yang tercipta sehingga skor tetap 0-0.

Memasuki babak kedua, PS Porab membuka keunggulan melalui tendangan penalti setelah penjaga gawang PS Condongcatur, Agung Prasetyo, dinilai melakukan pelanggaran di area pertahanan. Tertinggal 0-1, PS CC meningkatkan tekanan dan berhasil mencetak gol penyeimbang.

Kedudukan 1-1 membuat pertandingan semakin terbuka. Kedua tim terus berupaya mencetak gol tambahan. PS Condongcatur akhirnya mampu memanfaatkan peluang pada menit-menit akhir untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1. Skor tersebut bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Usai pertandingan, para pemain dan ofisial PS Condongcatur mengikuti evaluasi bersama tim pelatih. Fajar Subekti menyampaikan bahwa kemenangan tersebut masih menyisakan sejumlah catatan yang perlu dibenahi, terutama terkait kondisi fisik pemain serta komunikasi dan koordinasi antarlini.

Menurut Fajar, peningkatan koordinasi diperlukan agar skema permainan dapat dijalankan secara lebih efektif pada pertandingan selanjutnya.

“Evaluasi tersebut menjadi bagian dari persiapan tim untuk menjaga konsistensi penampilan sepanjang kompetisi,” ujarnya.

Manajer PS Condongcatur, Daris Wicaksono, bersama Ketua PS Condongcatur, Sahid Fahrudin, berharap para pemain dapat tampil lebih prima pada laga berikutnya. Peningkatan kualitas permainan diharapkan dapat mendukung tim untuk kembali meraih poin.

Sebagai persiapan menghadapi kompetisi, PS Condongcatur telah menjalani latihan rutin setiap Senin, Rabu, dan Jumat sore di Lapangan Ganjuran, Manukan, Condongcatur. Persiapan juga dilengkapi dengan sejumlah uji tanding, salah satunya kemenangan 2-1 atas Elite Pro Academy (EPA) U-18 PSS Sleman pada Jumat (18/9/2026).

Pertandingan PS Condongcatur melawan PS Porab menjadi bagian dari pembukaan Kompetisi Seri A Askab PSSI Sleman 2026 yang diresmikan Bupati Sleman Harda Kiswaya. Laga tersebut juga disiarkan secara langsung melalui YouTube sehingga masyarakat dan pendukung kedua tim dapat menyaksikan jalannya pertandingan tanpa harus datang langsung ke Lapangan Jangkang. (Wasana/KIM Depok)




Polsek Gamping Gandeng Yayasan Panti Asuhan Al-Idris Optimalkan Lahan TKD untuk Budidaya Jagung

Sleman – Kepala Unit Binmas Kepolisian Sektor (Polsek) Gamping, Iptu Mamik Susanti bersama Bhabinkamtibmas Nogotirto, Aiptu Eko Yuliamto melakukan pengecekan perkembangan tanaman jagung di Bulak Bendo Kwarasan, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (22/9/2026), sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Hasil pemantauan menunjukkan tanaman jagung tumbuh subur dan diperkirakan memasuki masa panen sekitar satu bulan mendatang. Pengecekan dilakukan untuk memastikan perkembangan tanaman sekaligus memantau pengelolaan lahan produktif yang dimanfaatkan untuk budidaya pangan.

Lahan tersebut merupakan Tanah Kas Desa (TKD) Kalurahan Nogotirto yang sebelumnya belum dikelola secara optimal. Saat ini, lahan dimanfaatkan untuk budidaya jagung yang dikelola Yayasan Panti Asuhan dan Dhuafa Al-Idris yang terletak di dusun Jangkang.

Menurut Iptu Mamik Susanti, sinergi antara Polsek Gamping dengan Yayasan Al-Idris tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan lahan yang tersedia untuk kegiatan budidaya tanaman jagung sesuai dengan potensi lingkungan setempat. Langkah ini diharapkan menghasilkan manfaat langsung bagi yayasan Al-Idris sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya lokal.

“Kami membangun komunikasi serta pendampingan bersama pihak yayasan agar pemanfaatan lahan dapat dilakukan secara produktif dan berkelanjutan,” ujarnya,

Pengelolaan lahan produktif diarahkan sebagai sarana pemberdayaan, dengan melibatkan lingkungan yayasan dan masyarakat sekitar dalam kegiatan yang berkaitan dengan budidaya tanaman jagung serta pemanfaatan hasil panennya.

Ramli Idris selaku pengurus yayasan melihat budidaya jagung ini bukan hanya sebagai kegiatan pertanian, melainkan sebagai bagian dari proses pemberdayaan. Anak-anak di lingkungan yayasan dapat belajar mengenal proses bercocok tanam, merawat tanaman, menjaga lingkungan, serta memahami pentingnya kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan.

“Kami berharap sinergi dengan Polsek Gamping dapat terus berjalan. Pendampingan dan komunikasi yang baik menjadi dorongan bagi kami untuk mengembangkan lahan ini secara lebih optimal dan berkelanjutan,” kata Ramli Idris bersemangat.

Sementara itu, Aiptu Eko Yulianto mengatakan bahwa kolaborasi ini membuka peluang pengembangan kegiatan produktif yang memiliki nilai sosial dan ekonomi. Hasil pengelolaan lahan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan internal maupun dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan potensi dan kapasitas yang tersedia.

Keterlibatan Eko Yulianto dengan masyarakat, selain menjaga komunikasi terkait keamanan dan ketertiban masyarakat, ia turut mendorong kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi warga.

“Pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat wilayah. Karena itu, kolaborasi antara kepolisian, yayasan, dan masyarakat diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kegiatan yang terukur dan berkelanjutan,” tandas Eko Yulianto.

Sinergi kepolisian dengan Yayasan Panti Asuhan dan Dhuafa Al-Idris diharapkan tidak hanya mengoptimalkan lahan yang tersedia, namun juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam menciptakan kemandirian pangan dan pemberdayaan berbasis potensi lokal di wilayah Nogotirto. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Perkamuda DIY Jenjang Aliyah 2026 Semai Karakter dan Kemandirian Murid Madrasah

Sleman — Sebanyak 456 murid dari 34 Madrasah Aliyah (MA) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti Perkemahan Pramuka Murid Madrasah Daerah Istimewa Yogyakarta (Perkamuda DIY) Jenjang Aliyah Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna Babarsari, Depok, Sleman, pada (21–24/9/2026).

Perkamuda diselenggarakan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama DIY bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY. Kegiatan ini menjadi ruang bagi murid madrasah untuk mengembangkan kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian terhadap sesama melalui pengalaman di alam terbuka.

“Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman kepramukaan, tetapi juga melatih kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian terhadap sesama,” ujar Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, saat membuka kegiatan, Senin (21/9/2026).

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong, pelepasan merpati, serta penyematan tanda peserta kepada perwakilan peserta putra dan putri. Ahmad Bahiej didampingi Kabid Pendidikan Madrasah Sidik Pramono serta Kabid Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Anita Isdarmini.

Perkamuda 2026 diikuti 57 sangga yang terdiri atas 28 sangga putra dengan 224 peserta dan 29 sangga putri dengan 232 peserta. Kegiatan mengusung tema “Perkamuda DIY Jenjang Aliyah Istimewa dengan KBC”. Istimewa merupakan akronim dari Berintegritas, Sportif, Tangguh, Inovatif, Mandiri, Empati, dan berWawasan, sedangkan KBC merujuk pada Kurikulum Berbasis Cinta.

Selama perkemahan, peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan menantang yang mendorong pengembangan potensi diri sekaligus penerapan nilai-nilai kepramukaan. Selain itu, kegiatan menjadi sarana mempererat persaudaraan antarmadrasah melalui interaksi, kerja kelompok, pertukaran pengalaman, dan pembelajaran menghargai perbedaan.

Melalui Perkamuda DIY 2026, nilai-nilai yang diperoleh selama perkemahan diharapkan dapat diterapkan peserta dalam kehidupan sehari-hari, baik di madrasah maupun di lingkungan masyarakat.

(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




SASUKE BAKU SPS Asparagus Kentungan Hidupkan Kembali Manfaat Buku

Sleman — Buku-buku yang sudah tidak digunakan keluarga tidak harus berakhir tersimpan di lemari. Di SPS Asparagus Kentungan, buku layak baca kembali dimanfaatkan melalui SASUKE BAKU (Saya Suka Membaca Buku), gerakan literasi yang menumbuhkan minat baca sekaligus mengenalkan nilai karakter dan kebinekaan sejak usia dini.

Dukungan terhadap gerakan tersebut datang dari masyarakat. Kelompok PKK RT 02 RW 47 menyerahkan donasi buku kepada SPS Asparagus Kentungan, Jalan Kaliurang Km 6,5, Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman, Selasa (22/9/2026).

Kepala SPS Asparagus Kentungan, Reni Lestari mengatakan SASUKE BAKU dikembangkan untuk membangun budaya literasi yang dekat dengan kehidupan anak. Melalui buku, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar mengenal keberagaman, toleransi, empati, gotong royong, dan budaya Indonesia.

“Kami ingin anak-anak mencintai buku sejak usia dini melalui pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna. Dari buku, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar memahami keberagaman, menghargai orang lain, dan mengenal budaya Indonesia,” kata Reni.

SASUKE BAKU dilaksanakan melalui berbagai aktivitas, seperti membaca nyaring, bercerita, bermain peran, pojok baca kelas, peminjaman buku ke rumah, mendongeng, kunjungan perpustakaan, hingga literasi berbasis proyek. Anak juga didorong untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan menceritakan kembali isi bacaan.

Kebiasaan membaca kemudian dilanjutkan di rumah. Orang tua diajak membacakan buku kepada anak menjelang tidur, baik menggunakan koleksi keluarga maupun buku yang dipinjam dari sekolah. Selain menumbuhkan minat baca, kegiatan tersebut menjadi ruang interaksi antara anak dan orang tua.

Muatan kebinekaan menjadi salah satu bagian penting dalam program ini. Anak dikenalkan dengan cerita rakyat Nusantara, kisah keteladanan, buku bergambar, dan ensiklopedia anak yang menggambarkan keberagaman agama, budaya, bahasa, suku, serta kehidupan masyarakat Indonesia.

Program tersebut juga diintegrasikan dengan pembiasaan positif dan kegiatan kokurikuler untuk mendukung 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, antara lain gemar belajar, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, bermasyarakat, serta tidur cepat.

Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan SASUKE BAKU. Masyarakat dapat menyumbangkan buku baru maupun buku bekas yang masih layak baca dan sesuai untuk anak.

Salah seorang warga RT 02 RW 47, Nur Kartikasasi mengatakan program tersebut memberikan ruang bagi keluarga untuk kembali memanfaatkan buku yang sudah tidak digunakan.

“Dengan program SASUKE BAKU jadi ada tempat untuk menampung buku-buku yang dulu pernah dibaca anak-anakku. Kemarin-kemarin mau dibuang sayang, karena juga ada nilainya di sana, ada pengalaman yang bisa ditularkan,” tutur Nur.

Ia berharap gerakan tersebut terus berkembang dan semakin banyak masyarakat yang ikut berbagi.

“Harapannya program-program demikian selalu ada, agar menjadi jalan kebaikan yang menginspirasi banyak orang lain,” lanjutnya.

Melalui SASUKE BAKU, SPS Asparagus Kentungan berupaya membangun budaya literasi yang tidak berhenti di sekolah. Keluarga dan masyarakat turut menjadi bagian dalam menghadirkan bahan bacaan sekaligus mendampingi anak belajar mengenal pengetahuan, karakter, dan keberagaman.

(Wasana/KIM Depok)




Dari Bantuan Menuju Kemandirian, KPM PKH Mlati Berani Naik Kelas

Sleman — Program Keluarga Harapan (PKH) Kapanewon Mlati terus mendorong Keluarga Penerima Manfaat (KPM) meningkatkan kondisi sosial ekonomi hingga mampu mandiri dan mengakhiri kepesertaan PKH. Hal tersebut menjadi bagian dari kegiatan Apresiasi Graduasi KPM PKH Kapanewon Mlati Tahun 2026 dengan tema “Dari Bantuan Menuju Kemandirian”.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (22/9/2026), di Pendopo Kapanewon Mlati  tersebut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman Wildan Solichin, Panewu Mlati Dyah Purwanti, jajaran Forkopimkap Mlati, para lurah, pendamping sosial PKH, serta penerima manfaat.

Program PKH di Kapanewon Mlati mencakup lima kalurahan, yakni Sendangadi, Sinduadi, Tlogoadi, Tirtoadi, dan Sumberadi. Pada tahap III 2026, tercatat KPM menerima bantuan PKH yang didampingi 12 Pendamping Sosial PKH.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga diarahkan pada peningkatan kapasitas keluarga melalui edukasi, pembinaan ekonomi, dan pemberdayaan. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dan Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE).

Pada 2026, target graduasi meningkat dari 10 menjadi 24 KPM per pendamping per tahun. Dengan 12 pendamping, target graduasi di Kapanewon Mlati mencapai 288 KPM. Hingga kegiatan berlangsung, tercatat 222 KPM telah graduasi, sementara lebih dari 184 KPM lainnya masih dalam proses graduasi sesuai tahapan program.

Panewu Mlati, Dyah Purwanti, mengapresiasi KPM yang telah berani mengambil langkah menuju kemandirian.

“Ini merupakan sebuah keberhasilan. Kami mengapresiasi 50 KPM yang hadir pada kesempatan ini, serta seluruh KPM yang telah graduasi di Kapanewon Mlati,” ungkapnya.

Sementara itu, Pendamping PKH dari Kalurahan Tlogoadi, Suryantoro mengatakan peningkatan target graduasi menjadi dorongan bagi pendamping untuk memperkuat pendampingan.

“Walaupun tahun ini targetnya naik dari 10 menjadi 24 KPM, kami tetap semangat. Justru kami berusaha lebih maksimal dalam melakukan pendampingan,” ujarnya.

Salah satu penerima manfaat yang memilih graduasi adalah Giyati, warga Sumberadi, Mlati. Ia menjadi KPM PKH sejak 2018 hingga 2026. Saat pertama menerima bantuan, keterbatasan ekonomi membuat biaya pendidikan anak menjadi salah satu tantangan bagi keluarganya.

“Saya sering berpikir, bagaimana anak-anak saya bisa terus sekolah? Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan pendidikan mereka dengan kondisi ekonomi keluarga seperti ini?” tuturnya.

Selama menerima PKH, Giyati merasakan bantuan tersebut membantu keluarganya memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Seiring waktu, kondisi keluarganya membaik. Salah satu anaknya telah lulus SMK dan bekerja.

Kondisi tersebut membuat Giyati mantap mengakhiri kepesertaan PKH dan melanjutkan kehidupan secara mandiri. Baginya, graduasi menjadi penanda bahwa dukungan yang diterima selama ini telah menjadi bagian dari perjalanan keluarganya menuju kemandirian.

(Y. Edy Setyoharjo/KIM Pijar Mlati)