Sidoagung Olah Hasil Ikan Menjadi Produk Bernilai Tambah

Sleman — Warga Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, mulai mengulur potensi perikanan lokal dengan mengolah hasil panen menjadi aneka produk olahan bernilai jual tinggi. Inovasi ini digerakkan melalui pendampingan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UMKF KSI MIST Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Melalui pelatihan tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sidoagung yang sebelumnya sekadar mengolah ikan secara sederhana seperti digoreng, kini berinovasi membuat dimsum, galantin, kecap ikan, hingga kerupuk ikan dari komoditas lele, nila, dan bawal. Hasil olahan kreatif ini resmi diperkenalkan kepada publik dalam ajang Pasar Triwulan pada Sabtu (19/09/2026). Tim mahasiswa mendampingi proses secara menyeluruh, mulai dari teknik pengolahan, diversifikasi produk, legalitas usaha, hingga strategi pemasaran.

Perwakilan KWT Sidoagung, Niken, menyambut positif pembelajaran inovatif yang diberikan oleh para mahasiswa.

“Tentunya sangat senang, yang sebelumnya belum tahu masalah inovasi ikan jadi mengerti. Tidak harus mengolah dengan cara yang biasa, ikan bisa diolah menjadi berbagai macam produk,” ungkap Niken.

Niken menilai pendampingan ini membuka wawasan warga bahwa hasil perikanan yang semula hanya untuk konsumsi harian keluarga memiliki nilai ekonomi lebih bila diolah secara konsisten.

Apresiasi senada disampaikan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Sidoagung, Rut Wahyuni.

“Saya senang sekali PPK Ormawa memperkenalkan budaya, makanan, dan UMKM. Ini kegiatan positif untuk memperkenalkan hasil karya ibu-ibu,” ujar Rut Wahyuni.

Rut berharap program pendampingan dari civitas akademika UNY ini terus berlanjut secara berkesinambungan, sehingga warga Sidoagung memiliki keterampilan yang matang untuk memproduksi dan memasarkan olahan perikanan secara mandiri. (Athiful / KIM Depok)




UNY Kembangkan SEGARA Raya untuk Perkuat Potensi Masyarakat Sidoagung

Sleman — Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan Program SEGARA Raya guna memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal di Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Sabtu (19/9/2026).

Program SEGARA Raya diinisiasi oleh Kelompok Studi Ilmiah Matematika dan Sains Terapan (KSI MIST) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Inisiatif ini dirancang untuk mengatasi tantangan pemasaran hasil panen budidaya ikan serta memperkuat koordinasi antarkelompok pembudidaya.

Rektor UNY Sumaryanto menegaskan pentingnya pengawalan terhadap program pemberdayaan mahasiswa agar mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.

“Keberhasilan memperoleh program bukan menjadi akhir, tetapi harus diikuti dengan upaya memastikan keberlanjutan dan dampaknya bagi masyarakat agar kegiatan ini berdampak,” tegas Sumaryanto.

Sumaryanto menambahkan, UNY berkomitmen memberikan dukungan penuh melalui koordinasi dan pendampingan dari tingkat fakultas hingga dosen agar inisiatif mahasiswa berkembang secara optimal.

Secara teknis, Program SEGARA Raya mengintegrasikan sektor budidaya ikan, penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Salah satu pilar utamanya adalah penyelenggaraan Pasar Triwulan sebagai wadah promosi dan pemasaran produk-produk lokal karya warga.

Bupati Sleman Harda Kiswaya mengapresiasi kontribusi akademis UNY di wilayah Sidoagung. Menurutnya, keberhasilan program bergantung pada sinergi lintas sektor.

“Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat jejaring ekonomi masyarakat Sidoagung sehingga pelaku UMKM dan jasa dapat berkembang, meningkatkan pendapatan, dan mendukung kesejahteraan masyarakat,” ujar Harda.

Melalui pendekatan terpadu ini, KSI MIST FMIPA UNY menghubungkan berbagai elemen masyarakat untuk bergerak bersama, mendorong efisiensi rantai pasok budidaya ikan, serta menggerakkan roda perekonomian berbasis komunitas di Kalurahan Sidoagung. (Athiful / KIM Depok)




KIM DSN Hadirkan Ice Breaking, Semangat Peserta ToT Thoriqoh Yanbu’a Kembali Terjaga

Sleman — Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) DSN Ngaglik menghadirkan suasana interaktif dalam Training of Trainer (ToT) Thoriqoh Yanbu’a di Pondok Pesantren Sulaimaniyah, Kabupaten Sleman, Minggu (20/9/2026). Sesi penyegaran (ice breaking) tersebut berhasil membangkitkan kembali semangat peserta di tengah padatnya materi pelatihan.

Pelatihan bertema “Tata Kelola TPQ, Madin, Lembaga Formal, dan Standardisasi Thoriqoh Yanbu’a” ini diselenggarakan oleh Lajnah Muroqobah Yanbu’a (LMY) Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelola dan pengajar TPQ, Madin, serta lembaga pendidikan formal dalam tata kelola dan standardisasi metode Thoriqoh Yanbu’a.

Di sela-sela agenda yang berlangsung sejak pagi, KIM DSN memberikan ice breaking yang dipimpin oleh Ajeng sebelum peserta memasuki sesi praktik micro teaching. Aktivitas interaktif tersebut efektif mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para peserta.

Salah seorang peserta, Yoga, mengapresiasi hadirnya sesi penyegaran di tengah jadwal yang padat.

“Sejak pagi kita sudah mulai pelatihan, materinya cukup padat. Namun di sela-sela kegiatan sebelum sesi praktik micro teaching ada ice breaking dari Mbak Ajeng. Alhamdulillah, membuat semangat maupun fokus kembali,” ujar Yoga.

Keterlibatan KIM DSN dalam agenda ini menegaskan peran Kelompok Informasi Masyarakat untuk hadir dan mendukung berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, khususnya menciptakan suasana belajar yang komunikatif dan interaktif.

Rangkaian ToT Thoriqoh Yanbu’a dipastikan berlanjut pada Minggu (27/9/2026) mendatang sebagai bagian dari penguatan kompetensi pengajar melalui pembelajaran lanjutan dan praktik micro teaching. (Egi Prayoga / KIM DSN NGAGLIK)




PKK Rejosari Gelar Pelatihan Es Coco Melon untuk Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga

Sleman — Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Padukuhan Rejosari menggelar pelatihan pembuatan Es Coco Melon di rumah Dukuh Rejosari, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Minggu (20/9/2026). Kegiatan ini memanfaatkan momentum puncak musim kemarau untuk mendorong peluang usaha baru bagi warga.

Pelatihan yang diikuti 30 peserta ini menghadirkan instruktur Yosi bersama tim. Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata pelaksanaan salah satu dari 10 Program Pokok PKK, yakni poin keenam di bidang pendidikan dan keterampilan, guna memperkuat peran perempuan dalam pembangunan sosial-ekonomi keluarga.

Ketua PKK Padukuhan Rejosari Umi Nasihah berharap para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk membuka usaha.

“Dengan pelatihan tersebut diharapkan anggota PKK mampu menangkap peluang usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Umi.

Dukuh Rejosari M. Dalis Kurniawan menyambut positif inisiatif pengurus PKK yang dinilainya jeli memanfaatkan peluang bisnis saat cuaca panas.

“Pelatihan usaha seperti ini sebaiknya sering dilakukan untuk pengembangan kemampuan diri anggota PKK. Dan sebaiknya bisa dipraktikkan sesuai kondisi masing-masing anggota,” kata Dalis.

Dalam sesi praktik, Yosi menjelaskan bahwa Es Coco Melon menggunakan bahan baku puding rasa melon dan kelapa muda, susu kental manis, susu evaporasi, sirup melon, biji selasih, nata de coco, dan es batu. Selain menyegarkan, minuman ini juga kaya serat dari agar-agar dan nata de coco yang baik untuk pencernaan, serta mengandung protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin dari susu.

“Perpaduan dari semua bahan menjadikan Es Coco Melon minuman segar dan menyehatkan, dengan catatan tidak dikonsumsi secara berlebihan,” jelas Yosi.

Salah seorang peserta yang juga pengurus PKK Padukuhan Rejosari, Fitri, mengaku terinspirasi untuk menambah variasi usahanya yang selama ini berfokus pada kerajinan buket hadiah.

“Bisa sebagai peluang usaha untuk menambah usaha buket yang sudah berjalan,” tutur Fitri usai pelatihan. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sardonoharjo Kembangkan Ekosistem Wellness Berbasis Masyarakat, Buka Peluang Kolaborasi Indonesia-Malaysia

Sleman — Pemerintah Kelurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan konsep Sardonoharjo Wellness Ecosystem untuk mengoptimalkan potensi desa berbasis masyarakat sekaligus mempererat hubungan Indonesia dan Malaysia. Gagasan tersebut mengemuka saat penerimaan kunjungan 20 delegasi asal Malaysia di SASJIWA, Dusun Mrisen, Sardonoharjo, Minggu (20/09/2026).

Acara tersebut dihadiri sekitar 30 peserta yang terdiri atas delegasi Malaysia serta sejumlah tokoh dan warga setempat. Selain mempererat keakraban sebagai negara serumpun, pertemuan ini menjadi sarana mengenalkan potensi Sardonoharjo di bidang pariwisata, budaya, lingkungan, kuliner, dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Lurah Sardonoharjo Harjuno Wiwoho menyatakan wilayahnya memiliki beragam potensi yang prospektif untuk dikembangkan bersama.

“Banyak potensi yang bisa digali di Sardonoharjo untuk mempererat hubungan sebagai saudara serumpun, terutama di sektor pariwisata, baik budaya maupun potensi alam,” ujar Harjuno Wiwoho.

Gagasan ini mendapat dukungan dari ekonom Prof. Gunawan Sumodiningrat. Menurutnya, sektor pariwisata terbukti mampu menggerakkan perekonomian masyarakat perdesaan dan daerah. Kerjasama promosi pariwisata lintas negara dipandang sebagai pintu masuk untuk memperluas jejaring sekaligus mengenalkan potensi lokal ke tingkat internasional.

Dukungan senada disampaikan oleh Subkoordinator Kelompok Subsubdinas Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Kus Indarto. Ia memaparkan keunggulan destinasi wisata Sleman mulai dari panorama alam, kekayaan budaya, hingga kuliner khas yang menjadi daya tarik wisatawan.

Dalam kesempatan itu, para delegasi Malaysia menerima cenderamata berupa produk kerajinan daur ulang sampah karya warga Sardonoharjo. Cenderamata ini menjadi pesan konkret bahwa pengembangan ekonomi lokal dapat berjalan bersisian dengan kepedulian lingkungan.

Sardonoharjo Wellness Ecosystem sendiri dirancang oleh SASJIWA bersama Badan Usaha Milik Kelurahan (BUMKal) Sardonoharjo. Konsep ini tidak sebatas pada layanan kesehatan atau kebugaran fisik, melainkan mengintegrasikan kesehatan mental, kelestarian lingkungan, pangan lokal, kebudayaan, pengetahuan tradisional, dan interaksi sosial masyarakat.

Melalui pendekatan ini, berbagai potensi lokal seperti racikan jamu, seni budaya, kuliner, hingga layanan hospitality terhubung dalam satu rantai ekonomi. Hal ini membuka peluang keterlibatan aktif bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), komunitas, pengelola wisata, serta kelompok seni budaya setempat.

SASJIWA dan BUMKal Sardonoharjo menekankan bahwa pengembangan ekosistem ini bukan sekadar menciptakan destinasi wisata baru, melainkan membangun model pembangunan kawasan yang berkelanjutan. Kunjungan delegasi Malaysia ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan jejaring wellness lintas negara.

Melalui konsistensi pendekatan berbasis masyarakat, Sardonoharjo berupaya menguatkan identitasnya sebagai kawasan ekosistem kehidupan berbasis kearifan lokal yang memberi manfaat nyata bagi warga, menjaga kelestarian lingkungan, serta membuka peluang ekonomi baru. (Andy Ahmad / KIM DSN NGAGLIK)