Purna Tugas Dukuh Pasekan Kidul, Momentum Perkuat Regenerasi dan Pelayanan Warga

Sleman – Pemerintah Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, mendorong proses regenerasi kepemimpinan di Padukuhan Pasekan Kidul dengan tetap menjamin kesinambungan pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam acara pelepasan purna tugas Dukuh Pasekan Kidul yang digelar di Aula Kalurahan Balecatur, Selasa (1/9/2026).

Lurah Balecatur, Andri Septiyanto, mengatakan bahwa pelepasan purna tugas tersebut tidak sekadar menjadi seremoni berakhirnya masa pengabdian seorang dukuh, tetapi juga menjadi momentum untuk memastikan roda pemerintahan di tingkat padukuhan tetap berjalan secara efektif.

Kehadiran Panewu Anom Gamping Kurnia Astuti, Komandan Koramil 17/Gamping Kapten Infanteri Bambang Subyantoro, pamong kalurahan, tokoh masyarakat, Bhabinkamtibmas, serta perwakilan lembaga kemasyarakatan menunjukkan bahwa keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat merupakan kepentingan bersama.

“Posisi dukuh memiliki peran strategis dalam tata kelola pemerintahan di tingkat yang paling dekat dengan masyarakat. Dukuh menjadi simpul pelayanan administrasi, komunikasi pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan, sekaligus fasilitator dalam berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah warga,” jelas Andri.

Menurutnya, berakhirnya masa tugas seorang dukuh perlu diikuti dengan proses transisi yang dikelola secara baik. Pemerintah kalurahan bersama unsur masyarakat perlu memastikan berbagai program yang telah berjalan tetap berlanjut, sementara kebutuhan pelayanan masyarakat dapat terus ditangani secara cepat dan responsif.

Andri menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan tidak seharusnya dimaknai sebatas pergantian figur. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan di tingkat padukuhan.

“Kepemimpinan berikutnya diharapkan mampu melanjutkan berbagai hal baik yang telah dibangun, sekaligus menghadirkan inovasi yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Balecatur, Aiptu Jauzan Arifin, yang hadir mewakili Kapolsek Gamping, mengatakan bahwa dukuh merupakan mitra penting kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Banyak persoalan di tengah masyarakat dapat diselesaikan melalui komunikasi, koordinasi, dan pendekatan yang baik antara pemerintah padukuhan, kepolisian, tokoh masyarakat, serta warga. Kerja sama seperti inilah yang perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan,” tandasnya.

Dari sisi keamanan dan ketertiban masyarakat, Aiptu Jauzan mengajak seluruh warga untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, menjaga kerukunan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi gangguan kamtibmas.

Menurutnya, keamanan dan ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah kalurahan, pemerintah padukuhan, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan warga perlu terus diperkuat demi menciptakan lingkungan yang aman, kondusif, dan harmonis. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Jiwa, Pemda DIY Resmikan Tiga Gedung Baru di RSJ Grhasia

Sleman — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, meresmikan tiga gedung pelayanan baru di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia DIY yang berlokasi di Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, pada Selasa (01/09/2026). Tiga fasilitas baru yang diresmikan meliputi Gedung Psikiatri Terpadu Madukara, Pusat Rehabilitasi Medik Mandalawangi, serta Gedung Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Arogya Gathi.

Peresmian fasilitas kesehatan bernilai total Rp34,05 miliar yang bersumber dari Dana Keistimewaan APBD DIY tersebut ditandai secara simbolis melalui penarikan rangkaian melati dan penandatanganan prasasti. Pembangunan sarana baru ini merupakan bagian dari Masterplan Transformasi Pelayanan Kesehatan RSJ Grhasia 2022–2042 untuk merespons kebutuhan layanan psikiatri subspesialis, pelayanan non-psikiatri pendukung, hingga mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi di wilayah utara Sleman.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa kemegahan bangunan dan kecanggihan teknologi medis di RSJ Grhasia harus senantiasa diimbangi dengan sentuhan kemanusiaan serta upaya bersama dalam mengikis stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa.

“Kemajuan pelayanan kesehatan tidak pernah dapat diukur hanya dari bertambahnya bangunan dan peralatan. Infrastruktur memperoleh maknanya ketika menghadirkan pelayanan yang lebih baik bagi sesama manusia,” tegas Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang hadir langsung dalam agenda peresmian tersebut. Pihaknya menilai keberadaan fasilitas modern dan inklusif ini memberikan dampak langsung bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan warga Sleman.

“Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Sleman mengucapkan terima kasih atas perhatian besar Bapak Gubernur dan Pemda DIY. Keberadaan fasilitas penunjang yang modern dan humanis di RSJ Grhasia ini tidak hanya meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat Sleman, tetapi juga dapat memberikan pelayanan kesehatan terpadu dan mitigasi yang sangat diandalkan di wilayah utara,” ujar Harda Kiswaya.

Melalui pengoperasian tiga gedung baru ini, Pemda DIY dan Pemkab Sleman berharap proses penanganan, pemulihan, hingga reintegrasi sosial bagi pasien gangguan kesehatan jiwa dapat berjalan semakin optimal dan bermartabat.




Satu-satunya di Indonesia, Kerajinan Gelang Kayu Wingit Kombinasi Neton Diluncurkan di Sleman

Sleman — Gelaran pelayanan publik Selasa Melayani Semua Mudah dan Terpadu (Semanis Madu) di Kompleks Kantor Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menyajikan inovasi produk lokal unik pada Selasa (01/09/2026). Dalam kesempatan tersebut, pengrajin lokal memperkenalkan produk gelang, kalung rosario, dan tasbih dari bahan kayu wingit yang dirangkai secara khusus berdasarkan kombinasi neton atau weton kelahiran pemiliknya.

Produk eksklusif buatan Thomas Tejo Kusumo melalui brand Tejo Akik Kayu Wingit ini diklaim menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bahan dasar yang digunakan memanfaatkan keindahan berbagai jenis kayu bertuah nusantara seperti stigi, tesek, galih asem jawa, cendana, timoho, galih secang brahma, galih kelor, luwung lawu, kemuning, hingga kayu ulin.

Pengrajin Tejo Akik Kayu Wingit, Thomas Tejo Kusumo, menjelaskan bahwa setiap hasil karyanya dibuat secara khusus (custom) sesuai dengan hitungan hari lahir pembeli, sehingga setiap pemesan akan menerima kombinasi butiran kayu yang berbeda satu sama lain.

“Jadi setiap produk akan memiliki perbedaan dengan pemilik lainnya. Karena pembuatan rangkaian jenis kayu butiran manik akan berbeda tergantung kombinasi netonnya. Barang dibuat sesuai pesanan pelanggan, jadi tidak ada stok,” ujar Thomas Tejo Kusumo di sela-sela acara pelayanan Semanis Madu.

Ia juga menegaskan bahwa karya aksesorisnya murni mengedepankan estetika serta filosofi mawas diri, tanpa ada unsur mistis maupun jimat. Penyesuaian hitungan neton difungsikan sebagai pengingat jati diri bagi penggunanya agar senantiasa mengevaluasi sifat pribadi dan berkomitmen menjadi manusia yang lebih baik.

“Meski produk tersebut dibuat menggunakan kayu wingit, tidak ada khodam ataupun menjadi jimat, karena jimat terhebat terletak pada hari masing-masing manusia. Produk gelang, kalung, dan tasbih kombinasi neton ini bisa dipakai siapapun tanpa ada pantangan, tidak memandang status sosial, agama, ataupun golongan,” lanjutnya.

Adapun harga yang ditawarkan untuk produk olahan kayu bertuah bernilai seni ini cukup terjangkau, yaitu mulai dari untuk gelang, untuk kalung rosario, dan untuk tasbih. Kehadiran inovasi kerajinan berbasis kearifan lokal ini diharapkan dapat memperkaya variasi produk ekonomi kreatif unggulan di Kabupaten Sleman. (Kusnadi/KIM Berbah)




PMI DIY Kirim Tim Layanan Kesehatan ke Lokasi Bencana Gempa Bumi di NTT

Sleman — Ketua Palang Merah Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PMI DIY), Prabukusumo, melepas Tim Pelayanan Kesehatan Dasar Darurat (PKDD) untuk merespons tanggap darurat bencana gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara pelepasan berlangsung di Markas PMI DIY, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Senin (31/08/2026).

Tim yang diterjunkan terdiri dari enam personel, meliputi satu dokter yaitu Matahari Bunga Permata Hati, dua perawat yakni Aditia Pratama dan Murtiani, satu personel dukungan psikososial Henrikus Ega Bagastama, satu personel promosi kesehatan Indana Laazulva, serta koordinator lapangan Randy Satrio Pratama. Tim diberangkatkan melalui jalur udara pada Selasa (01/09/2026) untuk bergabung dengan satu personel dukungan psikososial, Wahyu Nurwasi Rofiah Sakti, yang telah bertugas di lokasi sejak 27 Agustus 2026.

Selama dua minggu atau 15 hari di Kabupaten Manggarai, tim medis PMI DIY akan menjalankan layanan kesehatan keliling, penanganan psikososial dasar, dan promosi kesehatan. Rombongan juga membawa bantuan peralatan medis, 20 set kruk, serta pasokan obat-obatan sesuai kebutuhan lapangan.

Ketua PMI DIY, Prabukusumo, menginstruksikan para relawan untuk fokus memberikan pendampingan kepada kelompok rentan dan memegang teguh prinsip-prinsip dasar gerakan kemanusiaan selama bertugas.

“Kami ingin memastikan masyarakat terutama kelompok rentan seperti anak-anak, wanita, dan lansia mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan psikososial. Saya berharap tim yang berangkat menjaga diri, mengutamakan keselamatan, kekompakan, dan kebersamaan dengan relawan lain serta masyarakat. Menjalankan tugas kemanusiaan memang tidak mudah, tetap tersenyum memberikan pelayanan terbaik,” ujar Prabukusumo.

Prabukusumo mengutarakan bahwa hingga Senin (31/08/2026), donasi masyarakat yang terhimpun melalui PMI DIY untuk bencana NTT telah mencapai ,00. Pihaknya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat umum, pelanggan Apotek K-24, PMI Pusat, serta Pemerintah Daerah DIY atas dukungan yang diberikan.

“Kami menghaturkan terima kasih kepada masyarakat seluruh Indonesia yang menyalurkan bantuannya melalui PMI DIY. Kami berharap bantuan ini dapat membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak,” pungkasnya.

Guna memperluas jangkauan bantuan, PMI DIY terus membuka posko donasi penanggulangan bencana melalui rekening Bank Mandiri nomor atas nama Penanggulangan Bencana PMI Propinsi DIY dengan saluran konfirmasi melalui nomor 0813 126 4645. (Kusnadi/KIM Berbah)




Merti Dusun Karakan 2026: Pesta Budaya dan Wujud Syukur Warga Sidomoyo

Sleman — Ribuan warga Padukuhan Karakan 06, Kalurahan Sidomoyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, bergotong royong menyukseskan puncak tradisi Merti Dusun Karakan 2026 pada Minggu (30/08/2026). Mengusung tema Saguh Ora Mingkuh, Hambuko Mulyaning Projo, tradisi tahunan ini menjadi ruang kebersamaan lintas generasi untuk mengekspresikan rasa syukur sekaligus merawat warisan budaya lokal.

Puncak perhelatan budaya yang dimulai sejak pukul WIB tersebut dimeriahkan dengan kirab budaya mengelilingi wilayah padukuhan. Kirab menempuh rute mulai dari SPPG Sidomoyo menuju Jalan Forlantas, melintasi Jalan Sidomoyo, hingga berakhir di Jalan Karakan. Berbagai atraksi seni dan kreasi warga ditampilkan dalam pawai ini, seperti gunungan hasil bumi, pasukan bergada, kereta kuda, pertunjukan topeng ireng, ogoh-ogoh, tari jathilan, serta arak-arakan dari kelompok TPA dan sekolah setempat.

Ketua Panitia Merti Dusun Karakan, Risdianto, mengungkapkan bahwa kemeriahan dan kelancaran rangkaian acara dapat terwujud berkat kuatnya semangat kebersamaan di antara seluruh elemen masyarakat Karakan.

“Semangat nyengkuyung dan bahu-membahu menjadi kekuatan utama sehingga Merti Dusun tahun ini dapat dipersiapkan dengan lebih meriah. Persiapan ini melibatkan pemuda-pemudi Ormika, Kelompok Pemuda Minggu Wage, bapak-bapak Selasa Kliwon, ibu-ibu Dawis, serta Kepala Padukuhan Karakan 06 Liling Watiyasita,” ujar Risdianto di sela-sela kegiatan.

Rangkaian perayaan merti dusun tersebut sejatinya telah berlangsung maraton sejak Juli 2026. Berbagai kegiatan pendukung telah digelar untuk menyemarakkan suasana, mulai dari pemutaran film perjuangan, pementasan seni jathilan Kudho Budoyo, pertunjukan musik indie, perlombaan anak-anak, turnamen bola voli, jalan sehat, hingga pertunjukan wayang kulit bersama dalang Ki Yusuf Anshori.

Melalui penyelenggaraan Merti Dusun Karakan 2026, warga Sidomoyo berharap nilai-nilai kebudayaan dan tradisi luhur dapat terus dilestarikan demi mempererat tali silaturahmi serta memperkokoh ikatan sosial masyarakat di tengah perkembangan zaman. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)