Suling Naga di Masjid Baitul Jannah, Ustadz Kholisin Ajak Jamaah Bersedekah dengan Harta yang Dicintai

Sleman — Forum Kajian Subuh Keliling dan Pengajian Ngaglik Menjaga Akidah (Suling Naga) edisi ke-10 sukses digelar di Masjid Baitul Jannah, Padukuhan Kandangsari, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Minggu (30/08/2026). Kegiatan keagamaan yang memadukan kajian rutin Subuh ini mengajak puluhan jamaah untuk memperkuat ketakwaan serta menumbuhkan kesadaran bersedekah menggunakan harta yang paling dicintai.

Pesan spiritual tersebut disampaikan langsung oleh penceramah Ustaz Kholisin saat mengupas tafsir Surah Ali Imran ayat 92. Ia menegaskan bahwa kebajikan yang sempurna baru dapat dicapai tatkala seseorang bersedia menafkahkan sebagian harta yang paling bernilai baginya, yang dianjurkan untuk dimulai dari lingkup keluarga dan kerabat terdekat.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya,” tutur Ustadz Kholisin mengutip firman Allah SWT di hadapan para jamaah.

Dalam ceramahnya, Ustaz Kholisin juga menyampaikan pelajaran penting mengenai fikih pengurusan jenazah serta fase sakaratul maut. Ia mengimbau keluarga agar memperlakukan jenazah secara lembut dan tidak memaksakan kondisi fisik jasad jika sudah mengalami kekakuan. Selain itu, ia memaparkan kebiasaan pengajian di Masjid Baitul Jannah yang secara konsisten membagikan salinan materi kajian agar dapat dipelajari kembali oleh jamaah.

“Bersamaan dengan kegiatan Suling Naga pagi ini merupakan pertemuan rutin ke-74. Materi hadis yang dikaji telah mencapai hadis nomor 571. Apabila dalam kajian terdapat ayat Al-Qur’an, pembahasannya dilengkapi dengan Tafsir Jalalain dan disampaikan secara umum agar mudah dipahami jamaah,” jelasnya.

Salah seorang jamaah yang hadir, Ambiyah, menyambut positif rutinnya penyelenggaraan kajian Suling Naga tersebut. Pihaknya merasa mendapatkan bekal pengetahuan ilmu agama yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas ibadah sehari-hari.

“Setiap kajian kami dibagi materi fotokopi yang setengah selesai dikumpulkan lagi. Kajian seperti ini dapat memberikan tambahan pengetahuan keagamaan sekaligus menjadi pengingat untuk terus memperbaiki amal saleh,” ujar Ambiyah.

Melalui penyelenggaraan program Suling Naga secara bergilir ini, masyarakat Kapanewon Ngaglik diharapkan dapat terus mempererat tali silaturahmi antarjamaah masjid sekaligus memperkokoh pemahaman akidah Islam di wilayah setempat. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Jathilan Plonogati Reborn Teguhkan Eksistensi Seni Tradisi di Pasekan Kidul

Sleman — Kesenian tradisional Jathilan Plonogati Reborn membuktikan daya tariknya yang masih mengakar kuat di masyarakat. Kelompok seni lokal ini tampil memukau dalam puncak acara perpisahan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 46 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sekaligus peringatan purna tugas Dukuh Pasekan Kidul yang digelar di Padukuhan Pasekan Kidul, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (30/08/2026).

Pementasan yang dipusatkan di halaman kediaman mantan Dukuh Pasekan Kidul, Agus Munarna, tersebut dihadiri oleh ratusan warga dari berbagai penjuru wilayah. Tidak sekadar menyajikan tontonan hiburan, gelaran ini diposisikan sebagai momentum penting untuk merekatkan ruang silaturahmi warga, sekaligus meneguhkan keberlanjutan ekspresi seni budaya lokal di tengah gempuran modernisasi.

Pengurus KIM Pararta Guna Gamping sekaligus Ketua Karang Taruna Balecatur, Bangkit Candra Prayoga, menekankan bahwa ekosistem pelestarian budaya membutuhkan ruang tampil konsisten serta keterlibatan aktif generasi muda.

“Interaksi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab kelompok kesenian atau pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan berbagai elemen masyarakat agar seni tradisi tetap memiliki ekosistem untuk tumbuh,” ujar Bangkit Candra Prayoga di sela-sela pementasan.

Ia menambahkan, kehadiran kelompok kesenian seperti Jathilan Plonogati Reborn menjadi krusial dalam menghadapi tantangan regenerasi pelaku seni. Generasi muda perlu terus diberikan wadah agar kesenian tidak berstatus sebagai peninggalan masa lalu belaka.

“Keberadaan kelompok seperti Jathilan Plonogati Reborn menjadi penting di tengah tantangan regenerasi kesenian tradisional. Anak muda perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, dan terlibat dalam kesenian lokal sehingga jathilan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus berkembang sebagai ekspresi budaya masyarakat masa kini,” tegas Candra.

Melalui sinergi acara perpisahan pengabdian akademis dan penghormatan purna tugas pamong desa ini, pementasan Jathilan Plonogati Reborn sukses menyampaikan pesan bahwa warisan seni tradisional akan terus hidup dan lestari selama masyarakat memberi ruang serta dukungan yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




RS UAD Perkuat Layanan Preventif Kesehatan Warga Sleman

Sleman — Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (RS UAD) terus berkomitmen memperluas akses pelayanan preventif dengan menyelenggarakan pemeriksaan medis dan konsultasi kesehatan masyarakat di Balai RW Kolombo, Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Minggu (30/08/2026).

Kegiatan bakti kesehatan ini memfasilitasi warga setempat dengan berbagai layanan gratis, antara lain pemeriksaan kadar asam urat, konsultasi medis umum, hingga konsultasi khusus mengenai pemantauan tumbuh kembang balita. Program ini dirancang untuk mendorong warga agar lebih peka terhadap kondisi tubuh serta mampu mendeteksi potensi penyakit sejak dini.

Kepala Bidang Humas, Pemasaran, dan Medikolegal RS UAD, Tata Swastika Ayuningtyas, menegaskan bahwa pemeriksaan secara berkala sangat krusial untuk mencegah faktor risiko kesehatan berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.

“Pemeriksaan sederhana dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi tubuh. Masyarakat juga dapat berkonsultasi agar memahami langkah yang perlu dilakukan sesuai hasil pemeriksaan. Kesehatan keluarga perlu dijaga sejak dini. Orang tua perlu memantau tumbuh kembang anak, sementara anggota keluarga lainnya juga sebaiknya rutin memeriksa kondisi kesehatan masing-masing,” ujar Tata Swastika Ayuningtyas di sela-sela kegiatan.

Tata menambahkan bahwa kesadaran warga dalam memanfaatkan fasilitas pemeriksaan dini menjadi fondasi utama bagi penguatan upaya promotif dan preventif di wilayah Kabupaten Sleman.

“Harapannya, masyarakat tidak menunggu sakit untuk memeriksakan diri. Kebiasaan melakukan pemeriksaan dan konsultasi sejak awal akan membantu menjaga kualitas kesehatan keluarga,” pungkasnya.

Melalui hadirnya layanan medis preventif langsung di tengah lingkungan warga ini, RS UAD berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat akan gaya hidup sehat sekaligus mendukung peningkatan derajat kesehatan keluarga di Kabupaten Sleman secara konsisten. (Athiful/KIM Depok)




Dukung Sleman Tuntas Sampah, Pemuda Singosutan Perkuat Gerakan Warga

Sleman — Pemuda RW 42 Singosutan, Padukuhan Sembego, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menguatkan komitmen pengelolaan sampah berbasis kemasyarakatan melalui gerakan sedekah sampah. Aksi nyata yang dimotori generasi muda ini digelar pada Minggu (30/08/2026) sebagai langkah konkret mendukung program strategis Sleman Tuntas Sampah.

Gerakan ini berfokus pada pengumpulan serta pemilahan sampah anorganik yang berasal dari setiap rumah tangga di wilayah RW 42 Singosutan. Kelompok pemuda kemudian memilah dan mengelola kembali barang bekas tersebut agar memiliki nilai guna serta nilai ekonomi sirkular sebelum disalurkan ke rantai daur ulang.

Pengelola Sedekah Sampah Singosutan, Muhammad Rafly Nur Ridwan, menegaskan pentingnya keberanian generasi muda dalam mengambil inisiatif penanganan masalah sampah dari tingkat paling lokal.

“Anak muda di Kabupaten Sleman harus berani mengambil peran dalam mengatasi persoalan sampah. Langkahnya bisa dimulai dari lingkungan sendiri melalui aksi yang sederhana, konsisten, dan melibatkan warga. Pemilahan dari rumah menjadi kunci. Ketika warga sudah terbiasa memisahkan sampah, proses pengelolaan berikutnya akan lebih mudah dan jumlah sampah yang terbuang juga dapat ditekan,” ujar Muhammad Rafly Nur Ridwan di sela-sela kegiatan.

Ia menambahkan, gerakan sedekah sampah ini didesain tidak sekadar untuk mengumpulkan limbah rumah tangga, melainkan sebagai wadah edukasi agar budaya memilah sampah dari sumbernya menjadi kebiasaan baru di tengah masyarakat.

“Gerakan ini kami arahkan agar warga tidak hanya menyerahkan sampah, tetapi juga memahami pentingnya memilah dan mengelolanya sejak sumber. Kesadaran seperti ini yang perlu terus diperkuat. Kalau setiap wilayah bergerak dari lingkungannya masing-masing, upaya pengelolaan sampah akan semakin kuat. Kami ingin pemuda ikut menjadi penggerak agar perubahan itu tumbuh dari warga sendiri,” tegasnya.

Melalui konsistensi gerakan Sedekah Sampah Singosutan ini, para pemuda Maguwoharjo berharap kesadaran lingkungan warga semakin meningkat sekaligus mampu menekan volume residu sampah di Kabupaten Sleman secara berkelanjutan. (Athiful/KIM Depok)




Warga Pasekan Kidul Lepas Mahasiswa KKN UNISA Kelompok 46

Sleman — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 46 Angkatan 2026 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta resmi berpamitan kepada warga Padukuhan Pasekan Kidul, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (30/08/2026). Perpisahan yang digelar di kediaman Dukuh Pasekan Kidul tersebut menandai berakhirnya masa pengabdian masyarakat yang telah berlangsung selama sebulan penuh.

Acara pelepasan dihadiri langsung oleh Lurah Balecatur Andri Septiyanto, Jagabaya Balecatur Susanto, Kepala Padukuhan Pasekan Kidul Agus Munarna, serta jajaran ketua RT dan RW setempat. Selama satu bulan, sebanyak sepuluh mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja akademis, melainkan juga aktif berbaur dalam kehidupan sosial kemasyarakatan warga.

Dukuh Pasekan Kidul, Agus Munarna, mengapresiasi kontribusi dan partisipasi aktif para mahasiswa yang dinilai telah memberikan dampak positif bagi keharmonisan serta dinamika warga di padukuhan.

“Kehadiran mahasiswa memberikan warna tersendiri bagi warga, terutama melalui berbagai kegiatan dan interaksi yang terjalin selama berada di padukuhan ini,” tutur Agus Munarna.

Pada kesempatan yang sama, Ketua KKN UNISA Kelompok 46, I Made Rinto Adi Darma Saputra, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas penerimaan hangat seluruh elemen masyarakat Balecatur. Ia menegaskan bahwa pengalaman terjun langsung di tengah warga menjadi sarana pembelajaran sosial yang sangat berharga bagi mahasiswa.

“Kegiatan KKN menjadi salah satu bentuk pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami persoalan dan potensi masyarakat di tingkat lokal. Dengan terlibat dalam kehidupan warga, kami mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh di kampus, sekaligus belajar mengenai gotong royong, komunikasi sosial, serta pentingnya membangun kolaborasi,” tandas I Made Rinto Adi Darma Saputra.

Melalui pelepasan KKN ini, Pemerintah Kalurahan Balecatur dan masyarakat Padukuhan Pasekan Kidul diharapkan dapat meneruskan berbagai inisiatif positif yang telah dirintis, sekaligus menjaga tali silaturahmi dan kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dengan masyarakat. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)