60 Persen Dispensasi Perkawinan Didominasi Siswi SMP

Sleman – Dari jumlah perkara dispensasi perkawinan di tahun 2015, sebanyak 60 persen didominas oleh siswi SMP. Hanya satu perkara saja dispensasi perkawinan yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Sleman, disebabkan oleh faktor ekonomi.

“Dispensasi perkawinan dikarenakan hamil diluar nikah di Sleman didominasi oleh siswi SMP. Selama 2015,  Pengadilan Agama  Sleman menangani 132 dispensasi perkawinan,” kata Humas PA Sleman Marwoto, Minggu (28/2).

“Trennya tiga tahun terakhir ini semakin meningkat. Kalu dulu dominasinya anak SMA, sekarang beralih ke SMP. Saya sendiri kurang memahami gejala apa yang terjadi di masyarakat,” jelas Marwoto Minggu (28/2).

Menurut Marwoto, dari perkara yang ditangani PA Sleman kehamilan anak-anak akibat dilakukan oleh teman sebayanya. Hanya segelintir kasus saja kehamilan diluar nikah akibat dari perbuatan orang yang lebih tua.

Dia menjelaskan kejadian hamil di luar nikah ini terjadi hampir di seluruh Kecamatan di Sleman. Bahkan, bila dilihat trennya, justru banyak terjadi di desa-desa.

“Ketika kami krosscek mereka melakukan hubungan diluar nikah tersebut justru di rumah sendiri, bukan di kost atau hotel,” jelasnya.

Selain itu, lemahnya pengawasan dari orangtua menjadi penyebab kehamilan di luar nikah. Ini akibat dari kedekatan antara orangtua dengan anak-anaknya yang renggang. Rata-rata kasus terjadi di keluarga yang orangtuanya sibuk. Orangtuanya seharian bekerja, jadi kontrolnya lemah.

Dengan kondisi yang ada tersebut lanjut Marwoto mengaku kadang dirinya sebagai hakim dibuat serba salah. Jika mengizinkan dinilai tidak baik, karena usianya masih anak-anak. Namun jika ditolak juga tidak baik lantaran masa depan anak yang dikandung.

Apalagi, sambungnya, seusia mereka masih belum bisa bekerja. Nah, pada masa-masa seperti ini, orangtua akan dimintai kesediaan mendampingi anak-anaknya yang memang belum saatnya menikah tersebut.

“Peran orangtua itu masuk dalam pertimbangan putusan kami bukan ke pokok perkara. Sebab mereka secara ekonomi belum mampu memenuhi nafkah,” tutur Marwoto.***

Print Friendly, PDF & Email

Related posts