Hadapi Transisi Musim, Masyarakat Diminta Waspadai Banjir dan Longsor

Sleman – Hujan yang mengguyur wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir menjadi penanda peralihan dari musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena Super El Niño. Meski membawa kelegaan setelah berbulan-bulan mengalami kondisi kering, awal musim hujan juga perlu diwaspadai karena berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

“Maka, kedatangan musim hujan menjadi berkah tersendiri dalam upaya pemadaman kebakaran hutan,” ungkap dosen Ilmu Tanah UPN Veteran Yogyakarta sekaligus penggiat dan Yuri Proklim, Muhamad Kundarto saat kunjungan Kampung Iklim di Jogotirto, Berbah, Sleman, Rabu (28/10/2026).

Kundarto menjelaskan, hujan lebat di satu sisi mampu menurunkan jumlah titik api secara drastis dan membantu membasahi kembali lahan gambut yang mengalami kekeringan di bagian permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan permukaan air hingga lebih dari 40 sentimeter.

Selain itu, hujan juga dapat membantu membersihkan udara dari debu yang sebelumnya berkontribusi terhadap peningkatan gangguan kesehatan saluran pernapasan. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan serta pengurangan dampak kesehatan akibat kemarau panjang.

Namun, di sisi lain, awal musim hujan menjadi pengingat akan meningkatnya potensi bencana seiring menuju puncak musim hujan pada Desember hingga Februari. Pada periode tersebut, intensitas curah hujan diperkirakan semakin tinggi.

Kundarto menerangkan, ketika hujan mulai turun di lahan yang sebelumnya kering, air akan meresap ke dalam tanah. Seiring meningkatnya kejenuhan tanah, aliran permukaan mulai terbentuk dan semakin kuat ketika intensitas hujan meningkat.

Aliran permukaan tersebut dapat mengikis dan mengangkut butiran tanah sehingga memicu erosi. Ketika tekanan air semakin besar dan daya ikat tanah berkurang akibat kerusakan vegetasi, risiko terjadinya tanah longsor pun meningkat.

Aliran permukaan selanjutnya akan menuju badan sungai terdekat. Akumulasi aliran air dari kawasan hulu dapat meningkatkan risiko banjir bandang, terutama di titik-titik pertemuan aliran yang mengalami hambatan alam. Sementara itu, peningkatan debit air sungai juga dapat memicu banjir di kawasan hilir.

“Akumulasi aliran sungai di kawasan hulu tersebut mampu menghasilkan banjir bandang di beberapa titik pertemuan aliran yang terakumulasi akibat hambatan alam. Akumulasi juga akan menghasilkan bencana banjir di kawasan hilir,” jelas Kundarto.

Ancaman akibat pergeseran musim juga dapat berdampak pada sektor pertanian pangan. Pergeseran kalender tanam yang mundur sekitar 20–30 hari berpotensi memengaruhi jadwal musim tanam pada akhir tahun dan masa panen pada awal tahun berikutnya.

“Para petani yang salah memprediksi waktu tanam bisa mengalami ancaman gagal panen. Jika musim panen mundur dan terjadi pula gagal panen, ini akan memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga di awal tahun,” pungkas Kundarto.

Menghadapi kondisi tersebut, seluruh pihak perlu berkolaborasi dan bersinergi untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap pergeseran musim. Fokus penanggulangan yang sebelumnya diarahkan pada kebakaran hutan dan lahan perlu diperluas pada upaya mitigasi banjir dan tanah longsor.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda alam, terutama di wilayah dengan lereng curam hingga sangat curam

“Perubahan iklim mendorong batas antar musim menjadi semakin ekstrem dan sering tidak dapat diprediksi secara konvensional. Butuh kecepatan beradaptasi untuk menentukan strategi dari menghadapi kebakaran menuju pengendalian air, erosi, longsor, dan banjir,” tandas Kundarto. (Kusnadi/KIM Berbah)




Tak Surut oleh Hujan, Semangat Sumpah Pemuda Menggema di Kapanewon Depok

Sleman – Hujan yang mengguyur wilayah Yogyakarta sejak Rabu (28/10/2026) dini hari sempat menunda pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di halaman Kantor Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Meski demikian, gerimis yang reda sekitar pukul WIB tidak menyurutkan semangat peserta untuk mengikuti upacara dengan tertib dan khidmat.

Upacara diikuti unsur pemerintah kapanewon dan kalurahan, TNI-Polri, tenaga kesehatan, tenaga pendidik, serta instansi lainnya. Bertindak sebagai inspektur upacara, Kepala Puskesmas Depok III, drg. Erna Sofiana, membacakan amanat Bupati Sleman, Harda Kiswaya.

Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, peringatan tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, ketangguhan, dan kepedulian generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam amanatnya, Bupati Sleman mengajak masyarakat meneladani semangat para pemuda yang mengikrarkan persatuan pada 28 Oktober 1928, dengan mengesampingkan perbedaan suku, agama, dan bahasa.

“Persatuan merupakan kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan. Nilai-nilai Sumpah Pemuda harus terus kita hidupkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” demikian amanat Bupati Sleman yang dibacakan oleh drg. Erna Sofiana.

Bupati juga menekankan tiga nilai utama dalam tema peringatan, yakni patriotik, gigih, dan berempati. Patriotik diwujudkan melalui kecintaan terhadap tanah air dan komitmen menjaga persatuan. Gigih mencerminkan ketangguhan, kreativitas, serta semangat pantang menyerah, sedangkan berempati diwujudkan melalui kepedulian sosial dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Nilai tersebut selaras dengan pitutur luhur Jawa, “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah,” yang bermakna kerukunan membawa kekuatan, sedangkan perpecahan mendatangkan kehancuran. Bupati juga mengingatkan pentingnya menerapkan tepa slira dan mulat sarira, yakni menghargai perasaan orang lain serta senantiasa melakukan introspeksi diri.

Selain itu, generasi muda diajak berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana, sejalan dengan momentum Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2026 yang mengusung tema “Ketangguhan Berawal dari Rumah”. Pemuda diharapkan mengenali potensi ancaman bencana, memahami jalur evakuasi dan titik kumpul, serta memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat.

“Jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi jadilah pelaku yang membawa manfaat bagi sesama,” demikian pesan Bupati Sleman dalam amanatnya.

Pelaksanaan upacara melibatkan petugas gabungan Kapanewon Depok dan Koramil 11/Depok. Pengadministrasi Perkantoran Kapanewon Depok, Agung Nugraha bertugas sebagai perwira upacara, sedangkan Bamin Tuud Koramil 11/Depok, Peltu Rochman bertindak sebagai komandan upacara.

Pengibaran Sang Merah Putih dilaksanakan oleh Serma Supaat, Sertu Sunardi, dan Serda Jati Hary Prayuda dari Koramil 11/Depok. Rangkaian upacara juga diisi pembacaan Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Panca Prasetya KORPRI, serta doa.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Kapanewon Depok menjadi pengingat bahwa semangat persatuan tidak sekadar diwujudkan melalui upacara, tetapi juga melalui kedisiplinan, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. (Wasana/KIM Depok)




Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Sejarah, Panewu Tempel Ajak Generasi Muda Perkuat Kepedulian

Sleman — Semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dimaknai sebagai sejarah perjuangan masa lalu. Nilai persatuan perlu diwujudkan melalui kecintaan terhadap tanah air, ketangguhan menghadapi perubahan zaman, dan kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut disampaikan Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda tingkat Kapanewon Tempel, di halaman Kantor Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Rabu (28/10/2026).

Upacara diikuti seluruh pamong kapanewon serta pamong dan staf kalurahan se-Kapanewon Tempel. Pemerintah Kalurahan Margorejo bertugas sebagai pelaksana upacara.

Dalam amanatnya, Rasyid mengajak generasi muda menjadikan nilai-nilai Sumpah Pemuda sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang perlu terus ditumbuhkan, yakni cinta tanah air, ketangguhan menghadapi tantangan zaman, dan empati terhadap sesama.

“Pemuda harus meningkatkan cinta tanah air. Semangat kebangsaan jangan hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kecintaan terhadap tanah air dapat diwujudkan dengan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta mengambil bagian dalam pembangunan sesuai kemampuan masing-masing. Menurutnya, keberagaman harus menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan menjadi sumber perpecahan.

Selain nasionalisme, Rasyid menekankan pentingnya membangun karakter tangguh agar generasi muda mampu menghadapi perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.

“Pemuda harus tangguh menghadapi tantangan zaman. Mereka perlu terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri serta nilai-nilai kebangsaan,” katanya.

Menurutnya, ketangguhan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi persaingan, tetapi juga keberanian untuk bangkit ketika menghadapi kesulitan. Generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi secara bijak serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Di sisi lain, kemampuan dan pencapaian pribadi perlu diimbangi dengan kepedulian sosial. Rasyid mengingatkan agar semangat meraih kemajuan tidak membuat generasi muda kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

“Penting bagi kita untuk berempati terhadap sesama. Jangan sampai kesibukan mengejar kemajuan membuat kita kehilangan kepedulian terhadap orang-orang di sekitar,” tuturnya.

Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti setelah upacara selesai. Semangat persatuan perlu diwujudkan dalam pelayanan pemerintahan, kehidupan bermasyarakat, serta berbagai tindakan nyata yang memperkuat kebersamaan. (SBD/KIM TEMPEL)




Pertemuan IMP Kabupaten Sleman Evaluasi Peran Kader dalam Pembangunan Keluarga

Sleman – Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) Kabupaten Sleman menggelar pertemuan koordinasi di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman, Selasa (27/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi forum evaluasi capaian program sekaligus penguatan peran kader IMP dalam mendukung pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana.

Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman M. Daroji, Sekretaris Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman Arif Wibowo, serta para kader IMP se-Kabupaten Sleman. Hadir sebagai narasumber Ketua Tim Penggerakan Masyarakat dan Pengelolaan Lini Lapangan BKKBN DIY, Zuhdi Astuti.

Dalam paparannya, Zuhdi Astuti menyampaikan materi bertajuk “Evaluasi Capaian Klasifikasi IMP (PPKBD Mandiri), Pendampingan Hari Pertama Kehidupan (HPK) oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta Strategi Pencapaian Tahun 2026.” Materi tersebut membahas perkembangan klasifikasi kelembagaan IMP, pelaksanaan pendampingan keluarga, serta strategi peningkatan capaian program.

Zuhdi menjelaskan, klasifikasi IMP dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu Dasar, Berkembang, dan Mandiri. Berdasarkan data yang disampaikan, terdapat tujuh IMP kategori Dasar atau 1,59 persen, 76 IMP kategori Berkembang atau 17,35 persen, dan 355 IMP kategori Mandiri atau 81,05 persen.

“Klasifikasi IMP menjadi salah satu acuan untuk melihat perkembangan kapasitas kelembagaan dan kemandirian kader dalam menjalankan tugas serta fungsi IMP di wilayah masing-masing,” jelas Zuhdi.

Menurutnya, capaian tersebut juga menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan kelembagaan dan pelaksanaan program di tingkat masyarakat.

Selain evaluasi klasifikasi IMP, pertemuan tersebut membahas pendampingan Hari Pertama Kehidupan (HPK) oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK). Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan penurunan stunting, khususnya melalui pendampingan keluarga sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Dalam kesempatan tersebut, Zuhdi juga menyampaikan sosialisasi Peraturan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Nomor 1 Tahun 2026 tentang Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2024 tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pembahasan turut menyoroti dukungan program MBG bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Sosialisasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kader terhadap kebijakan dan ketentuan yang berlaku sekaligus memperkuat peran mereka dalam mendukung pelaksanaan program di masyarakat.

“Melalui sosialisasi ini, para kader diharapkan semakin memahami kebijakan dan ketentuan yang berlaku serta mampu berperan aktif dalam menyampaikan informasi, melakukan koordinasi, dan mendukung pelaksanaan program pemerintah di tingkat masyarakat,” ujar Zuhdi.

Pertemuan koordinasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan kader IMP dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta pendampingan keluarga. Penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas kader, dan koordinasi yang berkelanjutan diharapkan dapat semakin meningkatkan peran IMP dalam mendukung pembangunan keluarga yang berkualitas, sehat, dan sejahtera. (Tri Suhartati/KIM Depok)




SAH Banyu Bening Sleman Dorong Mahasiswa Vokasi Kuasai Pengelolaan Air Hujan

Sleman – Edukasi pemanfaatan air hujan menjadi langkah strategis untuk memperluas sumber air alternatif sekaligus membangun kepedulian generasi muda terhadap keberlanjutan lingkungan. Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan mengelola air hujan agar dapat dimanfaatkan secara tepat, aman, dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan edukasi di hadapan mahasiswa program studi D4 Teknologi Industri Kimia Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, beberapa hari lalu.

Menurut Sri Wahyuningsih di kediamannya, Tempursari, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (27/10/2026),  air hujan selama ini belum sepenuhnya dipandang sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna bagi kehidupan sehari-hari. Padahal, dengan pemahaman yang benar dan pengelolaan yang sesuai, air hujan dapat menjadi salah satu sumber air alternatif untuk mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber air konvensional.

Ia menjelaskan, pengenalan pengelolaan air hujan kepada mahasiswa penting dilakukan karena perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan lingkungan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami persoalan air secara teoretis, tetapi juga perlu memiliki kemampuan praktis untuk mengidentifikasi potensi, mengelola, serta memanfaatkan air hujan sesuai kebutuhan,” tandas Wahyuningsih.

Edukasi perihal instalasi lumbung air hujan (ISLAH) diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa air merupakan sumber daya yang harus dijaga bersama. Perubahan pola pikir dari sekadar memandang air hujan sebagai limpasan menjadi sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan dapat mendorong lahirnya perilaku hemat air, kepedulian terhadap lingkungan, serta kebiasaan mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pemasangan peralatan ISLAH di Gedung Vokasi 2 oleh teknisi SAH Banyu Bening Sleman bersama mahasiswa, dilanjutkan dengan demonstrasi pengoperasian sistem dan tata cara perawatan instalasi agar berfungsi secara optimal.

Wahyuningsih menekankan, pemanfaatan air hujan memerlukan perhatian terhadap proses penampungan, penyimpanan, kebersihan wadah, dan kualitas air. Air yang ditampung perlu dikelola sesuai peruntukannya.

“Apabila akan digunakan untuk minum atau kebutuhan konsumsi, diperlukan pengolahan dan pengujian kualitas sesuai standar kesehatan agar aman bagi masyarakat,” tegasnya.

Harapannya, pembelajaran mengenai air hujan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, melainkan berkembang menjadi gerakan nyata di lingkungan kampus maupun masyarakat. Mahasiswa harus mampu menjadi agen perubahan yang mengedukasi lingkungan sekitarnya mengenai pentingnya konservasi air, pemanfaatan sumber air alternatif, serta pengurangan pemborosan air bersih.

Upaya tersebut semakin relevan di tengah tantangan ketersediaan air bersih yang membutuhkan solusi berkelanjutan. Pengelolaan air hujan yang tepat dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan air, terutama untuk keperluan nonkonsumsi, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya air.

“Namun, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi setempat, karakteristik curah hujan, serta kebutuhan pengguna,” kata Wahyuningsih. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)