Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Perempuan di Bidang STEM

Sleman – Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan e-modul Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berbasis Gender-Responsive STEM untuk mendukung peningkatan kepercayaan diri remaja perempuan dalam mempelajari sains dan teknologi.
Pengembangan e-modul tersebut dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) oleh tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA FMIPA UNY, yakni Elvia Dewi Pebriyanti, Uli Baiturrahman Putri, dan Unisa Aulia. Penelitian ini mengkaji faktor sosial dan budaya yang berpotensi memengaruhi pengalaman belajar serta keberlanjutan pendidikan remaja perempuan di bidang STEM.
Ketua PKM-RSH, Elvia Dewi Pebriyanti, mengatakan pendidikan yang inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan materi pembelajaran. Lingkungan belajar juga perlu memberikan ruang yang setara bagi remaja perempuan untuk mengembangkan potensi dan membangun kepercayaan diri.
“Melalui penelitian ini, kami ingin mendorong pembelajaran IPA yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga memberikan kesempatan yang setara bagi remaja perempuan untuk mengenali potensi dan membangun kepercayaan diri di bidang sains dan teknologi,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, pendekatan Gender-Responsive STEM memadukan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dengan perspektif responsif gender. Pendekatan tersebut dirancang agar pembelajaran lebih peka terhadap stereotip dan bias gender yang berpotensi membatasi partisipasi perempuan dalam bidang sains dan teknologi.
Elvia menjelaskan, luaran penelitian yang ditargetkan meliputi e-modul IPA berbasis Gender-Responsive STEM, angket untuk mengukur self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri dan bias gender, serta angket untuk mengetahui manfaat modul bagi siswi.
Instrumen tersebut digunakan untuk mengevaluasi kelayakan modul sekaligus mengetahui manfaatnya terhadap pengalaman belajar siswi. Penilaian tidak hanya mencakup materi pembelajaran, tetapi juga aspek kepercayaan diri dan pengalaman siswi selama menggunakan modul.
Dalam proses penelitian, tim juga melakukan wawancara dengan guru untuk memperoleh perspektif mengenai pembelajaran IPA di sekolah. Sebelum siswi menggunakan modul, tim terlebih dahulu meminta persetujuan orang tua. Pelibatan guru, sekolah, dan keluarga dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan penelitian.
Data yang diperoleh melalui angket dan wawancara selanjutnya dianalisis untuk menilai kelayakan dan manfaat e-modul, khususnya dalam mendukung peningkatan kepercayaan diri siswi serta mengurangi bias gender dalam pembelajaran IPA.
Elvia dan tim berharap e-modul yang dikembangkan dapat menjadi alternatif bahan ajar untuk mendukung pembelajaran IPA yang lebih inklusif dan responsif gender. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan setara bagi remaja perempuan untuk mengembangkan kemampuan, mengeksplorasi sains, serta mempersiapkan diri berkarier di bidang STEM. (Athiful/KIM Depok)



