Mata Air Bebeng akan Dinormalisasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan melakukan normalisasi mata air Sungai Bebeng yang berada di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. Pasalnya mata air itu mengalami penurunan debit secara signifikan pasca erupsi Merapi bahkan diperparah dengan musim kemarau.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Ir Sapto Winarno menjelaskan, normalisasi mata air akan dilakukan pada Agustus 2014 mendatang. Normalisasi Bebeng dilakukan dengan menelusuri saluran pipa air yang terpendam material erupsi, serta mencari kemudian membuka berbagai titik saluran mata air yang tertutup material erupsi Merapi.

“Yang terkena dampak erupsi selain Bebeng juga [mata air] Umbulwadon [Kepuharjo]. Tapi yang Umbulwadon sudah dinormalisasi jadi sudah lancar. Kami usahakan Bebeng segera ditangani paling tidak setelah Lebaran ini,” katanya, kemarin.

Mata air Bebeng memang menjadi tumpuan hidup warga Glagaharjo. Saat ini pihaknya masih mengupayakan agar warga tidak kekurangan air bersih seperti memberikan dropping air.

Untuk melakukan normalisasi mata air, pihaknya menggandeng paguyuban pengelola mata air Bebeng. Karena, mata air tersebut dikelola oleh masyarakat, ada yang dari warga Glagaharjo, Cangkringan dan juga Balerante, Kemalang, Klaten.

Dari hasil observasi, pihaknya sudah menemukan titik-titik yang akan dilakukan normalisasi. Langkah yang akan segera ditempuh yaitu memecah batu yang menutupi dan merusak jaringan pipa besi yang teraliri air. Dari dekat hulu mata air ditemukan batu besar yang menekan pipa besi, sehingga diyakini menjadi penyebab menurunnya debit air.

Jika mata air utama sudah diketemukan maka akan dibangun pelindung demi kelancaran mata air. “Karena dengan tertekannya pipa besi itu, debit air berkurang, awalnya mencapai 56 liter per detik, kini turun menjadi 30 liter per detik,” ujarnya.***




Masyarakat Diminta Waspada Penularan ISPA

Sleman – Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi kasus yang paling sering terjadi pasca lebaran. Tingginya mobilitas dianggap berpotensi memicu ISPA yang penularannya melalui virus.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, pada musim arus mudik hingga arus balik tahun lalu, tercatat kasus ISPA. Gejalanya secara umum adalah deman, batuk, dan pilek yang tidak lebih dari 14 hari.

“Untuk mencegah penularan, perhatikan etika saat batuk dan bersin. Mulut dan hidung juga sebaiknya ditutup dengan masker,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, Rabu (30/7).

Selain ISPA, penyakin lain yang rawan pasca lebaran berkaitan dengan pola makan yang berubah dan pencernaan. Setidaknya tahun lalu terjadi kasus hipertensi dan 624 kasus gangguan perut dan maag.

“Hipertensi misalnya, itu juga berhubungan dengan pola makan. Mereka yang punya riwayat darah tinggi hendaknya menjaga diri dari makanan yang bisa memicu kambuhnya penyakit ini,” kata Linda. Menurut Linda tercatat ada 543 orang yang tahun lalu memeriksakan diri ke Puskesmas-Puskesmas di Sleman akibat kelelahan.

“Kemungkinan besar disebabkan lelah perjalanan mudik, banyaknya kunjungan sanak saudara, dan mobilitas yang memang meningkat,” ujarnya.

Masa lebaran tahun lalu juga diwarnai dengan 489 kasus gangguan kulit. “Kalau kejadian luar biasanya ada varisela atau cacar air pada 3 pasien,” tambah Linda.

Oleh karena itu Linda menghimbau masyarakat agar tetap memperhatikan kebersihan lingkungan, pola makan, istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.




Masuk Candi-Candi Kecil di Sleman Gratis

candiSleman – Beberapa objek wisata candi di Kabupaten Sleman bisa dinikmati secara cuma-cuma. Masyarakat yang datang hanya perlu mengisi buku tamu yang berada di pos satpam masing-masing candi untuk keperluan data pengunjung.

Kesempatan itu dimanfaatkan masyarakat sekitar candi maupun pemudik untuk berwisata pada libur lebaran. Seperti yang dilakukan  Ahmad, warga Karangnongko, Maguwoharjo, Depok. Dia datang ke Candi Sambisari yang terletak di Purwomartani, Kalasan, bersama istri dan anaknya.

“Dulu waktu lewat sini ada tulisan berapa tarifnya tapi tadi kami nggak bayar,” kata Ahmad, saat ditemui Selasa (29/7). Tak hanya Ahmad saja yang merasa senang karena bisa berwisata di Candi Sambisari secara gratis.

“Mumpung lagi di Jogja. Kata saudara di sini gratis, jadi kami sekeluarga coba main ke candi,” ucap Suroto, pengunjung asal Boyolali. Pengunjung di Candi Sambisari memang tidak hanya berasal dari sekitar Jogja. Dari daftar pengunjung di buku tamu pada siang itu, ada pengunjung yang menuliskan asalnya dari Cirebon, Bandung dan lainnya Kebijakan masuk gratis dilakukan karena sistem retribusi sedang ditata ulang. Namun, hal itu tidak berlaku untuk semua candi. “Ini manajemennya sedang ditata, jadi BPCB menarik petugasnya.

Sementara ini yang candi kecil tidak bayar, seperti Candi Ijo, Sambisari, Banyu Ijo, Banyu Nibo, Gebang, Kalasan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM. Menurut Ayu, meski gratis, bukan berarti pengunjung bisa seenaknya. Tetap akan ada petugas keamaan yang akan menjaga dan mengingatkan pengunjung jika melakukan kesalahan. Misalnya jika ada pengunjung yang naik ke atas puing candi yang masih dalam proses pemugaran.

“Selain objek wisata, candi juga merupakan cagar budaya. Ada hal-hal yang harus diketahui pengunjung,” terang Ayu.***




Salat Idul Fitri Jadi Berkah bagi Pedagang Balon

Sleman – Salat Idul Fitri menjadi berkah tersendiri bagi pedagang mainan. Tak lama setelah salat dan khotbah selesai, dagangan pun laris manis diserbu pembeli.

Kondisi tersebut salah satunya dirasakan pedagang yang berjualan di sekitar halaman kampus UPN Veteran. Sejak jamaah salat Idul Fitri mulai berdatangan, beberapa diantara mereka ada yang sudah tertarik untuk membelikan balon bagi anak maupun cucunya. Tidak heran jika kemudian barisan salat pun diramaikan dengan balon-balon lucu berbentuk toko kartun dan  hewan. Balon rupanya menjadi salah satu trik agar anak kecil tidak rewel saat salat jamaah hingga khotbah berakhir.

“Ini tadi beli buat keponakan. Dia senang dan jadi tidak mengganggu saat salat,” kata Maya, warga Condongcatur, Depok, usai salat Idul Fitri pada Senin (28/7).

Santoso, salah satu penjual balon di sana mengungkapkan dia membawa 80 balon dengan ukuran kecil dan sedang. Balon ukuran kecil dijual seharga sedangkan yang besar seharga . Seluruh balon tersebut lalu habis terjual beberapa saat setelah khutbah selesai.

“Jualan begini kalau pas hari besar saja. Tapi ya hasilnya lumayan. Biasanya banyak anak-anak yang minta dibelikan,” kata Santoso. Dia pun mengaku beberapa pembeli sempat kecewa karena kehabisan balon.

Salah satu pembeli yang kehabisan adalah Intan. “Anak saya minta, tapi ternyata sudah habis,” katanya. Warga Condongcatur, Depok, tersebut lalu mengatakan dia akan mencoba mencari pedagang balon lain.

Sementara itu, meski cuaca sempat mendung, kegiatan ibadah salat Idul Fitri berjalan lancar tanpa diguyur hujan. Masyarakat juga merasa lebih senang karena lebaran tahun ini dilakukan serempak karena tidak ada perbedaan penentuan hari raya antara pemerintah dengan ormas Muhammadiyah.




Bupati dan Wakil Bupati Buka Open House

Open HouseSleman– Pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menggelar open house pada Senin (28/7). Namun, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara tamu-tamu open house di rumah dinas bupati dan wakil bupati.

“Open house ini tentu dalam rangka menjalin silaturahmi dengan masyarakat,” kata Bupati Sleman, Sri Purnomo. Open house di rumah dinas Bupati itu diadakan hingga Senin sore dan hanya satu hari saja. Meski demikian, jika masih ada masyarakat yang ingin bersilaturahmi dengan Bupati pada Selasa (29/7), Sri Purnomo mengaku akan tetap menerimanya.

Para tamu yang berdatangan didominasi oleh para pejabat pemerintahan, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa. Rombongan dari Polres Sleman pun juga sempat datang untuk beramah tamah dengan Bupati.

“Di samping untuk jajaran pemerintahan, juga untuk masyarakat umum. Siapa saja kami dengan senang hati akan menerima,” kata Sri Purnomo.

Sementara di rumah dinas Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu. Sejak open house dibuka, masyarakat dari berbagai wilayah di Sleman datang untuk bertemu dan saling memohon maaf dengan Yuni.

“Memang lebih banyak dari masyarakat umum, terutama kawan-kawan pedagang pasar, misalnya Prambanan dan Sambilegi. Tadi ada juga dari Gayamharjo, Balecatur, Kronggahan, bahkan Tempel,” papar Yuni.

Dikatakan Yuni, masyarakat yang datang ke rumah dinasnya memang orang-orang yang biasa berinteraksi dengannya, seperti memberikan informasi ketika terjadi masalah di lapangan.

“Open house adalah ajang silaturahmi dan bermaafan. Kami jika selama ini dalam memberikan pelayanan belum maksimal, semoga tahun depan bisa lebih baik,” ujar Yuni.