Dimas Diajeng Sleman 2014 Telah Terpilih

SLEMAN – Fajar Wijanarko dan Nonica Tiara Cintya akhirnya terpilih sebagai pasangan Dimas Diajeng Sleman 2014. Penobatan gelar Dimas Diajeng Sleman 2014 dilakukan oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI di Gedung Multi Purpose Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jumat (16/5) malam.

Sementara itu, Wakil 1 Dimas Diajeng Sleman 2014 terpilih adalah Arif Yudi Winarto dan Annisa Yunas, Wakil 2 Ricco Survival Yubaidi dan Rizqi Anissa. Sedangkan untuk Harapan 1 adalah Susilo dan Nefertiti Yunizare, Harapan 2 Rico Ryano dan Dorothea Gecella Putri Lestari.

Sebagai Dimas Diajeng Berbakat adalah Fachriza Fauzi Aldino dan Kumala Maharani Totoatmojo, Dimas Diajeng Persahabatan adalah Endy Agustian dan Wurning Wandhedah Laras Sukma, serta Dimas Fiajeng Favorit adalah Ade Dwi Saputra dan Dorothea Gecella Putri Lestari.

Dewan juri yang menentuan pemegang gelar utama dan gelar atributif pada malam Grand Final Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2014 tersebut dipimpin Dr Ike Janita Dewi dengan anggota Yuni Satia Rahayu (Wakil Bupati Sleman), pakar kebudayaan kebudayaan Condroyono, praktisi media Octo Lampito, praktisi pariwisata Lailly Prihatiningtyas, dan pakar public relation Lusi Laksita.

Malam Grand Final Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2014 tersebut juga dihadiri Putra Putri Solo, Joko Roro Kabupaten Malang, Duta Mahasiswa Genre, Dimas Diajeng Jogja, Dimas Diajeng Kota Yogyakarta, Dimas Diajeng Kulonprogo, Dimas Diajeng Gunungkidul, Putra Putri Bantul dan Dimas Diajeng Cilik Sleman 2013.

Malam Grand Final Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2014 tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai atraksi yaitu Tarian Klasik “Sekar Pudyastuti,”  tarian Gebyar Batik serta persembahan lagu oleh Ludmila Martha dan Cherry L’Jossie.

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam sambutannya mengatakan Dimas Diajeng Sleman diharapkan menjadi salah satu agen promosi atau “agent of promotion” terhadap potensi daerah yang dimiliki Kabupaten Sleman, khususnya potensi di sektor pariwisata.

Di antara potensi tersebut adalah potensi batik khas Sleman “Sinom Parijotho”. Peran tersebut sekaligus untuk mengangkat citra Kabupaten Sleman di level regional, nasional maupun internasional.

Di samping memiliki peran sebagai agen promosi, Dimas Diajeng Sleman juga diharapkan mampu menjadi “role model” bagi generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan daerah beserta kompleksitasnya khususnya aspek sosial budaya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan bahwa pemilihan dan fasilitasi Dimas Diajeng Sleman merupakan salah satu strategi pemerintah daerah dalam mempromosikan potensi daerah serta untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sleman dimasa-masa mendatang.

Mengingat Dimas Diajeng merupakan komunitas strategis yang diharapkan memiliki jaringan luas dan kapasitas yang handal dalam kegiatan promosi dan pemasaran khususnya di sektor budaya dan pariwisata.

Ayu menambahkan, pelaksanaan pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2014 diawali dengan pendaftaran sejak bulan Februari hingga Maret dengan peserta awal sebanyak 114 orang. Yang kemudian dilakukan seleksi administrasi, wawancara dan ujian tertulis menjadi 60 orang semifinalis, dilanjutkan proses seleksi secara ketat hingga menjadi 30 orang finalis.

Para finalis telah menjalani pembekalan yang sangat intens yang berupa workshop dan briefing, pemotretan, table manner, bakti sosial, kunjungan media partner, outbound, presentasi dan famtrip serta wajib mengikuti program karantina selama 4  hari sebelum dilaksanakannya Grand Final Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2014.




782.662 Warga Ditetapkan Dalam DPS Pilpres

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman menetapkan warga Sleman terdata dalam Daftar Pemilih Sementara Hasil Pemutakhiran (DPS HP) untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli mendatang.

Hal tersebut disampaikan Ketua KPU Sleman Ahmad Shidqi SThI MHum didampingi Anggota KPU Divisi Teknis Penyelenggara Haryanta SP, kemarin. Menurutnya, DPS Pilpres diperoleh berdasarkan dari penjumlahan DPT Pileg, Daftar Pemilih Khusus (DPK), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) dan pemilih pemula dikurangi pemilih yang Tidak Memenuhi Syarat (TMS).

Sebelumnya, dalam Pileg lalu KPU Sleman warga yang masuk dalam DPT sebanyak orang. Sedangkan nama yang tercantum dalam DPK terdapat , DPKTb dan pemilih menggunakan A5 sebanyak . Nama-nama tersebut akan diumumkan ke masyarakat hingga 19 Mei nanti di masing-masing desa.

“Kami juga menerima masukan dan tanggapan dari masyarakat terkait DPS HP tersebut hingga tanggal 26 Mei. Untuk itu kami mengharapkan peran aktif dari masyarakat untuk mengecek DPS. Jika menemukan ada nama yang sudah meninggal dunia, beralih status dari sipil ke TNI/Polri atau pindah penduduk hingga sudah memenuhi syarat untuk memilih dapat melaporkan langsung ke PPS. Masukan tersebut akan kami jadikan pedoman untuk melakukan perbaikan DPS yang jadwalnya akan berlangsung 27 Mei hingga 2 Juni nanti,” kata Haryanta.




Sleman Butuh Badan Perizinan Terpadu

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman menargetkan perubahan kedua atas Peraturan Daerah (Perda) No.9/2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman ditetapkan akhir Mei ini. Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tersebut memang menjadi prioritas selesai sebelum periode jabatan DPRD Sleman berakhir.

“Ini sebenarnya sudah diagendakan sejak 2010, 2011, tapi eksekutif itu tidak bergerak cepat,” kata Ketua Komisi A DPRD Sleman, Rendradi Suprihandoko SH MH belum lama ini.

Pemerintah Pusat sudah mengeluarkan regulasi perizinan terpadu atau satu atap sejak lama. Atas alasan ini DPRD Sleman ingin cepat menyelesaikan, tapi pihak eksekutif belum mau.

“Sekarang menjelang akhir kepengurusan, kita diburu-buru karena mereka takut diberi sanksi,” kata Rendradi.

Ke depan, Dinas Perizinan dan Kantor Penanaman, Penguatan dan Penyertaan Modal (KP3M) di Kabupaten Sleman akan digabungkan dalam satu badan layanan. Nama yang dipilih untuk penggabungan kedua lembaga tersebut pun sudah disiapkan.

“Kami menawarkan jadi Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Eksekutif punya pandangan jadi Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan,” tambahnya.

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI menganggap penggabungan Dinas Perizinan dan KP3M akan memperbaiki regulasi perizinan di Sleman.

 

“Ini sedang disiapkan perdanya. Kita tidak boleh menghalangi orang yang berinvestasi di Sleman, selagi tidak bertentangan dengan Perda wilayah,” kata Sri Purnomo.




Tiga Desa Ditunjuk Sebagai Desa Tangguh Bencana

SLEMAN – Sebanyak tiga desa di Kabupaten Sleman, yaitu Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Desa Kepuharjo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, telah ditunjuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sebagai Desa Tangguh Bencana (DTB). Untuk Desa Sindumartani ditunjuk sebagai DTB  khusus untuk banjir lahar hujan Sungai Gendol.

Pengukuhan DTB tersebut telah dilakukan di Desa Sindumartani Ngemplak  oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, bersamaan dengan Desa Kepuharjo dan Wukirsari Kecamatan Cangkringan sebagai DTB. Sebelumnya telah dilakukan pelatihan terhadap masyarakat terkait penanganan bencana.

Pada kesempatan tersebut  Sri Purnomo  mengatakan, melalui DTB diharapkan masyarakat sudah bisa gerak cepat untuk menyelamatkan diri agar terhindar dari bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan dini dibutuhkan oleh semua elemen masyarakat sebagai bentuk peringatan bahwa mereka hidup berdampingan dengan bencana.

“Masyarakat harus memahami jika mereka tinggal di daerah bencana. Melalui DTB, mereka sudah paham dan bisa mengantisipasi sedini mungkin jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Termasuk dimana lokasi pengungsian hingga alat apa saja yang dibutuhkan,” kata Sri Purnomo belum lama ini.

Dalam kesempatan itu juga diberikan bantuan sarana prasarana bagi desa dan masyarakat yang mendukung mitigasi bencana. Seperti tenda desa, alat komunikasi berupa ‘Handy Talky’ (HT), ‘megaphone’ dan tas siaga bencana.




Hadapi Kemarau, Pemkab Sleman Siapkan 13 Embung

SLEMAN – Menghadapi musim kemarau Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan menyiapkan 13 embung di seluruh wilayah Sleman. Kepala Bidang (Kabid) Penyediaan dan Pembinaan Sumber Daya Air (PPSDA) Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Warsono, mengatakan, Pemkab Sleman telah mempersiapkan 13 embung sebagai cadangan air di musim kemarau. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan.

“Upaya ini merupakan antisipasi Pemkab dalam menghadapi bencana kekeringan yang dapat terjadi pada saat musim kemarau karena berkurangnya sumber air,” kata Warsono, kemarin.

Menurutnya, 13 embung tersebut secara garis besar pemanfaatannya dibagi menjadi dua, yakni di sisi utara dan selatan. Di sisi utara terdapat 7 embung yang menjadi cadangan tampungan air, antara lain Embung Nggatep, Karanggeneng, Babadan, Sempu, Jurangjero, Kali Aji, dan Kemiri. Sedangkan di selatan antara lain, Umbul Klampeyan, Jering, Tambakboyo, Serut Banyuraden, Bimomartani, dan Serut Gayamharjo.

“Masing-masing embung memiliki luas rata-rata 1 hektare dengan daya tampung sekitar meter kubik,” tuturnya.

Warsono menjelaskan, suplai air yang tertampung pada embung-embung tersebut berasal dari sungai-sungai kecil yang mengalir saat musim hujan namun mengering ketika kemarau. Dengan adanya embung yang sudah disiapkan, maka pasokan air dapat tertambung dengan baik pada saat dibutuhkan.

Dikatakan pula banyak sungai-sungai kecil yang sering dimanfaatkan warga sebagai pengairan, namun alirannya hilang saat kemarau. Sehingga sangat diperlukan sistem penampungan sebagai konservasi air di musim kemarau.

Jumlah tersebut dianggap mencukupi kebutuhan air bagi wilayah-wilayah rawan kekeringan. Terlebih, intensitas hujan pada musim hujan ini cukup tinggi dan mampu memenuhi kapasitas embung.

“Untuk itu pemerintah berharap, keberadaan embung mampu menjadi solusi bagi warga di wilayah rawan kekeringan,” kata Warsono.

Kendati demikian lanjutnya, air pada embung baru dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan air baku saja. Sementara itu, untuk mencukupi kebutuhan air bersih masih mengandalkan sumber air di lereng Merapi.

Terpisah, Kepala Bidang Pencegahan Dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Heru Saptono mengatakan, beberapa wilayah yang rawan kekeringan seperti Kecamatan Prambanan serta Gamping. Hal ini disebabkan lapisan batuan yang ada di wilayah ini tidak memungkikan untuk menahan air di tanah.

“Kekeringan di Prambanan maupun Gamping, biasanya terjadi karena secara tipologi tidak memungkinkan air tanah dapat tertahan. Lempeng tanahnya didominasi dengan batuan lapis yang menyebabkan air tanah mudah hilang,” tambahnya.