Rekapitulasi Suara KPU Sleman Digelar Pekan Depan

Sleman, – Formulir hasil rekapitulasi pemungutan suara (C1) dari TPS mulai masuk ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman hari ini, Minggu (13/4). Meski demikian, perekapan baru akan dilakukan mulai pekan depan, tepatnya 18 April 2014.

Hal ini disampaikan oleh Divisi Hukum Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga KPU Sleman, Imanda Yulianto. Rekapitulasi suara di KPU baru akan dilakukan setelah penghitungan di tingkat kecamatan selesai dilakukan.

“Rekapitulasi yang di TPS sekarang dilakukan di tingkat desa. Dari desa lalu dihitung di tingkat kecamatan. Dari kecamatan baru ke KPU,” kata Imanda Yulianto.




Alat Peraga Kampanye Menumpuk Di Satpol PP Sleman

Sleman,  – Ribuan alat peraga kampanye (APK) yang ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman belum jelas nasibnya, karena sampai saat ini, belum ada regulasi yang mengatur tindak lanjut terkait APK tersebut.

Dalam operasi penertiban APK yang dilakukan selama masa hari tenang, lebih dari lembar spanduk, rontek, umbul-umbul dan bendera ditertibkan. Hingga saat ini barang-barang tersebut masih diamankan di kantor Satpol PP Sleman.

“APK hasil operasi ditumpuk sementara di kantor Satpol PP,” kata Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Satpol PP Sleman, Fathoni Budi Prabowo, Jumat (11/4).

Rencananya, ribuan APK tersebut akan dititipkan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP), karena gudang di Satpol PP sudah tidak sanggup menampung. APK saat ini diletakkan di beberapa sudut di kantor Satpol PP.

Ribuan APK yang menumpuk di Satpol PP saat ini tengah menunggu hasil koordinasi dengan Dinas PUP dan instansi terkait lainnya. “Dalam aturan Bupati tidak mengatur mengenai setelah kampanye APK itu harus dikemanakan,” kata Fathoni.

Pihak Satpol PP Sleman mengungkapkan perlu diadakan koordinasi dengan Kantor Kesatuan Bangsa (Kesbang) untuk membuat payung hukum terkait tindak lanjut APK yang ditertibkan. “Ke depan masih ada Pilpres dan Pilkada. Jadi perlu ada kebijakan mau diapakan nantinya,” tambah Fathoni.




Batik Parijoto Salak Jadi Ikon Batik Sleman

Sleman, – Motif batik parijoto salak hasil lomba desain batik nasional yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Sleman tahun 2013 lalu, dijadikan batik dan akan menjadi ikon batik untuk Kabupaten Sleman.

“Launching batik parijoto salak ini akan dilaksanakan pada pembukaan pameran pembangunan dan potensi Sleman 2014 dalam rangka hari jadi Kabupaten Sleman di komplek Serbaguna Sleman,” kata Ketua Dekranasda Sleman Ny Kustini Sri Purnomo kepada wartawan di Press Room Pemkab Sleman, Jumat (11/4).

Menurut Kustini, dalam pembukaan pameran potensi Sleman tersebut semua pejabat Kabupaten Sleman akan mengenakan batik motif parijoto salak. Dikatakan Ny Kustini, dalam lomba desain batik yang diikuti 215 peserta itu berhasil memilih 7 motif dan motif parijoto sebagai pemenangnya.

Dari ketujuh motif batik tersebut selanjutnya akan dijadikan motif batik Sleman dan dipilih ikonnya kombinasi parijoto salak. Dipilihnya motif parijoto salak ini karena ada filosofinya.

“Parijoto adalah tanaman asli Sleman yang tumbuh di lereng Gunung Merapi dan banyak ditemukan di Pakem dan Cangkringan. Tanaman yang hanya tumbuh di atas ketinggian meter dari permukaan laut ini juga memiliki banyak manfaat dan memiliki khasiat sehingga bisa melambangkan kemakmuran,” kata Ny Kustini.

Sedang tanaman salak pondoh merupakan tanaman yang asli dari Kabupaten Sleman. Karena itu kedua motif tersebut dimodifikasikan menjadi motif parijoto salak yang memiliki makna kultur di dalamnya.

Selain menjadi ikon batik Sleman, motif parijoto salak ini juga akan dijadikan pakaian bagi PNS Sleman, guru-guru dan pelajar di Sleman. “Untuk PNS, Guru dan sekolah disarankan menggunakan motif batik parijoto salak, namun untuk pemilihan warnanya dibebaskan,” tutur Ny Kustini.

Untuk mengembangkan batik Sleman ini, Dekranasda Sleman bekerjasama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia DIY yang dihadiri Lia Mustofa, Indraswari dan lainnya yang akan membuat desain baju trend 2015 dengan perpaduan motif batik parijoto salak dengan konsep mozaik yang menarik.




Dikpora Sleman Distribusikan Soal UN SMA/SMK 12 April

Sleman,  – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga  (Dikpora) Kabupaten Sleman akan melakukan distribusi soal ujian nasional (UN) SMA/SMK melalui sembilan kelompok kerja (pokja), dan pendistribusiannya akan dilakukan secara serentak.

Kepala Dikpora Kabupaten Sleman Arief Haryono, Jumat (11/4), menyampaikan bahwa distribusi naskah akan mulai dilaksanakan pada hari Sabtu (12/4) besok ke pokja.

Distribusi soal UN SMA/SMK ini akan dilakukan secara serentak.  Lima pokja untuk SMK dan empat pokja untuk SMA. Untuk mengamankan soal UN, petugas akan didampingi aparat kepolisian.

Pelaksanaan UN SMA/SMK di Sleman akan diselenggarakan pada tanggal 14-17 April 2014. Jumlah peserta ujian SMA mencapai   siswa dari 56 sekolah. Mereka akan mengikuti ujian di 44 sekolah karena pelaksanaan UN di 12 sekolah digabungkan. Sleman menyediakan 582 orang untuk mengawasi UN SMA.

Ujian nasional tingkat SMK akan diikuti siswa dari 54 sekolah. Namun, penyelenggara UN hanya 48 SMK. “Ujian di enam sekolah bergabung dengan sekolah lain karena belum akreditasi,” ujar Arif. Sebanyak 782 orang disiapkan menjadi pengawas ujian SMK.

Sementara itu, peserta yang berkebutuhan khusus seperti tuna netra akan mendapatkan soal dengan huruf braille. Sebanyak enam siswa SMA terdata akan mengerjakan soal dengan huruf braille. Mereka dapat mengikuti ujian dengan tambahan waktu 45 menit.




DPPD Akan Kembangkan Slim Pertanahan

Sleman, – Tahun 2014 Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah (DPPD) Kabupaten Sleman akan mengembangkan sistem layanan informasi layanan mandiri (SLIM) pertanahan. Melalui SLIM ini masyarakat dapat melihat dan mencari informasi tentang tata guna lahan dan informasi tata ruang di Kabupaten Sleman secara mandiri.

Sebagaimana diketahui melalui Program Land Management Policy and Development Project (LMPDP) Komponen-5 yang pengelolaannya dilaksanakan oleh Kementerian Dalam Negeri (dulu Departemen Dalam Negeri), Kabupaten Sleman terpilih sebagai salah satu daerah yang menjadi pilot project dari Bank Dunia selama 5 tahun, dari tahun 2004 hingga 2009.

Salah satu hasil kegiatannya adalah telah dibangunnya Sistem Layanan Informasi Mandiri (SLIM) di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Depok dan Mlati. Pada  tahun 2010 dan seterusnya, Kabupaten Sleman secara bertahap mengembangkan SLIM tersebut ke wilayah kecamatan lain, di mana pada tahun 2010 telah dikembangkan di Kecamatan Ngaglik dan Gamping.

Menindaklanjuti pekerjaan tersebut, pada tahun 2014 akan dilakukan pengembangan sistem informasi pertanahan ke kecamatan-kecamatan yang sudah tersedia RDTR-nya sehingga jumlah keseluruhan RDTR yang akan di-upload meliputi 15 kecamatan.

Menurut Kabid Tata Guna Tanah, DPPD, Ir. Rin Andijani, ST, dengan SLIM ini diharapkan akan mendekatkan akses informasi tata ruang ke masyarakat melalui web sehingga masyarakat dapat memanfaatkan lahan secara bertanggung jawab sesuai dengan rencana tata ruang dan harapan akhirnya alih fungsi lahan dapat dikendalikan sesuai dengan fungsi kawasan yang telah ditetapkan dalam RDTR.

Dijelaskan lebih lanjut, tujuan dari pekerjaan ini adalah mengembangkan sistem informasi pertanahan berbasis spasial di Kabupaten Sleman sehingga memudahkan masyarakat dalam mengakses rencana tata ruang.

Dalam SLIM nantinya tampilan sistem dibuat seperti tampilan pada google earth atau google map yang di atasnya dapat di-overlay-kan rencana tata ruang, sehingga masyarakat dapat menelusuri lokasi yang diinginkannya secara mandiri.

Penelusuran lokasi oleh masyarakat secara mandiri dapat pula dilakukan dengan memasukkan koordinat lokasi dan kemudian dari sini masyarakat dapat mengakses informasi yang diperlukan, seperti rencana tata ruang, KDB, dan sempadan.

“Diharapkan pada tahun ini sudah dapat terbangun sistem dan bisa digunakan dan diakses oleh masyarakat, dengan tampilam yang sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia” pungkasnya.