Soal UN Di Kabupaten Sleman Dijaga 24 Jam

Sleman,  – Untuk menjaga keamanan soal UN di Kabupaten Sleman, petugas dari kepolisian bersama petugas pokja melakukan pengamanan pintu secara berlapis. Hal ini sebagai langkah untuk mencegah kebocoran soal.

Ketua Pokja 3 Kabupaten Sleman Dra Hermintarsih mengatakan, untuk pengamaan dilakukan petugas pokja bersama kepolisian 24 jam. Untuk petugas pokja setiap shiftnya 8 jam ada 3 petugas. “Sedangkan untuk petugas kepolisian setiap shif 12 jam ada 2 petugas,” ujarnya di sela-sela pengamanan, Minggu (13/4).

Terkait soal UN, disebutnya Sabtu (12/4) sudah sampai ke Pokja 3 di SMAN 1 Sleman. Jumlah soal tersebut sesuai dengan jumlah peserta UN yakni siswa dan disimpan di gudang SMAN 1 Sleman dengan pengamanan dua lapis yang dijaga ketat pihak petugas pokja maupun kepolisian.

“Satu kunci saya bawa dan pintu yang lain dibawa polisi. Sehingga untuk membuka pintu harus bersama-sama dan baru akan kita buka pagi harinya sebelum pelaksanaan UN dilakukan. Dengan pengamanan berlapis ini akan menjamin tak ada kebocoran soal,” tegas Hermintarsih.




Pengawas UN SMA/SMK Di Sleman Lebih Banyak Dari Perguruan Tinggi

Sleman, – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Sleman, Arif Haryono SH mengatakan, pada pelaksanaan Ujian  Nasional (UN) tahun ini, jumlah pengawas UN yang berasal dari perguruan tinggi lebih banyak dari tahun sebelumnya.

“Tahun lalu setiap sekolah hanya satu, sekarang didasarkan pada jumlah ruangan,” kata Arif di kantornya, Jumat (11/4).

Menurut Arif, kalau sekolah punya ruangan [ujian] satu sampai tiga akan punya satu pengawas dari perguruan tinggi. Kalau jumlah ruangannya empat sampai 10 pengawasnya dua, dan seterusnya.

Secara keseluruhan, Disdikpora Sleman menyiapkan 582 pengawas UN SMA dan 782 pengawas UN SMK. Pengawas dari perguruan tinggi di Sleman diwakili oleh pihak Universitas Gadjah Mada. Sementara pengawas dari tingkat sekolah akan dilakukan secara silang.

“Pengawas dari sekolah lain tidak akan membantu siswa. Diharapkan ada asas objektivitas,” kata Arif.

Selain itu, Disdikpora juga akan membuka posko UN guna mendukung kelancaran program tersebut. “Apa saja bisa dilaporkan masyarakat dan siapapun yang menemukan pelanggaran selama UN berlangsung,” ungkap Arif Haryono.

Laporan pengaduan yang masuk ke posko akan ditindaklanjuti dengan melihat porsi kewenangan penanganan.

“Kami lihat dulu apakah itu kewenangan sekolah, pokja, atau Disdik Provinsi,” kata Arif.

Arif  memaparkan, tahun lalu tidak ada laporan terkait pelanggaran, hanya laporan bahwa beberapa siswa berhalangan mengikuti ujian.

Arif juga  berharap hasil UN tahun ini lebih optimal. Hal tersebut mengacu pada angka kelulusan tahun 2013 yang terbilang tinggi. SMA lulus 99,88 persen dan SMK 99,97 persen.

Sementara soal distribusi soal UN dikatakan Arif soal UN tingkat SMA sederajat di Kabupaten Sleman didistribusikan secara serentak melalui kelompok kerja (pokja) atau sub rayon, Sabtu (12/4).

“Di Sleman terdapat lima pokja untuk SMK dan empat pokja untuk SMA yang tersebar di wilayah Kecamatan Depok, Kalasan, Ngaglik, Sleman, Tempel, dan Godean,” kata Arif.

Sekolah yang ditunjuk sebagai pokja antara lain SMA Negeri 1 Godean, SMK Negeri 1 Godean, SMA Negeri 1 Sleman, SMA Negeri 2 Ngaglik, SMA Negeri 1 Kalasan, SMK Negeri 1 Kalasan, SMK Negeri 1 Tempel, SMK Negeri 1 Depok, dan SMK Negeri 2 Depok. Soal akan dijaga ketat oleh pihak kepolisian.




Rekapitulasi Suara KPU Sleman Digelar Pekan Depan

Sleman, – Formulir hasil rekapitulasi pemungutan suara (C1) dari TPS mulai masuk ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman hari ini, Minggu (13/4). Meski demikian, perekapan baru akan dilakukan mulai pekan depan, tepatnya 18 April 2014.

Hal ini disampaikan oleh Divisi Hukum Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga KPU Sleman, Imanda Yulianto. Rekapitulasi suara di KPU baru akan dilakukan setelah penghitungan di tingkat kecamatan selesai dilakukan.

“Rekapitulasi yang di TPS sekarang dilakukan di tingkat desa. Dari desa lalu dihitung di tingkat kecamatan. Dari kecamatan baru ke KPU,” kata Imanda Yulianto.




Alat Peraga Kampanye Menumpuk Di Satpol PP Sleman

Sleman,  – Ribuan alat peraga kampanye (APK) yang ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman belum jelas nasibnya, karena sampai saat ini, belum ada regulasi yang mengatur tindak lanjut terkait APK tersebut.

Dalam operasi penertiban APK yang dilakukan selama masa hari tenang, lebih dari lembar spanduk, rontek, umbul-umbul dan bendera ditertibkan. Hingga saat ini barang-barang tersebut masih diamankan di kantor Satpol PP Sleman.

“APK hasil operasi ditumpuk sementara di kantor Satpol PP,” kata Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Satpol PP Sleman, Fathoni Budi Prabowo, Jumat (11/4).

Rencananya, ribuan APK tersebut akan dititipkan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP), karena gudang di Satpol PP sudah tidak sanggup menampung. APK saat ini diletakkan di beberapa sudut di kantor Satpol PP.

Ribuan APK yang menumpuk di Satpol PP saat ini tengah menunggu hasil koordinasi dengan Dinas PUP dan instansi terkait lainnya. “Dalam aturan Bupati tidak mengatur mengenai setelah kampanye APK itu harus dikemanakan,” kata Fathoni.

Pihak Satpol PP Sleman mengungkapkan perlu diadakan koordinasi dengan Kantor Kesatuan Bangsa (Kesbang) untuk membuat payung hukum terkait tindak lanjut APK yang ditertibkan. “Ke depan masih ada Pilpres dan Pilkada. Jadi perlu ada kebijakan mau diapakan nantinya,” tambah Fathoni.




Batik Parijoto Salak Jadi Ikon Batik Sleman

Sleman, – Motif batik parijoto salak hasil lomba desain batik nasional yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Sleman tahun 2013 lalu, dijadikan batik dan akan menjadi ikon batik untuk Kabupaten Sleman.

“Launching batik parijoto salak ini akan dilaksanakan pada pembukaan pameran pembangunan dan potensi Sleman 2014 dalam rangka hari jadi Kabupaten Sleman di komplek Serbaguna Sleman,” kata Ketua Dekranasda Sleman Ny Kustini Sri Purnomo kepada wartawan di Press Room Pemkab Sleman, Jumat (11/4).

Menurut Kustini, dalam pembukaan pameran potensi Sleman tersebut semua pejabat Kabupaten Sleman akan mengenakan batik motif parijoto salak. Dikatakan Ny Kustini, dalam lomba desain batik yang diikuti 215 peserta itu berhasil memilih 7 motif dan motif parijoto sebagai pemenangnya.

Dari ketujuh motif batik tersebut selanjutnya akan dijadikan motif batik Sleman dan dipilih ikonnya kombinasi parijoto salak. Dipilihnya motif parijoto salak ini karena ada filosofinya.

“Parijoto adalah tanaman asli Sleman yang tumbuh di lereng Gunung Merapi dan banyak ditemukan di Pakem dan Cangkringan. Tanaman yang hanya tumbuh di atas ketinggian meter dari permukaan laut ini juga memiliki banyak manfaat dan memiliki khasiat sehingga bisa melambangkan kemakmuran,” kata Ny Kustini.

Sedang tanaman salak pondoh merupakan tanaman yang asli dari Kabupaten Sleman. Karena itu kedua motif tersebut dimodifikasikan menjadi motif parijoto salak yang memiliki makna kultur di dalamnya.

Selain menjadi ikon batik Sleman, motif parijoto salak ini juga akan dijadikan pakaian bagi PNS Sleman, guru-guru dan pelajar di Sleman. “Untuk PNS, Guru dan sekolah disarankan menggunakan motif batik parijoto salak, namun untuk pemilihan warnanya dibebaskan,” tutur Ny Kustini.

Untuk mengembangkan batik Sleman ini, Dekranasda Sleman bekerjasama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia DIY yang dihadiri Lia Mustofa, Indraswari dan lainnya yang akan membuat desain baju trend 2015 dengan perpaduan motif batik parijoto salak dengan konsep mozaik yang menarik.