Produksi Perikanan DIY Masih Defisit 20 Ribu Ton

Sleman – Saat ini, DIY masih mengalami defisit produksi perikanan yang cukup besar. Kebutuhan akan ikan yang cukup tinggi, namun tidak diiringi dengan tingkat produksi ikan yang memadai.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Andung Prihadi Santoso, saat menghadiri pertemuan tiga bulanan bidang perikanan di Gancahan Sidomulyo Godaen, Kamis (27/3), mengungkapkan, kebutuhan akan konsumsi ikan di DIY per tahunnya mencapai kurang lebih 90 ribu ton.

Sementara,  produksi ikan per tahunnya, menurutnya,  baru mencapai kurang lebih 70 ribu ton. Jadi, di DIY mengalami defisit produksi perikanan sebesar kurang lebih 20 ribu ton per tahunnya.

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, yang mulai bergeser pada konsumsi makanan non kolesterol juga menyebabkan peningkatan konsumsi ikan di DIY.

Lebih dari 30 persen konsumsi ikan DIY harus dipenuhi dengan mendatangkan ikan dari luar DIY. Melihat potensi usaha budidaya perikanan yang besar ini, harus dapat direspon oleh masyarakat perikanan Sleman.

“Saya berharap para petani ikan dapat menangkap peluang, sekaligus dapat berdaya dan berjaya dalam persaingan usaha perikanan”, lanjut Andung.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan kabupaten Sleman Ir. Suparmono, MM menyampaikan bahwa produksi perikanan darat di Kabupaten Sleman menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, produksi ikan konsumsi pada tahun 2013 yang  terdiri dari hasil perikanan kolam, mina padi, karamba dan perairan umum sebesar ,79 ton atau meningkat 20,28 persen. Produksi ikan hias sebanyak ekor atau meningkat sebesar 9,61 persen. Produksi benih ikan sebanyak ekor atau meningkat sebesar 6,11persen.

Peningkatan produktifitas perikanan tersebut  terjadi karena peningkatan produktifitas kolam, meningkatnya jumlah kelompok pembudidaya sebesar 11,04 persen, menjadi 530 kelompok, serta meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan pembudidayaan ikan.




Merapi Bergemuruh Warga Siap Evakuasi

 

Merapi 28 Maret 2014

Sleman – Warga di sekitar lereng Gunung Merapi, Sleman DI Yogyakarta, Kamis (27/3), selama tujuh menit sekitar Pukul WIB sampai dengan pukul WIB, mendengar suara gemuruh dari puncak Gunung Merapi. Namun saat ini suara gemuruh tersebut sudah berhenti. Secara visual, Gunung Merapi saat ini tidak terlihat karena tertutup kabut tebal.

Sebelumnya dilaporkan bahwa warga di zona KRB III sudah bersiap untuk mengungsi. Warga sudah berada di pinggir-pinggir jalan jalur evakuasi sambil menanti perkembangan situasi.

Meskipun terjadi erupsi freatik, BPPTK belum menaikkan status Gunung Merapi karena masih menunggu hasil pemantauan lebih lanjut.

Sampai saat ini status Gunung Merapi masih dalam tahapan aktif normal.

Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Glagaharjo, Cangkringan, dilaporkan adanya korban akibat terjatuh dari sepeda motor pada saat akan mengungsi. Korban saat ini dirawat di atas nama Ny,Kartowiyono (46 th) warga Rt 01 Rw 17 Dusun Kalitengah Kidul.

Saat ini Gunung Merapi kembali tenang.  BPBD Sleman menghimbau agar warga  tidak panik namun tetap waspada.




Sleman Kembangkan Budidaya Perikanan Sistem Kelompok

Sleman – Kabupaten Sleman telah mengembangkan budidaya perikanan dengan sistem kelompok. Hal ini dibahas dalam pertemuan rutin tiga bulanan bidang perikanan, yang dilakukan oleh kelompok petani ikan, asosiasi, dan pengusaha bidang perikanan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pertemuan ini merupakan forum terbuka yang membahas bidang perikanan. Melalui pertemuan ini, diharapkan dapat menjadi sarana silaturahmi dan ajang berdiskusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani ikan dan mendorong peningkatan produksi perikanan.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Bupati Sleman Sri Purnomo hari ini, Kamis (27/3), menghadiri pertemuan tiga bulanan bidang perikanan Kabupaten Sleman, yang berlangsung di Gancahan Sidomulyo Godaen.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Direktorat Perbenihan Kementarin Kalutan dan Perikanan Sri Wuryaningsih, Ketua DPRD Sleman Koeswanto, SIP, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Andung Prihadi Santoso,, Kabid Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan kabupaten Sleman Ir. Suparmono, MM.

Potensi pertanian di Kabupaten Sleman masih cukup tinggi. Meskipun struktur perekonomian Sleman telah mengarah pada sektor tersier, namun sektor primer, yakni pertanian, masih menjadi andalan kontributor PDRB kabupaten Sleman dan sumber pendapatan dari 15,03% masyarakat Sleman.

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam sambutannya mengatakan bahwa prioritas revitalisasi pertanian dan kehutanan ditujukan untuk pemantapan ketahanan pangan masyarakat. Terlebih karena  kemakmuran suatu daerah hanya dapat dicapai jika masyarakat mampu berswasembada pangan.

Oleh karena itu, revitalisasi pertanian dan kehutanan diupayakan dengan peningkatan produktivitas, kualitas hasil pertanian dan pengembangan distribusi, yang pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Sri Purnomo menambahkan bahwa salah satu upaya untuk  meningkatkan produktivitas pangan berkualitas adalah melalui  budidaya ikan. Untuk mengoptimalkan pengembangan budidaya perikanan, pembinaan petani ikan di Sleman dilakukan dengan sistem kelompok.

“Dengan sistem tersebut, maka pelaksanaan transfer  pengetahunan dan transfer teknologi dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien,” katanya.

Untuk memajukan potensi perikanan, Pemkab Sleman memberikan bantuan dana penguatan modal. Pada tahun 2013 yang lalu Pemkab Sleman telah menggulirkan dana sebesar Rp4,5 miliar dari APBD Sleman, atau meningkat 2,77% dari tahun 2012.

Sementara menyinggung soal dana hibah, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyampaikan bahwa hibah hanya diberikan sekali. Kalau kelompok membutuhkan modal sebagai usaha pengembangan tentunya harus membentuk koperasi untuk kegiatan usaha penambahan modal.

Diharapkan pula petani atau kelompok harus mampu menangkap peluang usaha bisnis yang menguntungkan.




Produksi Cacing Sutera Diharapkan Penuhi Kebutuhan Pakan Ikan DIY

Sleman –  Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo ikut menyaksikan panen perdana Cacing Sutera di Dusun Gancahan Desa Sidomulyo Godean, Sleman, Kamis (27/3). Asosiasi Cacing Sutera Yogyakarta di Gancahan telah berhasil melakukan panen perdana hasil budidayanya.

Perlu diketahui bahwa permintaan cacing sutera sangat tinggi, terlebih pada musim penghujan harga cacing sutera melonjak dua kali lipat karena ekosistem cacing sutera di saluran air  hilang akibat tersapu air.

Salah satu pakan alami dan yang paling banyak digunakan maupun diperjualbelikan dalam budidaya ikan, adalah cacing sutera. Menilik potensi perikanan darat di Kabupaten Sleman yang begitu besar, tentunya juga memberikan dampak positif bagi usaha budidaya pakan ikan termasuk di antaranya budidaya cacing sutera.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X berpesan agar petani jangan tergantung pada pakan hasil pabrikan. Dengan tingginya harga pakan ikan maka petani diharapkan mampu membuat pakan, tentu dengan kualitas yang baik dan dengan harga yang terjangkau.

“Kalau petani mampu membuat/memproduksi pakan ikan sendiri, maka pengeluaran dapat lebih ditekan,” kata Sri Sultan.

Lebih lanjut disampaikan Sri Sultan bahwa kalau permintaan pakan lebih besar tentunya harganya bisa lebih murah, bukan malah harganya dinaikan.

Keberadaan asosiasi Cacing Sutera Yogyakarta diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pakan untuk benih ikan lele dan Gurami. Dengan terpenuhinya kebutuhan cacing sutera, maka diharapkan perkembangan perikanan darat di DIY akan lebaih baik lagi.

Pada kesempatan tersebut, bupati mengimbau para petani ikan untuk dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan di luar keahlian dalam budidaya perikanan. Melalui budidaya cacing sutera, saya yakin dapat meningkatkan pendapatan para petani guna memajukan kesejahteraan.

“Para petani harus memiliki orientasi pasar dalam usaha budidaya perikanan,” katanya menegaskan.

Perwakilan Asosiasi Cacing Sutera Yogyakarta, Suhardi, melaporkan bahwa kebutuhan cacing sutera di DIY masih banyak hingga peluang untuk pengembangan cacing Sutera masih terbuka lebar.

Suhardi menambahkan bahwa untuk budidaya cacing sutera tersebut menempati lahan seluas 1 Ha dan sudah terisi 60%. Keuntungan atau hasil yang diperoleh dari budidaya cacing sutera ini sangat besar.

Sebagai contoh dengan lahan yang hanya 300 m² mampu menghasilkan cacing Sutera 4-7 liter. Dengan lahan seluas 1 ha tersebut maka diharapkan akan mampu menambah ketersediaan kebutuhan pakan benih lele dan Gurami di DIY.




Warga Kabupaten Sleman Ubah Limbah Jadi Pupuk Organik

Sleman – Banyaknya limbah hayati di lingkungan sekitar menumbuhkan ide bagi warga Kabupaten Sleman, dari sejumlah komunitas peduli lingkungan, untuk mengubahnya menjadi pupuk organik. Bahan baku hayati tersebut, difermentasi menjadi pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia.

Warga Dusun Karanggawang, Girikerto, Turi, Kabupaten Sleman, Winarta, ketika ditemui di kediamannya, Selasa (25/3),  mengungkapkan bahwa komunitas warga membuat pupuk organik menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan alam. Pupuk organik dari limbah hayati merupakan pengganti pupuk kimia, yang memiliki dampak merusak lingkungan.

Misalnya, bahan limbah tulang sapi, dapat digunakan untuk mengganti pupuk kimia TSP. Tulang sapi digunakan karena banyak mengandung fospor. Kerang dan cangkang telur yang sudah difermentasi,  juga dapat mengganti pupuk TSP sekaligus menetralisasi keasaman tanah.

Sejumlah bahan baku hayati seperti ikan lele, mujaer, tulang sapi, batang brotowali, kerang, dan cangkang telur, dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik. Lele dan mujaer difermentasi dengan menggunakan gula aren untuk mengganti pupuk urea. Gula aren digunakan sebagai makanan mikroba dan menyedot nutrisi bahan hayati.

Fermentasi batang brotowali dapat mengganti pupuk KCL. Tanaman brotowali mengandung kalium tinggi. Batang brotowali juga dapat diganti daun tanaman yang memiliki rasa pahit seperti buah mojo.

Cara pembuatan pupuk organik dari bahan hayati tersebut, yaitu dengan mencampur semua bahan baku limbah hayati dengan gula aren ke dalam toples untuk difermentasikan. Proses fermentasi membutuhkan waktu hingga selama tujuh hari untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Bahan limbah yang berasal dari tanaman juga dapat digunakan sebagai pupuk dan nutrisi lahan ataupun ternak. Seperti limbah bunga jantung pisang yang dapat digunakan untuk menetralisasi unsur kimia lahan pertanian. Selain itu, temu lawak juga dapat digunakan untuk menambah nafsu makan ternak.

Winarta mengakui bahwa hasil fermentasi hayati yang dilakukan warga belum diperiksa kandungan unsur haranya di laboratorium. Namun, pembuatan pupuk organik tersebut sudah diuji dan dipakai oleh komunitas. Menurut warga, pupuk organik dapat memacu pertumbuhan tanaman dan ternak.