Anggota DPRD Sleman Gelar Public Hearing Raperda BMD, Masyarakat Diajak Beri Masukan

Sleman – Upaya menyempurnakan tata kelola aset daerah terus dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sleman. Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman, Sukamto, menggelar Public Hearing atau Rapat Dengar Pendapat Umum terkait Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perubahan atas Perda Kabupaten Sleman Nomor 14 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) di Wisata Kaliklangsi, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (19/10/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Analis Keuangan Pusat dan Daerah Ahli Muda pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Sleman, Dini Nurul Hayati, yang memaparkan secara menyeluruh ruang lingkup hingga tahapan pengelolaan BMD.

Sukamto menjelaskan bahwa Perda Nomor 14 Tahun 2022 yang ditetapkan pada 28 Desember 2022 membutuhkan penyempurnaan agar selaras dengan dinamika kebutuhan tata kelola aset daerah saat ini.

“Public hearing ini kami selenggarakan untuk menampung masukan dan aspirasi masyarakat terhadap rancangan peraturan daerah yang sedang disusun,” ujar Sukamto.

Dalam paparannya, Dini Nurul Hayati menjelaskan bahwa pengelolaan BMD mencakup rangkaian proses terpadu, mulai dari perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, hingga pemindahtanganan, pemusnahan, penghapusan, dan penatausahaan aset.

Pemanfaatan aset daerah dapat dilakukan melalui berbagai skema seperti sewa, pinjam pakai, kerja sama pemanfaatan, bangun guna serah, maupun kerja sama penyediaan infrastruktur dengan tetap memprioritaskan fungsi pelayanan publik. Penatausahaan aset juga diwajibkan melalui inventarisasi fisik secara berkala sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun.

Melalui uji publik ini, DPRD Sleman berharap Raperda BMD yang dihasilkan dapat menjadi regulasi yang akuntabel, tertib administrasi, dan mengoptimalkan potensi aset daerah bagi kesejahteraan masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Raih Juara Nasional Bulutangkis, Puri Kania Buktikan Prestasi Siswa Tak Hanya di Ruang Kelas

Sleman – Prestasi membanggakan diukir oleh Puri Kania Candrakanti, siswi kelas X SMA Ma’arif 1 Sleman. Berpasangan dengan Naila Difla Syahira, ia berhasil meraih juara pertama nomor ganda remaja putri pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bulutangkis Piala Raja Hamengku Buwono X ke-2 Tahun 2026 yang berlangsung di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 15–20 September 2026.

Pencapaian ini menjadi pembuktian bahwa potensi dan keberhasilan pelajar dapat bertumbuh pesat melalui jalur nonakademik yang menuntut ketekunan, kedisiplinan tinggi, serta kerja sama tim.

Kepala SMA Ma’arif 1 Sleman, Moch Noor Wachid, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas prestasi nasional yang diraih anak didiknya tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga atas prestasi yang diraih oleh ananda Puri Kania Candrakanti. Keberhasilan ini bukan sekadar kemenangan dalam sebuah kejuaraan, tetapi juga menjadi bukti bahwa kerja keras, kedisiplinan, ketekunan, dan semangat pantang menyerah dapat mengantarkan seorang murid meraih prestasi yang luar biasa,” ujar Moch Noor Wachid pada Senin (19/10/2026).

Ia menegaskan bahwa pihak sekolah terus berkomitmen membangun lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan minat, bakat, dan karakter siswa secara menyeluruh, tidak hanya terbatas pada capaian akademik di ruang kelas.

Moch Noor Wachid juga mengapresiasi peran orang tua, pelatih, serta seluruh pihak yang konsisten mendampingi dan mendukung proses latihan Puri hingga mencapai podium tertinggi.

“Kesan saya, prestasi ini sangat membanggakan dan menjadi energi positif bagi seluruh warga sekolah. Kami berharap keberhasilan Puri tidak berhenti pada satu gelar juara, melainkan menjadi langkah awal untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, tetap rendah hati, serta mampu membagi waktu antara pendidikan dan olahraga,” pungkasnya. (SBD/KIM Tempel)




Sinergi Kundha Kabudayan dan Pasbuja Sleman Perkuat Literasi Bahasa Jawa Lewat Alamkara 2026

Sleman – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman berkolaborasi dengan Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi menggelar Program Literasi Bahasa Jawa bertajuk Alamkara 2026. Program ini berhasil menjangkau 150 peserta melalui enam angkatan (batch) pelatihan dengan ragam fokus penulisan sastra Jawa pada Senin (19/10/2026).

Rangkaian pelatihan Alamkara 2026 dirancang untuk memperkuat keterampilan menulis masyarakat, mencakup materi penulisan cerita pendek Jawa (cerkak), dongeng, biografi, artikel khas (feature), riset materi penulisan, hingga penguasaan dan pemaknaan aksara Jawa guna mendorong regenerasi penulis muda.

Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pasbuja Kawi Merapi Sleman, Wiwien Widyawati Rahayu, menjelaskan bahwa sinergi ini menjadi kunci penting dalam memicu tumbuhnya budaya literasi berbasis kearifan lokal secara terarah dan berkelanjutan.

“Keterlibatan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan fasilitasi terhadap program pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Melalui Alamkara, masyarakat didorong memanfaatkan bahasa Jawa sebagai media menuangkan gagasan dan memupuk kreativitas,” ujar Wiwien Widyawati Rahayu saat rapat koordinasi di Ruang Rapat Rukun Kundha Kabudayan Sleman.

Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Joko Dwi Haryadi, menegaskan pentingnya peran aktif komunitas sastra dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah di era modern.

“Kami memerlukan keterlibatan aktif komunitas dan masyarakat untuk memastikan bahasa Jawa tetap digunakan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi muda melalui kegiatan yang relevan dengan kehidupan masa kini,” kata Joko Dwi Haryadi.

Joko menambahkan, karya-karya lisan maupun tulisan yang dihasilkan dari Program Alamkara 2026 diharapkan dapat memperkaya khazanah sastra Jawa di Kabupaten Sleman, sekaligus menjadi rekam jejak dokumentasi sosial-budaya bagi generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




AMM Ngaglik Ajak Masyarakat Sedekahkan Sampah untuk Aksi Sosial dan Kemanusiaan

Sleman – Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kapanewon Ngaglik terus konsisten mengedukasi masyarakat dalam mengelola sampah anorganik melalui Gerakan Sedekah Sampah (GSS). Aksi rutin yang digelar setiap hari Ahad Pahing ini kembali dilaksanakan di Lapangan Pemda Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (18/10/2026).

Melalui gerakan tersebut, sampah anorganik terpilah yang dikumpulkan dari warga dijual ke bank sampah atau pengepul, lalu seluruh hasilnya dialokasikan penuh untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Koordinator GSS, Hidayatul Mabrur, menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan meningkatkan kepedulian lingkungan sekaligus mengubah sampah rumah tangga menjadi dana sosial yang bermanfaat bagi sesama.

“Gerakan Sedekah Sampah ini bukan sekadar kegiatan mengumpulkan barang bekas. Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah yang dipilah dengan baik masih memiliki nilai dan dapat menjadi amal sosial,” ujar Hidayatul Mabrur di sela kegiatan.

Selama tiga tahun berjalan, program GSS terbukti berhasil menghimpun dana sekitar Rp5 juta dari hasil penjualan barang bekas yang disetorkan warga. Dana sosial tersebut kemudian disalurkan untuk operasional rumah ibadah, santunan anak yatim piatu, bantuan fakir miskin, hingga dukungan biaya pendidikan.

Adapun jenis sampah yang diterima meliputi plastik, kertas, kardus, logam, kaca, barang elektronik, hingga minyak jelantah. Agar memiliki nilai jual dan mempermudah pemrosesan, warga diimbau untuk memilah, membersihkan, dan mengeringkan sampah dari rumah sebelum disetorkan melalui drop box di rumah ibadah, sekolah, maupun titik kumpul komunitas.

Selain itu, Hidayatul mengingatkan pentingnya keamanan penanganan sampah berisiko seperti lidi tusuk sate. Menurutnya, lidi yang tajam harus dikumpulkan dalam wadah yang kuat seperti botol bekas atau kardus agar tidak melukai petugas kebersihan dan pengangkut sampah. Warga juga diimbau membawa wadah makan dan minum sendiri demi mengurangi sampah sekali pakai.

“Kami berharap masyarakat mulai membawa wadah sendiri dan mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Jika masyarakat sudah terbiasa memilah dan mengeringkan sampah dari rumah, pengelolaannya akan menjadi jauh lebih mudah,” pungkas Hidayatul Mabrur. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Festival Bregada Rakyat DIY 2026: Atraksi Keprajuritan Mataram Hidupkan Tradisi di Tengah Zaman

Sleman – Suasana Minggu (18/10/2026) siang di Lapangan Gentan, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berubah semarak. Sebanyak 18 kontingen Bregada Rakyat dari berbagai wilayah di DIY tampil memukau dalam Festival Bregada Rakyat DIY 2026 dengan membawakan atraksi keprajuritan bergaya Mataram yang sarat nilai sejarah, kedisiplinan, dan semangat pelestarian budaya Jawa.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul WIB dengan titik start di Lapangan Gentan menuju panggung utama di Youth Centre Yogyakarta. Menyusuri rute sepanjang kurang lebih 500 meter, iring-iringan prajurit rakyat tampil anggun dengan busana khas, formasi barisan yang rapi, serta gerakan keprajuritan yang teratur.

Ratusan penonton memadati sepanjang rute untuk menyaksikan jalannya pawai budaya tersebut. Salah satu panitia penyelenggara menyampaikan bahwa perhelatan ini menjadi wujud nyata komitmen masyarakat dalam merawat kebudayaan lokal.

“Festival ini bukan sekadar pergelaran seni dan budaya, tetapi juga menjadi wujud nyata semangat masyarakat dalam menjaga, merawat, dan melestarikan warisan tradisi keprajuritan Mataram agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujar salah satu panitia di sela-sela acara.

Antusiasme warga terlihat dari riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton yang memagari alur kirab. Salah seorang pengunjung asal Bantul, Rina (34), mengaku sengaja datang lebih awal demi menyaksikan langsung aksi para peserta.

“Saya datang jauh-jauh dari Bantul karena ingin melihat langsung formasi prajurit Mataram. Bangga rasanya tradisi ini masih dijaga anak muda,” tutur Rina.

Penyelenggaraan Festival Bregada Rakyat DIY 2026 membuktikan bahwa tradisi keprajuritan Mataram tetap relevan dan dicintai lintas generasi. Melalui perpaduan busana yang megah, alunan alat musik tradisional, serta gerak barisan yang penuh makna, para peserta menegaskan peran penting mereka sebagai benteng pelestari warisan budaya Yogyakarta. (Edy – KIM Moyudan)