Rampung Diaspal, Jalan Anggajaya 2 Condongcatur Kini Mulus

Sleman — Penantian panjang masyarakat Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, terhadap perbaikan infrastruktur akhirnya terjawab. Ruas Jalan Anggajaya 2 yang menjadi akses penghubung kawasan Gejayan–Sanggrahan–Manukan rampung diaspal pada Jumat (23/10/2026) pukul WIB dan kembali dibuka untuk umum mulai pukul WIB.

Peningkatan jalan sepanjang meter dengan lebar 4,5 hingga 5 meter ini merupakan bagian dari program pembangunan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman. Proyek Paket 12 Ruas Sanggrahan–Manukan Tahun Anggaran 2026 ini memiliki nilai kontrak sekitar Rp2,47 miliar, yang dikerjakan oleh CV Atmo Putro dengan Hariyanto sebagai pelaksana lapangan.

Pekerjaan fisik tersebut didahului oleh serangkaian tahapan yang dimulai sejak beberapa bulan sebelumnya, meliputi normalisasi saluran drainase sepanjang 300 meter dan pengecoran bahu jalan guna memperkuat struktur tepi serta mencegah genangan air. Tahap pengaspalan badan jalan sendiri dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Kamis–Jumat (22–23/10/2026).

Menariknya, sehari setelah pengaspalan rampung, kawasan Yogyakarta disambut oleh gerimis dan hujan ringan pada Sabtu (24/10/2026) pagi. Turunya hujan ini mengakhiri periode kemarau panjang, sekaligus menjadi momentum penting untuk menguji kesiapan sistem drainase baru di sekitar ruas jalan tersebut.

Perbaikan Jalan Anggajaya 2 bukan sekadar proyek fisik, melainkan realisasi aspirasi warga yang telah diperjuangkan selama kurang lebih tiga tahun. Aspirasi tersebut kembali mengemuka dalam kegiatan Sambung Rasa bersama pimpinan DPRD DIY dan DPRD Kabupaten Sleman di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur pada Sabtu (14/03/2026).

Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto, menyampaikan apresiasi atas terealisasinya pembangunan infrastruktur ini dan mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas publik tersebut agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

“Rampung pada Jumat malam dan disambut gerimis pada Sabtu pagi, Jalan Anggajaya 2 menjadi simbol terwujudnya harapan masyarakat akan infrastruktur yang lebih baik. Jalan yang mulus bukan sekadar menghadirkan kenyamanan berkendara, tetapi juga membuka akses yang lebih lancar bagi aktivitas sosial, pelayanan publik, dan perekonomian warga,” ujar Budi. (Wasana/KIM Depok)




Alamkara, Sarana Memperdalam dan Memperindah Majas dalam Karya Sastra

Sleman — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Paguyuban Budaya dan Sastra Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman menggelar program literasi karya tulis bertajuk Alamkara.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman pada Sabtu (24/10/2026) di Rumah Makan Sego Welut Godean, Sleman. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, and Permuseuman Dinas Kebudayaan Sleman, Dwi Joko Haryadi, serta Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Disbud Sleman, Ita Kurniawati. Acara ini diikuti oleh 23 penulis baru serta sejumlah anggota Pasbuja Kawi Merapi.

Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan fasilitasi dari Bupati Sleman melalui Dinas Kebudayaan Sleman yang dilaksanakan oleh Pasbuja. Ia menyebutkan, organisasi yang dipimpinnya berdiri pada 30 November 2018 dengan 13 anggota awal dan kini telah berkembang menjadi 138 anggota.

“Pada bulan depan kita akan memasuki usia yang ke delapan tahun,” tutur Sutopo, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada Disbud Sleman atas kepercayaan yang diberikan dalam penyelenggaraan program Alamkara. “Semoga kolaborasi ini menjadi semangat kita dalam membangun gotong royong,” ungkapnya.

Sementara itu, bidang Litbang Pasbuja Kawi Merapi yang juga dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Wiwien Widyawati Rahayu, menjelaskan filosofi di balik pemilihan tajuk kegiatan tersebut. Istilah Alamkara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti hiasan, ornamen, dekorasi, atau keindahan.

Wiwien memaparkan, dalam konteks sastra, alamkara merujuk pada gaya bahasa atau majas yang berfungsi untuk memperindah dan memberikan nilai estetika pada suatu karya tulis.

“Melalui kegiatan ini kami berharap peserta mampu mengekspresikan karya tulis yang indah,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keindahan bahasa merupakan modal utama bagi seorang penulis untuk memikat pembaca.

“Karya tulis yang indah yang didukung kaidah penulisan yang benar merupakan awal kesempurnaan sebuah karya tulis yang enak dinikmati oleh pembacanya,” pungkas Wiwien. (Giek/KIM Moyudan)




Lomba Videografi Profil Padukuhan Porkal Banyuraden 2026: Karang Taruna Wira Muda Ajak Warga Promosikan Potensi Daerah

Sleman — Karang Taruna Wira Muda Banyuraden menggelar Lomba Videografi Profil Padukuhan untuk memeriahkan Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) Banyuraden 2026. Ajang ini diselenggarakan guna mendorong masyarakat mendokumentasikan potensi wilayah sekaligus memperluas promosi padukuhan melalui media digital.

Proses penjurian karya lomba berlangsung di Ruang Rapat Kalurahan Banyuraden pada Jumat (23/10/2026). Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari Susilo Dwi Murwanto (Pengelola Sleman Creative Space), Adnan Iman Nurtjahjo (Ketua Forum Komunitas Informasi Masyarakat Kabupaten Sleman), serta Hermantara Dwi Laksana (Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman).

Juri Susilo Dwi Murwanto menyampaikan bahwa lomba ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi kreativitas audiovisual, tetapi juga sarana membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya dokumentasi wilayah.

“Melalui video profil, berbagai potensi yang selama ini belum banyak diketahui publik dapat dikemas menjadi informasi visual yang menarik, mudah dipahami, dan dapat disebarluaskan melalui berbagai platform digital,” ujar Susilo.

Juri Hermantara Dwi Laksana menambahkan, keterlibatan generasi muda dalam proses pengambilan gambar, penyusunan cerita, hingga publikasi konten menjadi ruang pembelajaran keterampilan digital yang sangat relevan. Video profil ini memiliki nilai strategis untuk mengenalkan tradisi, produk unggulan, dan destinasi lokal tanpa terbatas jarak geografis.

Senada dengan hal tersebut, juri Adnan Iman Nurtjahjo menegaskan pentingnya keberlanjutan dari karya-karya yang telah dibuat oleh para peserta.

“Pemanfaatan media digital secara berkelanjutan akan memberikan manfaat lebih besar apabila karya yang dihasilkan tidak berhenti pada perlombaan, tetapi terus dipublikasikan dan dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi serta promosi potensi padukuhan,” tutur Adnan.

Tahap penjurian tersebut turut disaksikan langsung oleh Lurah Banyuraden Sudarisman, Carik Banyuraden Hendy Indra Utama, Kamituwa Banyuraden Agus Nurdalmadi, serta jajaran panitia lomba sebagai bentuk dukungan pemerintah kalurahan terhadap kreativitas pemuda.

Melalui kegiatan ini, Karang Taruna Wira Muda Banyuraden berhasil mengambil peran aktif dalam membangun budaya dokumentasi digital di tingkat padukuhan demi mendukung pengembangan ekonomi dan promosi wilayah. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Muslimat NU Lumbungrejo Rawat Tradisi Pengajian untuk Teguhkan Akhlak dan Kerukunan

Sleman — Pengajian rutin kembali menjadi ruang bagi kaum perempuan untuk memperkuat keimanan sekaligus merawat persaudaraan. Kegiatan yang diinisiasi oleh Muslimat NU Ranting Lumbungrejo ini digelar di Musholla Nurul Ummah, Padukuhan Kopen, Tegalmulyo, Lumbungrejo, Tempel, Sleman, pada Sabtu (24/10/2026).

Acara yang dimulai pukul WIB tersebut dihadiri ratusan jemaah serta menghadirkan penceramah Imaduddin dari Badalan, Pondokrejo, dengan iringan Grup Hadroh Syafa’atul Ummah.

Antusiasme tinggi dari masyarakat mendapat apresiasi dari sang penceramah. Menurutnya, kehadiran jemaah dalam majelis ilmu ini membuktikan bahwa ruang pembelajaran agama dan kebersamaan masih sangat dibutuhkan di tengah dinamika zaman.

“Jemaah yang hadir hari ini cukup banyak. Ini menunjukkan bahwa Muslimat NU Lumbungrejo semakin berkembang, bukan semakin berkurang,” tutur Imaduddin dalam tausiyahnya.

Dalam ceramahnya, Imaduddin mengajak jemaah memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui selawat serta meneladani akhlak mulia beliau. Penyampaian pesan keagamaan yang diselingi humor dan contoh kehidupan sehari-hari membuat materi terasa dekat dengan pengalaman jemaah. Ia juga mengingatkan agar kegiatan keagamaan tidak berhenti sebagai rutinitas seremonial semata, melainkan menjadi sarana nyata untuk memperbaiki perilaku.

“Pengajian jangan hanya menjadi kegiatan yang kita hadiri, tetapi harus membawa manfaat dalam kehidupan. Nasihat agama perlu disampaikan sesuai keadaan dan kebutuhan masyarakat agar lebih mudah dipahami dan diamalkan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kapanewon Tempel, Imam Suhadi, mengingatkan warga NU agar senantiasa menjaga kerukunan dan menghindari perpecahan di tengah berbagai agenda organisasi yang padat.

“Hal terpenting bagi warga NU adalah memiliki hati yang baik. Jangan senang bertengkar dan jangan menyukai perpecahan, karena perselisihan hanya akan melemahkan kita semua,” pesan Imam.

Sebelumnya, Dukuh Kopen yang hadir mewakili Lurah Lumbungrejo menyampaikan rasa syukur serta apresiasi atas terselenggaranya kegiatan keagamaan yang mempererat kebersamaan antarwarga tersebut.

Melalui majelis di Padukuhan Kopen ini, tradisi pengajian Muslimat NU kembali memperlihatkan perannya sebagai wadah pemeliharaan iman, penguatan akhlak, sekaligus perawat kerukunan hidup bermasyarakat. (SBD/KIM Tempel)




Perpustakaan Saraswati Sinduharjo Berkomitmen Jadi Pusat Kegiatan Kreatif dan Edukatif

Sleman — Perpustakaan Saraswati Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, menggelar workshop pembuatan topeng dari kertas dan koran bekas di Joglo Taman Budaya Lohjinawi, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini bertujuan mengampanyekan kepedulian lingkungan sekaligus mengasah kreativitas anak-anak.

Acara yang diikuti lebih dari 20 anak ini berlangsung interaktif dengan menghadirkan seniman sekaligus praktisi dari Sanggar Wayang Dongeng, Bagong Soebarjo. Para peserta tampak antusias mengikuti arahan memanfaatkan sampah kertas tak terpakai menjadi karya seni topeng yang unik dan bernilai guna.

“Topeng adalah salah satu output-nya di sini, yang lebih penting bagi kami adalah pendayagunaan kertas-kertas bekas ini,” tutur Uni, salah satu inisiator dan pengelola Perpustakaan Desa Saraswati.

Seluruh fasilitas dan bahan praktik, mulai dari karton bekas mi instan, koran, lem kayu, hingga cat air, disiapkan secara gratis oleh panitia.

Perpustakaan Saraswati dikenal cukup gencar menjalankan berbagai program literasi, seperti read aloud serta kelas bahasa asing seperti bahasa Korea dan Jepang. Perpustakaan ini juga aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak dan komunitas untuk memperluas jangkauan kegiatan edukatif.

Uni menambahkan, perpustakaannya tidak hanya terbuka untuk anak-anak, tetapi juga siap memfasilitasi berbagai kegiatan bagi kalangan dewasa dan orang tua, seperti bimbingan teknis, lokakarya, seminar, maupun diskusi.

“Tentunya sesuai prosedur ya. Kita ajukan ke Pak Lurah dulu untuk minta persetujuan,” pungkasnya.

Melalui dukungan fasilitas yang memadai di kompleks Joglo Taman Budaya Lohjinawi, Perpustakaan Saraswati Sinduharjo berharap dapat terus mendorong semangat literasi, kreativitas, dan kesadaran lingkungan secara berkelanjutan di tengah masyarakat. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)