Merawat Tradisi Lewat Kata, Pelatihan Sesorah dan Pranatacara Bekali Warga Lumbungrejo

Sleman – Upaya melestarikan kebudayaan Jawa membutuhkan ruang praktik nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Guna mewujudkannya, Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo menggelar Pelatihan Sesorah dan Panatacara yang bertempat di Aula Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (19/10/2026).
Kegiatan yang dibiayai melalui Alokasi Dana Desa (ADD) Kalurahan Lumbungrejo ini diikuti peserta dari unsur Karang Taruna, pengurus RT/RW, serta kader PKK Padukuhan Kromodangsan. Turut hadir dalam pembukaan acara Lurah Lumbungrejo M. Misbah Al Hakim, Carik Lumbungrejo Herman Subagya, serta Plt. Dukuh Kromodangsan Aisyah Putri Wulansari.
Pelatihan menghadirkan dua pemateri berpengalaman, yakni Kabid Pendidikan dan Latihan SDM DPD Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kabupaten Sleman, Yuana Agus Dirgantara, serta Saryanto dari Bidang Diklat DPC PPY Kapanewon Tempel.
Dalam pemaparannya, Yuana Agus Dirgantara menjelaskan perbedaan mendasar antara pranatacara sebagai seni tata kelola susunan acara dan panatacara sebagai sosok yang membawakan acara melalui tutur kata yang santun dan adaptif.
“Pranatacara bukan sekadar orang yang membawakan acara. Ia harus mampu menjaga ketertiban, menggunakan bahasa yang tepat, dan menghidupkan suasana melalui tutur kata yang santun,” ujar Yuana Agus Dirgantara.
Yuana membagikan empat bekal utama untuk menjadi seorang panatacara handal, yaitu niat, semangat, nekat, dan ragat. Keempatnya mencerminkan kesungguhan untuk memulai, ketekunan belajar, keberanian mencoba, serta kesediaan mengalokasikan waktu dan tenaga.
Para peserta juga dibekali penguasaan teknis penampilan yang mencakup tiga pilar utama, yakni wiraga (sikap dan gerak tubuh), wirama (tempo dan intonasi suara), serta wirasa (penghayatan terhadap suasana acara), lengkap dengan latihan artikulasi dan pernapasan.
Melalui pelatihan ini, warga tidak hanya diajak menguasai tata bahasa (paramasastra) dan Bahasa Jawa Krama secara tepat, tetapi juga didorong untuk membawa keterampilan sesorah (pidato) dan panatacara dalam berbagai pertemuan warga resmi maupun kemasyarakatan di tingkat padukuhan. (SBD/KIM Tempel)



