Bangun Watak Ksatria dengan Olahraga Jemparingan

Turi – Dalam rangka gelar potensi budaya, Kalurahan Mandiri Budaya Bangunkerto menggelar Gladen Climen Jemparingan Mataram di Desa Wisata Kelor, Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman, Minggu (3/10/2021). Kegiatan diikuti oleh peserta yang berasal dari beberapa klub Jemparingan gaya Mataraman di Kabupaten Sleman.

Jemparingan berasal dari kata jemparing yang berarti anak panah adalah olahraga panahan khas Kerajaan Mataram, yang dilakukan dengan duduk bersila, berbeda dengan panahan pada umumnya. Asal usulnya sendiri dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta, tepatnya saat masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792). Pada saat itu, Sri Sultan mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak ksatria.

Pj. Lurah Bangunkerto, Rachmad Widaryanto, berharap dengan pelaksanaan kegiatan Gladen Climen Jemparingan ini, dapat membantu mengembangkan olahraga dan kebugaran tubuh. “Selain itu, juga untuk sarana membentuk watak ksatria sebagai nilai-nilai budaya yang harus dilestarikan,” ungkap Rachmad.  

Watak ksatria sendiri terdiri dari sawiji yang bermakna konsentrasi, greget yang bermakna semangat, sengguh yang bermakna rasa percaya, dan ora mingkuh yang bermakna bertanggung jawab.

“Selain olahraga, kegiatan in (Jemparingan) juga menjadi olahrasa yang mengandung nilai filosofi yang sangat dalam dan ini harus dilestarikan dalam masyarakat.  

Pada Jemparingan Gaya Mataram Yogyakarta, pemanah menggunakan jemparing atau anak panah yang terbuat dari bambu, gendawa (busur) yang terbuat dari bambu atau kayu, dan wong-wongan (bandul) yang terbuat dari kain berisi jerami sebagai sasaran. (Arief Hartanto)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts