Belajar Jadi Kader Pendamping Difabel, Belajar Berempati dan Memahami

Ngaglik – Kita belum tentu bisa merasakan apa yang dialami oleh orang lain ketika kita tidak mengetahui dan tidak  menempatkan diri dalam posisi orang lain tersebut. Untuk bisa menempatkan diri pada posisi orang lain harus mengetahui, memahami, jika perlu bertindak sebagai orang lain tersebut.

Ini disampaikan oleh Kuni Fatonah dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) saat memberi pelatihan kader pendampingan difabel di Balai Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin (22/7/2019).

“Hal-hal dasar jika hendak membantu difabel, bertanya terlebih dahulu sebelum membantu. Jika ingin membantu pengguna tongkat atau kruk jangan dibawakan alatnya karena itu sumber keseimbangan mereka, tetapi dampingi saja. Berbicaralah biasa seperti ketika bicara kepada orang lain, jangan berasumsi dan jangan membuat keputusan untuk mereka dan responlah dengan sopan permintaan mereka,” jelas Kuni Fatonah.

Kuni Fatonah kemudian mencontohkan bagaimana berinteraksi dengan difabel. Misalnya cara berinteraksi dengan difabel pengguna kursi roda, pendamping difabel ketika berbicara sebaiknya  sejajar dengan pengguna kursi roda. Ketika jalannya menurun, akan lebih aman jika kursi roda dibalik mundur. Bagi pengguna kursi roda sendiri hendaklah badan tegap ke belakang saatdi jalan yang menurun. Dan ketika jalannya naik, sebaiknya membungkuk ke depan.

Untuk difabel netra, awali dengan menyapa, sentuhkan punggung tangan, dan mengenalkan diri. Kader harus menanyakan keperluannya dan tidak dibenarkan berasumsi. Bila ingin menggandeng tuna netra ulungkan lengan, biarkan difabel netra memegang lengan di atas siku. Ketika berjalan bersama, ceritakan lingkungan sekitar saat naik, turun, berundak, dan ketika jalan sempit, julurkan tangan ke belakang sambil memberitahu.

Saat berbicara dengan tuna netra, hindari kata ini dan itu, lebih baik dijelaskan. Ketika tuna netra akan duduk, maka rabakan tangan tuna netra di tempat duduk dan pastikan sampai dia bisa duduk sendiri. Tanyakan apakah dia siap untuk ditinggalkan.

Untuk difabel tuli dan difabel wicara, berbicaralah di depannya secara pelan untuk memperlihatkan gerak muka. Berilah gambar atau tulisan untuk memperjelas. Tidak perlu berteriak, gunakan bahasa yang sederhana.

Untuk difabel intelektual, pakailah kalimat yang mudah dipahami dan bersabarlah mendengarkan ceritanya. Kepada difabel mental, cara berinteraksi hendaklah bersabar. Hormati dan biarkan mereka bercerita menyampaikan keinginannya, jangan terlalu ketat namun perlu diawasi dari jauh.

Selanjutnya peserta pelatihan diajak bermain simulasi sebagai tuna netra dan tuna daksa, melintasi halaman Balai Desa. Salah seorang peserta dari Desa Donokerto mengaku bisa larut dan merasakan bagaimana seandainya menjadi tuna netra, dan merasa tetap kesulitan meski dipandu. “Saya jadi merasa sangat bersyukur atas karunia Tuhan yang luar biasa ini, dan jauh lebih bisa menyelami kesulitan dan perasaan tuna netra,” aku Nur Widyawati yang berperan sebagai salah satu pemain peran tuna netra.

Adapun Huda dari Desa Tirtomartani yang bermain peran sebagai pemandu dan pendamping tuna netra merasa jadi pendamping itu harus peduli, sabar dan ikhlas. “Rasanya sangat berbeda dan tidak bisa membayangkan bagaimana dengan teman-teman tuna netra yang tidak ada yang mendampingi,” ujar Huda.

Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas memiliki pandangan bahwa seseorang menjadi difabel karena lingkungan yang tidak mendukung kaum difabel untuk melakukan aktivitas dan mobilitas. Karena itu lingkungan baik fisik maupun sosial perlu dipersiapkan agar kaum difabel juga dapat berinteraksi dan beraktivitas dengan baik, salah satunya melalui pelatihan kader pendamping difabel ini.(KIM Ngaglik/Endarwati)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts