SD Muhammadiyah Mantaran Gelar Pelatihan Mitigasi Gempa, Wujudkan Sekolah Siaga Bencana

Isi Berita

Sleman – SD Muhammadiyah Mantaran, Trimulyo, Sleman, menggelar kegiatan edukasi mitigasi gempa bumi pada Senin (27/10). Pelatihan ini menghadirkan Supriyanto atau “Ndan Supri Semprit”, beserta tim AmbulanMu Turi dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PDM Sleman.

Supriyanto menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran dan kesiapsiagaan sejak dini di lingkungan sekolah. Sebagai lembaga penanggulangan bencana Muhammadiyah, MDMC tidak hanya bergerak saat bencana terjadi, tetapi juga fokus pada edukasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan.

Materi dimulai dengan pengenalan berbagai jenis bencana. Ia menekankan pentingnya pemahaman dasar agar siswa tidak panik saat terjadi gempa.

“Bencana tidak bisa dihindari, tapi dampaknya bisa diminimalkan jika kita siap,” tegas Supriyanto.

Setelah sesi teori, siswa diajak mempraktikkan simulasi penyelamatan diri saat gempa, termasuk langkah “drop, cover, and hold on”. Mereka juga dilatih untuk menuju titik kumpul yang aman setelah guncangan berhenti. Suasana simulasi berlangsung penuh semangat.

Pada sesi evaluasi, Supriyanto merekomendasikan sekolah untuk memperbarui Tim Siaga, dokumen prosedur tanggap bencana, dan memasang rambu-rambu evakuasi.

Kepala SD Muhammadiyah Mantaran, Nur Hayati , M.M., menyambut baik kegiatan ini dan berterima kasih kepada MDMC PDM Sleman. “Edukasi semacam ini sangat penting agar warga sekolah tangguh menghadapi bencana,” tuturnya. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




KOKAM Berbah Gelar Pelatihan Tanggap Bencana, Bekali Anggota Kemampuan Damkar dan Gergaji Mesin

Sleman – Bidang Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) dan Search And Rescue (SAR) Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PC PM) Kapanewon Berbah menggelar pelatihan penanggulangan kebakaran dan penggunaan gergaji mesin pada Minggu (26/10/2025). Kegiatan yang berlangsung di SMK Muhammadiyah Berbah ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan keterampilan teknis para relawan dalam menghadapi situasi darurat.

Pelatihan ini menghadirkan pemateri dari Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman, yaitu Sutiyono dan Sutaryanto. Keduanya merupakan pegiat kerelawanan yang telah berpengalaman di tingkat lokal hingga nasional.

“Kami menyelenggarakan pelatihan teori dan praktik gergaji mesin ini sebagai bentuk kesiapsiagaan,” ujar Panca Septiana dari Bidang KOKAM dan SAR PC PM Berbah.

Sutiyono menjelaskan, pelatihan ini fokus pada dua kompetensi utama. Pertama, teknik pemadaman kebakaran yang mencakup prosedur standar penanganan awal insiden. Kedua, penggunaan gergaji mesin sebagai alat vital dalam operasi SAR, terutama untuk membuka akses di lokasi bencana yang terhalang reruntuhan atau pohon tumbang.

Dengan pembekalan keterampilan teknis ini, diharapkan relawan KOKAM dan SAR dapat merespons insiden dengan lebih cepat, efektif, dan aman. Pelatihan ini juga menjadi implementasi semangat fastabiqul khoirot, atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Melalui pelatihan berkelanjutan, PC PM Berbah berkomitmen mencetak relawan terampil dan siap diterjunkan dalam berbagai situasi darurat, sehingga kontribusinya bagi keselamatan masyarakat menjadi semakin nyata,” pungkas pungkas Sutiyono. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Antisipasi Bencana Merapi, KSB Umbulharjo Digitalisasi Pengelolaan Logistik

Sleman – Kelompok Siaga Bencana (KSB) Merapi Rescue Kalurahan Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, melakukan penataan ulang dan digitalisasi lumbung logistik. Inovasi ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana, terutama erupsi Gunung Merapi.

Kegiatan yang berlangsung Senin (29/9) ini meliputi penataan dan pendataan ulang stok logistik, pembenahan perlengkapan dapur umum, serta pembaruan data secara digital. Selain itu, peralatan yang sudah tidak layak pakai juga disortir.

Ketua KSB Merapi Rescue, Sriyono, menjelaskan bahwa langkah ini bukan hanya sekadar merapikan gudang.

“Dengan digitalisasi, data logistik dapat dipantau secara real time sehingga distribusi bantuan saat darurat bisa lebih cepat, tepat, dan transparan,” ujarnya.

Seluruh personel KSB Merapi Rescue bergotong royong dalam kegiatan ini. Mereka mengecek kondisi logistik dan memastikan semua perlengkapan darurat tersusun rapi sesuai standar. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari evaluasi berkala untuk memastikan lumbung logistik selalu dalam kondisi prima.

Sriyono menambahkan, digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak di wilayah rawan bencana seperti Merapi.

“Sistem logistik yang cepat dan akurat adalah kunci utama. Kami berharap inovasi ini bisa menjadi contoh bagi KSB lainnya dalam mengelola logistik secara modern,” harapnya.

Langkah ini mencerminkan komitmen warga Umbulharjo untuk memperkuat solidaritas dan tata kelola logistik bencana yang profesional, berbasis teknologi, serta lebih responsif dalam menghadapi kemungkinan bencana. (ESK/KIM DSN)




Jumbara dan Jumtek PMI DIY 2025: Perkuat Kapasitas Relawan Muda Hadapi Ancaman Bencana

Sleman – Palang Merah Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PMI DIY) menggelar Jumpa Bakti Sleman (Jumbara) dan Temu Karya (Jumtek) 2025 untuk memperkuat kapasitas relawan muda. Acara yang berlangsung di Jaka Garong Camp Ground, Turi, Sleman, pada 27–29 September ini, diikuti oleh lebih dari 500 relawan dari berbagai provinsi.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, yang menyoroti pentingnya kesiapsiagaan relawan di tengah ancaman bencana di DIY.

“Yogyakarta dikenal sebagai supermarket bencana,” ujar Paku Alam X. “Kesiapsiagaan relawan muda yang responsif sangat dibutuhkan agar mampu memberikan pertolongan secara cepat dan tepat saat terjadi kedaruratan,” imbuhnya.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang hadir sebagai tuan rumah, menegaskan bahwa Jumbara dan Jumtek adalah momentum penting untuk mempererat solidaritas, menanamkan semangat kepalangmerahan, serta membina generasi muda dalam menghadapi berbagai situasi kemanusiaan.

Mengusung tema “Profesional, Responsif, dan Berkelanjutan”, Jumbara dan Jumtek 2025 diharapkan mampu melahirkan inovasi baru, meningkatkan kapasitas organisasi, serta memperkuat peran PMI dalam pelayanan sosial, kesehatan, dan penanggulangan bencana.

Ketua PMI DIY, GBPH H. Prakusumo, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para relawan untuk berbagi pengetahuan, mengasah keterampilan, dan memperkuat sinergi kerja kemanusiaan. Melalui serangkaian agenda seperti lomba, pelatihan, dan diskusi, acara ini diyakini akan semakin mengukuhkan PMI sebagai garda terdepan dalam aksi kemanusiaan. (ESK/KIM DSN)




SMP Negeri 3 Ngaglik Gelar Aksi Bergizi, Siapkan Generasi Sehat dan Tangguh Hadapi Bencana

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman kembali menggelar program tahunan Aksi Bergizi di SMP Negeri 3 Ngaglik, pada Jumat (26/9/2025). Kegiatan yang difokuskan untuk para siswi ini bertujuan membentuk generasi sehat, cerdas, dan berprestasi, terutama calon ibu masa depan.

Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Prajna Aditirani, perwakilan BKKBN Provinsi DIY, Samsu Eko Saputro, pejabat Kapanewon Ngaglik, Puskesmas Ngaglik, mahasiswa PK UNY, dan keluarga besar SMP N 3 Ngaglik. Rangkaian kegiatan dimulai dengan olahraga bersama dan sarapan pagi bergizi.

Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Rani dalam sambutannya menegaskan pentingnya program Aksi Bergizi untuk meningkatkan kesadaran remaja tentang pola makan sehat.

“Program ini bertujuan mewujudkan generasi sehat dan berprestasi melalui penerapan pola makan gizi seimbang sebagai pondasi utama kesehatan. Selain itu, para siswi juga diingatkan untuk rutin mengonsumsi tablet tambah darah satu kali seminggu,” ungkapnya.

Sementara itu, di lokasi berbeda, tepatnya di lapangan Pasir Luhur, Candi Winangun, Sardoharjo, para siswa putra mengikuti pelatihan kebencanaan menghadapi gempa bumi. Kegiatan ini dipandu langsung oleh BPBD Kabupaten Sleman dan Destana Sardoharjo.

Salah satu anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sleman, R. Febrianto Sapto Adi menjelaskan pentingnya edukasi mitigasi bencana sejak dini.

“Ilmu kebencanaan harus ditanamkan kepada generasi muda agar mereka siap dan tanggap menghadapi bencana yang bisa datang kapan saja,” jelasnya.

Melalui dua kegiatan berbeda ini, Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya tidak hanya mencetak generasi sehat secara fisik, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan kebencanaan. (ESK – KIM DSN NGAGLIK)