TRC Destana Sardonoharjo Tanamkan Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini

Sleman – Tim Reaksi Cepat (TRC) Desa Tangguh Bencana (Destana) Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, menggelar sosialisasi dan simulasi gempa bumi di RA Sunan Pandanaran, Senin (28/7/2025). Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kebencanaan sejak usia dini melalui program “Destana Masuk Sekolah”.

Ketua TRC Destana Sardonoharjo Wahyudi menjelaskan, edukasi dini penting agar anak-anak tidak panik saat bencana terjadi.

“Dengan pembiasaan sejak kecil, mereka akan tumbuh sebagai generasi tanggap bencana,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan pengenalan tiga jenis bencana (alam, non-alam, dan sosial), lagu-lagu edukatif kebencanaan, dan simulasi praktik berlindung dan evakuasi

Kepala RA Sunan Pandanaran Hj. Anis Sholikhah Hidayatunah, menyambut positif program ini.

“Anak-anak mendapat ilmu penting, guru juga belajar tindakan tepat saat bencana,” katanya.

Lurah Sardonoharjo Harjuno Wiwoho menegaskan program ini akan terus berlanjut.

“Kami ingin warga, termasuk anak-anak, memiliki pengetahuan dasar kebencanaan,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan evaluasi untuk mengukur pemahaman peserta. TRC Destana Sardonoharjo berkomitmen terus memperkuat ketangguhan masyarakat melalui edukasi berkelanjutan. (ESK/KIM DSN Ngaglik)




Antisipasi Bencana, TRC Destana Lumbungrejo Pangkas Pohon Rawan Tumbang di Dua Padukuhan

Sleman – Tim Reaksi Cepat (TRC) Desa Tangguh Bencana (Destana) Kalurahan Lumbungrejo, Tempel, melakukan pemangkasan sejumlah pohon rawan tumbang di Padukuhan Molodono dan Tempel, Minggu (20/7/2025). Kegiatan ini dilakukan setelah adanya laporan dari warga sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi bencana akibat angin kencang.

Sebanyak 15 relawan TRC Destana dibantu warga sekitar memotong dahan dan batang pohon menggunakan dua mesin chainsaw. Pemangkasan dilakukan di rumah Purwadi (Padukuhan Molodono RT 03) terhadap dua pohon nangka, serta di rumah Haryono (Padukuhan Tempel) pada satu pohon mundung dan satu pohon lansep/kokosan.

Ketua TRC Destana Lumbungrejo Rahmat Jatmiko mengatakan, kegiatan ini bagian dari ikrar kesiapsiagaan relawan terhadap ancaman bencana di wilayahnya.

“Relawan TRC bersama masyarakat melakukan mitigasi antisipasi bencana. Setiap ada aduan, kami harus sigap. Kejadian angin puting beliung sering terjadi di Lumbungrejo, jadi kami selalu siap tanggap darurat,” tegasnya.

Rahmat menambahkan, pemangkasan dilakukan untuk mengurangi beban pohon, khususnya yang sudah berumur tua dan berpotensi roboh saat diterpa angin kencang atau hujan deras.

Kegiatan ini dihadiri Lurah Lumbungrejo M. Misbah Al Hakim, Carik Herman Subagya, Jagabaya Nugroho Subagyo, serta unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Dalam sambutannya, Misbah menegaskan bahwa pemangkasan pohon besar adalah langkah penting untuk menjaga keselamatan warga.

“Pohon-pohon besar sebenarnya sayang kalau dipangkas, tetapi demi keselamatan penduduk, terutama saat musim hujan dan angin kencang, ini harus dilakukan. Saya apresiasi TRC Destana yang selalu sigap menanggapi aduan warga,” ujarnya.

Misbah juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, termasuk angin kencang dan sambaran petir. “Kondisi bencana sulit diprediksi, jadi masyarakat diminta selalu waspada,” tambahnya. (Sih Budi/KIM Tempel)




Condongcatur Gelar Rapat Koordinasi Satgas Kebencanaan untuk Perkuat Sinergi Penanggulangan Bencana

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar rapat koordinasi rutin Satuan Tugas (Satgas) Kebencanaan bertempat di Ruang Wacanaloka, Selasa (15/7/2025). Rapat ini dihadiri oleh berbagai unsur kebencanaan, antara lain Desa Tangguh Bencana (Destana), Kampung Siaga Bencana (KSB), Perlindungan Masyarakat (Linmas), Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Kapolsek Depok Timur.

Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi berbagai potensi bencana, serta meningkatkan kesiapsiagaan dan efektivitas penanganan di lapangan. Dengan koordinasi yang solid, pemerintah kalurahan berharap Condongcatur dapat menjadi wilayah yang tangguh terhadap risiko kebencanaan serta aman dari gangguan ketertiban.

Kapolsek Depok Timur, Kompol Rahmad Yulianto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh elemen kebencanaan di Condongcatur yang telah menunjukkan kesiapsiagaan dan respon cepat dalam menghadapi situasi darurat.

“Saya bangga atas dedikasi para relawan yang senantiasa hadir di garda terdepan saat terjadi bencana. Ke depan, saya berharap sinergi antara relawan kebencanaan dan aparat keamanan seperti Bhabinkamtibmas semakin kuat. Tidak hanya dalam konteks kebencanaan, tetapi juga dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat yang kini menghadapi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Jagabaya Kalurahan Condongcatur, Rudi Antariksawan menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap bencana yang kerap melanda wilayah. Terlebih banjir, kebakaran, dan angin puting beliung, yang dalam beberapa waktu terakhir terjadi di Condongcatur.

“Kami sangat mengapresiasi kerja keras seluruh Satgas yang telah menunjukkan komitmen dan keberanian dalam melindungi warga. Namun kita tidak boleh lengah. Koordinasi, pelatihan, dan komunikasi antar elemen harus terus diperkuat agar respon kita semakin cepat dan tepat,” tegas Rudi.

Rapat ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai langkah kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana yang telah dilakukan, serta merumuskan rencana aksi ke depan yang lebih terstruktur dan responsif terhadap dinamika wilayah.

Melalui forum ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur menegaskan komitmennya dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang kolaboratif, terencana, dan berbasis pada kekuatan masyarakat. Diharapkan, ke depan seluruh elemen dapat terus bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang aman, siaga, dan tangguh terhadap bencana maupun potensi gangguan sosial lainnya. (Lidya/KIM Depok)




UNY dan Warga Karangmojo Perkuat Ketangguhan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi

Sleman – Ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang, hingga gelombang panas semakin nyata di tengah perubahan iklim global. Menyikapi hal ini, Departemen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Sosialisasi Bencana Alam Hidrometeorologi dan Mitigasinya bagi komunitas warga Dusun Karangmojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Minggu (13/7/2025), di Perumahan Citra Ringin Mas.

Kegiatan ini menjadi wadah edukasi ilmiah sekaligus penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk bencana berbasis cuaca ekstrem. Empat dosen UNY dari latar belakang keilmuan fisika dan kebencanaan hadir sebagai narasumber, yaitu Dr. Sukardiyono, Dr. Tsania Nur Diyana, Dr. Febrina Siska Widyaningtyas, dan Roma Widiyansari.

Dr. Sukardiyono membuka sesi dengan menekankan pentingnya kesadaran kolektif terhadap risiko bencana hidrometeorologi. Ia menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di jalur cincin api dan wilayah tropis membuat negeri ini sangat rentan terhadap bencana geologis dan meteorologis.

“Fenomena El Nino dan La Nina memperparah frekuensi dan intensitas bencana. El Nino menyebabkan kekeringan panjang, sedangkan La Nina meningkatkan risiko banjir dan longsor,” ujarnya.

Menurutnya, mitigasi harus dilakukan secara struktural dan non-struktural, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali hingga edukasi masyarakat dan simulasi evakuasi. “Mitigasi harus menjadi budaya. Masyarakat perlu memiliki tas siaga, memahami jalur evakuasi, dan membangun posko tanggap bencana di tingkat lokal,” tegasnya.

Dr. Tsania Nur Diyana membahas secara khusus ancaman tanah longsor yang banyak terjadi di kawasan Sleman timur. Ia menjelaskan bahwa tanah longsor bukan hanya fenomena alam, tetapi hasil akumulasi dari kondisi geologi, curah hujan ekstrem, dan aktivitas manusia.

“Jenis-jenis tanah longsor seperti translasi, rotasi, rayapan, dan runtuhan batu memiliki karakteristik masing-masing. Warga harus bisa mengenali tanda-tanda awalnya seperti retakan tanah, pohon miring, atau aliran air baru,” jelasnya.

Ia juga memberikan tips mitigasi seperti penanaman vegetasi berakar kuat, pemeliharaan terasering, serta pentingnya menjaga saluran air agar tidak tersumbat. “Namun yang terpenting tetap edukasi. Pemahaman risiko bisa menyelamatkan banyak nyawa,” tegasnya.

Dr. Febrina Siska Widyaningtyas dalam sesinya mengajak warga memahami karakteristik dan bahaya angin kencang. Menurutnya, fenomena ini sering terjadi saat musim pancaroba dan bisa menimbulkan kerusakan besar dalam waktu singkat.

“Angin puting beliung, downburst dari awan kumulonimbus, serta angin musiman, semuanya punya potensi merusak, terutama di kawasan permukiman yang tidak dilindungi vegetasi atau memiliki struktur bangunan yang rapuh,” ungkapnya.

Ia mendorong warga untuk mengenali tanda-tanda kemunculan angin kencang dan melakukan langkah mitigasi, seperti memperkuat struktur atap, memangkas cabang pohon yang rapuh, serta memastikan prosedur evakuasi cuaca ekstrem dipahami bersama.

Dosen lainnya, Roma Widiyansari, menjelaskan bahwa gelombang panas juga termasuk bencana hidrometeorologi yang perlu diwaspadai, meski risikonya relatif kecil di wilayah tropis seperti Indonesia.

“Panas ekstrem bisa berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Risiko seperti heatstroke, kebakaran hutan, hingga penurunan produktivitas harus diantisipasi,” terangnya.

Ia menekankan pentingnya pola hidup sehat, pemanfaatan ruang hijau, dan penyediaan fasilitas publik yang ramah iklim. Roma juga mengingatkan bahwa meskipun Indonesia relatif aman dari gelombang panas, dampak tidak langsung seperti kekeringan dan kebakaran tetap harus diwaspadai akibat perubahan iklim.

Isu kekeringan menjadi penutup penting dalam rangkaian sosialisasi. Dosen UNY lainnya, Pramudya Wahyu Pradana, menyebut bahwa kekeringan bukan hanya karena hujan tak turun, tapi akibat kombinasi degradasi lingkungan, buruknya pengelolaan air, dan dampak perubahan iklim.

“Kekeringan adalah silent disaster. Ia datang pelan tapi melumpuhkan. Sawah gagal panen, air sumur menyusut, dan warga mulai kesulitan air bersih,” ujarnya.

Pramudya mendorong pembangunan embung, sumur resapan, dan kolam retensi di tingkat rumah tangga dan desa. Ia juga menyoroti pentingnya konservasi lingkungan dan budaya hemat air.

“Kita perlu mengubah cara pandang: air bukan sumber daya tak terbatas, tapi harta yang rapuh. Mitigasi kekeringan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga pola hidup,” katanya.

Sosialisasi ini berlangsung interaktif. Warga aktif berdiskusi dan menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi geografis Karangmojo, seperti lereng yang mulai tergerus dan fenomena cuaca ekstrem yang makin sering terjadi.

Para narasumber mendorong pemetaan risiko berbasis komunitas dan kolaborasi warga dengan pemerintah kalurahan serta BPBD dalam menyusun rencana kontinjensi dan jalur evakuasi.

“Literasi bencana adalah pondasi penting dalam membangun ketangguhan. Sosialisasi seperti ini bukan sekadar memberi informasi, tapi menumbuhkan kesadaran kolektif agar warga siap, sigap, dan selamat,” tutup Sukardiyono.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UNY untuk terus mendampingi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana yang menyertainya melalui pendekatan edukatif, kolaboratif, dan aplikatif. (Athiful/KIM Depok)




Pemkab Sleman Serahkan Bantuan Sosial kepada Warga Terdampak Bencana

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyalurkan bantuan sosial kepada warga terdampak bencana alam, Selasa (8/7/2025), bertempat di Ruang Rapat Sembada, Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman.

Bantuan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, kepada 29 kepala keluarga dari 11 kapanewon, yang mengalami dampak bencana angin kencang, kebakaran, serta satu kasus kematian ternak akibat bangunan kandang roboh.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Makwan, menjelaskan bahwa bantuan ini merupakan bagian dari realisasi Bantuan Sosial Tidak Terencana Periode Kelima Tahun 2025, dengan total nilai . Penyaluran dilakukan berdasarkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pedoman Pengelolaan Bantuan Bencana.

“Bencana yang terjadi selama Mei hingga Juni 2025 mencakup kejadian angin kencang dan kebakaran yang tersebar di wilayah Sleman, termasuk Sleman, Ngemplak, Seyegan, Berbah, Ngaglik, Pakem, Gamping, Tempel, Godean, Prambanan, dan Depok,” ujar Makwan.

Ia juga menyoroti salah satu kasus yang cukup mendapat perhatian, yakni kematian seekor ternak milik Pardiman, warga Padukuhan Morangan, Sindumartani, Ngemplak, akibat tertimpa kandang roboh.

Total bantuan telah disalurkan ke warga dari 19 padukuhan di 14 kalurahan. Hingga Juli 2025, BPBD Sleman mencatat total realisasi Bantuan Sosial Tidak Terencana sebesar .

Wakil Bupati Danang Maharsa menyampaikan keprihatinan atas musibah yang dialami warga serta berharap bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di musim kemarau basah seperti ini. Bantuan yang kami berikan tentu tidak sebanding dengan kerugian yang dialami, namun ini adalah wujud komitmen Pemkab Sleman dalam mendampingi masyarakat yang terdampak bencana,” tegas Danang.