Jeep Lava Tour Merapi: Menyusuri Jejak Bencana, Merajut Harapan Baru

Sleman — Udara sejuk dan langit cerah pagi itu menyelimuti kawasan lereng Gunung Merapi. Ratusan wisatawan tampak bersiap menaiki kendaraan jip untuk mengikuti Jeep Lava Tour Merapi, salah satu ikon wisata edukatif dan petualangan andalan Kabupaten Sleman.

Lebih dari sekadar wahana wisata ekstrem, Lava Tour Merapi menawarkan pengalaman menyeluruh: petualangan alam, edukasi kebencanaan, serta sentuhan budaya lokal. Wisatawan diajak menelusuri jalur lava sisa erupsi Merapi dengan mengunjungi titik-titik bersejarah seperti Batu Alien, Museum Mini Sisa Hartaku, Kali Kuning, hingga destinasi kekinian seperti Stonehenge Merapi dan World Castle.

Di Museum Mini Sisa Hartaku, pengunjung disuguhkan koleksi benda-benda yang tersisa pasca-erupsi dahsyat Merapi tahun 2010. Sepeda motor hangus, peralatan rumah tangga yang rusak, serta dokumentasi visual tragedi menjadi pengingat kuat tentang pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana.

Sementara itu, Kali Kuning menawarkan ketenangan dan keindahan alam. Wisatawan bisa bermain air, berswafoto, atau sekadar menikmati suasana alam lereng Merapi. Tempat ini juga menjadi titik perhentian yang cocok untuk beristirahat sebelum melanjutkan petualangan.

Menurut Iwan, salah satu supir jip sekaligus pemandu wisata, keterlibatan masyarakat lokal menjadi kekuatan utama dari Lava Tour.

“Kami bukan hanya sopir, tapi juga guide dan fotografer. Setiap wisatawan kami bantu supaya dapat pengalaman yang lengkap, dan biasanya mereka unggah ke media sosial itu jadi promosi gratis buat kami,” tuturnya, Sabtu (5/7/2025).

Lava Tour tidak hanya hidup dari keindahan dan adrenalin. Kehadiran warga sebagai pelaku utama wisata membangun hubungan yang akrab antara pengunjung dengan desa. Cerita-cerita yang dibagikan oleh warga, seperti kisah perjuangan mereka pasca-erupsi, menambah dimensi emosional dalam perjalanan.

Erupsi Merapi yang dulu membawa duka, kini menjadi awal kebangkitan. Wisata Lava Tour menjadi simbol transformasi: dari trauma menjadi kekuatan, dari abu menjadi peluang. Aktivitas ini telah membuka lapangan kerja, meningkatkan perekonomian lokal, serta memperkuat identitas Cangkringan sebagai desa tangguh bencana.

Tak hanya itu, Lava Tour juga berperan sebagai sarana edukasi mitigasi bencana. Pengunjung mendapatkan pemahaman langsung mengenai risiko Merapi sekaligus belajar bagaimana masyarakat bisa bertahan dan pulih dari bencana.

Kini, Jeep Lava Tour Merapi bukan hanya destinasi lokal, tapi sudah menjelma sebagai daya tarik wisata internasional yang membanggakan Sleman. Dari luka Merapi tumbuh harapan baru dan Cangkringan adalah saksi sekaligus pelakunya. (ESK – KIM DSN)




Gelar FGD, BPBD Sleman Latih Kalurahan Perbaharui KRB

Sleman — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung selama dua hari (3 dan 4 Juli 2025) untuk seluruh Kalurahan se-Kabupaten Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) melalui pengisian data menggunakan aplikasi InaRISK Personal.

Acara yang berlangsung di Ruang Rapat Praja 1 Setda Kabupaten Sleman ini dihadiri oleh perwakilan dari setiap kalurahan yang membidangi kebencanaan. Masing-masing peserta dibekali dengan peta wilayah kalurahannya untuk memetakan potensi bencana secara mandiri.

Perwakilan BPBD Sleman, Hendri dalam sambutannya menekankan bahwa dokumen KRB perlu diperbarui setiap lima tahun.

“Dalam rentang waktu lima tahun, potensi bencana dan kondisi wilayah bisa berubah, sehingga pembaruan data menjadi sangat penting,” ujar Hendri.

Sementara itu, perwakilan Geo Art Science (GAS), Galih selaku fasilitator menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi InaRISK Personal merupakan upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

“Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa lebih aktif dalam mengidentifikasi potensi bencana di wilayahnya, dan dokumen KRB menjadi lebih berbasis data dan partisipatif,” paparnya.

Melalui FGD ini, diharapkan indeks kesiapsiagaan masyarakat Kabupaten Sleman dalam menghadapi bencana dapat terus meningkat, seiring dengan pemahaman dan keterlibatan aktif masyarakat dalam mitigasi risiko bencana. (ESK – KIM DSN Ngaglik)




Relawan Harus Siap Fisik, Mental, dan Punya Skill Tanggap Darurat

Sleman — Relawan harus tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki keterampilan dan kesiapan mental saat menghadapi situasi darurat. Pesan ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi dan Pembinaan Relawan Kapanewon Depok yang digelar di Gedung Anglocitatama, Kapanewon Depok, Sleman, Senin (30/6/2025). Kegiatan ini difasilitasi Jawatan Keamanan Kapanewon Depok dan diikuti berbagai elemen relawan dari PMI, TSR, KSR, Linmas, KSB, Tagana, RAPI, Destana, Redam, hingga Matador.

Panewu Depok, Djoko Muljanto, menekankan pentingnya relawan untuk selalu siaga dan terkoordinasi.

“Relawan harus siap sedia saat masyarakat membutuhkan, terutama dalam kondisi darurat atau bencana. Jangan bergerak sendiri-sendiri, selalu koordinasi dengan pihak terkait,” tegasnya.

Ia mendorong relawan untuk bersinergi dengan Jaga Warga dan Destana (Desa Tanggap Bencana) yang sudah terbentuk di tingkat padukuhan dan kalurahan sebagai bagian dari sistem respons bencana berbasis masyarakat.

Djoko juga mengusulkan agar ke depan dilakukan Apel Siaga Relawan secara rutin tiap bulan, sebagai ajang koordinasi dan mempererat silaturahmi antarrelawan.

Sementara itu, Wadanramil 11 Depok, Kapt. Infanteri Wahyani, menyoroti pentingnya penguatan kapasitas teknis para relawan.

“Relawan harus solid, terlatih, dan aktif di grupnya masing-masing. Kami siap fasilitasi pelatihan kebencanaan, tentu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar relawan memiliki sertifikasi resmi, sehingga ke depan diakui legalitasnya dan lebih siap dalam menghadapi berbagai kondisi lapangan.

“Kini saatnya relawan kita dibekali kompetensi yang bisa dipertanggungjawabkan secara profesional dan legal,” tutup Wahyani.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana, sekaligus meneguhkan semangat gotong royong dan pengabdian dalam menghadirkan rasa aman di tengah masyarakat. (Adi Yananta/KIM Depok)




Polsek Gamping dan Relawan Kebencanaan Perkuat Sinergi Tanggap Bencana

Sleman – Dalam upaya memperkuat koordinasi penanggulangan bencana, Kepolisian Sektor (Polsek) Gamping menjalin sinergi strategis dengan unsur relawan kebencanaan yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat (TRC) Gamping. Kolaborasi ini diwujudkan dalam kunjungan Kapolsek Gamping AKP Bowo Susilo beserta jajaran ke Posko Relawan TRC di Pelemgurih, Gamping, Sleman, Kamis (26/6).

Kunjungan tersebut bertujuan membangun komunikasi intensif sekaligus mempererat hubungan antara aparat keamanan dan relawan yang selama ini menjadi ujung tombak di lapangan saat terjadi bencana.

“Jika keduanya bersinergi secara solid, respons terhadap bencana bisa jauh lebih cepat, efektif, dan terukur,” ujar AKP Bowo.

Polsek Gamping memiliki peran vital dalam situasi darurat, mulai dari pengamanan wilayah terdampak, evakuasi korban, hingga distribusi logistik. Sementara para relawan, yang berasal dari komunitas tingkat padukuhan dan kalurahan, merupakan pihak pertama yang bergerak karena kedekatannya dengan lokasi kejadian.

Sinergi ini tidak hanya berlaku saat bencana, tetapi juga mencakup pembekalan relawan oleh kepolisian terkait standar keamanan, manajemen konflik sosial, dan pendekatan psikologis terhadap warga terdampak.

Relawan juga berperan penting sebagai penyampai informasi awal kepada polisi. Dengan pelaporan cepat, proses mobilisasi sumber daya dan pengambilan keputusan bisa lebih efisien. Karena itu, dibutuhkan sistem komunikasi dua arah berbasis kepercayaan dan kesetaraan peran.

Dalam momentum yang bertepatan dengan Hari Bhayangkara ke-79, AKP Bowo menyerahkan bantuan sembako kepada Ketua TRC Gamping H. Deny Hendrawan sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama di lapangan. Penyerahan disaksikan Kepala Unit Samapta Iptu Teguh Riyanto dan Panit Binmas Ipda Mamik Susanti.

Kolaborasi antara Polsek Gamping dan relawan TRC diharapkan menjadi model sinergi penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang efektif. Dengan penguatan ini, wilayah Gamping diharapkan lebih tangguh menghadapi bencana dan lebih kokoh menjaga keamanan serta kesejahteraan warganya. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Siap Siaga Hadapi Bencana, BPBD SLEMAN Gelar Pelatihan Manajemen Tempat

Sleman – Dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi bencana, BPBD Sleman latih relawan KALTANA Sendangsari dalam kegiatan yang bertajuk Pelatihan Manajemen Tempat Pengungsian Bencana, di komplek Kantor Kalurahan Sendangsari. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 24 Juni sampai dengan 25 Juni 2025. Selama pelatihan, para relawan mendapat pembekalan dan simulasi menyiapkan tempat pengungsian.

Pada hari pertama, kegiatan ditekankan pada pembekalan dalam ruangan yang diisi tiga materi yakni kebijakan Pemda Sleman tentang pengelolaan tempat pengungsian dalam kejadian bencana, pertolongan pertama pada gawat darurat (PPGD) di tempat pengungsian, dan pengelolaan pengamanan di jalur dan tempat pengungsian bencana.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro sebagai pemateri pertama menyampaikan kebijakan Pemda Sleman dalam pengelolaan barak pengungsian. Menurut Bambang, Kabupaten Sleman telah memiliki 24 barak dan 16 non barak pengungsian di beberapa lokasi.

Berkaca pada kejadian erupsi Merapi tahun 2006 dan 2010, beberapa barak masih terpelihara sampai saat ini, baik barak yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun pemerintah kalurahan setempat.

“Jika tidak ada bencana, barak ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat seperti pengajian, olahraga, rapat maupun mantenan dapat menggunakan barak yang ada. Disaat ada bencana, barak difungsikan untuk menampung pengungsi dan perlu disiapkan kelengkapan penunjang lainnya,” terang Bambang, Selasa (24/6/2025).

Kemudian, perwakilan Satsamapta Polresta Sleman, Suwandi menjelaskan dari pengamanan pengungsian. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan perlunya pengamanan di lokasi bencana, jalur evakuasi maupun tempat pengungsian.

“Perlu dipersiapkan peralatan pendudung seperti traffic cone, water barrier, dan perlengkapan petugas lainnya dalam pengamanan jika terjadi bencana,” papar Suwandi.

Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Agus Santosa selaku pemateri bidang kesehatan memaparkan kesiapan dalam menangani pasien korban bencana. Agus menjelaskan dalam kejadian kegawatdaruratan dan kecelakaan dalam pengungsian, perlu persiapan antara lain dengan membentuk tim relawan kesehatan dan perlengkapan seperti kasa, mitela, spalk, tandu dan obat-obatan.

“Tim relawan harus bisa memilah, mana pasien yang perlu penanganan segera maupun yang tidak. Dengan melalukan triase atau pemilahan, diprioritaskan pasien kondisi kritis dan perlu rujukan untuk dibawa ke rumah sakit. Kemudian pasien cidera serius namun masih bisa tertangani di lokasi pengungsian dan prioritas terakhir adalah pasien dengan cedera ringan,” jelas Agus.

Pada hari kedua, relawan Kaltana Sendangsari dilatih untuk praktek langsung dengan simulasi pendirian tenda pengungsian dan manajemen pengungsian. Dengan skenario telah terjadi bencana gempa bumi, relawan bersiap untuk mendirikan tenda dipandu tim BPBD Sleman. Dengan sigap, tidak lebih dari satu jam, tenda pengungsian telah kokoh berdiri.

Melalui simulasi bencana gempa bumi, relawan dibagi menjadi beberapa tim yakni tim kesehatan, tim dapur umum dan logistik, tim transportasi dan keamanan dan tim sekretariat. Tim bekerja sesuai deskripsi tugas yang diberikan. Giat simulasi berjalan lancar dan mendapat apresiasi yang baik dari BPBD Sleman.

“Dari beberapa pelatihan yang kita laksanakan, Kaltana Sendangsari yang paling bagus dan rapi dalam pelaksanaan simulasi bencana, mulai dari pendirian tenda, relawan kesehatan dan semuanya berjalan sesuai dengan tugas yang diberikan,” ujar Dwi Harjanto selaku Koordinator lapangan, Rabu (25/6/2025).

Muhammad Muslih selaku Jagabaya Sendangsari menyampaikan terima kasih kepada BPBD Sleman yang telah memfasilitasi kegiatan pelathan kebencanaan di Sendangsari.

“Saya mewakili Bapak Lurah Sendangsari mengapresiasi semangat para relawan dan tak lupa kepada BPBD Sleman yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Semoga dengan pelatihan kebencanaan ini dapat menjadi bekal bagi relawan Kaltana Sendangsari jika suatu saat menghadapi situasi bencana dimanapun berada,” imbuh Muslih. (Sardiyanto – KIM Sendangsari Minggir)