PMI Sleman Tanamkan Kesiapsiagaan Gempa Sejak Dini

Sleman – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di kalangan pelajar. Kali ini PMI Sleman menggelar edukasi kesiapsiagaan gempa bumi bagi siswa-siswi SD Muhammadiyah Kayen, Condongcatur, Depok, Sleman, pada Senin (23/6/2025).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Tim Siaga Bencana PMI Sleman, Sarjuri. Dalam pemaparannya, Sarjuri menekankan pentingnya kesiapan mental dan pengetahuan praktis yang harus dimiliki setiap individu ketika menghadapi situasi gempa bumi.

“Kesiapsiagaan dimulai dari diri sendiri. Anak-anak harus tahu apa yang harus dilakukan, di mana pun mereka berada ketika gempa terjadi,” ujar Sarjuri.

Materi yang disampaikan dikemas secara interaktif, mulai dari simulasi hingga penjelasan langkah-langkah taktis saat gempa bumi. Anak diajak memahami cara menyelamatkan diri saat berada di dalam bangunan, di luar ruangan, di kendaraan, hingga di daerah pantai yang rawan tsunami. Dalam kondisi gempa bumi, Sarjuri, menekankan agar berusaha tenang dan tidak panik.

“Saat berada di dalam bangunan, segera berlindung di bawah meja atau perabot kuat untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh,” ujarnya.

Namun, jika kondisi berada di luar ruangan, menurutnya, segera mencari tempat terbuka dan menjauh dari bangunan, tiang listrik, pohon besar, dan benda-benda yang membahayakan.

“Apabila saat berkendara, segera hentikan kendaraan di tempat aman dan tidak berada di bawah jembatan atau pohon besar, itu risiko,” papar dia.

Sarjuri juga menekankan pentingnya tindakan setelah gempa berhenti, seperti memeriksa kondisi diri dan orang sekitar, hanya menggunakan ponsel untuk keadaan darurat, dan terus mengikuti informasi resmi dari sumber terpercaya.

Kepala SD Muhammadiyah Kayen, Estri Rukmiyanti menyatakan kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga sekolah, dan melatih siswa beserta guru agar memahami langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas di kelas, tetapi juga tangguh dan siap dalam menghadapi situasi darurat,” ujarnya.

Estri menambahkan, bahwa SD Muhammadiyah Kayen ingin menumbuhkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana.

“Sekolah berharap siswa tidak panik saat menghadapi gempa dan mampu mengambil tindakan yang tepat. Dengan adanya simulasi ini, seluruh warga sekolah diharapkan dapat lebih waspada, tanggap, dan siap menghadapi situasi darurat di masa depan,” lanjutnya.

Estri juga turut mengapresiasi kepedulian PMI Sleman terhadap pendidikan kebencanaan. Menurutnya, PMI Sleman terus menunjukkan komitmen untuk memperluas edukasi kebencanaan ke sekolah dasar sebagai bagian dari program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Kemenko PMK Dorong Sinergi Nasional Pengurangan Risiko Bencana Kekeringan

Sleman – Dalam upaya memperkuat koordinasi dan sinkronisasi program pengurangan risiko bencana hidrometeorologi kering, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan kunjungan lapangan ke Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Minggu (22/6/2025).

Kunjungan ini dipimpin oleh Asisten Deputi Bidang Pengurangan Risiko Bencana Dinas Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, bersama jajaran, dan disambut hangat oleh pengelola sekolah, komunitas Banyu Bening, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan penampilan seni Tari Keluang Mas oleh anak-anak Sanggar Banyu Bening. Tarian ini membawa pesan kuat akan pentingnya pelestarian alam dan budaya lokal sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dalam sambutannya, Kamaludin, Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, menjelaskan bahwa gerakan ini bermula dari keresahan masyarakat pasca-erupsi Merapi 2010–2011. Namun dari krisis tersebut, lahir inovasi lokal: konservasi air hujan berbasis masyarakat.

“Keresahan itu menjadi titik balik. Gerakan panen air hujan kami lahir dari kesadaran kolektif untuk menjaga sumber daya air secara mandiri,” kata Kamaludin.

Sejak 2012, gerakan ini berkembang dari wilayah barat Merapi hingga perbatasan Yogyakarta–Jawa Tengah, dan bahkan mendapat perhatian langsung dari Presiden RI yang mengunjungi lokasi pada tahun 2019.

Diskusi bersama akademisi, termasuk Prof. Agus Maryono (UGM), memperkuat dasar ilmiah bahwa air hujan bila dikelola dengan tepat dapat menjadi sumber air utama yang sehat.

“Tidak ada air kemasan sekalipun yang bisa menandingi kemurnian air hujan,” tandas Kamaludin.

Tim komunitas juga mengajak hadirin merenung lewat filosofi air yaitu “Kalau 10 liter saja kita bawa, sudah berat. Tapi triliunan ton air digantung di langit oleh kekuatan-Nya. Itulah tanggung jawab kita—untuk tidak menyia-nyiakannya.”

Dalam sesi kunjungan, Andre Notohamijoyo menekankan bahwa gerakan lokal seperti Banyu Bening adalah contoh nyata dari solusi adaptif, inovatif, dan berbasis budaya dalam menghadapi bencana kekeringan.

“Sekolah Air Hujan ini bukan sekadar teknologi, tapi tentang kesadaran dan budaya baru dalam menghadapi krisis air dan perubahan iklim,” tegas Andre.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mendorong sinergi nasional dengan mengedepankan model berbasis masyarakat seperti ini dalam kebijakan pengurangan risiko bencana ke depan.

Kunjungan ini menjadi bukti bahwa solusi atas tantangan perubahan iklim tidak harus selalu bersifat top-down. Sebaliknya, ketika komunitas lokal diberdayakan dan pemerintah hadir sebagai mitra, maka lahirlah langkah-langkah konkret dan berdampak. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Perkuat Kesiapsiagaan, Kalurahan Condongcatur Gelar Rapat Koordinasi Satgas Kebencanaan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar rapat koordinasi rutin satgas kebencanaan, Rabu (18/6/2025) bertempat di Ruang Wacanaloka. Rapat ini dihadiri oleh berbagai unsur kebencanaan seperti Desa Tangguh Bencana (Destana), Kampung Siaga Bencana (KSB), Perlindungan Masyarakat (Linmas), Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.

Rapat bertujuan untuk memperkuat sinergi antar lembaga dan elemen masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, serta meningkatkan efektivitas tim dalam penanganan di lapangan.

Turut hadir dalam kesempatan ini Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Depok, Deni Irwandi bersama timnya. Dalam sambutannya, Deni menyampaikan rasa bangganya kepada seluruh relawan kebencanaan di Kalurahan Condongcatur yang selalu sigap dan tanggap dalam situasi darurat.

“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh relawan kebencanaan di Condongcatur yang selalu siap dan tanggap dalam segala kondisi darurat,” ujarnya.

Jagabaya Kalurahan Condongcatur, Rudi Antariksawan juga memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh anggota satgas atas dedikasi dan tanggung jawab mereka dalam menjaga keselamatan wilayah.

“Kewaspadaan terhadap bencana seperti banjir, kebakaran serta angin puting beliung yang beberapa hari yang lalu menimpa di wilayah kita,” ujar Rudi.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Condongcatur, Bripka Bagiyo menyampaikan imbauan terkait maraknya kenakalan remaja yang masih banyak dijumpai. Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menciptakan kondisi wilayah yang aman dan kondusif.

“Sesuai Perbup Nomor 45 Tahun 2020 tentang Jam Istirahat anak jam WIB sampai dengan pukul WIB oleh karena itu orang tua diharap memantau putra putrinya,” pungkas Bagiyo.

Melalui rapat ini, diharapkan koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh elemen dapat terus ditingkatkan guna mewujudkan Condongcatur yang tangguh terhadap bencana, dan aman dari gangguan ketertiban. (Tri Suhartati / KIM Depok)




FK KSB Sleman Konsolidasi, Perkuat Sinergi Penanggulangan Bencana

Sleman — Forum Komunikasi Kampung Siaga Bencana (FK KSB) Kabupaten Sleman bersama Dinas Sosial Sleman menggelar konsolidasi dan diskusi strategis untuk memperkuat kesiapsiagaan serta koordinasi penanggulangan bencana di tingkat lokal. Kegiatan digelar di Rumah Makan Moro Lejar, Cangkringan, Senin (16/6/2025) dan diikuti sekitar 70 peserta dari perwakilan KSB di seluruh Kalurahan yang telah terbentuk.

Perwakilan Dinas Sosial Sleman, Wahyudin, selaku pejabat fungsional Bidang Bantuan Sosial dan Fakir Miskin, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasinya kepada relawan KSB.

“KSB adalah mitra strategis Dinas Sosial. Koordinasi yang solid akan memastikan penanganan bencana berjalan cepat, tepat, dan menyentuh langsung kebutuhan warga terdampak,” tegas Wahyudin dalam sambutannya.

Ketua FK KSB Kabupaten Sleman, Sriyono, menyoroti pentingnya akurasi dalam pendataan logistik dan asesmen pasca-bencana. Menurutnya, dua aspek ini menjadi kunci agar distribusi bantuan lebih efisien dan tepat sasaran.

“Pendataan logistik harus teliti agar tidak ada warga terdampak yang terlewat. Asesmen pun harus profesional dan bertanggung jawab,” ujar Sriyono.

Ia juga mendorong agar tiap KSB menunjuk contact person yang dapat dipercaya, khususnya tokoh masyarakat di wilayah rawan bencana. Hal ini penting untuk menjaga kelancaran komunikasi saat kondisi darurat.

Dalam kegiatan ini, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok Focus Group Discussion (FGD). FGD menjadi ruang interaktif bagi para peserta untuk menyampaikan pengalaman, kendala, serta gagasan penguatan KSB di wilayah masing-masing.

Beberapa usulan strategis mengemuka, antara lain permintaan agar Dinas Sosial hadir secara langsung di kegiatan KSB tingkat Kalurahan, serta kejelasan regulasi terkait penggunaan Dana Desa untuk mendukung program kebencanaan.

“Kami butuh pendampingan agar program KSB bisa sesuai aturan dan mendapat dukungan anggaran dari desa,” ujar salah satu peserta FGD.

Diskusi juga mencakup tantangan komunikasi dengan pemerintah Kalurahan, variasi karakter relawan, serta inovasi dalam membangun kesadaran warga terhadap kesiapsiagaan bencana.

Menutup kegiatan, para peserta sepakat membentuk grup diskusi daring sebagai forum koordinasi rutin dan berbagi informasi antaranggota FK KSB dan KSB Kalurahan.

“Pertemuan seperti ini penting dilakukan berkala, agar jadi wadah silaturahmi sekaligus tukar inspirasi menghadapi tantangan di lapangan,” ungkap Didik, relawan KSB Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik.

Melalui konsolidasi ini, FK KSB Sleman menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas relawan dan membangun jejaring kolaboratif guna menghadapi berbagai potensi bencana. Gotong royong antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci membentuk Sleman sebagai daerah tangguh bencana. (ESK/KIM DSN)




BPBD Sleman Bekali Siswa MAN 4 dengan Pengetahuan Mitigasi Bencana

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memberikan edukasi kebencanaan kepada 205 peserta kegiatan Scout Camp: Building Future Leadership MAN 4 Sleman. Kegiatan berlangsung pada Kamis (12/6/2025) di Bumi Perkemahan Karangasri, Karanggeneng, Purwobinangun, Pakem, Sleman.

Dalam sesi edukasi, Tim BPBD Sleman yang dipimpin Nur Cahyo didampingi Slamet T. dan Indro menyampaikan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai jenis bencana. Hal ini mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire dan daerah tropis yang rawan gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, angin puting beliung, banjir, serta tanah longsor.

“Bencana bisa terjadi kapan saja. Maka setiap siswa perlu memahami tanda-tanda awal bencana dan tahu langkah penyelamatan diri,” ujar Nur Cahyo.

Ia menekankan bahwa saat terjadi gempa atau angin kencang, siswa harus segera menjauhi bangunan dan benda yang berpotensi jatuh, melindungi kepala dengan benda seperti buku atau tas, serta tetap tenang. Pengetahuan dasar ini dinilai penting untuk mengurangi risiko korban.

Selain itu, BPBD juga mengenalkan konsep Tas Siaga Bencana (TSB), yakni tas berisi perlengkapan penting yang dapat digunakan saat terjadi bencana. Isi TSB meliputi perlengkapan P3K, dokumen penting, peluit, lampu darurat, pakaian dalam untuk dua hari, makanan ringan, dan power bank.

“TSB sebaiknya disiapkan oleh setiap keluarga dan disimpan di tempat yang mudah dijangkau. Ini bisa menyelamatkan nyawa dan dokumen penting saat bencana,” tambah Nur Cahyo.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyimpan dokumen seperti Kartu Keluarga, akta kelahiran, dan ijazah dalam kondisi aman agar tidak rusak atau hilang saat evakuasi.

Materi disampaikan secara interaktif. Tim BPBD mengajak dialog dan memberikan hadiah kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan seputar kesiapsiagaan bencana.

Edukasi ini diharapkan meningkatkan kesadaran siswa dan keluarganya terhadap pentingnya mitigasi bencana sejak dini. (Edy/KIM Moyudan)