Destana Argomulyo Terima Kunjungan PT. Astra International Study Tentang Simulasi Penanggulangan Bencana Merapi

Kalurahan Argomulyo, Cangkringan mendapatkan kunjungan Studi Tiru dari PT. Astra Internasional terkait Simulasi Penanggulangan Bencana Merapi pada Rabu (25/12/2024) di Aula Kalurahan Argomulyo.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Lurah Argomulyo Danang Hendri Bintoro, Kepala BPBD Sleman Makwan, Perwakilan dari PT. Astra International Bapak Wahyu Laksono, Fasilitator dari UPN Yogyakarta Bapak Indra serta Pengurus dan anggota Destana Argomulyo.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk belajar bersama tentang dan bagaimana memahami mekanisme simulasi penanggulangan bencana merapi dan penyusunan kontijensi yang dilakukan oleh Destana Argomulyo.

Lurah Argomulyo Danang Hendri Bintoro, dalam sambutanya menyampaikan apresiasi dan merasa tersanjung atas kehadiran PT. Astra International dan BPBD Sleman di Destana Argomulyo dalam mendukung upaya kesiapsiagaan dalam penggurangan resiko bencana.

Makwan dari BPBD Sleman dalam sambutanya juga menyambut baik dan mengucapkan banyak terimakasih atas kepedulian dari dunia usaha dalam hal ini PT. Astra International yang juga peduli ikut membantu dalam penangganan kebencanaan.

“Sikap sak madyo ning ora nyepelekke (proposional) sangatdibutuhkan dalam pengurangan risiko bencana,” imbuhnya.

Perwakilan dari PT. Astra International Wahyu Laksono mengucapkan banyak terimakasih kepada Destana Argomulyo yang menerima untuk belajar bersama tentang Simulasi Penanggulangan Bencana Merapi dan berharap ada kerja sama yang berkelanjutan dalam mitigasi bencana. ujarnya.

PT. Astra International dalam acara tersebut juga memberikan bantuan HT sebanyak 10 unit kepada Destana Argomulyo dan berharap dapat dimanfaatkan untuk proses penggurangan resiko bencana.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan simulasi tentang Penanggulangan Bencana Merapi yang di pandu oleh Indra fasilitator dari UPN Yogyakarta.

Acara di akhiri dengan pemberian cenderamata oleh perwakilan PT. Astra International kepada Lurah Argomulyo Danang Hendri Bintoro, SE beserta  Kepala BPBD Sleman Makwan dan dkilanjutkan dengan foto bersama. (KIM “Wara Aji” Cangkringan/Mujiyanta)




Margomulyo Gelar Pembinaan Kalurahan Siaga Bencana

Kalurahan Margomulyo menggelar Pembinaan Kalurahan Siaga Bencana pada Rabu (18/12/2024). Kegiatan dihadiri oleh Panewu Seyegan, Pamong Kalurahan, anggota Kampung Siaga Bencana ( KSB), anggota Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana), Relawan, BPKal, LPMKal dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD)  Kabupaten Sleman sebagai Narasumber.

Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada anggota KSB, Kaltana dan Relawan yang selama ini telah berpartisipasi dalam pencegahan dan penanganan tanggap bencana. Khusus kepada KSB yang pembentukannya difasilitasi oleh Dinas Sosial dan telah melaksanakan kegiatan penyaluran Bansos di wilayah Margomulyo serta telah dilakukan Monev tiga bulanan terhadap pelaksanaan kegiatannya.

“Mohon pengarahan dan pembinaan dari Dinas terkait sehingga keberadaan KSB bisa dirasakan dan lebih bermanfaat bagi masyarakat khususnya di Margomulyo,” harap Eko mengakhiri sambutannya.

Samino, Panewu Seyegan dalam pengarahannya menyampaikan bahwa Kalurahan Siaga Bencana merupakan kegiatan lintas sektoral dan Margomulyo telah dapat menjaga komitmennya untuk selalu meng-upgrade untuk tugas tugas kerelawanan.

Samino mengingatkan KSB untuk dapat bersinergi dalam kerangka edukasi dan mitigasi bencana kepada masyarakat. Hal ini termasuk tugas relawan untuk mengeliminir resiko bencana dengan memfasilitasi masyarakat untuk merespon dan bertindak sehingga tingkat keparahan dapat diminimalisir.

“Mengurangi dampak dan resiko lebih diutamakan dalam menghadapi bencana dengan penanganan jangka pendek dan jangka panjang,” ungkap Samino diakhir pengarahannya.

St. Haenry Dharma Widjaja, SH, M. PD, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sleman yang bertindak selaku Narasumber, membuka pembinaannya dengan menyampaikan tentang Definisi Desa atau Kalurahan Tangguh Bencana menurut Perka BNPB No. 1 tahun 2012.

“Kata kunci dari definisi tersebut terletak pada kemampuan mandiri Kalurahan dalam menghadapi potensi bencana dan memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan”, jelas Haenry.

Selanjutnya dijelaskan juga oleh Haenry tentang 16 prinsip Kaltana, mulai dari Bencana adalah urusan bersama sampai dengan penyelenggara tanggap bersama oleh lintas sektor.

Adapun strategi pengembangan Kaltana dimulai dari pelibatan masyarakat, pemanfaatan sumberdaya lokal, keberlanjutan, dukungan Pemerintah, peningkatan pengetahuan dan kesadaran, pengurangan kerentanan dan peningkatan Kapasitas. Khusus untuk pengembangan kapasitas Kaltana dapat dilakukan dengan pelatihan untuk pemerintah Kalurahan, Relawan dan warga masyarakat.

Dibagian akhir, disampaikan oleh Haenry tentang penyelenggaraan Penanggulangan bencana yang meliputi peta dan analisa resiko, peta jalur evakuasi dan tempat pengungsian serta sistem peringatan Dini.

Kegiatan pembinaan ditutup dengan forum tanya jawab dengan peserta. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sambut Natal dan Tahun Baru, PMI Sleman Gelar Latihan Gabungan dan Apel Siaga

Sleman – PMI Kabupaten Sleman menyelenggarakan Kegiatan Latihan Gabungan dan Apel Siaga, Minggu (15/12/2024) di Camping Ground Asram Efupark, Beran, Sleman. Latihan diikuti 140 orang dengan Pelatih dan Fasilitator 21 Orang.

Anggota Pengurus PMI, Dwisuryanto menuturkan, Latihan Gabungan dan Apel Siaga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi Moment Natal dan Tahun Baru dan kemungkinan bahaya dampak perubahan cuaca dan iklim.

Lebih lanjut dikatakan, peserta Apel Siaga dan Latihan Gabungan terdiri dari TSR, KSR Markas dan KSR Unit Perguruan Tinggi. Selain itu Juga Forpis, Perwakilan PMR tingkat Wira, Pengurus PMI Kapanewon dan Staf Markas PMI.

Sementara itu Pelatih yang juga koordinator lapangan Sarjuri mengatakan, latihan gabungan terbagi menjadi dua. Satu kelompok mengikuti outbound dengan konten leadership dan tim work, sedang kelompok yang satu pelatihan penanganan trauma berat menyangkut Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung dan Paru-Paru (RDP).

“Latihan teori dan praktek dan Simulasi,” ungkapnya.

Selama penyelenggaraan latihan, peserta sangat antusias dan disiplin sesuai dengan SOP yang ditetapkan.

Latihan Gabungan dan Apel Siaga dibuka Wakil Ketua PMI Kabupaten Sleman Heri Dwi Kuryanto dan ditutup oleh Joko Saptono. (Tri Joko S – KIM Kalasan)




BMKG Sleman Beri Pembinaan Kebencanaan Gempabumi dan Tsunami Bagi Komrel Gamping

Pemerintah Kapanewon Gamping melalui Jawatan Keamanan menyelenggarakan pembinaan keterampilan kebencanaan yang difokuskan pada kesiapsiagaan menghadapi potensi bahaya gempabumi dan tsunami bagi komunitas relawan (Komrel) yang ada di wilayah Kapanewon Gamping. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Wirasuta lantai II Kantor Pemerintah Kapanewon Gamping, Selasa (10/12/2024).

Acara tersebut dihadiri oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, didampingi Kepala Jawatan Keamanan kapanewon Gamping, Bambang Nurdianto, perwakilan dari berbagai elemen masyarakat se-Kapanewon Gamping yang tergabung dalam komunitas relawan kebencanaan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, termasuk perangkat pemerintah kalurahan khususnya Jagabaya, dan tokoh masyarakat setempat. Dengan tema ‘Meningkatkan Kesiapsiagaan, Mengurangi Risiko Bencana’ pembinaan ditujukan guna memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, terutama di wilayah rawan.

Tamzis Sarwana selaku Panewu Gamping dalam sambutannya menyatakan pentingnya edukasi mengenai mitigasi bencana bagi masyarakat. Menurutnya, wilayah Kapanewon Gamping memiliki potensi terdampak bencana, seperti tanah longsor, angin puting beliung, banjir, termasuk gempabumi. Karenanya, pembinaan ini menjadi langkah penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

Ia menyampaikan keprihatinannya terkait rendahnya tingkat kepedulian sumberdaya manusia terhadap mitigasi bencana di wilayahnya. Ditekankan bahwa kurangnya perhatian terhadap upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana dapat meningkatkan risiko kerugian yang lebih besar jika bencana benar-benar terjadi.

“Masih banyak masyarakat menganggap mitigasi bencana sebagai hal yang tidak mendesak. Sesungguhnya, upaya mitigasi adalah investasi keselamatan di masa depan, baik bagi diri sendiri maupun komunitas,” ujar Tamzis dihadapan para relawan.

Dirinya pun menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dalam mitigasi bencana. Tugas ini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Namun, seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif agar dapat membangun komunitas yang tangguh terhadap bencana.

Sementara, materi pembinaan dipaparkan oleh Heru Gunawan selaku Petugas dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Kabupaten Sleman yang mencakup pengertian gempabumi dan tsunami, termasuk potensinya di Yogyakarta, serta kesiapsiagaan dalam menghadapinya berikut simulasinya. Peserta diajak untuk memahami langkah-langkah praktis dalam menyelamatkan diri dan orang lain saat terjadi bencana.

Selain itu, peserta juga diberikan pengetahuan tentang identifikasi zona rawan bencana di wilayah Gamping. Melalui peta risiko bencana, peserta diajak memahami pentingnya jalur evakuasi dan titik kumpul aman yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian material.

“Periode merusak gempabumi kuat terjadi sangatlah singkat, maka prioritaskan melakukan perlindungan diri,” ucap Heru.

Para peserta mengaku mendapatkan wawasan yang bermanfaat dari pembinaan ini. Salah satu peserta, Bakoh Waluyo dari Komunitas Relawan Geplakan Siap Siaga menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan rasa percaya diri dalam menghadapi situasi darurat.

“Kami jadi lebih tahu apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi, terutama dalam menyelamatkan keluarga,” katanya.

Dengan adanya pembinaan ini, pemerintah Kapanewon Gamping berharap masyarakat lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Sinergi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci utama dalam mewujudkan kesiapsiagaan bencana yang optimal. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Kunjungi Museum Petilasan Mbah Maridjan, Menteri Kebudayaan Dorong Museum Berkembang dan Naik Level

Sleman – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon mengunjungi Museum Petilasan Mbah Maridjan yang terletak di Dusun Kinahrejo, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, pada Selasa (3/12).

Tiba di kawasan Cangkringan, Menteri Kebudayaan RI didampingi Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, melanjutkan perjalanan menuju Museum Petilasan Mbah Maridjan menggunakan jeep lava tour.

Dalam kunjungannya, Fadli Zon mengatakan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat dan mengetahui secara langsung bagaimana kondisi dan proses dibangunnya Museum Petilasan Mbah Maridjan sebagai Museum Tematik.

“Selain silaturahmi, kami juga ingin melihat langsung dan mengetahui bagaimana Museum Petilasan Mbah Maridjan ini baik dari prosesnya, termasuk sisi historinya,” jelasnya.

Selain itu, Ia juga mengatakan ingin memberikan dukungan agar Museum dapat berkembang dan naik kelas. Dukungan tersebut menurutnya dapat dilakukan dengan kolaborasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dalam hal ini Pemkab Sleman.

“Saya kira ini (keberadaan museum) sangat penting baik dari sisi histori, juga menjadi sebuah pelajaran yang berharga, literasi dan edukasi khususnya untuk masyarakat sekitar kawasan Gunung Merapi. Mudah – mudahan kita nanti bisa bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Sleman dan juga para pegiat museum untuk mendigitalkan sehingga masyarakat indonesia bisa mengenang historinya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dalam kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada Menteri Kebudayaan beserta jajarannya yang melakukan kunjungan di Sleman khususnya di Museum Petilasan Mbah Maridjan.

Menurutnya, kedatangan Menteri Kebudayaan di Sleman ini merupakan sebuah kehormatan khususnya untuk keluarga Mbah Maridjan yang berinisiasi membangun Museum Petilasan Mbah Maridjan.

Danang juga mengatakan Pemerintah Kabupaten Sleman mendukung segala upaya yang dilakukan untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Sleman, salah satunya pelestarian museum. Untuk itu, ia juga berharap kolaborasi antara Pemerintah Pusat dan Pemkab Sleman dapat segera terwujud.

“Pada prinsipnya, Pemkab Sleman tentu akan terus mendukung segala upaya yang muaranya pada pelestarian kebudayaan di wilayah Kabupaten Sleman. Saya berharap kolaborasi antara Pemerintah Pusat dan Pemkab Sleman ini segera terwujud sehingga dapat semakin meningkatkan potensi yang dimiliki Kabupaten Sleman,” pungkasnya.