Giat Cepat TRC Destana Sardonoharjo Atasi Pohon tumbang

Sleman – Tim Reaksi Cepat (TRC) Destana Sardonoharjo mengerahkan seluruh anggota setelah menerima laporan adanya pohon tumbang di Padukuhan Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Senin (28/10/2024) malam. TRC Destana bergerak sigap untuk memastikan situasi aman, mencegah potensi bahaya lebih lanjut, serta memulai proses evakuasi dan pembersihan segera. Mereka juga berkoordinasi dengan pihak terkait dan warga sekitar untuk mempercepat penanganan di lokasi, mengingat kondisi malam yang membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Destana Kalurahan Sardonoharjo telah melakukan aksi tanggap untuk memastikan keselamatan warga sekitar dan membersihkan area terdampak agar jalan atau akses yang terhambat bisa segera normal kembali. Selain itu, tim TRC bekerja sama dengan warga setempat untuk mempercepat proses evakuasi dan pembersihan sisa-sisa pohon tumbang.

Ketua Destana Sardonoharjo, Wahyudi, menyampaikan bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) sudah terbiasa bergerak cepat dalam menangani berbagai bencana, terutama yang langsung berdampak pada fasilitas umum.

“Malam ini, TRC Destana Sardonoharjo langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan pohon tumbang yang menimpa rumah warga dan menghalangi jalan di Padukuhan Candi Karang,” ungkapnya.

“Dengan pengalaman dan kesiapan yang dimiliki, tim segera mengevakuasi area terdampak, memastikan keselamatan warga, dan membuka akses jalan agar bisa segera dilalui kembali. Kerja sama dengan warga sekitar juga dilakukan agar proses penanganan berjalan lancar dan cepat, terutama mengingat tantangan evakuasi di malam hari,” lanjut Wahyudi.

Dukuh Candi Karang, Harun Aroni, yang turut terlibat langsung dalam penanganan pohon tumbang, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tim yang telah membantu warga pada malam ini. Ia mengapresiasi kerja cepat dan tanggap dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Sardonoharjo, Destana, serta warga yang ikut serta dalam proses evakuasi dan pembersihan area terdampak.

“Bantuan ini sangat berarti, terutama dalam memastikan keamanan dan kenyamanan warga di tengah kondisi yang darurat,” pungkasnya. (Eka Sastra/KIM DSN SARDONOHARJO)




DESTANA Argomulyo Terima Kunjungan BPBD Kutai Timur

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur beserta rombongan yang berjumlah 140 peserta yang terdiri dari perwakilan RT, Pemerintah Desa dan Aparatur Kecamatan se-Kabupaten Kutai Timur yang dipimpin oleh Kalak BPBD Muhammad Idris Syam dan Kabid RR BPBD Kutai Timur Khairunnisa Nur, mengadakan kunjungan ke DESTANA Argomulyo, Cangkringan Sleman, Selasa (22/10/2024). Kunjungan ini bertujuan untuk studi tiru tentang pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-erupsi Gunung Merapi.

Acara tersebut di hadiri Lurah Argomulyo, Danang Hendri Bintoro beserta Pamong Kalurahan Argomulyo, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Supriyono beserta penggurus FPRB dan relawan kebencanaan Kalurahan Argomulyo.

Lurah Argomulyo dalam sambutanya mengucapkan selamat datang kepada rombongan dari Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur dan merasa tersanjung atas kehadiran Kalak BPBD Kutai Timur beserta rombongan di DESTANA Kalurahan Argomulyo.

“Kami berharap kunjungan BPBD Kutai Timur dapat memperkuat sinergisitas antara BPBD Kutai Timur dan Pemerintah Kalurahan Argomulyo dalam hal komunikasi dan tukar informasi terkait dengan penanggulangan bencana,” kata Danang.

Selanjutnya, Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kalurahan Argomulyo, Supriyono dalam kesempatan itu mempresentasikan berbagai langkah yang telah di lakukan dalam proses terbentuknya DESTANA Kalurahan Argomulyo, terbentuknya Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), penanganan barak penggungsian sampai dengan terbentuknya pengurus untuk penanganan pengurangan resiko bencana di tingkat Padukuhan.

“Itu semua dapat terbentuk dan berjalan atas dukungan masyarakat dan relawan kebencanaan dengan hati yang tulus dan jiwa bergotong royong untuk membantu orang lain yang tidak mengharapkan imbalan (lemah teles),” ucap Supriyono.

Sementara, Kalak BPBD Kutai Timur Muhammad Idris Syam mengatakan kunjungan ini bertujuan untuk mengadopsi praktik terbaik dalam manajemen penanganan bencana dan memastikan pemulihan yang berkelanjutan.

“Kami ingin belajar dari pengalaman Kalurahan Argomulyo untuk meningkatkan efektivitas program rehabilitasi di daerah kami,” ungkapnya.

Acara di akhiri dengan foto bersama dan dilanjutkan dengan mengunjungi museum terbuka Volcano Park Bakalan. (Mujiyanta/ Kim Cangkringan)




Berada di Kawasan Rawan Bencana, Siswa SDN Brengosan 1 Dapatkan Pendidikan Mitigasi Bencana

Sleman – Untuk memenuhi materi dalam kurikulum satuan pendidikan tentang mitigasi kebencanaan , Sekolah Dasar Negeri Brengosan 1  menggandeng Destana Donoharjo untuk melakukan   pendidikan Mitigasi bencana. Acara berlangsung di halaman SD Brengosan 1, Donoharjo, Ngaglik, Sleman pada Kamis (17/10/2024).

“Kegiatan sosialisasi mitigasi kebencanaan perlu dilaksanakan karena bencana itu ada, sehingga siswa guru dan staf perlu mendapatkan bekal tentang jenis bencana, cara menghadapi dan  menanggulangi bila terjadi dan dapat mengkondisikan situasi dengan baik sehingga bila terjadi bencana dapat menghadapi dan mengatasinya dengan tenang dan dapat menginformasikan pada yang lain tentang mitigasi bencana di lingkungan sekolah , rumah dan di masyarakat,” kata Erni Susilawati kepala Sekolah SD Brengosan 1.

Sementara itu Agus Hardiyo Pancoro, Ketua Destana Donoharjo dalam keterangannya menyampaikan bahwa berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dan Destana  memetakan  wilayah rawan bencana di Donoharjo.

“Bagian barat ke selatan sebagai kawasan rawan bencana angin kencang, Donoharjo bagian selatan sebagai daerah yang paling terdampak jika  terjadi gempa bumi, sedangkan Donoharjo bagian Utara sangat rawan jika terjadi erupsi gunung Merapi dan sisi timur berpotensi terkena dampak banjir di sepanjang wilayahnya yang dilewati sungai Boyong,” kata Agus.

Oleh karena itu , lanjutnya, sebagai warga yang tinggal di daerah rawan bencana harus mengetahui dan paham pentingnya pengetahuan pertolongan dan penyelamatan pada saat terjadi gawat darurat. Kewaspadaan menghadapi bencana merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan karena kita tidak tahu kapan bencana akan terjadi.

Dalam kesempatan tersebut tim Destana  mengenalkan berbagai alat yang digunakan dalam upaya penyelamatan dan juga   alat untuk mengurangi  dampak terjadinya bencana, misal alat mitigasi bencana angin kencang yang meliputi tali tambang besar ,gergaji mesin sepatu boot,  pelindung kepala serta, kacamata.

“Alat ini diperlukan untuk mengantisipasi saat terjadi angin kencang terutama gergaji mesin untuk memotong batang pohon yang tumbang  mengenai rumah warga dan menutup akses jalan ,” terang Agus.

Dikenalkan juga alat untuk penyelamatan bencana air  meliputi  rompi pelampung dan tali tambang  besar yang digunakan untuk menolong korban laka air.

Ada juga vertikal rescue berupa dragbar dan tali tambang yang digunakan untuk penyelamatan korban dari titik yang rendah ke titik yang lebih tinggi maupun sebaliknya, misalnya  korban yang jatuh ke jurang atau tebing.

“Alat ini juga digunakan untuk pengiriman logistik di kawasan  bencana yang tidak dijangkau oleh kendaraan melewati jalan darat,” terang Agus.

Pada kesempatan tersebut diperkenalkan mobil Ambulans Donoharjo  hasil swadaya masyarakat berikut perlengkapan yang ada di dalamnya. Ambulans tersebut disiapsiagakan  untuk warga yang membutuhkan pertolongan saat terjadi kegawatdaruratan, seperti untuk antar jemput warga yang sakit ke rumah sakit maupun saat prosesi pemakaman.

Anak anak menampakkan antusias dan kegembiraan mengikuti acara tersebut apalagi dikemas menarik  dengan menampilkan flying fox yang bisa dicoba oleh para siswa.

“Acara sengaja dikemas dengan penuh keceriaan agar anak-anak terkesan alat apa saja yang dipergunakan untuk pertolongan,  dan selalu ingat bahwa jangan ragu  untuk memberikan pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan dan selalu berbuat baik dimana pun berada,” tandas Agus. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo)




Hadirkan BPBD Sleman, MAN 4 Sleman Bekali Siswa Simulasi Mitigasi Bencana

Sleman –  Berada di kawasan dekat Merapi, sering terlanda angin kencang hingga adanya Megatruth mewajibkan setiap warga harus bisa memahami karakteristik bencana serta strategi menghadapinya.   Dengan pemahaman yang baik, ketika terjadi bencana diharapkan bisa melakukan tindakan tepat serta meminimalisir korban. 

Itulah mengapa MAN 4 Sleman bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, mengadakan simulasi mitigasi bencana alam yang diikuti oleh seluruh civitas akademika, seluruh  siswa, guru, dan pegawai. Kegiatan ini bertujuan untuk bekal civitas akademik agar selalu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Sleman.  Kegiatan diselenggarakan pada Rabu (16/10/2024).

Sebelum simulasi menghadapi bencana, diberikan penyuluhan oleh Ismardiyanto dari BPBD Sleman yang menjelaskan langkah-langkah penting menghadapi bencana.  Ismardiyanto menekankan pentingnya tidak panik, tetap tenang saat bencana terjadi dan memahami tindakan yang tepat.

“Dalam menghadapi setiap bencana, setiap orang harus bersikap tenang serta mengetahui dan memahami tindakan yang harus dilakukan,” ungkapnya, dengan didampingi personil petugas BPBD lainnya Agaton Sulistiyanto, Yudha wahyu Cahyana, Ade Bayu Bagaskara, serta 3 mahasiswa yang ditugasi mendokumentasikan kegiatan.

Simulasi tersebut mencakup mitigasi tiga jenis bencana alam: erupsi Gunung Merapi, gempa bumi, dan angin kencang.  Ismardiyanto menjelaskan bahwa saat terjadi gempa bumi di kelas, langkah mitigasi yang perlu dilakukan adalah tetap tenang dan segera melakukan “Drop, Cover, and Hold On,” yaitu berlindung di bawah meja, melindungi kepala, dan berpegangan hingga guncangan berhenti. Ia juga mengingatkan untuk menghindari jendela dan barang berat.

“Jika tidak ada tempat berlindung, siswa harus duduk di lantai dan melindungi kepala mereka.

Setelah guncangan berhenti, siswa diminta untuk melakukan evakuasi kelas secara tertib melalui jalur aman dan berkumpul di titik aman yang jauh dari bangunan dan tiang listrik. Mereka juga diingatkan untuk mengikuti arahan guru atau petugas demi menjaga keselamatan.

Ketika terjadi angin kencang di luar kelas, siswa harus segera mencari tempat perlindungan yang aman, seperti gedung atau tempat berlindung yang kokoh, serta menjauhi pohon dan tiang listrik. Jika tidak ada tempat berlindung, siswa harus menunduk, melindungi kepala dengan tangan, dan berjongkok di tempat yang rendah. Menghindari berlari sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko terjatuh. Setelah angin mereda, siswa harus berkumpul di titik aman yang ditentukan dan mengikuti arahan guru untuk menjaga keselamatan.

Menghadapi erupsi Gunung Merapi, siswa diharapkan segera melakukan evakuasi ke lokasi aman sesuai instruksi pihak berwenang dan menjauhi daerah yang berpotensi terpapar lahar, abu vulkanik, dan gas beracun. Mereka juga disarankan melindungi diri dengan masker untuk mencegah inhalasi abu vulkanik. Setelah evakuasi, siswa harus berkumpul di tempat yang aman dan memantau informasi terkini dari pihak berwenang untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut. Dengan langkah-langkah ini, keselamatan siswa dan masyarakat dapat terjaga.

Seluruh civitas akademika tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf, berharap bahwa kegiatan ini dapat memberikan bekal bermanfaat bagi semua peserta dalam upaya mencegah dan meminimalisir terjadinya korban.  (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Mendorong Program Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana di Sleman

TP PKK DIY melakukan monitoring dan evaluasi program Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana di Kabupaten Sleman, Kamis (10/10/2024).

Sri Herawati, salah seorang anggota Tim Monev Pilot Project Keluarga Sehat Tanggap Tangguh Bencana TP PKK DIY, menyampaikan bahwa program ini dari TP PKK Pusat untuk membentuk keluarga sehat tanggap dan tangguh bencana di lingkungan keluarga. Monitoring dan evaluasi difokuskan pada bidang kesehatan, kelestarian lingkungan, dan perencanaan sehat.

Di seluruh DIY total ada 45 lokasi program ini dengan rincian 6 lokasi pilot project binaan TP PKK Pusat dan 39 lokasi pilot project binaan DIY. Adapun di Kabupaten Sleman, 9 kalurahan yang menjadi Lokasi project ini adalah Sinduadi (Peduli Stunting), Margorejo, Sidoagung (Menuju PHBS), Sindumartani, Tridadi, Banyuraden (Peduli KIA), Margoluwih, Sumberarum, Caturtunggal (Siaga Kebakaran), Wukirsari (Bencana Alam), Tamanmartani (Peduli Lingkungan), Sumbersari (Keluarga Berkualitas), Sukoharjo (Keuangan Sehat), dan Sidomoyo (Keluarga Sehat PUS).

“Permasalahan yang dihadapi adalah pembuatan laporan belum seluruhnya seperti yang diharapkan, data dukung dan data utama sumber data yang diambil bervariasi, belum semua membentuk tim gagah bencana, dan kekhawatiran gerakan keluarga sehat tanggap dan tangguh bencana tidak ada kegiatan nyata,” papar Sri Herawati saat memaparkan programnya di Ruang Sembada, Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman.

Selain itu ada juga kendala berupa perkembangan dari semester ke semester berikutnya tidak dinarasikan, banyak yang belum membentuk posko gagah bencana, belum semua mempunyai inovasi dan kreatifitas yang memadai, belum semua OPD memberikan kontribusi sesuai masing masing pilot project, dan dana pelaksanaan gerakan keluarga sehat tanggap dan tangguh bencana belum sesuai yang diharapkan.

Pj. Ketua TP PKK Kabupaten Sleman, Noor Hidayati yang menerima tim monev, menyatakan monev ini strategis bagi pihaknya untuk memperoleh feedback sejauh mana program Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana di Sleman dapat menggerakkan dan mengedukasi masyarakat untuk membentuk keluarga yang tanggap dan tangguh. “Kebanggaan bagi kami mendapatkan kesempatan untuk dievaluasi dan dimonitoring TP PKK DIY, untuk perbaikan program kami ke depan,” ungkap Noor Hidayati.