Status Siaga Gunung Merapi Diperpanjang, Pemkab Sleman Terapkan Simulasi Mitigasi Bencana

Sleman –  BPBD Kabupaten Sleman melakukan kegiatan simulasi penanganan bencana Gunung Merapi di Barak Pengungsian dan Balai Desa Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kamis (27/06/2024). Kegiatan yang dimulai pukul WIB ini dihadiri oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, Perwakilan Caritas Jerman, serta unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, menyampaikan, kegiatan tersebut sebagai upaya peningkatan pemahaman masyarakat terkait ancaman dan risiko bencana erupsi. Pada kesempatan itu, BPBD Sleman bersama BNPB juga menyaluran bantuan bahan logistik kepada warga yang terdampak erupsi Gunung Merapi.

“Sebanyak 300 paket sembako disalurkan kepada warga Kawasan Rawan Bencana (KRB III) Gunung Merapi, dan  Dana Siap Pakai (DSP) sebesar 150 juta rupiah dari BNPB, sebagai bentuk kepedulian pemerintah pusat terhadap masyarakat sekitar Gunung Merapi, dan dukungan operasional penanganan Siaga Darurat Erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Sleman. Dukungan dini dikhususkan untuk pembelian sembako, tenda pengungsi, chainsaw, dan masker,” kata Bambang.

Sebelumnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)  Yogyakarta menyebut pada Rabu, 26 Juni 2024 pukul – WIB, Gunung Merapi teramati 17 kali mengeluarkan guguran lava ke arah Sungai Bebeng (barat daya), dengan jarak luncur maksimum meter. Sementara, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada di level III (siaga) sejak 5 November 2020 lalu.

Menganggapi hal itu, Bambang menyampaikan Pemkab Sleman telah menerbitkan SK Bupati Sleman Nomor Kep. KDH I A / 2024 tentang Perpanjangan Penetapan Status Siaga Darurat Erupsi Gunung  Api Merapi. Ia juga menuturkan bahwa pihaknya hingga saat ini masih menerapkan berbagai upaya kesiapsiagaan yang dilakukan bersama sejumlah instansi terkait. 

“BPBD Kabupaten Sleman terus melakukan berbagai upaya keiapsiagaan diantaranya menjalin kerjasama dengan BPPTKG Yogyakarta dalam melakukan pemantauan dan sosialisasi, koordinasi dengan lembaga vertikal BNPB, menjalin kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal maupun asing dan berbagai unsur terkait,” ungkapnya.

Kegiatan pencegahan tidak hanya diranah instansi saja. Secara rinci, BPBD Kabupaten Sleman  menjalankan beberapa upaya mitigasi, mulai dari menyusun Rencana  Kontijensi Erupsi Gunung Merapi pada tahun 2020. Kemudian memasang perangkat Early Warning System sebanyak 35 dan jalur evakuasi yang dilengkapi dengan rambu-rambu serta titik kumpul di daerah potensi bahaya.

Selanjutnya, menyiapkan 12 barak pengungsian bagi warga yang terdampak bencana erupsi Gunung Merapi.  Lalu mempraktikkan simulasi penanganan kedaruratan bencana erupsi Gunung Api Merapi pada Tahun 2024, melalui kegiatan Table Top Exercise Gladi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terkait ancaman dan risiko melalui sistem informasi dan komunikasi, termasuk peringatan dini.

“Tujuan lainnya yaitu meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan terkait sistem penanggulangan kedaruratan bencana yang melibatkan multipihak dalam mengantisipasi dampak skenario terburuk erupsi Gunung Merapi,” imbuh Bambang.

BPBD Sleman juga membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana) di daerah terdampak erupsi Gunung Merapi. Kebijakan ini ditunjang dengan pemberian Kartu Identitas Relawan (KIR) kepada sejumlah sukarelawan di wilayah tersebut.

“Pemberian KIR juga dalam upaya meningkatkan kompetensi keahlian yang dimiliki relawan. Jadi tidak hanya sebagai kartu identitas saja. Akan tetapi  pemegang KIR juga mendapatkan prioritas untuk mendapatkan pelatihan tentang kebencanaan sehingga keahlian yang dimiliki bisa semakin ditingkatkan,” jelasnya.




Pemkab Sleman Salurkan Bantuan Kebencanaan Kepada 29 Warga Terdampak Bencana

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman kembali menyalurkan bantuan kebencanaan kepada warga Kabupaten Sleman yang terdampak bencana angin kencang dan kebakaran dalam kurun waktu Februari sampai April.

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo kepada perwakilan penerima bantuan, pada Senin (3/6) didampingi oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Suparmono dan Kepala BPBD Sleman, Makwan.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan bahwa bantuan yang diberikan ini merupakan bentuk perhatian dan kepedulian Pemkab Sleman kepada masyarakat Sleman yang tertimpa musibah bencana alam.

“Ini merupakan wujud kepedulian Pemkab Sleman kepada masyarakat yang tertimpa musibah. Saya harap bantuan yang diberikan mampu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meringankan beban dan menjadi motivasi untuk bangkit kembali dari musibah bencana alam,” ujar Kustini.

Lebih lanjut, Kustini menjelaskan wilayah Kabupaten Sleman termasuk dalam wilayah rawan bencana, sebagaimana yang beberapa tahun ke belakang terjadi berbagai bencana seperti erupsi gunung Merapi, gempa bumi, angin kencang, tanah longsor, banjir, kebakaran dan lain sebagainya. Kustini berpesan kepada masyarakat untuk selalu siaga dan memahami mitigasi bencana jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.

“Sleman termasuk kawasan rawan bencana, oleh karenanya penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana untuk memahami mitigasi bencana dan selalu siaga terhadap potensi bencana kedepannya,” ujar Kustini.

Kepala BPBD Sleman, Makwan dalam laporannya melaporkan bahwa bantuan diberikan kepada 29 warga Sleman yang berasal dari 7 Kapanewon, 7 Kalurahan, dan 10 Padukuhan dengan total bantuan yaitu berupa uang sebesar Rp .

Lebih lanjut, Makwan menjelaskan pemberian bantuan ini dilakukan setelah verifikasi oleh BPBD Sleman kepada warga terdampak bencana untuk periode Februari hingga April 2024.

Verifikasi tersebut menurutnya bertujuan untuk memastikan bantuan yang diserahkan tepat sasaran serta untuk mengetahui tingkatan kerusakan yang dialami warga. Sehingga nominal yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang dialami masing-masing warga terdampak bencana alam.




BPBD Sleman Gelar Pelatihan Pengelolaan Tempat Pengungsian

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar Pelatihan Pengelolaan Tempat Pengungsian di wilayan Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 Gunung Merapi yaitu Kalurahan Merdikorejo. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (21/5/2024) itu diselenggarakan di GOR Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Kegiatan menghadirkan narasumber yaitu Bambang dari Tim Kerja Penanganan Pengungsi dan Logistik Bencana, serta Kompol Parliska dari Polresta Sleman.

Kegiatan ini di laksanakan selama 2 hari yaitu di tanggal 21-22 Mei 2024 dan diikuti oleh Pamong Kalurahan, Destana, KSB, ReMer(Relawan Merdikorejo, Linmas, Karang Taruna dan PKK.

“Tujuan Khusus penyelenggaraan pelatihan adalah memahami konsep, jenis dan karakteristik dasar-dasar penanggulangan bencana, memahami manajemen resiko bencana dengan baik, memahami manajemen penanggulangan darurat bencana, memahami manajemen rehabilitasi dan rekonstruksi bencana dan memahami manajemen logistik dan peralatan dalam barak pengungsian,” jelas Bambang.

Di hari kedua tanggal 22 Mei 2024 juga akan dilaksanakan kegiatan simulasi tata cara pendirian tenda selter dan menyiapkan keperluan di barak pengungsian.

“Output dari kegiatan ini di harap dapat membentuk relawan yang profesional dan tanggap dalam bertindak saat terjadi bencana supaya warga dapat terselamatkan dengan baik dan aman,” tutup Bambang. (Dony/KIM Tempel)




Peringati HKB 2024, Destana Sardonoharjo dan Kapanewon Ngaglik Gelar Simulasi Evakuasi Bencana Gempa Bumi.

Ngaglik – Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang jatuh pada hari Jumat (26/4/2024) diperingati oleh Kapanewon Ngaglik bersama Destana Sardonoharjo dengan menggelar simulasi evakuasi bencana gempa bumi.

Kegiatan simulasi ini, melibatkan semua pegawai berbagai bidang dan sekretariat, dan juga melibatkan Tim Reaksi Cepat Destana Sardonoharjo .

Bunyi sirine sekitar pukul WIB pertanda terjadinya gempa, semua pegawai yang sedang beraktivitas di masing-masing ruangan langsung merespon kejadian dengan berlari di tempat terbuka dan sebagiannya melindungi kepala dengan bersembunyi di bawah meja.

Setelah gempa mereda, semuanya bergerak ke Titik Kumpul di halaman kantor Kapanewon Ngaglik untuk melaporkan kondisi pegawai masing-masing bidang.

Tim TRC yang mendapati laporan adanya satu orang pegawai sekretariatan yang pingsan, langsung bergegas melakukan penyelamatan ke dalam gedung dan menghubungi ambulance.

Panewu Ngaglik , Agung Endarto dan Lurah Sardonoharjo Harjuno Wiwoho sangat mendukung kegiatan Simulasi seperti ini.

“Kegiatan ini juga dilaksanakan di semua Sekolah yg ada di Kapanewon Ngaglik, kaloborasi dengan Destana Sardoharjo dan Kapanewon Ngaglik membuat Simulasi ini berjalan lancar , tujuannya agar jika terjadi gempa , semua siap dan tidak panic,” tutupnya. (Eka Sastra/KIM Sardonoharjo)




Pemkab Sleman Salurkan Bantuan Kebencanaan dengan Total 127 Juta

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui BPBD Sleman kembali menyalurkan bantuan kebencanaan kepada warga Kabupaten Sleman yang terdampak akibat bencana  angin kencang dan kebakaran.

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa kepada perwakilan penerima bantuan, pada Kamis (21/3).

Kepala BPBD Sleman Makwan dalam laporannya menyampaikan bahwa bantuan diberikan kepada 161 warga Sleman yang berasal dari 10 Kapanewon, 18 Kalurahan, dan 43 Padukuhan. Sementara bantuan diberikan yaitu berupa uang dengan total Rp .

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa sebelumnya BPBD Sleman telah melalukan verifikasi untuk warga terdampak bencana untuk periode Februari 2024.

Menurutnya, verifikasi ini bertujuan untuk memastikan bantuan yang diserahkan tepat sasaran serta untuk mengetahui tingkatan kerusakan yang dialami warga. Hal tersebut dijelaskan Makwan, akan berpengaruh kepada jumlah bantuan yang diterima.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dalam sambutannya mengatakan bahwa bantuan yang berikan ini merupakan bentuk perhatian, kepedulian dan kecintaan Pemkab Sleman kepada warga Sleman.

“Kami berharap bantuan yang diberikan ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meringankan beban saudara-saudara,” ujar Danang.

Danang menyebut bantuan yang diberikan ini mungkin tidak cukup untuk membantu secara keseluruhan dampak dari bencana, namun menurutnya bantuan ini merupakan bentuk komitmen Pemkab Sleman untuk membantu warga Sleman yang terdampak bencana alam.

Lebih lanjut, Danang menjelaskan wilayah Kabupaten Sleman merupakan wilayah yang sangat rawan terhadap berbagai bencana seperti erupsi Merapi, gempa bumi, angin kencang, tanah longsor, banjir, kebakaran dan lain sebagainya. Untuk itu Ia berpesan kepada masyarakat agar memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi setiap kejadian bencana.

“Kedepan tentunya kita harus mewaspadai ancaman berbagai bencana yang ada disekitar kita,” ujar Danang.

Selain itu, Danang juga mengajak seluruh masyarakat sleman untuk menjag dan merawat alam dengan tidak melakukan perusakan hutan, gunung, dan lainnya. Ia menilai, kerusakan alam yang dilakukan manusia berpotensi menimbulkan bencana alam di kemudian hari, maka dari itu, Ia berharap masyarakat bersama – sama memiliki kesadaran menjaga lingkungan.