Berbah – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati, meresmikan sensor seismograp dengan kode SYJI di Candi Abang, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (18/12/2021). Peresmian juga diikuti dengan live streaming bekerja sama dengan BMKG pusat secara langsung dari ruang operasional Pusat Gempa Nasional dengan tujuan untuk memastikan data seismograp dengan kode SYJI telah masuk dengan baik dalam sistem Indonesia Tsunami Early Warning Sistem (TEWS). Peresmian juga dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo.
Dalam kesempatan tersebut, Kustini memberikan apresiasi atas terpasangnya shelter dan sensor pemantauan gempa ini. Menurutnya, hal ini penting karena Kabupaten Sleman merupakan daerah yang memiliki risiko multi bencana. “Setidaknya ada 7 bencana yang bisa mengancam di antarnya erupsi, banjir, kekeringan, tanah longsor, cuaca ekstrem, angin dan gempa,” ujar Kustini.
Ia juga mengatakan bahwa dalam kajian yang dilakukan, Kabupaten Sleman memiliki tiga kategori risiko bencana, yaitu ringan, sedang, dan tinggi.
Dalam upaya penanggulangan dan pengurangan risiko bencana tersebut, Kustini menyebutkan bahwa Pemerintah Sleman terus mendorong keterlibatan masyarakat, di antaranya dengan membentuk desa tangguh bencana yang saat ini sudah berjumlah 69 desa, di 86 kalurahan yang ada di Kabupaten Sleman. “Selain itu dilakukan pendidikan mitimigasi bencana sejak dini di usia taman kanak-kanak melalui satuan Pendidikan Aman Bencana,” terang Kustini.
Hal senada juga disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwana X. Menurutnya, pemasangan shelter dan seismograf ini sejalan dengan ilmu Titen yang sudah diaplikasikan oleh para leluhur. Ilmu Titen sendiri merupakan ilmu yang digunakan untuk memprediksi gempa dengan melakukan pengamatan secara berulang kali terhadap retakan tanah dan perubahan kondisi air dalam waktu lama. “Patut diapresiasi, dilestarikan, dan disesuaikan dengan perkembangan pengetahuan,” ujar Sri Sultan.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan Shelter dan sensor sendiri dipasang di Candi Abang disebabkan beberapa alasan. Alasan pertama adalah lokasi tersebut terletak jauh dari aliran air. Lokasi tersbut juga berada jauh dari keramaian, baik kendaraan maupun manusia, serta strukturnya berada di atas bebatuan yang kokoh.
Selain itj, lanjut Dwikorita, pemasangan shelter dan sensor ini juga digunakan untuk merapatkan jaringan guna meningkatkan performa kecepatan dan akurasi informasi peringatan dini gempa besar dan Tsunami kepada masyarakat.
“Pembangunan Shelter dan instalasi seismograp dapat berhasil berkat dukungan berbagai pihak khususnya dari pemerintah kota/kabupaten diseluruh wilayah Indonesia yang telah mengizinkan penggunaan lahan untuk pembangunan shelter dan sensor,” ujar Dwikorita.
Sehingga ia meminta kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus menjaga keamanan sensor yang telah terpasang. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)