Hujan Angin Menerjang Kapanewon Berbah, Rumah Warga dan Jaringan Listrik Alami Kerusakan

Berbah – Hujan deras beserta angin kencang menerjang wilayah Sleman, tepatnya di Kalurahan Sendangtirto, Berbah Bagian Barat pada Rabu (2/2/2022) sekitar pukul WIB. Akibatnya, beberapa rumah warga mengalami rusak sedang hingga parah yang diikuti dengan tumbangnya sejumlah pohon besar dan tiang listrik yang mengakibatkan terputusnya jaringan listrik di Berbah Barat.

Menurut keterangan Lurah Sendangtirto, Amir Jumawan, kerusakan terjadi di beberapa padukuhan seperti di Kadipolo terdapat pohon tumbang yang menimpa 3 rumah dan bangunan joglo.

“Selain di Kadipolo, lokasi yang yang terdampak mengalami kerusakan adalah Klampok, Karanganyar, Karang Asem, Jetak, Sribit, Dawukan, dan Pedukuhan Gandu Jalam Wonosari yang kesemuanya ada di wilayah kalurahan Sendangtirto Kapanewon Berbah,” terang Amir.

Atas kejadian ini, Kepala Logistik dan Kedaruratan BPBD Sleman, Bambang Kuntoro langsung mengirimkan 3 Unit Mobil Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk membantu mengamankan kondisi paska terjangan angin yang terjadi.

Bersama relawan dari Berbah, TRC BPBD Sleman melakukan evakuasi dan pembersihan material di lokasi yang terdampak terjangan angin. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Antisipasi Cuaca Ekstrem, Kalurahan Kepuharjo Tebang Pohon yang Tumbuh Terlalu Tinggi

Cangkringan – Pamong Kalurahan Kepuharjo bekerja sama dengan Komunitas Cokro melakukan penebangan pohon yang tumbuh menjulang tinggi di sepanjang jalan Merapi Golf sampai SMP 2 Cangkringan pada Jumat (14/1/2022).

Heri Suprapto, Lurah Kepuharjo menuturkan bahwa penebangan ini dilakukan sebagi bentuk antisipasi terhadap curah hujan tinggi yang disertai angin kencang yang terjadi beberapa minggu terakhir ini.

“Karena pada tahun 2021 lalu, ketika curah hujan tinggi, di wilayah Kepuharjo banyak pohon tumbang dan menimpa rumah warga,” ujar Heri.

Pemilihan lokasi penebangan, lanjut Heri, dilakukan melihat kondisi lingkungan daerah Merapi Golf hingga SMP 2 Cangkringan banyak terdapat pohoh yang tumbuh terlalu tinggi, sehingga dapat merusak kabel listrik yang melintang ketika tumbang.

“Jika pohon-pohon tersebut tumbang menimpa jaringan listrik, maka akan berakibat fatal,” imbuh Heri.

Penebangan pohon sendiri dilakukan setelah dilakukan koordinasi dengan PLN Sektor Kalasan agar dapat memadamkan sementara jaringan listrik agar proses penebangan dapat berjalan dengan lancar. Pohon yang ditebang terdiri dari 5 Pohon Kelapa, 1 Pohon Waru, dan 1 Pohon Mindi. Proses penebangan juga dibantu oleh Komunitas Relawan Cokro. (Andi Ferdana/KIM Cangkringan)




Baznas Sleman Kumpulkan Donasi untuk Korban Bencana Semeru

Sleman – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman berhasil mengumpulkan donasi untuk korban bencana Gunung Semeru sebanyak Rp. , -. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Baznas Sleman, Kriswanto saat menemui Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, di Setda Sleman, Kamis (13/1/2022).

Kriswanto memaparkan bahwa donasi tersebut berasal dari berbagai sumber dana, yaitu dari Korpri Sleman sebanyak Rp. , -, LazisMU sebanyak Rp. , -, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) sebanyak Rp. , -, Baznas Sleman sebanyak Rp. , -, Masjid se-Kabupaten Sleman sebanyak Rp. , -, TJSP (CSR) Bappeda Sleman sebanyak Rp. , -, PMI Sleman sebanyak Rp , -, dan LazisNU sebanyak Rp , -.

“Ada juga sejumlah barang yang berasal dari asosiasi pedagang Pasar Godean dan Dinas Sosial Kabupaten Sleman,” terang Kriswanto.

Sementara itu, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo memberikan apresiasinya atas donasi yang berhasil dikumpulkan tersebut.

“Semoga bermanfaat bagi saudara-saudara kita di Lumajang. Masyarakat kita pernah mengalami hal semacam itu, dan pada saat itupun kita banyak menerima bantuan dari berbagai wilayah. Insya Allah sangat bermanfaat,” kata Kustini.

Sementara untuk penyaluran bantuan, Kepala BPBD Sleman, Makwan menuturkan bahwa akan dilakukan para Senin (17/1/2022), sesuai dengan araha Bupati Sleman.

“Kita juga akan membara armada truk, karena selain menyampaikan bantuan dalam bentuk uang juga logistik, meliputi beras 1 ton, mie instan 40 karton, minyak goreng 12 karton, gula pasir 2 kwintal, jarik 500 potong, sarung 1000 potong serta sejumlah karton teh, saos, kecap, sarden, dan paket dari asosiasi pedagang pasar Godean. Semoga lancar,” tandas Makwan. (Tri Joko/KIM Kalasan)




Eksistensi MDMC Sleman dalam Memberikan Pelayanan

Sleman – Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah atau biasa disebut Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) adalah lembaga kerelawanan Muhammadiyah di sektor kebenacanaan. Kiprahnya pun telah mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah ketika MDMC diundang mengikuti Apel Hari Relawan PMI se-DIY yang diselenggarakan di Lapangan Pemda Sleman pada Minggu (26/12/2021).

Juang Mahron, perwakilan Relawan SAR Moeslem MDMC Sleman mengatakan bahwa MDMC selalu meningkatkan kapasitas relawan untuk menyetak relawan Tangguh, profesional, dan siap sedia dalam membatu sesama.

“Bergandeng tangan dengan potensi relawan lainnya di Sleman. Semoga tetap terjaga sinergi untuk kemanusiaan serta tetap kompak,” ujarnya.

Fokus yang diambil oleh MDMC tersebut sesuai denga napa yang dikatakan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nasir. Menurutnya, semangat kerelawananan yang dibangun oleh Muhammadiyah adalah semangat keikhlasan, sesuai yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan.

“Menjadi relawan saat ini tidak mudah karena kita berada di tengah virus egoistik, individualistik, dan penanggulangan bencana,” ujar Haedar.

Menurutnya, relawan juga harus berperan dalam berbagai macam hal yang mencakup pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, dan penanggulangan bencana. (Arief Hartanto)




Tingatkan Sistem Peringatan Bencana, BMKG Resmikan Shelter dan Sensor Pemantauan Gempa

Berbah – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati, meresmikan sensor seismograp dengan kode SYJI di Candi Abang, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (18/12/2021). Peresmian juga diikuti dengan live streaming bekerja sama dengan BMKG pusat secara langsung dari ruang operasional Pusat Gempa Nasional dengan tujuan untuk memastikan data seismograp dengan kode SYJI telah masuk dengan baik dalam sistem Indonesia Tsunami Early Warning Sistem (TEWS). Peresmian juga dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo.

Dalam kesempatan tersebut, Kustini memberikan apresiasi atas terpasangnya shelter dan sensor pemantauan gempa ini. Menurutnya, hal ini penting karena Kabupaten Sleman merupakan daerah yang memiliki risiko multi bencana. “Setidaknya ada 7 bencana yang bisa mengancam di antarnya erupsi, banjir, kekeringan, tanah longsor, cuaca ekstrem, angin dan gempa,” ujar Kustini.

Ia juga mengatakan bahwa dalam kajian yang dilakukan, Kabupaten Sleman memiliki tiga kategori risiko bencana, yaitu ringan, sedang, dan tinggi.

Dalam upaya penanggulangan dan pengurangan risiko bencana tersebut, Kustini menyebutkan bahwa Pemerintah Sleman terus mendorong keterlibatan masyarakat, di antaranya dengan membentuk desa tangguh bencana yang saat ini sudah berjumlah 69 desa, di 86 kalurahan yang ada di Kabupaten Sleman. “Selain itu dilakukan pendidikan mitimigasi bencana sejak dini di usia taman kanak-kanak melalui satuan Pendidikan Aman Bencana,” terang Kustini.

Hal senada juga disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwana X. Menurutnya, pemasangan shelter dan seismograf ini sejalan dengan ilmu Titen yang sudah diaplikasikan oleh para leluhur. Ilmu Titen sendiri merupakan ilmu yang digunakan untuk memprediksi gempa dengan melakukan pengamatan secara berulang kali terhadap retakan tanah dan perubahan kondisi air dalam waktu lama. “Patut diapresiasi, dilestarikan, dan disesuaikan dengan perkembangan pengetahuan,” ujar Sri Sultan.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan Shelter dan sensor sendiri dipasang di Candi Abang disebabkan beberapa alasan. Alasan pertama adalah lokasi tersebut terletak jauh dari aliran air. Lokasi tersbut juga berada jauh dari keramaian, baik kendaraan maupun manusia, serta strukturnya berada di atas bebatuan yang kokoh.

Selain itj, lanjut Dwikorita, pemasangan shelter dan sensor ini juga digunakan untuk merapatkan jaringan guna meningkatkan performa kecepatan dan akurasi informasi peringatan dini gempa besar dan Tsunami kepada masyarakat.

“Pembangunan Shelter dan instalasi seismograp dapat berhasil berkat dukungan berbagai pihak khususnya dari pemerintah kota/kabupaten diseluruh wilayah Indonesia yang telah mengizinkan penggunaan lahan untuk pembangunan shelter dan sensor,” ujar Dwikorita.

Sehingga ia meminta kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus menjaga keamanan sensor yang telah terpasang. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)