Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi, Perguruan Tinggi dan Masyarakat Sleman Bersinergi

Sleman – Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat menjadi pilar krusial dalam memperkuat upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) hidrometeorologi di Kabupaten Sleman. Peran akademisi dinilai sangat penting untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan aksi nyata kesiapsiagaan warga di tingkat akar rumput.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Departemen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yusman Wiyatmo, di Kabupaten Sleman pada Minggu (19/07/2026). Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral dan akademis melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mentransformasikan riset kebencanaan menjadi pemahaman praktis bagi masyarakat.

“Pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat agar pengetahuan kebencanaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yusman Wiyatmo.

Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Sleman memiliki karakteristik kerawanan bencana yang cukup kompleks dan beragam. Wilayah lereng Gunung Merapi rentan terhadap ancaman tanah longsor dan banjir lahar hujan, sementara kawasan bagian tengah hingga selatan lebih berpotensi mengalami angin kencang serta pohon tumbang akibat fenomena cuaca ekstrem.

Oleh karena itu, edukasi kebencanaan yang terintegrasi diharapkan dapat membangun sinergi yang solid antara warga dengan pemerintah daerah dalam memperkuat penanggulangan bencana berbasis komunitas.

“Kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat mampu membangun budaya sadar bencana sekaligus meningkatkan ketangguhan masyarakat Kabupaten Sleman dalam menghadapi ancaman hidrometeorologi,” tegas Yusman Wiyatmo. (Athiful/KIM Depok)




Tim KSB Tamanmartani Gelar Safari Edukasi Mitigasi Bencana Bagi Siswa PAUD dan TK di Kalasan

Sleman – Mengisi agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027, Tim Kampung Siaga Bencana (KSB) Taman Siaga Bencana Kalurahan Tamanmartani menggelar safari edukasi mitigasi bencana di tiga lembaga pendidikan anak usia dini. Kegiatan penguatan kapasitas bidang kebencanaan ini dilaksanakan berturut-turut di TK ABA Kenaji pada Rabu (15/07/2026), TK Bakti VI Kowang pada Kamis (16/07/2026), dan TK Setyorini Bogem pada Jumat (17/07/2026).

Carik Kalurahan Tamanmartani, Tomi Nugraha, menuturkan bahwa Tim Relawan Kalurahan Tamanmartani senantiasa siap mendampingi seluruh lapisan masyarakat dalam edukasi penanggulangan bencana, termasuk sektor pendidikan anak usia dini. Dalam safari tersebut, para relawan memberikan pengenalan jenis ancaman bencana serta teknik dasar pemadam kebakaran yang dikemas secara interaktif dan disesuaikan dengan usia anak.

Edukasi disampaikan melalui metode ceramah klasikal dan praktik simulasi di halaman sekolah menggunakan peralatan sederhana. Melalui pendampingan para tenaga pendidik, anak-anak diajak mengenali langkah keselamatan diri secara intuitif dan menyenangkan.

Tomi Nugraha berharap materi edukasi ini dapat menjadi pengetahuan praktis sekaligus menambah keterampilan dasar bagi peserta didik maupun para guru dalam menghadapi potensi bahaya di lingkungan sekitar.

“Kita tidak berharap terjadi bencana, tetapi kita harus selalu waspada dan siaga, agar bila terjadi kebencanaan bisa diminimalisir dampaknya. Kegiatan serupa juga akan dilaksanakan di lembaga pendidikan TK formal dan non-formal yang lain,” ujar Tomi Nugraha.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana bagi para relawan untuk mengasah kemampuan dan keterampilan lapangan. Pihaknya memastikan Tim KSB Tamanmartani selalu siap mengabdi dan mendampingi masyarakat dalam mewujudkan wilayah yang tangguh bencana. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)




Mitigasi Banjir Bandang Kunci Pengurangan Risiko Bencana Hidrometeorologi Warga Sleman

Sleman – Dosen Departemen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Febrina Siska Widyaningtyas, menegaskan bahwa mitigasi banjir bandang menjadi kunci utama dalam upaya mengurangi risiko bencana. Langkah ini dipandang sangat krusial, terutama di tengah meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim dan perubahan tata guna lahan.

Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan warga Perumahan Citra Ringin Mas, Kabupaten Sleman, pada Minggu (19/07/2026). Febrina Siska Widyaningtyas menekankan bahwa penguatan pemahaman masyarakat mengenai penyebab dan karakteristik banjir bandang merupakan langkah awal untuk menekan risiko korban jiwa maupun kerugian material.

“Bencana tidak dapat kita hentikan. Namun korban dan kerugiannya dapat kita kurangi. Kunci utama ketangguhan bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada masyarakat yang sadar risiko, siap menghadapi bencana, dan mampu bekerja sama,” ujar Febrina Siska Widyaningtyas.

Ia memaparkan bahwa banjir bandang umumnya dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang menyebabkan debit sungai meningkat cepat hingga meluap. Potensi bahaya kian membesar ketika daya serap lingkungan menurun akibat deforestasi, alih fungsi lahan, urbanisasi, serta sistem drainase dan pengelolaan sungai yang belum optimal. Di wilayah berbukit, longsoran tanah yang membendung aliran sungai juga berisiko memicu banjir bandang saat bendungan alami tersebut jebol.

Febrina Siska Widyaningtyas juga mengingatkan warga bahwa banjir bandang membawa arus air bertekanan tinggi yang bercampur material berbahaya seperti batu, kayu, dan lumpur. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menerobos arus banjir dan segera melakukan evakuasi saat muncul peringatan dini.

Dalam kesempatan tersebut, ia membekali warga dengan sejumlah langkah mitigasi praktis, seperti menjaga vegetasi daerah hulu, tidak membuang sampah ke sungai, memantau informasi cuaca resmi dari BMKG, memahami jalur evakuasi, serta memperkuat solidaritas lingkungan.

“Kami berharap masyarakat Sleman semakin memahami pentingnya mitigasi banjir bandang sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana, sehingga mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat ketangguhan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi,” katanya. (Athiful/KIM Depok)




Siaga Hadapi Bencana, BPBD Sleman Bekali Murid Baru MAN 4 Sleman dengan Edukasi Mitigasi

Sleman – Geografis Kabupaten Sleman yang berada di lereng Gunung Merapi menjadikan wilayah ini memiliki potensi kerawanan bencana alam cukup tinggi, mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, hingga angin puting beliung. Menyadari hal tersebut, pemahaman mitigasi bencana dipandang sebagai bekal krusial yang wajib dimiliki oleh generasi muda sejak dini.

Guna membangun kesiapsiagaan tersebut, MAN 4 Sleman menghadirkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dalam rangkaian Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Mata Muda) 2026. Kegiatan pembekalan yang diikuti sebanyak 180 murid baru ini berlangsung di Aula 1 MAN 4 Sleman, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/07/2026).

Anggota TRC BPBD Kabupaten Sleman, Nur Cahyo Abdullah, hadir memberikan edukasi langsung mengenai strategi mitigasi dan langkah penanganan darurat.

“Bencana memang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Namun, dampaknya dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki pengetahuan tentang mitigasi dan mengetahui langkah yang tepat untuk menyelamatkan diri,” ujar Nur Cahyo Abdullah.

Nur Cahyo menjelaskan bahwa penguatan kelembagaan penanggulangan bencana di Kabupaten Sleman terus bertransformasi sejak tahun 2003 hingga dibentuknya BPBD pasca-erupsi besar Merapi tahun 2010. Langkah ini dilakukan agar penanganan kebencanaan berjalan terencana, cepat, dan profesional. Dalam paparannya, ia mengategorikan tiga jenis bencana, yakni bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.

Ia menggarisbawahi pentingnya edukasi kebencanaan berdasarkan bukti empiris keselamatan korban di berbagai daerah rawan.

“Data menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen korban selamat saat gempa bumi di Jepang mampu menyelamatkan diri secara mandiri karena memiliki pengetahuan mitigasi yang baik. Fakta ini menunjukkan bahwa edukasi kebencanaan benar-benar dapat menyelamatkan nyawa,” jelas Nur Cahyo Abdullah.

Selama sesi berlangsung interaktif, para siswa dibekali teori mengenali tanda-tanda awal bencana seperti erupsi, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan gempa bumi, hingga tata cara evakuasi mandiri yang aman.

Pihak MAN 4 Sleman berharap pembekalan ini membentuk karakter murid baru agar menjadi generasi yang tangguh, sigap, dan responsif. Pengetahuan mitigasi tidak hanya ditujukan untuk perlindungan diri sendiri, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa kepedulian serta budaya sadar bencana di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Antisipasi Cuaca Ekstrem, Lurah Sumbersari Pimpin Penebangan Pohon Rawan Tumbang di Sombangan

Sleman – Wujud nyata kesiapsiagaan dan langkah mitigasi bencana kembali ditunjukkan oleh jajaran Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman. Dipimpin langsung oleh Lurah Sumbersari, Sukadi, tim gabungan mengeksekusi penebangan pohon berukuran besar yang dinilai rawan tumbang dan mengancam keselamatan pemukiman warga di Padukuhan Sombangan pada Minggu (19/07/2026).

Aksi cepat penanganan potensi bahaya lingkungan tersebut melibatkan belasan personel Destana yang berkolaborasi dengan anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) serta warga setempat. Dengan mengandalkan peralatan pemotong kayu dan menerapkan teknik pengamanan manual, tim bahu-membahu menumbangkan pohon berisiko tinggi tersebut secara terukur agar tidak menimpa bangunan rumah di sekitarnya.

Lurah Sumbersari, Sukadi, menegaskan bahwa penebangan pohon rawan ini merupakan langkah proaktif pemerintah kalurahan dalam memetakan serta mengeksekusi potensi ancaman sebelum memasuki musim penghujan dan angin kencang.

“Kami tidak menunggu sampai terjadi musibah. Pencegahan harus dilakukan sedini mungkin demi keamanan warga,” ujar Sukadi tegas saat memimpin jalannya aksi mitigasi di Padukuhan Sombangan pada Minggu (19/07/2026).

Langkah responsif pimpinan wilayah yang turun langsung ke lapangan bersama relawan ini mendapat sambutan positif dan apresiasi tinggi dari masyarakat. Warga menilai aksi gotong royong ini sebagai bukti nyata hadirnya pemerintah kalurahan dalam memberikan rasa aman dan perlindungan keselamatan bagi warganya dari ancaman bencana alam.

Selama ini, Destana Kalurahan Sumbersari memang dikenal aktif menggelar berbagai program penanggulangan bencana berbasis masyarakat, mulai dari sosialisasi edukatif, simulasi evakuasi mandiri, hingga aksi mitigasi fisik di lapangan. Kolaborasi solid antara pemerintah desa, relawan Tagana, dan warga menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan sistem siaga bencana di tingkat padukuhan.

Melalui penanganan pohon rawan di Padukuhan Sombangan ini, Pemerintah Kalurahan Sumbersari berharap padukuhan lain di wilayah Moyudan turut tergerak untuk menyisir serta memetakan potensi bahaya di lingkungan masing-masing guna mewujudkan Sleman yang aman dan tangguh bencana. (Giek/KIM Moyudan)