Antisipasi Aktivitas Merapi, Relawan Muhammadiyah Adakan Sarasehan

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kapanewon Cangkringan mengadakan Rapat Koordinasi dan Sarasehan  tentang SAR dan Kerelawanan Muhammadiyah dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas gunung Merapi, yang telah berstatus siaga terhitung 4 November 2020 lalu.

Acara sarasehan diikuti oleh 40 orang peserta yang berasal dari anggota cabang Muhammadiyah, Aisyiyah, Lembaga Penanggulangan Bencana, KOKAM serta medis PKU Cangkringan. Selain sarasehan, dilakukan juga penyusunan SOP untuk mengantisipasi apabila terjadi kenaikan aktivitas Merapi yang  mengharuskan adanya pengungsian dengan jumlah yang lebih besar

Supri, salah satu koordinator relawan Muhammadiyah Cangkringan berpendapat bahwa acara ini dilakukan untuk meneguhkan kembali semangat dan spirit berjuang dari para relawan.

“Khususnya di kalangan relawan di bawah panji Muhammadiyah Cangkringan,” ujar Supri pada acara Sarasehan, Minggu (3/1/2021) di Masjid Nurul Muttaqin Komplek PKU Muhammadiayah Cangkringan.

Sementara itu, Tuyahmin dari LPB Daerah Sleman ketika menjadi pemateri pada acara tersebut menyatakan bahwa para relawan telah aktif memberikan layanan kepada para pengungsi Merapi yang berada di Barak Pengungsian Glagaharjo.

“Di antaranya berbagai kegiatan layanan kesehatan, psikososial, santunan sembako, dan banyak lainnya di tengah kita sendiri juga berada di area yang berada di kawasan bencana Merapi,” ujar Tuyahmin. (Arief Hartanto)




Relawan Bencana Dilatih Navigasi Darat

Ngaglik – Usaha meningkatkan kompetensi dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat terdampak bencana Merapi dilakukan para relawan yang tergabung di Pos Gabungan Bencana Desa Donoharjo. Salah satunya dengan pelatihan Navigasi Darat menggunakan aplikasi Avenza Maps di Aula Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (25/12/2020).

Menurut Agus Hardiyo Pancoro, Ketua Satgas Gabungan Donoharjo, pelatihan yang digagas oleh Tim SAR DIY ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan tentang navigasi darat dalam kegiatan evakuasi. Dengan demikian akan mudah diketahui titik koordinat keberadaan relawan maupun kejadian yang harus segera ditindaklanjuti.

Dalam pelatihan yang dihadiri oleh sekitar 20 relawan yang tergabung dalam Posgab Merapi Donoharjo tersebut, Mas Endro dari SAR DIY yang akrab dipanggil dengan sebutan Mas Gembel, menjelaskan bahwa jika dulu navigasi menggunakan gambar dan peta, sekarang jaman android sehingga harus menyesuaikan teknologi.

Diterangkan Mas Gembel, Avenza Maps adalah salah satu aplikasi android yang dipergunakan dalam kaji cepat aplikasi bencana. Salah satu keunggulan Avenza Maps adalah bisa bisa dibuat peta dasar sesuai dengan kebutuhan.

“Dengan menggunakan aplikasi, maka akan dengan mudah diketahui keberadaan kita ada di titik koordinat berapa, jadi jika terjadi sesuatu, pos akan tahu keberadaan kita. Sistem koordinat memiliki akurasi data yang tinggi. Bagi relawan yang bertugas di pos utama harus menghafalkan jalur evakuasi, ploting barak pengungsian, merekam jalur, dan membuat laporan,” jelasnya.

Selain itu Mas Gembel juga menyampaikan materi cara menggunakan aplikasi Avenza Maps. Diawali dengan mengunduh aplikasi, selanjutnya pelatihan dasar diantaranya tentang pembuatan peta lokasi, menentukan koordinat, mengukur jarak, merekam jalur, serta cara mengirim laporan. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Ikatan Istri Pimpinan BUMN Serahkan Bantuan Merapi

Ngaglik – IIP BUMN (Ikatan Istri Pimpinan BUMN)menyerahkan bantuan kepada komunitas relawan Merapi di Pos Gabungan Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (19/12/2020). Disaksikan Pemerintah Kalurahan Donoharjo, bantuan yang diberikan berupa peralatan untuk mendukung aktivitas relawan dalam rangka membantu masyarakat jika terjadi bencana merapi berupa tenda, genset, gergaji mesin, kompor gas, tungku dapur umum serta tempat menanak nasi.

Heriyanti Suzana, Ketua IIP BUMN DIY mewakili IIP BUMN Pusat menjelaskan bahwa hari jadi ke-18 IIP BUMN  dan peringatan Hari Ibu ke-92 mengambil tema Berbagi, Berbakti, dan Berkarya untuk Negeri di Tengah Pandemi. Salah satu rangkaian acaranya adalah bakti sosial di berbagai wilayah, salah satunya di Yogyakarta.

Heriyanti Suzana juga menjelaskan bagaimana bangsa Indonesia  semua sedang berusaha agar terhindar dari Covid. Namun demikian, kunjungan kali ini bukan difokuskan pada penanganan Covid-19 tapi lebih difokuskan untuk mendukung aktivitas relawan dalam membantu pengungsi Merapi. Bantuan fasilitas dimaksudkan agar pekerjaan relawan dalam membantu masyarakat menjadi lebih mudah.

“Mudah-mudahan aktivitas relawan lebih ringan dengan bantuan IIP BUMN. Kami berharap bantuan yang kami sampaikan betul-betul bisa dimanfaatkan masyarakat luas. Diterima dan dikelola oleh komunitas relawan dengan diketahui perangkat kelurahan agar mempermudah monitoring dan tidak terjadi duplikasi jika pemberian bantuan masih berlanjut, selain itu melibatkan pemerintah Kalurahan agar terus  dipantau pemanfaatannya dan agar bisa  dimanfaatkan masyarakat yang lebih luas,” jelas wanita yang akrab dipanggil Ibu Suzan ini.

Heriyanti Suzana juga menjelaskan bahwa belum semua peralatan bisa diserahkan secara langsung, karena sebagian menunggu pengiriman selanjutnya. Kegiatan ini masih berupa serah terima sebagian dan secara simbolis. Ikut menghadiri dalam serahterima tersebut berbagai komunitas relawan seperti Lowo Rescue, Rajawali, Destana, Relado (relawan Donoharjo) dan FKPM (Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat). (Endarwati/KIM Donoharjo)




Posgab Sebagai Wahana Peningkatan Kapasitas

Di pos gabungan ini terdapat banyak komponen dan keterwakilan dengan berbagai kemampuan. Mari gunakan cara pandang bahwa kegiatan ini tidak semata sebagai tugas, wahana berkumpul dan mobilisasi, tapi manfaatkan sebagai sebagai sarana untuk saling sharing dan meningkatkan kapasitas diri. Demikian pesan yang disampaikan Yoga, Ketua FKKRS (Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman) dalam acara rapat evaluasi Posko Gabungan Merapi 2020 Donoharjo, Sabtu (28/11/2020) di Aula Balai Kalurahan Donoharjo.

Hadir dalam acara evaluasi tersebut sukarelawan yang tergabung dalam Komunitas Lowo, Rajawali, Destana, Relado, dan Konco Breaker Donoharjo.

Agus sebagai Ketua Rajawali dan Ketua Destana menyampaikan evaluasi piket yang sejak berdiri terbilang cukup lancar meski harus diatur segala sesuatunya dengan keluarga masing-masing.

“Intinya, harus ada sedikit perubahan. Untuk teman-teman yang ada pekerjaan siang, usahakan ada jadwal di malam hari. Karena berharap posko tidak sepi jika ada yang datang misal untuk mendapatkan informasi update kondisi Merapi. Juga sebagai bentuk tanggungjawab tentang informasi terkini kepada masyarakat luas,” jelasnya.

Sementara itu, Bento, Ketua Relawan Lowo mengatakan bahwa kita tidak tahu kapan Merapi erupsi, namun karena sudah membuat posgab, maka perlu mencoba membuat skenario penyelamatan.

Skenario yang pertama, dituturkan Bento ada tim yang akan berkoordinasi tentang pergeseran pengungsi. Kedua akan ada gabungan relawan lain yang akan menempati shelter kita.

“Satu dua relawan akan ada yang membantu atau singgah di posgab,” ujarnya.

Ketiga, pada status awas radius km 10 harus disterilkan minimal untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Dalam hal ini akan dibutuhkan sebuah tim operasi lapangan.

“Kita harapkan malam ini bisa dibentuk tim serbaguna untuk pengungsi maupun evakuasi akibat wedus gembel maupun erupsi. Satu tim 25 orang dulu, ada dalam satu komando. Di pos sudah ada ambulans, dua pick up yang membuka jalan menggunakan roda dua. Ada satu motor trail dari Mbah Lotung yang akan ada di posisi depan dan akan datang satu motor trail lagi. 25 orang tersebut siap dengan status awas,” imbuhnya.

Adapun Destana tambah Bento membantu koordinasi dengan pemerintah, masyarakat dan juga pengungsi.

“Ada empat SD yang harus dipersiapkan. Sedangkan untuk rescue dibutuhkan relawan dengan kemampuan khusus,” jelas Bento lagi.

Yoga menambahkan bahwa akan dipersiapkan skenario penanganan sampai ke skenario terburuk, seperti saat tengah malam, hujan deras, listrik mati di mana hal tersebut akan menjadi kajian tersendiri dari BMKG. Pun, akan dikaji pula dalam membuat perencanaan bagi Tim, apakah Erupsi Merapi bersifat explosif, abu vulkanik, atau disertai hujan.

Yoga juga menjelaskan bahwa untuk pos utama di Pakem sudah ada 40 komunitas yang menyatakan siap membantu sementara komunitas dari luar masih ditahan, belum diizinkan masuk. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Aktivitas Merapi Meningkat, Erupsi Diprediksi Tak Sebesar 2010

Menyikapi perkembangan aktivitas gunung Merapi saat ini, masyarakat diharap waspada namun tetap tenang serta memperhatikan arahan dari pihak yang berwenang. Selain itu, masyarakat juga diharapkan lebih teliti dalam mengakses berita terkait merapi, agar tidak terpengaruh oleh kabar hoax.

“Supaya tidak terjadi keresahan di masyarakat, terlebih di masa pandemi seperti saat ini”, kata Kepala Plt. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Joko Supriyatno, saat rapat koordinasi penanganan darurat erupsi merapi di Aula lantai 3 Setda Sleman, Selasa (24/11/2020) sore.

Hadir pula pada rapat tersebut Ir. Dewi Sri Sayudi, Perekayasa Ahli Madya BPPTTKG-PVMBG-Badan Geologi. Menurutnya saat ini data pemantauan baik seismik maupun deformasi masih tinggi dan aktivitas guguran meningkat, menunjukkan dekatnya waktu erupsi. Namun, lanjutnya, jika terjadi erupsi eksplosif kemungkinan tidak sebesar erupsi tahun 2010 lalu.

Hal ini menurut Dewi berdasarkan beberapa fakta bahwa tidak terjadinya kegempaan dalam, migrasi magma berlangsung pelan, jumlan dan pola kegempaan peningkatan kegempaan serta deformasi EDM bersifat efusif mengikuti pola tahun 2006, dan banyaknya gempa hembusan menandakan lepasnya gas.

Rapat ini turut diikuti sejumlah pimpinan OPD terkait, TNI Polri, Lurah dan kapanewon yang berada di daerah rawan terdampak erupsi, serta sejumlah relawan. (Humas Sleman)