Desa Sinduharjo Siap Hadapi Puting Beliung

Ngaglik – Berdasarkan informasi yang disampaikan dari BPBD
Kabupaten Sleman melalui Camat Ngaglik, di wilayah Desa Sinduharjo akan terjadi
hujan di sertai angin kencang. Dengan sigap kemudian Kepala Desa Sinduharjo
mengumpulkan tim siaga bencana desa untuk menyiapkan kebutuhan seandainya
terjadi bencana angin ribut atau puting beliung dan mendirikan posko tanggap
bencana.

Benar saja, tidak lama ada laporan 3 padukuhan yakni Ngemplak,
Pedak, dan Gadingan terkena dampak puting beliung. Dengan sigap tim siaga
bencana Sinduharjo mengevakuasi korban 2 orang patah tangan, 2 orang patah
kaki, 2 orang cedera kepala serta 120 orang pengungsi semua ditangani dengan
baik.

Demikian simulasi dalam gladi lapang desa tanggap bencana
desa Sinduharjo di Lapangan Gadingan Desa Sinduharjo, Kamis (11/7/2019). Kegiatan
gladi lapang ini difasilitasi oleh BPBD Kabupaten Sleman.

“Kita laksanakan gladi lapang desa tanggap bencana ini
agar pemerintah Desa Sinduharjo siap jika terjadi bencana di wilayah Desa Sinduharjo,”
kata Sudarja, Kepala Desa Sinduharjo. Menurut Sudarja, sebelumnya mereka telah
dibekali pengetahuan tentang kebencanaan oleh BPPD Kabupaten Sleman selama 6
hari dan ditutup dengan gladi lapang.

Dari 86 desa di Kabupaten Sleman, sudah 40 desa yang dilatih
tentang kebencanaan dan diharapkan semua desa nantinya juga mendapat kesempatan
yang sama. Di akhir acara, 30 anggota Desa Tanggap Bencana (DESTANA) Desa
Sinduharjo dikukuhkan oleh Kepala Pelaksana BPPD kabupaten Sleman.(KIM
Sinduharjo/SPN).




Status Merapi Waspada, Warga Glagaharjo Tetap Beraktivitas

Cangkringan – Desa Glagaharjo berada di lereng Merapi dengan
jarak kurang dari 6 km dari puncak gunung Merapi. Saat ini status Merapi berada
di tingkat Waspada atau level 2. Meski demikian hal ini tidak menghalangi
aktivitas warga.

“Masyarakat masih beraktivitas seperti biasa, dengan selalu
bersikap siap siaga terhadap segala perubahan aktivitas Merapi,” ujar Suroto, Kepala
Desa Glagaharjo saat menghadiri Syawalan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman bersama
komunitas relawan di Lapangan Stiper, Dusun Kalitengah Kidul, Desa Glagaharjo, Kecamatan
Cangkringan, Kabupaten Sleman, Sabtu (29/6/2019).

Suroto mengatakan sengaja memilih tempat acara Syawalan disini
karena menurutnya tempat ini adalah lapangan yang berada di paling utara atau
paling dekat dengan puncak Merapi. Kepala Desa Glagaharjo ini juga menyampaikan
permohonan kepada pemerintah untuk menyamakan Desa Glagaharjo dengan
daerah-daerah lain dalam hal pembangunan.

Syawalan ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman, Kepala
Pelaksana BPBD Sleman, muspika kecamatan Cangkringan, komunitas relawan seluruh
Kabupaten Sleman, dan warga masyarakat sekitar.

Wakil Bupati Sleman, Sri muslimatun menyampaikn rasa senang
bisa hadir di tempat ini, dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada
semua relawan atas partisipasinya. “Harapannya 
kepada semua relawan di kabupaten Sleman untuk terus bergerak dan terus
memberikan manfaat kepada masyarakat. Kita juga jangan bermusuhan dengan alam,
karena alam perlu untuk dijadikan teman,” pungkas Sri Muslimatun.

Acara ini juga sekaligus menandai 8 tahun berdirinya
Komunitas Siaga Merapi Desa Glagaharjo. 
Komunitas ini adalah salah satu kumpulan relawan resmi yang ada di
wilayah Sleman,  yang mempunyai peran
penting berkenaan dengan kesiapsiagaan menghadapi aktivitas Gunungapi Merapi. (KIM
Cangkringan/Sumarno)




Desa Argomulyo Prioritaskan Mitigasi Bencana dalam Penyusunan Anggaran Desa

Cangkringan – Desa Argomulyo adalah salah satu desa di Kabupaten Sleman yang letaknya dekat dengan Gunungapi Merapi. Kesiapan dalam menghadapi bencana erupsi pun perlu disiapkan di segala lini, dimulai dengan anggaran.

Ini disampaikan oleh Subarjo, Kepala Seksi Pemerintahan Desa
Argomulyo. “Anggaran mitigasi bencana ini juga digunakan untuk memfasilitasi
Forum Pengurangan Resiko Bencana dan komunitas relawan yang kinerjanya sangat
nyata dirasakan oleh masyarakat Desa Argomulyo dan sekitarnya,” ujar Subarjo
saat musyawarah desa di Balai Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten
Sleman, Rabu (26/6/2019).

Subarjo menjelaskan bencana yang dimaksud disini bukan hanya
yang berkaitan dengan kondisi Gunungapi Merapi, tetapi bencana dalam bentuk
apapun seperti angin ribut, pohon tumbang, dan lainnya. Menurutnya, mengingat lokasi
desa yang pernah terdampak erupsi Gunungapi Merapi bukan tanpa alasan mitigasi
bencana dimasukkan ke dalam rencana anggaran ini sebagai bentuk kesiapsiagaan
penanggulangan bencana.

Darjono, Kepala Desa Argomulyo menyampaikan bahwa asas
kebermanfaatan masyarakat menjadi acuan prioritas penyusunan rencana
pembangunan. “Jadi bukan hanya  sekadar menyelesaikan
program yang sudah diusulkan oleh masyarakat,” ujar Darjono.

Peserta yang hadir dalam musyawarah desa ini adalah perangkat desa, perwakilan pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat dari 22 padukuhan, dan lembaga desa seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa, PKK dan Karang Taruna. Kegiatan musyawarah Desa Argomulyo ini sebagai pencermatan ulang skala prioritas program rencana kerja tahun anggaran tahun 2020 dan bukan untuk mengusulkan program baru. Dalam musyawarah ini juga terbentuk tim verifikasi yang disepakati oleh forum terkait penentuan skala prioritas melalui peninjauan lokasi.(KIM Cangkringan/Marmansyah)




Bupati Sleman: Sudah Saatnya Cangkringan Kembangkan Mina Padi

Cangkringan – Camat Cangkringan, Suparmono menyampaikan capaiannya
setelah 3 minggu bertugas sebagai Camat Cangkringan. Capaian Kecamatan Cangkringan
ini dilaporkan Suparmono kepada Bupati Sleman saat acara Safari Tarawih
Keliling di Masjid Nurul Khasanah, Kedung Sembungan, Desa Wukirsari, Kecamatan
Cangkringan, Kamis (16/5/2019).

Ada beberapa catatan Suparmono selama 3 minggu bertugas sebagai Camat Cangkringan. Angka partisipasi pada pemilu serentak ada 92%, pengumuman kelulusan SMA sejumlah 149 siswa dinyatakan lulus, 19 di antaranya langsung diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Kemudian untuk SMK ada 490 siswa lulus dengan 4 orang langsung diterima masuk Perguruan Tinggi dan 70 siswa lulus langsung diterima kerja. “Dengan semangat kebersamaan pemerintah, masyarakat dan swasta, semoga semakin memajukan Cangkringan,” ujar Suparmono optimis.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menyampaikan kebanggaan atas
partisipasi pemilu di Kecamatan Cangkringan yang sangat besar. Sri Purnomo juga
berpesan agar warga Cangkringan mengembangkan usaha lokal. “Cangkringan dan Kabupaten
Sleman umumnya termasuk sentra padi. Pak Camat Cangkringan ini ahlinya
perikanan dan pertanian, jadi sudah saatnya Cangkringan mulai melakukan teknik mina
padi plus wisata,” pinta Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga mengingatkan warga Cangkringan selaku warga
di daerah wisata, terutama untuk pengelola wisata jip lava tur agar memperhatikan
tingkat keamanan dan tetap menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama.(KIM
Cangkringan/Marmansyah)




Desa Argomulyo Wakili Cangkringan dalam Lomba Desa

Cangkringan – Pemerintah Desa Argomulyo Kecamatan
Cangkringan menyambut tim evaluasi desa dan kelurahan se-Kabupaten Sleman di
Kantor Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Senin (29/4/2019). Evaluasi ini
meliputi penilaian administasi pemerintah desa, lembaga desa (Pembinaan
Kesejahteraan Keluarga, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa, dan Karang
Taruna), sambang posko siaga bencana, dan pengecekan usaha padukuhan sampling (ternak
kambing etawa dan kelompok perikanan).

Mustadi selaku Camat Cangkringan menyampaikan bahawa Desa
Argomulyo pada tahun 2018 adalah desa yang ditunjuk untuk mewakili Kecamatan Cangkringan
dalam penilaian desa se-Kabupaten Sleman dengan perolehan tempat ketiga dan
juga ikut dilombakan sebagai Desa Tangguh Bencana dengan meraih penilaian
terbaik di tingkat provinsi. “Ketepatan waktu dan kedisiplinan adalah budaya
dalam kinerja Desa Argomulyo yang menjadikannya sangat layak untuk mewakili Kecamatan
Cangkringan dalam evaluasi desa dan kelurahan,” terang Mustadi.

Argomulyo dikenal sebagai desa di lereng Gunung Merapi
sehingga menjadikannya sebagai desa penyangga bencana. Kesiapsiagaan bencana
menghadapi ancaman erupsi Gunung Merapi dibuktikan dengan membentuk Destana (Desa
Tangguh Bencana) dan para kadernya sudah dibekali dengan pelatihan.

Dalam prakteknya Destana Desa Argomulyo berkembang menjadi tidak
hanya berfokus pada bencana erupsi Gunung Merapi di wilayah Argomulyo saja
melainkan juga bencana alam yang lain di wilayah lain seperti angin kencang,
banjir, dan bencana lainnya. Saat ini jumlah penduduk di Desa Argomulyo
mencapai 8037 jiwa. Di Desa Argomulyo juga terdapat potensi di bidang seni,
budaya, kuliner, perikanan, pertanian dan peternakan yang kesemuanya
ditampilkan kepada tim evaluasi.

Dalam evaluasi ini, Budi Sutarta sebagai Sekretaris Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sleman menuturkan bahwa prestasi
yang ditorehkan pastilah merupakan hasil dari beberapa tahapan kerja keras
semua lapisan masyarakat dan pemerintah desa sehingga menjadi terbaik di tingkat
kecamatan maupun masuk 5 besar di Kabupaten Sleman. “Semoga Argomulyo saat maju
ke tingkat provinsi bisa membanggakan Kabupaten Sleman. Dan semoga kegiatan
evaluasi ini juga bisa menjadi pemacu kreasi dan inovasi teknologi dalam
kegiatan desa yang bisa ditularkan ke desa- desa yang lain,” harap Budi
Sutarta. (KIM Cangkringan/Marman)