Warga Turi Terbiasa Hidup Bersih dan Sehat

Turi – Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan salut kepada warga Turi yang semangatnya tinggi sekali dalam mengatasi bencana. Ini disampaikan Sri Purnomo saat Tim Penilai Lomba Lingkungan Bersih Sehat (LBS) tingkat Nasional melakukan penilaiannya di Dusun Donoasih, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Jumat (15/3/2019).

“Warga masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kesehatan bukan
hanya dalam rangka lomba tetapi ini sudah diterapkan tiap harinya, sehingga
usia hidup di Sleman dapat mencapai rata-rata 76 tahun dan indeks pembangunan
manusia mencapai 82 persen dan nomor 3 tingkat nasional,” imbuh Sri Purnomo.

Kepala Desa Donokerto Waluyo Jati menyampaikan kabar bahwa warga
Donokerto telah terbiasa hidup bersih agar kesehatan dapat terjamin. Dusun Donoasih
yang menjadi lokasi lomba ini baru saja terdampak bencana angin kencang dan
hujan deras,sehingga menyebabkan banyak kerusakan. Akan tetapi warga tidak
pesimis dan dengan gotong royong kondisi lokasi untuk lomba ini dapat disajikan.

Lomba terdiri dari penilaian admimistrasi, meninjau lokasi, wawancara,
serta pengamatan tentang pelaksanaan pemantauan jentik. Tim Penilai Lomba
Lingkungan Bersih Sehat tingkat Nasional ini dipimpin oleh Endang Budi Martini.
Selain dari tim, penilaian ini juga dihadiri Gusti Bendara Adipati Raden Ayu
Paku Alam, Bupati Sleman Sri Purnomo, Ketua TP PKK Kabupaten Sleman Kustini Sri
Purnomo, dinas terkait tingkat Propinsi dan Kabupaten, Camat Turi dan Muspika, Kades
dan perangkatnya, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat. (KIM Kertomandiri/Suharno)




Tanggulangi Dampak Bencana Angin Puting Beliung, Kecamatan Turi Dirikan Posko

Turi – Pemerintah Kecamatan Turi bersama relawan dirikan posko bencana dan dapur umum di kompleks Kantor Kecamatan Turi. Camat Turi Abdul Haris Sunarya mengatakan pendirian posko ini adalah untuk mendata semua kerusakan yang ada di seluruh kecamatan Turi, mengingat banyak kerusakan yang terjadi akibat puting beliung yang terjadi Jumat (22/2/2019) sore.

Adapun posko terdiri dari PMI, SAR, Tagana, dan juga relawan dari berbagai komunitas. Menurut koordinator posko Agus Riyanto, semua unsur elemen dalam posko mempunyai tugas sendiri sendiri.

”Untuk SAR bertugas mendata semua kerusakan yang ada seperti kerusakan rumah dan bangunan  genteng, asbes, seng yang rusak terbawa angin maupun pohon yang tumbang baik yang menimpa rumah maupun yang mengganggu akses jalan dan kemudian dilaporkan secara rinci ke BPBD Sleman. Sedangkan dari tim Tagana bertugas mendirikan dapur umum dan di bantu oleh relawan lainnya untuk menyuplai logistik dari ratusan relawan yang bekerja,” terang Agus Riyanto, Sabtu (23/2/2019).

Bupati Sleman Sri Purnomo datang langsung ke Kecamatan Turi didampingi Camat Turi Abdul Haris Sunarya, Kades Bangunkerto Anas Maruf, dan Kades Donokerto Waluyo Jati untuk meninjau posko bencana dan lokasi lokasi yang terdampak bencana angin kencang puting beliung  yang cukup parah. Di lokasi ada banyak pohon tumbang yang merusak atap rumah, melintang jalan dan merobohkan pohon salak yang menjadi komoditas utama masyarakat Turi. Sedangkan untuk data korban manusia cuma satu orang terluka di bagian tangan tertimpa asbes yang jatuh dan sudah bisa tertangani.

Hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sebagian wilayah Kecamatan Turi hari Jumat (22/2/2019) menyebabkan sejumlah kerusakan di Desa Donokerto, Wonokerto dan Bangunkerto. Dampak paling parah terlihat di Desa Donokerto. Selain hujan deras dan angin kencang, beberapa warga juga mengaku kejadian bencana ini juga disertai hujan es. Secara keseluruhan, tidak ada korban jiwa untuk kejadian bencana angin di Kecamatan Turi ini. (KIM Turi/Harman).




Hujan Deras Disertai Angin Kencang di Turi Sebabkan Kerusakan

Turi – Hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sebagian wilayah Kecamatan Turi, Jumat (22/2/2019) menyebabkan sejumlah kerusakan di desa Donokerto, Wonokerto dan Bangunkerto. Dampak paling parah terlihat di desa Donokerto.

Di Padukuhan Bandaran rumah seorang warga bernama Suhardi tertimpa pohon beringin, di dusun Randusongo pohon bambu tumbang menutup jalan dan dinding sebuah gedung olahraga roboh seluruhnya. Pepohonan di kebun warga juga banyak yang roboh yang kemudian oleh warga secara gotong royong diatasi.

Padukuhan terdampak selanjutnya adalah Klegung dimana pohonnya juga banyak yang tumbang, kamar mandi sebuah masjid tertimpa pohon kepel, dan di Gading sebuah pohon sengon rubuh melintang jalan.

Sedangkan di desa Bangunkerto, ketua Destana (Desa Tangguh Bencana) setempat Sumardi mengatakan bahwa di desa Bangunkerto juga terdapat beberapa yang terdampak, “di Padukuhan Ngentak terdapat dua rumahi warga yang tertimpa pohon tumbang,di dusun Ganggong terdapat pohon tumbang, di Ngablak ada atap rumah warga yang rusak, di Tekik dua rumah tertimpa pohon tumbang dan di Karangwuni terdapat dua rumah warga yang rusak tertimpa pohon tumbang,” terang Sumardi.

Pada sore hari itu juga setelah hujan reda tim relawan Desa Bangunkerto bersama Destana langsung bergerak untuk memberikan pertolongan sementara dengan memotong pohon yang tumbang dan membenahi rumah terdampak. Di Desa Donokerto dampak kerusakan juga langsung ditangani warga dibantu anggota Polsek Turi.

Salah seorang warga terdampak, Munir menuturkan bahwa kejadian ini berlangsung sangat cepat, dimulai dengan hujan gerimis terus datang angin kencang yang disertai hujan deras dan menumbangkan pohon kelapa yang ada di sebelah rumahnya.

Selain hujan deras dan angin kencang, beberapa warga juga mengaku kejadian bencana ini juga disertai hujan es. Secara keseluruhan, tidak ada korban jiwa untuk kejadian bencana angin di Kecamatan Turi ini. (KIM Turi/Suharno/Harman)




SD Negeri Rejondani Jadi Sekolah Siaga Bencana ke-58 di Sleman

Wakil Bupati Sleman kembali kukuhkan Tim Siaga Bencana Sekolah di Kabupaten Sleman, pada Rabu (13/2). Kali ini SD Negeri Rejodani, Jalan Palagan Tentara Pelajar km 11, Sariharjo, Ngaglik, Sleman resmi berpredikat menjadi Sekolah Siaga Bencana.

Sebelum pengukuhan tersebut, seluruh warga sekolah SD Negeri Rejodani melakukan simulasi bencana hujan desar dan angin puting beliung. Kemudian Wakil Bupati Sleman pun mengukuhkan sebanyak 30 anggota Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAD) yang terdiri dari pelajar (siswa), guru, dan wali murid.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto, mengatakan pembentukan SPAD tersebut merupakan salah satu wujud kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi bencana, mengingat Kabupaten Sleman memiliki tujuh potensi bencana, salah satunya hujan dengan intensitas deras dan angin puting berliung yang biasa terjadi di daerah Rejodani.

“BPBD Sleman berusaha mengimplementasikan dengan mensinergikan berbagai elemen yaitu pemerintah, masyarakat, dan pengusaha agar bisa terwujud masyarakat Sleman yang tanggap, tangkas, dan tangguh dalam menghadapi bencana,” katanya.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, mengatakan melalui pengukuhan dan gladi lapang tersebut diharapkan mampu memberikan edukasi tanda-tanda bencana sejak dini kepada anak–anak sehingga dapat meminimalisir dampak bencana dan mengetahui langkah mitigasinya.

“Pemberian bekal kesiapsiagaan melalui gladi lapang bencana hujan deras dan angin puting beliung ini, diharapkan dapat meminimalisir dampak jika terjadi bencana,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada sekolah SD Negeri Rejodani untuk rutin melakukan simulasi penanganan bencana. Pun, berharap kepada sekolah lain yang ada di Kabupaten Sleman dapat segera membentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana di Sekolah.

Dengan dikukuhkannya Satuan Pendidikan Aman Bencana di SD Negeri Rejodani sebagai sekolah siaga bencana, maka di Kabupaten Sleman hingga saat ini terdapat 58 sekolah dengan predikat sebagai Sekolah Siaga Bencana.

Adapun di tahun 2019, Kabupaten Sleman menargetkan akan ada tambahan sebanyak 8 Sekolah Siaga Bencana dan tambahan sebanyak 8 Desa Tanggung Bencana. Jadi, pada tahun 2019 nantinya di Sleman akan ada 63 Sekolah Siaga Bencana dan 53 Desa Tangguh Bencana. (deri)




BPBD Sleman Segera Bentuk Destana Banyuraden Guna Kurangi Risiko Kebencanaan

Gamping
– Minggu (20/1/2019) pukul WIB, Banyuraden Televisi (BRTV) streaming
mengadakan siaran langsung acara talk show bertajuk pembentukan Desa Tangguh
Bencana (Destana) di pelataran Taman Budaya dan Edukasi Embung Serut, Desa
Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Talk
Show BRTV yang digawangi oleh Samasta, salah satu Pengurus Kelompok Informasi
Masyarakat (KIM) Kecamatan Gamping ini menghadirkan narasumber dari Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman yakni Kepala Bidang
Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Haenry Dharma Widjaja, dan Kepala Seksi
Kesiapsiagaan, Rini Isdarwati yang didampingi Kepala Desa Banyuraden,
Sudarisman.

Acara
yang terkenal dengan nama ‘Josh Talk’ ini dipandu oleh Josh Handani sebagai
Host yang dibantu segenap personil Rescue Banyuraden. Dengan durasi selama satu
jam para narasumber membahas beberapa hal dalam rangka mempersiapkan
pembentukan Desa Banyuraden sebagai Desa Tangguh Bencana di bulan Juli 2019
mendatang.

Menurut
Haenry, kondisi geografis Kecamatan Gamping, khususnya di wilayah Desa
Banyuraden yang rawan bencana angin puting beliung membutuhkan masyarakat
setempat yang tangguh dan siap menghadapi bencana karena bencana dapat terjadi
kapan saja. Masyarakat yang tangguh bencana adalah masyarakat yang mampu
mengantisipasi dan meminimalisir kekuatan yang merusak, mampu mengelola keadaan
ketika terjadi bencana, serta jika terkena dampak bencana mampu membangun
kehidupannya menjadi normal kembali atau cepat memulihkan diri secara mandiri.

Selanjutnya,
Rini Isdarwati menyampaikan bahwa pembentukan Destana mutlak diperlukan di
wilayah Kabupaten Sleman karena masyarakat merupakan penerima dampak langsung
dari bencana dan sekaligus sebagai pelaku pertama langsung yang akan merespon
bencana di wilayahnya. Destana yang sudah terbentuk sampai saat ini mencapai 45
desa dari 86 desa di Kabupaten Sleman. Di samping itu BPBD Sleman dalam upaya
melakukan kesiapsiagaan sudah membentuk sekolah siaga bencana sebanyak 55
sekolah.

“Masyarakat
perlu dibekali dalam pengetahuan mengenai pencegahan kebencanaan agar siap dan
mampu menghadapi keadaan saat bencana dan pasca bencana,” tutur Rini.

Sebagai
orang nomor satu di wilayah Banyuraden, Sudarisman menyebutkan bahwa Pemerintah
Desa Banyuraden menyambut baik akan dibentuknya Destana oleh BPBD Sleman di
tahun 2019 ini. “Kita sangat optimis karena belum dibentuk Destana saja banyak
relawan yang cinta lingkungan, sudah ada embrionya,” sebut Sudarisman.

Di
akhir perbincangan, Rini Isdarwati mengutarakan bahwa salah satu tujuan
pembentukan Destana adalah meningkatkan kerjasama antara para pemangku
kepentingan dalam Pengurangan Risiko Bencana, pihak pemerintah daerah, sektor
swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi masyarakat, dan kelompok-kelompok
lainnya yang peduli.

“Pengukuhan
desa tangguh bencana ini sangat strategis bagi kita khususnya masyarakat di
daerah rawan bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan
masyarakat,” tambahnya. (Adnan Nurtjahjo)