Sleman Mulai Bangun Tetenger Erupsi Merapi

Sleman – Untuk menandai telah terjadi erupsi Merapi Kabupaten Sleman membangun tetenget Erupsi Merapi 2010. Peletakan batu pertama pembangunan tetenger Erupsi Merapi 2010 di dusun Bakalan Argomulyo Cangkringan telah dilakukan oleh Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi, Rabu (4/11). 

Selain  itu juga dilakukan penyerahan tumpeng oleh Penjabat Bupati Sleman kepada Kepala Desa Argomulyo, agar dalam pelaksanaan pembangunan tetenger erupsi Merapi tersebut berjalan lancar. Gatot  pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa tetenger Erupsi Merapi Tahun 2010, sebagai penanda atas musibah erupsi yang telah melanda wilayah Sleman lima tahun lalu.

“Keberadaan tetenger Erupsi Merapi 2010 ini menjadi sebuah situs yang mengingatkan kita semua akan dahsyatnya erupsi merapi yang pernah terjadi di wilayah kita ini, semoga dengan berdirinya tetenger erupsi ini dapat menjadi pengukuh semangat serta pemersatu langkah bagi semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mensiapsiagakan diri untuk mengantisipasi dampak bencana serupa yang mungkin akan terjadi dikemudian hari,” kata Gatot.

Disampaikan pula bahwa pada tahun 2010 yang lalu,  semua merasakan bagaimana dahsyatnya erupsi Gunung Merapi, yang kemudian mengakibatkan sekitar 3000 rumah tersapu awan panas, lebih dari 3000 ekor ternak mati, 398 jiwa meninggal dunia, dan lebih dari 800 orang kehilangan usahanya dan juga menyebabkan lumpuhnya perekonomian,  selain itu erupsi Merapi telah menyebabkan kerusakan dan kerugian yang tidak sedikit. Kerugian akibat erupsi Merapi ditaksir mencapai Rp 5,407 trilyun lebih.

Angka kerugian dan kerusakan tersebut meliputi sektor permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi dan lintas sektor. Erupsi Merapi juga telah meluluhlantakkan lebih dari 25 dusun di 5 desa kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman. Sebanyak KK kehilangan tempat tinggalnya, dan yang lebih parah lagi, tidak semua lahan dapat ditinggali lagi karena masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) III.

Hingga perbaikan di segala sektor di lakukan Pemerintah Kabupaten Sleman bersama masyarakat dengan dukungan berbagai pihak baik dalam segi struktural maupun non struktural sehingga Kabupaten Sleman dapat segera pulih dari dampak erupsi Merapi yang lalu.

Untuk itu Gatot menghimbau kepada seluruh masyarakat Sleman untuk terus mau  berpartisipasi dalam program kegiatan yang pemerintah canangkan dalam upaya kesiapsiagaan bencana sebagai upaya  bersama dalam mengurangi resiko bencana.

Sedangkan Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Drs Subadriyo menyampaikan bahwa belum ada bencana yang sedahsyat letusan Gunung Merapi, karena pengungsinya mencapai 500 an ribu orang yang terjadi tahun 2010 silam.

Sementara akibat letusan tersebut material yang diluncurkan akibat letusan luar biasa banyaknya. Namun  demikian muntahan lahar tersebut jangan dipandang hanya sebagai galian C, tetapi sebagai keseimbangan  lingkungan. Kalau muntahan tersebut diambil tanpa batas, maka dikawatirkan akan timbul bencana lagi, karena tidak adanya keseimbangan alam.

Dikatakan subandrito  bahwa mengelola Merapi kedepan harus totalitas agar tidak terjadi bencana yang dahsyat lagi. Sementara itu untuk membangun tetenger erupsi Merapi 2010 di dusun Bakalan Argomulyo tersebut menelan biaya hampir Rp 150 juta, yang merupakan bantuan COV 8.




Panas Ekstrem Picu Kebakaran

Sleman – Kasus kebakaran di Sleman cenderung meningkat, terutama pada cuaca panas yang cenderung ekstrem. Kondisi panas ekstrem yang mencapai suhu sekitar 35 derajat saat ini, ternyata memicu peristiwa bencana kebakaran diwilayah Kabupaten Sleman. Demikian antara lain diungkapkan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan menanggapi banyaknya kasus kebakaran di Sleman akhir-akhir ini, Minggu (1/11).

Menurut Makwa, sampai akhir Oktober ini kasus kebakaran di Sleman sudah mencapai 112 kejadian. Mulai kebakaran rumah penduduk, tempat usaha, serta kasus kebakaran lahan yang diakibatkan pembakaran sampah atau puntung rokok. Untuk itu melihat potensi kebakaran yang semakin tinggi pada cuaca panas saat ini, Makwan minta masyarakat berhati-hati.  Karena sedikit keteledoran saja dapat memicu terjadinya bencana kebakaran.

“Dari 112  kasus kebakaran yang terjadi di Sleman, diantaranya  untuk kasus kebakaran lahan sudah mencapai 23 kali, kemudian tempat usaha ruko sekitar 30 kali dan untuk rumah pemukiman mencapai 40 lebih kasus kebakaran,” kata Makwan.

Sementara untuk penyebab kebakaran kasus tertinggi diakibatkan oleh hubungan arus pendek listrik,  menyusul pembakaran sampah dan pembuangan puntung rokok. Serta kompor gas dan tungku kayu,  maupun kebakaran akibat penyalaan lilin.

Sedang untuk mengantisipasi kebakaran lahan dan kebun, Makwan minta masyarakat yang membakar sampah agar ditunggui dan dipastikan sampai apinya mati. Demikian juga bagi masyarakat yang membuang puntung rokok agar dimatikan terlebih dahulu, sehingga jika jatuh ditempat yang mudah terbakar tidak memicu terjadinya kebakaran. Dikatakan Makwan untuk wilayah Sleman yang rawan terjadi bencana kebakaran lahan, selain Kecamatan Depok juga Kecamatan  Turi.




Meski Terjadi Musibah Pelaksanaan Haji 2015 Lancar

Mangayubagyo HajiSleman – Pelaksanaan Haji tahun ini dapat dikatakan berjalan lancar sesuai dengan harapan, walaupun terdapat beberapa musibah yang menimpa jamaah haji tahun 2015 ini. Musibah robohnya crane di Masjidil Haram dan  peristiwa jemaah haji berdesakan di Jalan 204, Mina juga menelan banyak korban jemaah haji Indonesia.

“Peristiwa tersebut memang di luar kehendak kita sebagai manusia adalah sesuatu yang kita maknai sebagai takdir Allah,” kata Penjabat  Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi ketika mangayubagyo Haji di Rumah Dinas Bupati, Kamis (22/10).

Lebih lanjut disampaikan Gatot bahwa sukses dalam ibadah haji dengan meraih haji yang mabrur, baik mabrur secara personal maupun secara sosial. Hal ini ditandai dengan peningkatan amal saleh dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kemabruran haji akan sangat ditentukan oleh kita sendiri, apakah setiap kita mau dan mampu mengamalkan dan menebar kebenaran, kebaikan, kebajikan, yang menjadi esensi ibadah haji terhadap diri sendiri dan kepada sesama dalam hidup bermasyarakat,” kata Gatot.

Menurut Gatot, pasca menunaikan ibadah haji  dan pulang ke  kampung halaman dengan menyandang gelar haji atau hajah, bukan berarti jemaah haji telah mencapai ke mabruran  dan karenanya merasa ibadahnya  sudah selesai.  Karena kemabruran tidak otomatis diperoleh setelah selesai menunaikan ibadah haji. Kemabruran adalah proses yang tidak berhenti di mana ibadah haji menjadi awal dari pengamalan segala nilai dan makna yang terkandung di dalamnya sekembalinya dari Tanah Suci.

Yang jelas pribadi haji yang mabrur ditandai oleh peningkatan ketakwaan juga ditandai dengan  sikap cinta dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama, dan saling menghargai terhadap perbedaan.

Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu dikedepankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Saat itu dan juga di Padang Arafah, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah wada yang legendaris, yang menyerukan persaudaraan sesama manusia.




Masyarakat Dihimbau Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman terus menghimbau kepada masyarakat agar waspada terhadap kondisi cuaca. Apalagi sekarang ini sudah masuk dalam puncak musim hujan.Demikian disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Heru Saptono dikantornya, Rabu (11/3). Dikatakan Heru, kejadian angin kencang terakhir melanda Kecamatan Pakem. Tepatnya di Dusun Kumendung Desa Candibinangun. Dapur dan ruang keluarga milik Gunawan (43) rusak akibat tertimpa pohon. Ketika itu di lokasi kejadian memang turun hujan deras disertai angin kencang.

Kejadian serupa juga menimpa rumah milik Pariyem (45) warga Dusun Babadan Desa Sendangagung Kecamatan Minggir. Atap rumahnya rusak karena tertimpa pohon. Rumah Pujiastuti di Dusun Celungan Desa Sumberagung Kecamatan Minggir juga tertimpa pohon.

“Mengingat saat ini terjadi ekskalasi kenaikan frekuensi hujan disertai angin kencang. Untuk itu kami dari BPBD menghimbau kepada semua masyarakat guna melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Mulai dari skala rumah tangga, yakni dengan memotong dahan dan ranting pohon yang menjulur di atap rumah,” ujarnya.

Langkah lain menurut Heru, bisa dengan mengecek batang pohon. Jika didapati sudah ada bagian yang rapuh bisa segera di tebang. Namun jika pohonnya berfungsi sebagai perindang jalan, dihimbau segera menghubungi Badan Lingkungan Hidup (BLH) di Bidang Pertamanan dan Kebersihan. Untuk selanjutnya dilakukan rabas-rabas.

Sedangkan antisipasi banjir lahar hujan dan banjir, BPBD terus berkoordinasi dengan relawan pemantau. Terutama di Sungai Boyong dan Opak untuk bersama-sama penjaga Early Warning System (EWS) banjir lahar hujan. Melalui EWS tersebut dapat dipantau aliran di sungai. Jika ada aliran dapat segera melaporkan ke BPBD.




Longsor Timpa Rumah Suwito‬

IMG_20150211_115720Sleman – Hujan deras yang terjadi pada Selasa (10/2) siang hingga petang, menyebabkan terjadinya longsor sisi barat Bukit Pendekan, di Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Sleman. Area longsor yang mencapai panjang 10 meter dan tinggi 20 meter itu kemudian menimpa rumah Suwito Harjono. Akibatnya, bagian belakang rumah Suwito Harjono rusak.

“Temboknya hancur terdorong material longsor,” kata Suwito Harjono, Rabu (11/2).

Menurut dia, kejadian ini merupakan yang pertama terjadi dalam 30 tahun terakhir. Suwito menyebutkan sudah tinggal di tempat ini lebih dari 30 tahun. Terjadinya longsor, jelasnya, karena terjadi kemarau panjang dan kemudian diikuti hujan deras dalam waktu panjang. Secara terpisah Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Makwan menjelaskan, kawasan ini merupakan kawasan rawan bencana tanah longsor.

“Karena warga membangun rumah tinggal dengan cara memotong kaki bukit dan tidak membangun pengamanan misalnya dengan terasering,” kata Makwan.

Terhadap bencana ini, Makwan mengatakan BPBD Sleman dibantu relawan, TNI dan Polri serta masyarakat sudah mulai melakukan pembersihan material longsoran.

“Kami juga menyediakan sejumlah peralatan pendukung dan konsumsi untuk kerja bakti,” katanya.

Dengan melihat kondisi ini BPBD menyarankan warga mengungsi jika terjadi hujan deras. Selain di Seyegan, longsor juga terjadi di Gayamharjo, Prambanan. Longsor di Prambanan ini merusakkan hutan rakyat. “Longsorannya berupa batuan lepas yang ukursnnya cukup besar,” jelasnya.