Sunmor Sembada Pamerkan Potensi Ekonomi Hingga Seni

Sleman – Sunday morning (Sunmor) Sembada Minggu Pahingan adalah sebuah kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sleman bersama pemerintah Kecamatan Sleman.

Kegiatan ini melibatkan UMKM se-Kecamatan Sleman dan UMKM perwakilan Kecamatan Sleman di wilayah Kabupaten Sleman. Tak hanya itu, pelayanan publik meliputi ekonomi, pendidikan dan budaya membuka pelayanan seperti Perpusda Sleman, pengusaha mikro dan anak muda yang belajar menjadi pengusaha, serta penampilan seni budaya kuda lumping dan kubro siswo dari Desa Caturharjo Sleman.

Minggu (5/8), Sunmor Sembada Minggu Pahingan kembali digelar di Lapangan Denggung, Sleman. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun, Camat Sleman Wildan Sholikhin, serta kunjungan dari pemerintah Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung yang dipimpin langsung oleh Camat Pamaeungpeuk Asep Suryadi. Kunjungan ini dalam rangka studi banding tentang Sunmor Sembada Minggu Pahingan dari KIM Sleman.

Lebih menarik lagi pada saat yang sama Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menyampaikan orasi dalam rangka Pekan ASI Sedunia. Muslimatun menyampaikan pentingnya ASI untuk kesehatan, kecerdasan, serta optimalisai tumbuh kembang anak. Pun, untuk kesehatan ibu pasca melahirkan serta mempercepat proses penurunan berat ibu menjadi ideal kembali.

Sementara itu, Camat Pameungpeuk Bandung Asep Suryadi menyampaikan kesan dan ketertarikannya pada KIM Sleman. “KIM Sleman mengemas kegiatan ini sangat menarik sehingga kami berkunjung ke Sleman,” ujar Asep.

Asep juga mengatakan bahwa di Kecamatatan Pameungpeuk juga mengadakan kegiatan seperti di Sunmor namun hanya bisa melaksanakan setahun sekali. (R Agus Nur Widayadi)




Kenalkan Produk Sleman ke Kancah Internasional

KBRI Helsinki Finlandia melakukan kunjungan balasan ke Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, Selasa (8/5). Bertempat di Galeri Upakarti Sleman, kunjungan ini disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Tri Endah Yitnani merupakan upaya untuk memperkenalkan produk-produk Sleman hingga kancah internasional.

“Beberapa saat lalu sudah dilakukan promosi kopi ke Finlandia kemudian tindak lanjutnya dari promosi itu adalah fam trip dari para pelaku usaha kopi maupun pariwisata dan juga wartawan dari Finlandia,” jelas Endah.

Kunjungan balasan ini diungkap Endah terselenggara berkat bantuan dari Kedutaan Besar Finlandia. “Pun kita juga akan dibantu oleh kedutaan untuk mengurus HAKI dari produk-produk Sleman ini agar tembus di negara Finlandia sehingga tidak diklaim oleh negara lain, dari produk kopi, craft, maupun batik” tambah Endah.

Melihat besarnya manfaat yang didapat, Endah berharap kerjasama antara Indonesia dan Finlandia tidak berhenti sampai di sini saja. “Harapannya ada semacam MoU atau kontrak agar bisa produk kita diekspor ke sana, tandas Endah.

Sementara itu, Fungsi Ekonomi KBRI Helsinki, Erly Wijayani mengemukakan program ini difokuskan untuk memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat Sleman kepada tour operator dari Finlandia dan Estonia, perwakilan majalah wanita dan majalah travel terbesar di Nordic, dan pengusaha kopi. “Program ini terintegrasi tak hanya turisme tetapi keseluruhan, kami ingin mempromosikan Sleman kepada masyarakat Finlandia dan Estonia dari segala sisi,” cerita Erly.

Karena partisipan berasal dari tiga latar belakang yang berbeda, Erly membeberkan bahwa setiap partisipan memiliki tujuan spesifik melalui familiarization trip ini. “Untuk tour operator mereka akan lebih mempromosikan dengan memperbanyak paket tur, kalau dari pengusaha kopi akan lebih mengenalkan kopi speciality dari Sleman, Kopi Merapi, pada pengusaha kopi dan roaster di Finlandia, kami ingin mengenalkan bagaimana perbedaan cita rasanya bagaimana perbaikan quality mutu dari Kopi Merapi,” urainya.

Tak hanya itu, Erly menambahkan untuk majalah travel dan wanita, kunjungan ini dijadikan sarana mereka mempromosikan kawasan wisata Sleman melalui platform yang dimiliki mereka. “Jadi menurut kami, ini adalah program yang sangat efektif untuk ketiga jenis latar belakang, tak hanya tercapai di sektor pariwisata tapi juga ekonomi dan juga budayanya,” tambah Erly.




Sleman Jaring Potensi Seniman di Masyarakat

Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menggelar 4 festival, yakni Festival Teater Tradisional, Festival Dolanan Anak, Festival Dalang Cilik dan Festival Dalang Remaja. Festival tersebut akan digelar berurutan, Festival Teater Tradisional tanggal 23 April 2018 pukul WIB di Lapangan Denggung, Festival Dolanan Anak tanggal 24 April 2018 pukul WIB di Lapangan Denggung, Festival Dalang Cilik tanggal 25–26 April 2018 pukul WIB di Pendapa Panggungsari, Ngaglik, Sleman dan Festival Teater Tradisional tanggal 27–28 April 2018 pukul WIB di Pendapa Panggungsari, Ngaglik, Sleman.

Festival Teater Tradisional diikuti oleh 9 kontingen, yaitu Sanggar Larasita, PS. Sri Sabdono, Sanggar Wulucumbu, Sanggar Ngrancang Kencono, Sronthol Taruno Budoyo, Sanggar Seni Antup, Surya Aji Budaya, Lesung Tunas Budaya dan PS Bayu. Sementara untuk peserta Festival Dolanan Anak terdiri dari 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman. Peserta Festival Dalang Cilik berjumlah 13 dalang. Sedangkan peserta Festival Dalang Remaja berjumlah 11 dalang

Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman HY Aji Wulantara, SH, Minggu (22/4) disela-sela acara Festival Kesenian Sleman yang dilaksanakan di Lapangan Denggung.

Aji menambahkan bahwa maksud dan tujuan diselenggarakannya festival–festival tersebut adalah untuk menyukseskan Gelar Budaya Jogja yang merupakan program besar Dinas Kebudayaan DIY. Pun, dimaksudkan untuk menggali dan menjaring potensi seniman yang ada di tingkat masyarakat serta sebagai wujud kepedulian dan perhatian pemerintah Kabupaten Sleman terhadap kelestarian kehidupan seni.

Selain itu, dengan festival–festival ini dapat menggugah kembali semangat kebersamaan dalam rangka beraktivitas dan berkreasi dalam bingkai kompetisi di kalangan seniman dan seniwati. Festival–festival ini bertujuan untuk melestarikan seni tradisi lokal serta menumbuhkan apresiasi seni masyarakat luas terhadap seni.

Diharapkan ajang ini dapat menjadi media beraktivitas dan peningkatan kualitas seniman guna mempertahankan eksistensi jati diri seniman sebagai salah satu akar budaya seni. Tentunya semua ini dimaksudkan untuk mendukung dan mengimplementasikan keistimewaan DIY.




Gali Tata Nilai Sleman dari Rangkuman Sejarah

Dinas Kebudayaan Sleman menyelenggarakan sarasehan bersama Profesor Suwarno untuk menggali tata nilai Kabupaten Sleman, Kamis (5/4) bertempat di Ruang Rapat Rukun Kompleks Kantor Dinas Kebudayaan Sleman.

Acara ini diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman bersama para tokoh, pelaku, dan pemerhati budaya di Kabupaten Sleman di antaranya ketua desa budaya dan pengurus acara adat seperti merti dusun dan acara adat lainnya.

Adapun tujuan sarasehan ini adalah untuk menggali tata nilai Kabupaten Sleman dengan mengumpulkan cerita atau sejarah dari berbagai sumber yang nantinya akan dirangkum dan ditulis menjadi sebuah buku sejarah. Dengan adanya dokumen yang dibukukan ini cerita ataupun sejarah yang ada di Kabupaten Sleman ini tidak hilang.

Adapun tata nilai budaya Kabupaten Sleman meliputi berbagai aspek, yakni:

  1. Ketuhanan yang meliputi aspek narimo ing pandum dan ngunduh wohing pakarti sumarah
  2. Kepemimpinan yang meliputi aspek prasaja, sembada, welas asih, waskita, waspada, wicaksono, mumpuni, adil, ngayomi, lembah manah/andap asor, tinarbuka, dan nanjing ajur ajer
  3. Kemasyarakatan meliputi aspek tanpa pamrih, tembayatan, lilo legowo, guyup rukun, gotong royong, setia, dan tepa salira
  4. Kealaman, meliputi aspek merti dan keseimbangan

Semua tata nilai budaya ini akan dicari dan dipadukan dengan cerita atau sejarah serta upacara adat yang sudah ada selama ini. Nantinya, semua cerita dan acara adat, seperti merti desa bisa dikelompokan dalam berbagai aspek tersebut. Contohnya, aspek Ketuhanan yang mempunyai nilai narimo ing pandum, uraiannya adalah menerima takdir dan pemberian Tuhan dengan ikhlas serta senantiasa bersyukur atas rahmad dari Tuhan.

Selain itu, bersumber dari ajaran Ki Ageng Wonolelo pada Upacara Saparan, rejeki seseorang telah ditentukan oleh Allah namun manusia harus berusaha. Ini dilambangkan dengan berebut apem. (Harman)




Sarasehan Pelajari Asal-Usul Kecamatan Turi

Turi – Paguyuban Macapat Sekar Turi menggelar macapat dan sarasehan, Senin (5/3) malam pukul WIB di Aula Kecamatan Turi. Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Camat Turi Suwadi dan 21 peserta lainnya.

Dalam sambutannya, Suwadi merasa bangga karena Paguyuban Macapat Sekar Turi masih rutin berlatih macapat dan mengadakan sarasehan.

“Sayangnya pesertanya sudah usia lanjut maka kami minta yang muda untuk diajak,” ungkap Suwandi.

Acara ini dibuka oleh Ketua Paguyuban, Marjuki, dengan mengumandangkan Pambuka Lelangen Macapat Sekar Turi dengan Bawa Sekar Ageng Langen Kusuma pelog Pathet 6 secara bersama. Kemudian, dilanjutkan mempelajari Dhandhang Gula Palaran Laran Slendro patet 9. Mula-mula mendengarkan lalu satu per satu peserta diajak untuk bersama-sama nembang.

Acara selanjutnya adalah sarasehan yang membahas tentang asal usul nama Kecamatan Turi yang disampaikan oleh H. Panggih. Menurut isi Buku Serat Mulabuka oleh E. Suharjendra, nama Turi diambil dari banyaknya tanaman pohon turi di wilayah Kecamatan Turi.

“Dulu di lereng Gunung Merapi banyak tumbuh pohon turi maka wilayah itu diberi nama Tlatah (wilayah-red) Kecamatan Turi,” ujar Panggih.

Ada 4 desa di Wilayah Kecamatan Turi, di mana nama-nama desa memakai kata kerta yang mempunyai makna serba tertata tidak rusuh. Ini mengandung harapan agar desa-desa di Wilayah Kecamatan Turi menjadi desa yang tata, titi, tentrem kerta raharjo. Adapun desa-desa tersebut adalah:

Wanakerta dari kata wana yang berarti tata raharja

Bangunkerta dari kata mangun

Girikerta dari kata redi atau gunung

dari kata tansah membantu kepada keutamaan agar menjadi tata titi tentrem raharja.

Sarasehan dilanjutkan oleh narasumber kedua, yaitu M. W. Dwija Sukardi yang mengulas tentang Pengagem Abdi Dalem Kaprajan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Adapun yang diulas antara lain Pengagem Abdi Dalem Kakung (Pakaian Abdi Dalem Putra-red) dan Pengagem Abdi Dalem Putri (Pakaian Abdi Dalem Putri-red) termasuk mengenai sanggul gelung tekuk, rasukan/klambi tangkeban rupi cemeng, sinjang/jarit gagrak/corak Ngayogyakarta, dan wedhung yang dipakai abdi dalem. (Suharno)