Group Tari Badui Hubbul Wathon MI Ma’arif Margokaton Tampil di Habfest UMKM Kemenag DIY

Sleman – Grup Kesenian Tari Badui Hubbul Wathon Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Margokaton Seyegan Sleman tampil di depan peserta jalan sehat HAB & festival (HABFEST) UMKM Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Para siswa menari dan menyanyi, diiringi musik khas Badui dengan lantunan syair-syair religi (sholawat), lagu tradisional hingga patriotisme.  Para siswa penari mengenakan peci Turki berwarna merah (panigoro) atau kuluk temanten berwarna merah bergambar bintang dengan kucir warna kuning;  berkemeja lengan panjang, rompi, celana Panji, Kain (rampekan) stagen dan ikat pinggang, kaos kaki, bersepatu hitam putih.  Para penari Badui juga membawa aksesoris berupa godo/gombel. 

“Applause yang meriah kita berikan untuk anak-anak MI Maarif yang tampil memukau, penuh semangat, anak-anak hebat,” ujar Fahrudin Analis Kepegawaian Ahli Muda pada Seksi Kelembagaan & Sistem Informasi Madrasah Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag DIY di sela acara Jum’at (20/12/2024). 

“Semangat berkesenian MI Maarif berKesenian Tari Badui layak diapresiasi karena menjadi wujud nyata melestarikan budaya hingga bisa menginspirasi siswa-siswi SD & MI lainnya,” tegas Fahrudin.

Ditemui usai pentas, Zainudin pelatih Grup Kesenian Tari Badui MI Ma’arif mengatakan bahwa grup tersebut beranggotakan 50 (lima puluh) siswa-siswi dengan latihan rutin setiap Rabu.  Dengan sabar, Ikhlas, telaten dan tekun, Zainudin melatih anak-anak memainkan alat musik, tata gerak hingga syair-syair religi, lagu tradisional dan patriotisme.  Anak-anak pun rajin tekun dan cekatan serta mencintai tari Badui. Agar anak didiknya bisa manggung, Zaenudin pun gigih mencarikan events dengan modal “nekat”.  

“Saya katakan nekat, misalnya saya datang ke Taman Budaya dengan membawa proposal serta rekaman pentas anak-anak.  Seminggu kemudian kami ditelpon untuk pentas,” ujarnya.  Anak didiknya pun sudah sering tampil di berbagai event dan tempat seperti di Sleman City Hall (SCH) yang kala itu dihadiri bupati, Taman Budaya, hingga Kaliurang.

“Grup Kesenian ini juga sudah mendapatkan NIK dari Kundha Kabudayaan (Dinas Kebudayaan) Kabupaten Sleman,” tambahnya. 

Kegiatan Grup Kesenian Tari Badui Hubbul Wathon MI Ma’arif Margokaton mendapat dukungan penuh dari kepala sekolah, guru, wali murid hingga pemerintah setempat. 

“Sudah langganan tampil di berbagai acara pedukuhan, kalurahan, dan kapanewon.  Pernah pula tampil menyambut Bapak Menteri Agama saat beliau rawuh di Yogya,” terang Zainuddin. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Workshop Kerajinan Janur, Sarana Siswa SD Negeri Tegalrejo 1 Lestarikan Kearifan Lokal

Sleman – Untuk memperkenalkan dan melestarikan kearifan lokal yang memiliki nilai budaya dan seni tradisional khas Indonesia, siswa-siswi kelas 6 SD Negeri Tegalrejo 1 Yogyakarta mengikuti kegiatan workshop kerajinan janur dalam rangka mengimplementasikan Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman sekolah, Selasa (16/12/2024) dengan melibatkan guru serta orangtua siswa sebagai pembimbing.

Workshop yang dipantau langsung oleh Kepala Sekolah SD Negeri Tegalrejo 1 Yogyakarta, Ni Putu Sri Sutari, bersama Ketua Komite Sekolah, Adnan Iman Nurtjahjo ini bermanfaat untuk mengasah keterampilan praktis siswa. Pasalnya, kegiatan tersebut mengajarkan siswa mengolah janur menjadi berbagai kerajinan tangan yang memiliki nilai seni budaya. Kegiatan ini tentunya mendukung penguatan karakter profil pelajar Pancasila, yang diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap kearifan lokal Yogyakarta.

“Dengan belajar mengolah janur menjadi berbagai bentuk kerajinan, siswa dapat mengasah kreativitas, ketelitian, dan keterampilan tangan yang bermanfaat,” tutur Putu.

Ia pun menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka. Menurutnya, melalui workshop seperti ini siswa tidak hanya belajar teori tetapi juga praktik langsung sehingga nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kreativitas, dan kebhinekaan dapat diimplementasikan.

Lebih lanjut, diungkapkan oleh Yogo Triarso selaku guru pendamping sekaligus Wali Kelas 6A mengatakan siswa diajarkan membuat beragam kerajinan dari janur, seperti anyaman ketupat, gelang tangan, mainan pedang-pedangan, hiasan bunga, dan dekorasi lainnya yang diguganakan dalam acara tradisional Jawa.

Setelah menerima penjelasan teori, peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok untuk memulai berlatih membuat kerajinan janur. Di bawah bimbingan guru dan wali murid, siswa terlihat antusias mencoba mengolah janur menjadi anyaman sederhana. Beberapa siswa berhasil membuat gelang tangan dan mainan pedang-pedangan dengan telaten dan bersemangat.

“Awalnya susah karena janurnya licin dan mudah sobek, tapi setelah diajari cara menganyamnya, anak-anak menjadi senang,” ucap Yogo.

Diakhir kegiatan, Ketua Komite SD Negeri Tegalrejo 1, Adnan Iman Nurtjahjo berharap melalui kegiatan ini para siswa tidak hanya memperoleh pengalaman baru dalam keterampilan kerajinan janur, tetapi juga memahami pentingnya melestarikan budaya lokal sebagai bagian dari implementasi Program P5. Kegiatan ini pun mendapat apresiasi positif dari para orang tua siswa sehingga program serupa dapat terus dilaksanakan di masa mendatang.

“Semoga pengalaman hari ini menjadi kenangan indah sekaligus pembelajaran berharga bagi kalian semua,” pesannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Dalam Bertugas, Abdi Dalem Harus Paham Paugeran yang Ada di Keraton Ngayogyakarta

Sleman – Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat wilayah Kabupaten Sleman mendapatkan pembinaan dari Parentah Ageng Keraton Ngayogyakarta , Sabtu (14/12/2024) di Pendapa Balai Budaya Pandowoharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman. Bertindak sebagai narasumber KRT Wijayapamungkas dan KRT Condropraworoyudo.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta wilayah Kabupaten Sleman KMT Dwijo Jayengmardowo menuturkan bahwa Tujuan Pembinaan adalah untuk memperkuat organisasi dan memper erat hubungan antara pengurus dengan anggota didalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan serta meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk mengoptimalkan peran serta pelestarian dan pengembangan kebudayaan yang diselenggarakan oleh Pemda.

“Selama ini Abdi Dalem sudah menjalin kerjasama dengan Pemda dan mendapat fasilitas serta dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan besar yang diselenggarakan oleh Pemda. Tetapi peran dan aktivitas anggota masih perlu ditingkatkan,” tuturnya.

Pembinaan yang merupakan program dari Karaton melalui Parentah Ageng menurunkan dua Narasumber.

KRT Wijayapamungkas dalam pembinaannya mengatakan bahwa para Abdi Dalem harus paham paugeran yang ada di Karaton Ngayogyakarta.

“Dalam kehidupan sehari-hari dan dalam melaksanakan tugas tetap berpegang pada dasar Sawiji, Greget, Sengguh dan Ora Mingkuh yang biasa diterjemahkan secara mudah Konsentrasi, Semangat dan Percaya diri tetapi tidak sombong serta bertanggung jawab atas semua hasil yang dikerjakan. Tidak melimpahkan kesalahan kepada orang lain,” ujar KRT Wijayapamungkas.

“Dibagian lain diharapkan agar Abdi Dalem dapat menjadi tauladan dalam setiap berperilaku, baik ditengah masyarakat maupun keluarga masing-masing sebagai implementasi cermin kehidupan berdasarkan nilai-nilai budaya luhur yang penuh filosofi,” imbuhnya.

Hal lain yang disampaikan menyangkut peraturan dan persyaratan menjadi Andi Dalem serta Wisudan baik yang baru maupun Andi Dalem yang naik pangkat dan kalenggahan. Persyaratan dimaksud diperuntukkan masyarakat umum maupun yang masih berstatus aktif menjadi PNS.

Ditambahkan bahwa saat ini terdapat persyaratan bagi calon Andi Dalem Baru dan Andi Dalem yang mengajukan naik pangkat dan kedudukan, gitu mengikuti Pawiyatan dan memperoleh sertifikat. Setelah itu mendapatkan rekomendasi dari Pengurus Andi Dalem wilayah Kabupaten/Kota masing. Pengurus dapat memberi pertimbangan atas tingkah aktivitasnya baik aktifitas Caos Bekti di Karaton maupun  aktivitas dalam organisasi bagi yang masih aktif sebagai PNS dan belum Caos. (Tri Joko S – KIM Kalasan)




Peringati HUT Ke-6, DPD PPY Sleman Gelar Pertuntujakan Lima Dalang Wayang Kulit

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-6 Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY), DPD Kabupaten Sleman mengelar pertunjunkan wayang kulit dengan lakon “Wahyu Cakraningrat”, di Pendopo “Kromoredjan” Kalurahan Condongcatur, Rabu (11/12/2024). Gelaran yang menampilkan lima dalang berbakar ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Dinas Kebudayaan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK), Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman, dan perwakilan Kapanewon Depok.

Sebagai tuan rumah, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menyampaikan apresiasinya terhadap kiprah PPY yang selama enam tahun terakhir tetap konsisten melestarikan seni panatacara dan seni budaya Jawa lainnya. Semagnat itu diharapkan agar dapat terus dijaga dan menginspirasi generasi muda untuk mencintai warisan budaya leluhur.

“Semangat ini harus terus dijaga, sehingga dapat menginspirasi generasi muda untuk mencintai warisan budaya leluhur,” katanya.

Selain pagelaran wayang kulit, acara ini pun diisi dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan dan kontribusi PPY dalam melestarikan seni budaya Jawa.

Sementara, Ketua DPD PPY Sleman, Agus Wiranto dalam sambutannya mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak yang turut memeriahkan peringatan ini. Perayaan ulang tahun tersebut merupakan komitmen DPD Paguyuban Panatacara Yogyakarta dalam rangka melestarikan budaya dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya.

“Semoga seni panatacara dan wayang kulit tetap hidup di tengah kehidupan masyarakat modern,” ujar Agus.  (Wasana / Kim Depok)




Rayakan HUT ke-6, Pasbuja Usung Tema Nandur Wiji Sastra Jawa untuk Lestarikan Budaya

Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman merayakan hari ulang tahun ke-6 pada Sabtu, (7/12/2024) dengan mengusung tema ‘Nandur Wiji Sastra Jawa’ yang berlangsung di Gedung Yayasan Wredha Mulya Yogyakarta, dihadiri oleh puluhan anggota dan pecinta budaya Jawa dari berbagai daerah se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun tujuan kegiatan ini untuk menanamkan nilai-nilai luhur sastra Jawa pada generasi muda, sekaligus memperkuat komitmen terhadap pelestarian budaya lokal.

Ketua Pasbuja Kawi Merapi Sleman, Sutopo Sugihartono, dalam sambutan pembukanya menekankan pentingnya menjaga warisan sastra Jawa di tengah gempuran modernisasi. Menututnya sastra jawa merupakan warisan leluhur yang kaya akan filosofi kehidupan. Melalui tema ‘Nandur Wiji Sastra Jawa’ pihaknya ingin menanamkan benih-benih kecintaan terhadap sastra ini di hati generasi muda.

Selain meluncurkan buku Antologi Cerkak Omah, karya para anggota Pasbuja Kawi Merapi, dalam kesempatan ini, Sutopo juga membuka secara resmi Sekolah Sastra Sleman guna melestarikan budaya Jawa dan menginspirasi generasi muda melalui seni dan literasi.

Peringatan ambal warsa ke 6 ditandai pemotongan nasi tumpeng yang dilakukan Sutopo Sugihartono selaku Ketua Pasbuja Kawi Merapi disaksikan Kepala Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, Dwi Pratiwi yang didampingi Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Kundha Kabudayan Sleman, Anas Mubakkir.

Untuk memeriahkan acara, ditampilkan pertunjukan seni tari tradisional Rampak Gedrug yang dibawakan oleh seniman muda yang tergabung dalam Krincing Manis Dance Studio pimpinan Luvita Pradana Puspita Sari yang kesehariannya sebagai dosen di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta.

“Lewat seni pertunjukan ini, kami berharap generasi muda dapat lebih mudah memahami pesan moral yang terkandung dalam sastra Jawa,” kata Luvita.

Acara ini juga menjadi ajang peluncuran beberapa buku karya anggota Pasbuja antara lain, Buku Ayo Nembang, Tuwuhan Obat, dan Dasanama Kewan karya Suhindriyo, Buku Sagegem Ati ing Bumi Tawang karya Enny MS, serta Buku Belajar Matematika dengan Mudah karya Marciana Sarwi yang mendapat apresiasi dari para tamu undangan yang hadir.

“Kami ingin karya ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dalam melestarikan sastra Jawa,” Suhindriyo salah satu penulis buku tersebut.

Dengan semangat yang ditanamkan melalui tema ‘Nandur Wiji Sastra Jawa’ maka Paguyuban Pasbuja Kawi Merapi berharap dapat terus menjadi garda terdepan dalam melestarikan budaya Jawa, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mencintai akar budayanya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)