Dinkopukm Sleman Perkuat Kelembagaan Forkom UMKM Kapanewon Depok

Sleman – Dalam rangka memperkuat kelembagaan Forkom UMKM di wilayah Kapanewon Depok, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman menggelar workshop kelembagaan pada Kamis, (4/7/2025). Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus Forkom UMKM dari berbagai kalurahan di lingkungan Kapanewon Depok.

Workshop tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan pelaku UMKM, khususnya dalam aspek pengelolaan organisasi, tata kelola keuangan, serta penguatan jejaring dan kolaborasi.

Sri Astuti selaku narasumber utama dalam kesempatan itu mengatakan bahwa kelembagaan yang kuat menjadi fondasi penting bagi UMKM agar mampu bertahan dan tumbuh di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah.

“Pengelolaan organisasi yang baik akan berdampak langsung pada kualitas organisasi itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mendalam tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), struktur organisasi, Standar Operasional Prosedur (SOP), dan job description bagi setiap pengurus,” ujar Sri.

Menurutnya, komunikasi yang efektif, kolaborasi lintas sektor, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), hingga monitoring dan evaluasi berkala adalah komponen penting yang tak boleh diabaikan dalam penguatan kelembagaan.

Sri Astuti juga menyoroti pentingnya manajemen keuangan dalam organisasi. “Keuangan adalah tulang punggung dalam operasional bisnis. Tanpa pengelolaan yang efektif, organisasi akan sulit bertahan dalam persaingan yang makin ketat,” ungkapnya.

Workshop ini juga menjadi wadah berbagi praktik baik antar pengurus Forkom UMKM dan memperluas wawasan tentang bagaimana sebuah organisasi UMKM bisa tumbuh secara berkelanjutan melalui tata kelola yang profesional.

“Harapan kami, melalui workshop ini para pengurus Forkom UMKM bisa meningkatkan pengetahuan dan kapasitasnya dalam membangun organisasi yang lebih kuat dan berdaya saing. Karena sukses itu tidak pernah sendirian. Ia adalah hasil kerja bersama. Tidak ada orang yang sukses tanpa pernah ditolong, didukung, atau diilhami oleh orang lain,” pungkas Sri Astuti.

Kegiatan ini menandai komitmen Dinas Koperasi dan UKM Sleman dalam mendampingi dan memfasilitasi pelaku UMKM, agar terus tumbuh sebagai pilar penting perekonomian daerah. (Lidya / KIM Depok)




Kembangkan Potensi Lokal, UMKM Agung Ngremboko Dapat Pujian dalam Lomba Nata Sembada 2025

Sleman – Penilaian penghargaan Lomba Nata Sembada Kabupaten Sleman Tahun 2025 memasuki hari ke-13, dengan mengambil penilaian di UMKM Agung Ngremboko Kalurahan Margoagung Kapanewon Seyegan. Proses penilaian tersebut berlangsung di Sekolah Bambu “Rose Bambu” wilayah Nganggrung, Margoagung, Kamis (3/7/2025).

Kegiatan itu dihadiri oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman, Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Lurah Margoagung beserta pamong, Ketua Forkom UMKM Kapanewon dan Pengurus Forkom UMKM Agung Ngremboko Margoagung.

Adapun aspek penilaiannya mencakup kinerja dan inovasi UMKM, khususnya Forum Komunikasi (Forkom) UMKM di tingkat kalurahan. Penilaian ini bertujuan untuk memberikan apresiasi dan pembinaan kepada UMKM agar dapat terus berkembang.

Lurah Margoagung, Jarwo Suharto menyampaikan evaluasi ini menjadi pemacu para pelaku UMKM untuk meningkatkan produk dan manajemennya.

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan para pelaku UMKM yang ada semakin meningkatkan kualitasnya,” kata Jarwo.

Sementara, salah satu dewan juri, Sutopo menyampaikan bahwa kegiatan lomba Nata Sembada bukan sekedar memberi penilaian kepada UMKM di suatu wilayah. Tetapi juga memberi umpan balik untuk perkembangan pelaku UMKM itu sendiri.

“Evaluasi ini ingin melihat dari dekat Forkom UMKM Agung Ngremboko, apa yang telah dicapai dan apa yang bisa ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Sutopo pun menyampaikan bahwa ada empat komponen yang akan dilihat dan dievaluasi, yaitu kelembagaan, inovasi, perijinan dan kolaborasi. Dewan juri didampingi dinas terkait dipersilahkan untuk melihat stand produk UMKM yang sudah disiapkan.

Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi dari Ketua Forkom UMKM Agung Ngremboko, Sulistiyono yang menyampaikan tentang profil UMKMnya, mulai dari visi misi, struktur organisasi dan program kerja,

“Banyak kegiatan yang sudah diikuti oleh pelaku UMKM sebagai ajang untuk peningkatan kapasitas mulai dari pentas budaya, pelatihan digital marketing dan pelatihan si Bakul,” jelas Sulistiyono.

Selanjutnya, salah satu praktisi dari Satu Asa, Imam tertarik dengan produk “wedang Tahu” yang juga disajikan kepada tim juri.

“Produk Wedang Tahu ini secara rasa sudah sangat menjual. Tapi belum dibranding dengan serius. Belum ada label produk di cup-nya dan promosinya masih kurang,” ungkapnya.

Secara keseluruhan tim juri puas dengan penilaian UMKM Agung Ngremboko yang mampu menampilkan potensi lokal yaitu tahu krapyak dengan varian olahannya.

Selain memberi penilaian, tim juri juga memberikan masukan dan saran kepada UMKM untuk pengembangan lebih lanjut. Hal itu disampaikan oleh Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Rini Nurhidayati dalam melepas tim juri diakhir kegiatan.

“Penghargaan Nata Sembada tidak hanya sekadar memberikan penghargaan, tetapi juga menjadi ajang pembinaan dan evaluasi bagi UMKM untuk berkembang dan lebih maju dalam meningkatkan kualitas produknya,” kata Rini. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sofa Bambu Desa Margoagung Berusaha Rebut Kembali Pasar Ekspor

Sleman – Desa Margoagung, Kapanewon Seyegan sejak dahulu dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Di mana, produk utama desa ini adalah “lincak” bambu atau amben yang khas melekat dengan budaya Jawa.

Salah satu pelaku bisnis bambu di desa ini, Marzuni menuturkan bahwa kini jumlah pengrajin bambu di desanya sekitar 30 orang. Sementara, ia sendiri lebih dari 15 tahun bertahan menekuni profesi tersebut.

“Pengrajin bambu kini tinggal sekitar 30 orang saja, padahal dahulu lebih dari 100 orang pengrajin. Masalah utama adalah regenerasi pengrajin. Anak-anak sekarang, kurang minatnya menjadi pengrajin bambu,” ungkapnya saat ditemui di workshopnya, Kamis (3/7/2025).

Marzuni menuturkan bahwa usai merantau, ia melanjutkan profesi kakek dan ayahnya. Ia melihat bambu masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi bila tidak sekedar dibuat lincak.

Ia kemudian mengembangkan furni-craft bambu dengan berbagai corak dan desain yang lebih disukai pasar. “Tapi saya tidak masuk ke produksi lincak tradisional, saya tidak mau mengganggu pasar pengrajin yang sudah ada,” katanya.

Untuk itu, produk utama Marzuni ialah sofa bambu. Sebelum covid-19, produk andalannya ini sangat disukai pasar luar negeri. Sofa bambu buatannya rutin dipesan dari luar negeri. Namun kehadiran wabah tersebut memukul usahanya, ekspor menurun tajam.

Ia masih berharap pasar luar negeri akan kembali bangkit. Hal itu yang mendorong Marzuni bertahan dengan lima orang karyawannya. Selain itu, Marzuni pun bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan inovasi dan desain kreatif untuk produk bambunya.

 Ia pun berharap agar pasokan bambu di daerah tersebut tetap terjaga. Untuk itu, pelestarian tanaman bambu di desa-desa harus tetap digalakkan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




UMKM Berbah Siapkan Showroom dan Program Kerja Meski Belum Dilantik

Sleman – Meski kepengurusan baru Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kapanewon Berbah belum resmi dilantik, berbagai kegiatan telah mulai dijalankan sebagai bentuk keseriusan dan progres kerja awal. Hal itu disampaikan Ketua UMKM Berbah terpilih, Sri Andayani, dalam rapat koordinasi pengurus yang berlangsung di Pendopo Kepanjen Kapanewon Berbah, Selasa (1/7/2025) sore.

Sri Andayani atau yang akrab disapa Jeng Yani mengungkapkan, pihaknya bersama pengurus sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah instansi, termasuk melakukan audiensi dengan Panewu Berbah.

“Dari hasil sowan ke Panewu, UMKM Berbah diberikan fasilitas ruang showroom dan ruang rapat bersama,” ungkap Jeng Yani.

Showroom UMKM yang berlokasi di samping rumah dinas Panewu dinilai strategis karena berada di jalur masuk menuju kantor pelayanan Kapanewon, dekat Pendopo Kepanjen, dan bersebelahan dengan kantor-kantor penting lainnya. Lokasi ini diharapkan dapat meningkatkan eksposur dan penjualan produk UMKM.

“Kami berharap showroom ini dapat dikenal luas dan dikunjungi masyarakat. Maka dari itu, pelaku UMKM kami dorong menampilkan produk berkualitas dan berizin agar memberikan rasa aman bagi konsumen,” tambahnya.

Pengelolaan showroom akan dilakukan secara bertahap, termasuk penjadwalan petugas harian serta penanggung jawab pengisian produk.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah bidang mulai menyusun rencana kerja. Koordinator Humas dan Kerja Sama, Kusnadi, melaporkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan lembaga perbankan untuk membuka peluang pelatihan usaha bagi pelaku UMKM Berbah.

“Pihak bank bersedia memfasilitasi pelatihan dan menyediakan zona khusus untuk UMKM membuka lapak di hari-hari tertentu yang ramai pengunjung,” jelas Kusnadi.

Ia berharap, tindak lanjut dari kerja sama tersebut dapat segera dilakukan oleh pengurus. “Ini bisa menjadi awal yang baik bagi UMKM Berbah untuk berkembang,” ujarnya.

Dalam rapat koordinasi tersebut, muncul pula usulan pembuatan seragam (korsa) sebagai identitas resmi organisasi UMKM Berbah di bawah naungan Forum Komunikasi (FORKOM) UMKM Kabupaten Sleman. (Kusnadi/KIM Berbah)




Membatik dengan Kaki, Ketekunan dalam Keterbatasan

Sleman – Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Trimah untuk berkarya. Perempuan asal Magelang yang sejak lahir tidak memiliki lengan ini justru mampu menghasilkan karya batik indah dengan menggunakan kakinya. Karya-karyanya ia beri nama Batik Samparan, yang diambil dari kata dalam bahasa Jawa “samparan” yang berarti kaki.

Ketika ditemui di kediamannya di Dusun Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Selasa (1/7/2025), Trimah tengah asyik mencanting di ruang tamu yang juga menjadi ruang kerjanya. Dengan gerakan kaki yang cekatan, ia menyalakan kompor, menciduk malam panas, lalu menggoreskannya ke atas kain dengan ketelitian yang tak kalah dengan tangan para pembatik profesional.

“Saya mulai belajar membatik karena dorongan dari ibu. Ia ingin saya punya keterampilan untuk masa depan,” ujar Trimah.

Berbekal ketekunan dan naluri seni, Trimah memutuskan untuk tidak mengikuti pola atau pakem batik yang telah ada. Ia memilih mencipta bentuk-bentuk dari hati, berupa garis, titik, dan lengkung yang lahir dari intuisi, bukan dari aturan baku.

“Saya takut merusak pakem. Jadi saya ciptakan motif sendiri. Apa yang saya rasakan, itu yang saya tuangkan,” jelasnya.

Kini, karya Batik Samparan buatan Trimah tak hanya dipesan dalam bentuk kain, tetapi juga sebagai hiasan dinding dalam bingkai. Karyanya menjadi simbol semangat, ketekunan, dan harapan.

Selain berkarya, Trimah juga menjalani peran sebagai ibu. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang kini berusia lima tahun. Meski menjalani kehidupan dengan kondisi fisik yang berbeda, Trimah tetap mampu menjalani tugas sebagai orang tua dengan penuh cinta dan kemandirian.

“Anak saya aktif sekali. Tapi saya tetap ingin dia bangga punya ibu seperti saya,” ungkapnya tersenyum.

Kisah Trimah bukan hanya tentang batik atau keterampilan, melainkan tentang semangat untuk terus melangkah, bahkan saat orang lain meragukannya. Dengan kedua kaki yang menjadi pengganti tangan, Trimah menggambar bukan sekadar motif, tetapi juga harapan dan keberanian. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)