15 Pasang Calon Pengantin Ikuti Bimwin Kesehatan Reproduksi KUA Depok

Sleman – Sebanyak 15 pasang calon pengantin mengikuti bimbingan perkawinan (Bimwin) dengan materi kesehatan reproduksi di Aula Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Depok, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan ini bertujuan membekali calon pengantin dengan pemahaman kesehatan sebagai persiapan membangun keluarga yang sehat dan berkualitas.

Anggota Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) KUA Depok, Sussi Sulistyaningsih, mengatakan bahwa kesehatan reproduksi merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh calon pengantin sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

“Kesehatan reproduksi menjadi bagian penting dalam perencanaan keluarga, menjaga kesehatan pasangan, serta mendukung terwujudnya keluarga yang sehat dan sejahtera,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai kesehatan reproduksi, kesiapan kesehatan sebelum menikah, perencanaan kehamilan, serta upaya menjaga kesehatan ibu dan anak. Materi diberikan sebagai bekal bagi pasangan untuk menghadapi kehidupan keluarga secara lebih matang dan bertanggung jawab.

Ia menjelaskan, pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi dapat membantu pasangan mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan keluarga serta mencegah berbagai risiko yang dapat memengaruhi kualitas kehidupan rumah tangga.

Bimbingan perkawinan merupakan program pembinaan yang rutin diselenggarakan KUA sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan calon pengantin dari aspek keagamaan, sosial, psikologis, dan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, calon pengantin diharapkan memiliki pengetahuan dan kesiapan yang lebih baik dalam membangun keluarga yang harmonis, sehat, dan berketahanan. (Athiful/KIM Depok)




MUI Depok Perkuat Sinergi Publikasi dengan Kedaulatan Rakyat

Sleman – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, melakukan audiensi dengan Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat di Aula KR, Rabu (24/6/2026), guna memperkuat sinergi publikasi kegiatan dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Ketua MUI Depok, Sunhaji mengatakan bahwa Kedaulatan Rakyat merupakan media massa berbasis di Yogyakarta yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu surat kabar harian tertua di Indonesia yang masih beroperasi. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam menjembatani informasi antara lembaga dan masyarakat.

“Kami berharap terjalin sinergi yang baik antara MUI Depok dan Kedaulatan Rakyat. Melalui kerja sama publikasi ini, berbagai program dan kegiatan MUI dapat diketahui masyarakat secara lebih luas sehingga nilai-nilai positif yang kami bangun dapat memberikan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, MUI Depok selama ini aktif melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan yang perlu didukung dengan publikasi yang memadai agar informasi dapat diterima masyarakat secara tepat dan berimbang.

Audiensi tersebut juga membahas peluang kerja sama publikasi berbagai kegiatan MUI Depok, termasuk agenda keagamaan, penguatan moderasi beragama, pemberdayaan umat, dan kegiatan sosial yang mendukung pembangunan masyarakat.

Pemimpin Redaksi KR, Octo Lampito menyambut baik inisiatif MUI Depok dalam membangun kemitraan dengan media massa. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga keagamaan dan media memiliki peran strategis dalam menghadirkan informasi yang edukatif dan bermanfaat bagi publik.

“Kami menyambut baik upaya MUI Depok untuk membangun komunikasi dan sinergi dengan media. Kedaulatan Rakyat siap menjadi mitra dalam menyebarluaskan informasi yang memberikan dampak positif, mencerdaskan masyarakat, dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta kehidupan sosial yang harmonis,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Octo didampingi wartawan KR Surya Adi Lesmana. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan konstruktif dengan semangat membangun kolaborasi yang berkelanjutan.

Melalui penguatan sinergi antara MUI dan media massa, diharapkan informasi mengenai program keagamaan dan kemasyarakatan dapat tersampaikan secara lebih efektif, meningkatkan literasi publik, serta mendukung terwujudnya masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya. (Athiful/KIM Depok)




Gerakan Suling Naga Jaga Akidah dan Makmurkan Masjid di Ngaglik Sleman

Sleman – Gerakan Subuh Keliling Ngaglik Jaga Aqidah atau yang populer dengan sebutan Suling Naga terus bergulir konsisten menjadi motor penggerak religiusitas masyarakat di Kabupaten Sleman. Langkah syiar Islam ini kembali diwujudkan dalam aksi berjamaah yang dipusatkan di Masjid Sholihin, Gandok Tambakan, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026). Agenda subuh bersama tersebut diarahkan untuk membangkitkan kesadaran rohani umat sekaligus mempererat tali silaturahmi antarsesama warga di tingkat akar rumput.

Fokus utama dari peristiwa ini menonjolkan taktik pemanfaatan ibadah ritual keagamaan sebagai basis perumusan forum koordinasi sosial dan pemetaan kesejahteraan warga. Penyelenggara menilai bahwa menggerakkan warga untuk memakmurkan masjid di waktu fajar memiliki dimensi tantangan spiritual yang sangat tinggi. Ketika konsistensi subuh berjamaah ini berhasil dirawat, maka ego sektoral antarorganisasi keagamaan di wilayah Ngaglik dapat diredam, sehingga masjid mampu kembali pada fungsi hakikinya sebagai pusat pembinaan umat dan penggerak ekonomi syariah melalui zakat, infak, dan sedekah.

Sosok inisiator gerakan Suling Naga yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman sekaligus mantan Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, menjelaskan bahwa gerakan moral ini sengaja membidik waktu subuh karena merupakan rukun ibadah harian yang paling menantang kedisiplinan manusia. Dari fondasi kedisiplinan spiritual inilah karakter masyarakat yang tangguh dan peduli lingkungan bakal terbentuk.

“Yang ingin dibangkitkan di Ngaglik adalah semangat memulai dari yang paling sulit, yaitu shalat Subuh berjamaah. Dari sini diharapkan lahir dinamika kebersamaan dan forum koordinasi masyarakat Ngaglik. Kegiatan subuh keliling juga menjadi sarana untuk memetakan kondisi masjid dan jamaah yang masih memerlukan perhatian dan pendampingan. Dengan demikian, upaya pembinaan umat dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran,” ujar Wawan Widiantoro menjabarkan peta jalan gerakannya.

Guna mempertebal kualitas keimanan para jemaah fajar, agenda ini juga diisi dengan penyampaian tausiyah oleh pengasuh Pondok Pesantren Inayatullah, Chamdani Yusuf Khumaidi. Dalam uraian teologisnya, ia mengingatkan para pencari takwa mengenai pentingnya menyeimbangkan orientasi hidup agar tidak terjebak dalam pemburuan materiil duniawi yang bersifat semu dan sementara.

“Manusia sering kali mengejar kemuliaan dunia yang pada akhirnya akan ditinggalkan. Sebaliknya, kemuliaan akhirat merupakan tujuan yang seharusnya menjadi orientasi utama kehidupan seorang muslim. Kalimat tauhid merupakan pintu masuk surga, namun seorang muslim tidak cukup hanya mengucapkannya, melainkan harus membuktikannya melalui amal saleh dan ketaatan kepada Allah,” tutur Chamdani Yusuf Khumaidi di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid.

Ia juga menyitir nasihat sufi termasyhur Ibrahim bin Adham mengenai karakteristik manusia utama yang meletakkan ibadah sebagai prioritas mutlak, selalu menebar kemaslahatan bagi lingkungan, mengikis penyakit hati berupa iri dengki, serta memiliki kesadaran eksistensial bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Menurutnya, indikator kecerdasan intelektual yang hakiki dalam pandangan Islam diukur dari seberapa tangguh seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya demi menyiapkan bekal pasca-kematian.

Melalui keberlanjutan estafet program Suling Naga yang bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya ini, para tokoh agama dan birokrat di Kapanewon Ngaglik optimistis dapat merawat benteng akidah masyarakat di era modern. Sinergi kolektif ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem sosial yang ramah, humanis, religius, serta responsif terhadap penderitaan warga miskin di sekitar lingkungan masjid. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Jaga Harmoni Akar Rumput, Forum Rois Condongcatur Sleman Pertegas Peran Pelayanan Keagamaan 24 Jam

Sleman – Peran tokoh agama di tingkat terkecil birokrasi terus diperkuat guna memastikan pelayanan spiritual dan sosial kemasyarakatan berjalan optimal. Guna mewujudkan misi tersebut, Forum Rois Kalurahan Condongcatur kembali menggelar pertemuan rutin dan kajian keagamaan yang dipusatkan di Masjid Ar Rahman, Jalan Wahid Hasyim, Widoro, Padukuhan Ngropoh, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (20/6/2026).

Fokus peristiwa ini menekankan pada urgensi revitalisasi kompetensi para rois atau kaum yang bertindak sebagai rujukan moral sekaligus pelayan adat-keagamaan di tengah masyarakat. Di era modern, tantangan sosial yang dihadapi warga semakin kompleks, sehingga para rois dituntut untuk terus memperbarui khazanah keilmuan fikih praktisnya. Langkah penyeragaman pemahaman ini penting agar bimbingan ibadah yang diberikan kepada umat tetap seraras, menyejukkan, dan mampu meredam potensi gesekan sosial.

Agenda rutin yang berlangsung dari pukul hingga WIB ini dihadiri oleh puluhan perwakilan rois dari berbagai padukuhan se-Condongcatur serta pengurus takmir masjid setempat. Pertemuan kali ini diisi dengan pembedahan kitab Safinatun Najah, sebuah literatur fikih dasar klasik, yang dipandu langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Sultan Agung Babadan Baru, Zaenal Fatta.

Mewakili pimpinan organisasi, Nur Mukhlis menjelaskan bahwa forum berkala ini merupakan instrumen wajib untuk mengupgrade kapasitas literasi keagamaan para anggotanya. Secara kultural, pertemuan luhur ini biasanya digelar secara bergilir dari rumah ke rumah setiap 35 hari sekali, tepatnya pada hari Sabtu Legi dalam kalender penanggalan Jawa.

“Pertemuan rutin ini menjadi sarana memperdalam ilmu agama agar dapat kami sampaikan kembali kepada jamaah dan masyarakat di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, rois dapat terus memberikan bimbingan yang benar dan menyejukkan bagi umat,” ujar Nur Mukhlis saat memberikan sambutan organisasi.

Urgensi dedikasi profesi ini juga diamini oleh salah satu peserta, Mustholih, yang menjabat sebagai Rois RW 36 Soropadan. Ia mengungkapkan bahwa seorang rois memikul tanggung jawab moral yang sangat berat karena dituntut siaga penuh oleh warga tanpa adanya batasan jam kerja birokrasi formal.

“Tugas rois adalah melayani masyarakat selama 24 jam. Ketika ada warga meninggal dunia, memimpin doa, mendampingi prosesi keagamaan, maupun kebutuhan spiritual lainnya, rois harus siap hadir. Amanah ini merupakan tugas mulia yang membutuhkan keikhlasan dan dedikasi,” kata Mustholih menerangkan ritme pengabdiannya.

Guna menunjang performa komunikasi di lapangan, Forum Rois Condongcatur meluncurkan terobosan baru berupa program pelatihan eksternal pembelajaran Bahasa Jawa ragam krama inggil. Penguasaan bahasa ibu yang halus ini dinilai sangat vital sebagai media dakwah kultural agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam upacara adat, pernikahan, maupun takziah dapat tersampaikan secara santun, menyentuh, dan selaras dengan kearifan lokal Yogyakarta.

Sinergi berkelanjutan ini membuktikan bahwa eksistensi rois bukan sekadar pelengkap pranata sosial masa lalu. Melalui komitmen peningkatan kompetensi yang humanis dan adaptif, para rois di wilayah Condongcatur siap bertindak sebagai jangkar perdamaian yang menjaga kohesi sosial, merawat toleransi, serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tingkat akar rumput secara profesional. (Wasana/KIM Depok)




Kemenag Sleman Dorong Masjid Ramah Anak untuk Siapkan Generasi Penerus

Sleman – Perkembangan pembangunan negara di masa mendatang sangat dipengaruhi oleh kesiapan generasi anak-anak saat ini. Upaya menyiapkan generasi tersebut dapat dimulai dari lingkungan kecil, yakni melalui jamaah masjid.

Kekuatan jamaah yang dimotori pengurus takmir masjid menjadi unsur utama dalam tata kelola masjid, terutama dalam menyiapkan generasi penerus. Salah satu upaya memakmurkan masjid sekaligus menyiapkan generasi penerus adalah menjadikannya sebagai tempat yang nyaman dan aman bagi tumbuh kembang anak, baik secara psikis maupun fisik.

Program Masjid Ramah Anak pun menjadi salah satu pilihan untuk mewujudkan kemakmuran masjid yang berkelanjutan.

“Sebuh masjid akan makmur bila diisi dengan lantunan zikir, bacaan Al-Qur’an, serta upaya penyiapan generasi penerus,” tutur Kasubag Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, H. Sangaji, Rabu (18/6/2026), dalam sarasehan Program Rumah Ibadah Ramah Anak di Masjid Agung Rohmat, Padukuhan Jragung, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.

Program tersebut merupakan Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD Sleman, Guntur Yoga Purnawan, melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman.

Lebih lanjut, Sangaji menyampaikan bahwa keberadaan masjid menjadi sangat penting, mengingat terdapat keterangan ulama yang menyebutkan bahwa memakmurkan masjid menjadi salah satu sebab ditundanya azab bagi suatu kaum.

Ia juga menekankan pentingnya berbuat baik kepada anak sebagai generasi penerus bangsa. Hal tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadis bahwa Rasulullah SAW tidak akan memberikan syafaat kepada orang yang tidak memiliki kasih sayang kepada anak-anak serta tidak menghormati orang tua. (Kusnadi KIM Berbah)