Bupati Sleman: Sudah Saatnya Cangkringan Kembangkan Mina Padi

Cangkringan – Camat Cangkringan, Suparmono menyampaikan capaiannya
setelah 3 minggu bertugas sebagai Camat Cangkringan. Capaian Kecamatan Cangkringan
ini dilaporkan Suparmono kepada Bupati Sleman saat acara Safari Tarawih
Keliling di Masjid Nurul Khasanah, Kedung Sembungan, Desa Wukirsari, Kecamatan
Cangkringan, Kamis (16/5/2019).

Ada beberapa catatan Suparmono selama 3 minggu bertugas sebagai Camat Cangkringan. Angka partisipasi pada pemilu serentak ada 92%, pengumuman kelulusan SMA sejumlah 149 siswa dinyatakan lulus, 19 di antaranya langsung diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Kemudian untuk SMK ada 490 siswa lulus dengan 4 orang langsung diterima masuk Perguruan Tinggi dan 70 siswa lulus langsung diterima kerja. “Dengan semangat kebersamaan pemerintah, masyarakat dan swasta, semoga semakin memajukan Cangkringan,” ujar Suparmono optimis.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menyampaikan kebanggaan atas
partisipasi pemilu di Kecamatan Cangkringan yang sangat besar. Sri Purnomo juga
berpesan agar warga Cangkringan mengembangkan usaha lokal. “Cangkringan dan Kabupaten
Sleman umumnya termasuk sentra padi. Pak Camat Cangkringan ini ahlinya
perikanan dan pertanian, jadi sudah saatnya Cangkringan mulai melakukan teknik mina
padi plus wisata,” pinta Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga mengingatkan warga Cangkringan selaku warga
di daerah wisata, terutama untuk pengelola wisata jip lava tur agar memperhatikan
tingkat keamanan dan tetap menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama.(KIM
Cangkringan/Marmansyah)




Pasar Lebaran Dibuka, Stan Sembako Murah Diserbu Pembeli

Sleman – Pasar Lebaran tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Sleman telah resmi dibuka hari ini oleh Bupati Sleman Sri Purnomo, Selasa (14/05/2019) di Jalan Candi Sari (selatan lapangan pemda Sleman).

Salah satu stan yang paling banyak diserbu warga pada hari
pertama ini adalah stan sembako murah. Sesuai dengan tujuan diadakannya pasar
lebaran ini, selain meningkatkan semangat cinta dalam diri masyarakat untuk
mengonsumsi produk lokal, juga sebagai momen penjualan sembako murah.

Tak heran jika keberadaan stan sembako murah juga menarik
hati para pengunjung. Seperti yang diungkapkan oleh ibu Susanti, salah seorang
warga setempat yang sedang  berbelanja
sembako murah. “Hari pertama cukup ramai, banyak peminatnya. Terus ada sembako
murah juga kan. Jadinya bisa membantu yang kurang mampu. Karena lebih murah,” ujar
Susanti.

Selama ini di bulan Ramadan apalagi menjelang Lebaran, harga
sembako serta panganan lainnya kerap mengalami kenaikan harga. Karena itu
keberadaan dari sembako murah dalam Pasar Lebaran ini dirasa sangat membantu
masyarakat sebab mereka dapat membeli dengan harga lebih ekonomis dibanding
harga pasaran. “Sembako ini murah. Ini minyak kan harga dua puluh ribu dua
liter disini. Kalau di luar lebih mahal lagi,” imbuh Susanti.

Lebih dari 50 stan telah terpasang dan terisi barang-barang
olahan serta hasil produksi dari UMKM dari 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman.
Produk yang dipamerkan berupa hasil kerajinan tangan, olahan makanan berat
mapun makanan ringan seperti camilan dan kue kering, sembako, kain batik, fashion
(baju, mukena, jilbab, sepatu), sayur-mayur atau hasil pertanian, hingga tanaman
hias.

Pada hari pertamanya, kegiatan ini langsung ramai pengunjung
dari kalangan mahasiswa, warga, hingga para pegawai instansi pemerintahan
setempat. Tidak hanya untuk melihat produk yang dipamerkan, ataupun sekedar
duduk santai sembari menikmati penampilan dari grup musik Awallun Newcapella. Tidak
sedikit dari mereka yang terlihat memborong barang-barang yang dijajakan. (Rep
Bilqis)




Boulevard UII, Destinasi Ngabuburit di Sleman

Sleman – Berburu takjil merupakan hal yang lumrah dilakukan
masyarakat Indonesia pada bulan Ramadan. Tak heran jika banyak dijumpai penjual
takjil di setiap sudut pasar ramadan. Di Yogyakarta sangat populer beberapa
pasar ramadan yang tidak pernah sepi pengunjung tiap tahunnya seperti Pasar Ramadan
Kauman, Pasar Ramadan Pakualaman, dan Kampung Ramadan Jogokaryan (KRJ).

Sleman pun tak mau kalah. Kabupaten di utara Kota Yogyakarta ini juga memiliki banyak lokasi keramaian untuk menunggu waktu berbuka puasa, istilah populernya adalah ngabuburit.  Salah satunya ialah pasar ramadan di kawasan boulevard kampus pusat Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Kaliurang Km 14,5, Kabupaten Sleman. Sama seperti pasar ramadan lainnya, pasar ini selalu ada tiap tahun dan selalu diburu oleh para pengunjung baik  itu masyarakat luar maupun para mahasiswa untuk berbelanja takjil sekaligus ngabuburit.

Seperti yang diungkapkan oleh Rahmatina, seorang pengunjung yang
mengaku sudah lima kali berburu takjil di pasar ramadhan UII. “Sudah lima kali ini
kesini. Sama saja, ramai terus. Apalagi menjelang magrib itu semakin ramai,” ujar
Rahmatina, Sabtu (11/5/2019). Menurut Rahmatina, keramaian ini kadang sampai
membuat macet. Terutama menjelang azan Magrib, terjadi kemacetan di kawasan
muara jalan masuk ke kampus UII ini. Tak heran karena selama pasar ini
berlangsung, penjual, pengunjung, parkir sepeda motor dan mobil tumpah ruah memenuhi
kawasan ini.

Boulevard kampus UII termasuk spot yang banyak digandrungi untuk
menunggu waktu berbuka puasa. Banyak pengunjung yang menghabiskan waktu di
tempat tersebut, dari sekadar menikmati senja atau langit sore, duduk
mengobrol, sampai bersepeda. Area ini juga sering dijadikan sebagai spot
fotografi karena penerangan yang berada di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan
boulevard menambah cantik suasana sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

Tidak jauh beda dengan pasar ramadan lainnya, di pasar ini
menjajakan beraneka ragam takjil di pinggir jalan atau warung permanen. Mulai
dari es segar, sup buah, kolak, gorengan, camilan ringan, kue, bubur,
lauk-pauk, sayur hingga penjual makanan berat pun tersedia. Semua makanan
tersebut dibandrol dengan harga murah, mulai dari seribu rupiah sampai dengan limabelas
ribu rupiah. Pasar yang dibuka pukul WIB ini, akan ramai pengunjung
menjelang waktu berbuka puasa hingga tutup pada pukul WIB.(Rep Bilqis)




Desa Sariharjo Tingkatkan Pembangunan Keagamaan Non Fisik

Ngaglik – Safari Tarawih Keliling Kecamatan Ngaglik menyambangi
Desa Sariharjo. Dipimpin langsung Subagya sebagai Camat Ngaglik, safari ini
dihadiri jamaah dan takmir masjid se-Desa Sariharjo sebanyak 44 masjid dan musala,
para ulama, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan ibu-ibu PKK Desa Sariharjo di
Gedung Serba Guna Balai Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman,
Kamis (9/5/2019).

Dalam
safari tersebut Kepala Desa Sariharjo, Sarbini melaporkan perkembangan
pembinaan  keagamaan di Desa Sariharjo,
dimana saat ini tercatat masjid dan musala sebanyak 44 buah. Sarbini
mengharapkan ke depannya target non fisik ditingkatkan, “Takmir masjid harus peduli
lingkungan, peduli masyarakat atau jamaah yang perlu mendapatkan bantuan dari takmir
masjid. Sehingga fisik masjid terawat dan jamaahnya juga mendapatkan pelayanan
prima dari takmir masjid,” papar Sarbini.

Harapan Kepala Desa Sariharjo ini senada dengan yang
dikatakan Ustaz H. Jadiyo dari KUA Ngaglik dalam tausiahnya. Ustaz H. Jadiyo menekankan
pada kepedulian sesama, “Sebagai contoh, memberikan shodaqoh jariah jangan terlambat, karena kalau terlambat tidak ada
manfaatnya. Pada waktu sakaratul maut biasanya banyak keinginan akan
melaksanakan amal saleh tetapi sudah terlambat, maka itu sebelum terlambat,
segera bergegas untuk berbuat dan beramal yang baik dan sebanyak banyaknya,”
kata Ustaz H. Jadiyo.

Camat Ngaglik, Subagya menyampaikan tujuan safari tarawih
ini adalah untuk menjalin silaturahmi antara pemerintah kecamatan dan jamaah
masjid, sehingga masjid bisa makmur jamaahnya. “Harapan saya agar para takmir
peduli terhadap masyarakat miskin, sehingga masyarakat mendapatkannya pelayanan
terbaik dari masjid ini,” pinta Subagya. Pada kesempatan ini Camat Ngaglik menyerahkan
bantuan dana untuk Masjid Miftahul Jannah, Dusun Ngetiran, Desa Sariharjo
sebesar ,- (KIM Ngaglik/Suripto)




Tips Dinas Kesehatan Sleman Agar Tidak Lemas Saat Berpuasa

Sleman – Ramadhan merupakan bulan suci umat islam yang
sangat dinantikan. Di bulan ini wajib bagi setiap muslim untuk berpuasa selama
sebulan. Oleh karenanya agar tubuh tetap fit beraktivitas, ada beberapa hal
yang diperhatikan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr. Wisnu Muti Yani saat
ditemui di kantor Dinas Kesehatan Sleman, Kamis (09/05/2019) mengatakan bahwa
agar puasa yang dilaksanakan berjalan lancar dan tidak merasa lemas, ada
beberapa poin yang dicermati. Pertama niat, sebab dengan niat berpuasa untuk
tidak makan dan minum akan sangat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.

“Menurut ilmu kedokteran medis, semua metabolisme dan
jalannya kinerja organ tubuh manusia dikendalikan oleh pikiran atau otak. Otak
menjadi pusat kendali agar tubuh dapat menerima keadaan saat berpuasa”
jelasnya.

dr. Wisnu mencontohkan bahwa orang yang telah mempersiapkan diri
berpuasa tidak makan dan minum, maka tubuh tidak akan terlalu banyak
mengeluarkan asam lambung saat memasuki jam makan siang. Sebab pikiran kita
telah menyetel tubuh agar tidak mencerna makanan selama berpuasa.

Kedua, perlu untuk melakukan makan sahur meskipun secara
agama itu hukumnya sunnah. Karena orang yang makan sahur akan memiliki tenaga
lebih dibandingkan dengan yang tidak. Tentunya dengan memperhatikan 5 unsur
asupan makan yakni karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Sehubungan
dengan pemenuhan unsur-unsur makanan tersebut, Dinas Kesehatan telah
menjalankan program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang merupakan
gerakan untuk mendorong masyarakat agar rajin beraktivitas fisik, makan buah
dan sayur, serta periksa kesehatan secara teratur.

Ketiga menjaga asupan air minum baik pada saat sahur maupun
berbuka. Hal tersebut untuk menghindari dehidrasi selama berpuasa. Terkait
dengan hal ini, Wisnu menyarankan agar sahur dilakukan lebih awal sehingga
asupan air putih dapat masuk ke tubuh lebih banyak 1 hingga 2 gelas. Begitupun
dengan berbuka.

Lalu yang terakhir ialah menyegerakan berbuka puasa. “Hal
ini dikarenakan otak telah memberikan perintah kepada tubuh untuk tidak makan
dan minum, sehingga tubuh akan menahan lapar sampai jam 6 sore. Dan pada saat
itu, telah ada mindset di otak untuk
menyiapkan lambung kita terisi makanan dan minuman. Oleh karenanya jika tidak
menyegerakan minuman, akan terasa sakit,” ungkap dr. Wisnu.

Penjelasan lebih lanjut, bahwa saat berpuasa ada yang
disebut dengan titik terendah kadar gula yang berada pada 10-12 jam setelah
berpuasa.  Di mana pada jam-jam itulah
tubuh akan merasa lapar, lemas, kurang konsentrasi, dan sebagainya. Ketika
kadar gula dalam tubuh telah mencapai titik terendah yakni pada jam 12 siang,
maka tubuh akan menyemprotkan tabungan gula yang disebut glikogen untuk
menambah gula darah di tubuh. Glikogen yang awalnya berada dalam hati, lalu
dilepaskan kedalam darah dan naik sesuai kebutuhan kita.

“Jadi tuh Tuhan sudah memikirkan banyak. Kita tuh
punya cadangan, gak akan mati kita berpuasa, asal kita siap dan niat ya,” pungkas
dr. Wisnu.(Rep Bilqis)