Festival Anak Saleh Cetak Generasi Emas Margorejo

Minggu (9/9/2018), halaman Gedung Balai Desa Margorejo, Tempel dipadati oleh ratusan anak-anak yang berasal dari 22 TPA dan PAUD se Desa Margorejo untuk mengikuti acara Festival Anak Saleh.

Anwar Insan selaku ketua panitia mengatakan bahwa festival yang diselenggarakan ada 10 macam yaitu menggambar, pidato, nazid, kaligrafi, cerdas cermat Alquran, tilawah, qori’ah, wudhu, salat, dan mewarnai, yang diikuti sekitar 500 anak yang berasal dari dusun-dusun se-Desa Margorejo.

Sementara itu, Amat Jalaludin, Kepala Desa Margorejo mengatakan bahwa Festival Anak Saleh ini adalah sarana untuk membentuk dan menjadikan anak-anak yang tangguh, cerdas, jujur, berbudi luhur dan saleh.

“Dengan dikawal oleh generasi yang jujur dan tangguh, saya percaya ke depan Desa Margorejo akan semakin maju, makmur, dan tenteram,” kata Amat di hadapan peserta festival.

Lebih lanjut Amat Jalaludin berharap agar para peserta bisa mengikuti festival dengan sebaik-baiknya. “Juara bukanlah tujuan utama melainkan yang penting adalah menjadikan anak-anak ke depan bisa menjadi generasi emas di Margorejo,” lanjutnya. (Surono)




Kementerian Agama Sleman Gelar Sosialisasi Wakaf Uang Tunai

Ngaglik – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pimpinan Wilayah (PW) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Sosialisasi Wakaf Uang Tunai dan Umroh Bagi Marbot Masjid pada Rabu (11/10) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Program ini merupakan program unggulan Pimpinan Wilayah (PW) Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIY.

Sumber dana melalui Wakaf Uang Tunai merupakan hal yang baru. Selama ini, wakaf dikenal hanya berbentuk benda tidak bergerak, misalnya tanah. Namun, dengan dikeluarkannya Undang–Undang Nomor 41 tahun 2004, wakaf dapat diberikan dalam bentuk uang tunai.

Undang-undang ini terbilang masih baru maka perlu disosialisasikan kepada masyarakat dan jemaah masjid di wilayah Sleman, disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah DMI DIY Prof. DR. Muhammad, . Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman H. Sya’ban Nuraeni, menyambut baik dan berterima kasih karena telah diadakan sosialisasi wakaf uang tunai ini.

Nuraeni juga menyampaikan, Kementerian Agama DIY sendiri memiliki program lain, yakni:

  1. Masalah ketahanan keluarga terkait nilai-nilai agama dalam keluarga yang harus ditanamkan dalam keluarga sejak dini
  2. Program pemberantasan radikalisme dan menanamkan dan meningkatkan toleransi
  3. Peningkatan mutu pendidikan madrasah
  4. Peningkatan kerukunan umat beragama

Dengan beberapa program unggulan tersebut, termasuk di dalamnya masjid difungsikan sebagai tempat ibadah yang dirindukan para jemaahnya, juga sebagai tempat untuk meningkatkan pengetahuan agama serta tempat pembinaan jemaah. Selain itu, masjid pun merupakan pusat dakwah, kebudayaan, dan kaderisasi pemimpin bangsa masa depan. Sementara itu, terkait program DMI, masjid difungsikan sebagai pengembangan ekonomi umat utamanya dalam pemberdayaan ekonomi para jemaahnya.

Dalam kesempatan itu, hadir pula tokoh pelaksana wakaf uang tunai dari Yayasan Wakaf Indonesia, H. Muhammad Jae Prasetyo yang menjelaskan tata cara dan pelaksanaan wakaf uang tunai kepada 40 takmir masjid se-Kabupaten Sleman sebagai pelopor wakaf uang tunai. Dalam kesempatan tersebut juga hadir Ketua DMI Kabupaten Sleman Drs. H. Parwoto. MM serta undangan lainnya. (Suripto)




Lebaran Ajang Jaling Silaturahmi dan Kebersamaan

Sleman – Sholat Idul Fitri 1438 H di lapangan Denggung Sleman terasa lebih menarik karena menghadirkan Imam dan Khotib yakni Hakim Agung dari Mahkamah Agung Republik Indonesia, Drs. H. Ahmad Muktiarto, SH,, Minggu (25/6).

Hadir dalam Sholat Idul Fitri di Lapangan Denggung, antara lain Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, Msi beserta istri Hj. Kustini Sri Purnomo, dan para pejabat Pemkab Sleman.

Dalam khotbahnya, Ahmad Muktiarto menyampaikan, dua larangan Allah SWT yang sampai saat ini masih sering dilakukan manusia, yaitu berjudi dan meminum khamr (minuman keras).

Kedua larangan tersebut dilarang karena dapat mengakibatkan permusuhan dan kebencian, lupa mengingat Allah dan mengerjakan sembahyang, kehilangan fungsi akal yang merusak generasi muda, bahkan kematian.

Segala bentuk perjudian telah menjadikan korban banyak umat manusia, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Rakyat yang tadinya kaya menjadi bangkrut, rakyat yang sudah miskin menjadi semakin hanyut dalam kemiskinan, rumah tangga yang tadinya rukun menjadi hancur berantakan.

Untuk itulah Ahmad Muktiarto mengajak pemerintah, cendekiawan, alim ulama, mubaligh, dan segenap komponen bangsa bersatu memberantas perjudian.

Sementara itu Bupati Sleman, Sri Purnomo saat dijumpai usai melakukan Sholat Idul Fitri menyampaikan harapannya kepada Allah SWT, semoga amal ibadah yang telah dilaksanakan dapat diterima Allah SWT, dan kita dapat kembali ke fitrah dengan menjalin tali silaturahmi dan kebersamaan.

Usai melaksanakan Sholat Idul Fitri di Lapangan Denggung Sleman Bupati Sleman beserta Ibu, Wakil Bupati Sleman, dan Sekda Sleman secara bersamaan melakukan Open House di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman untuk melakukan silaturahmi dengan saling memaafkan dengan Ketua DPRD, Muspida, Kapolres Sleman, Kepala SKPD, Camat, serta masyarakat.




Motivasi Santri, SDIT Salsabila Adakan Sepak Bola Api

Sleman – Ramadan merupakan bulan yang dinantikan oleh setiap umat muslim di seluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia, umat islam berlomba – lomba dalam memperbanyak amal dan ibadah. 

Dari mulai memberi santunan kepada yang membutuhkan, salat wajib, salat sunah, hingga membaca Al – Quran sampai larut malam. Demikian pula yang dilakukan oleh santriwan – santriwati SDIT Salsabila Klaseman Sinduharjo Ngaglik Sleman.

Santriwan Santriwati diwajibkan menghafal surat Al – Baqarah ayat 155 – 156 dan ayat 283. Untuk memotivasi santriwan santriwati pihak  SDIT Salsabila menggelar sepak bola api.

“Sepak bola api menjadi momen yang selalu ditunggu oleh santri. Hal tersebut mampu memberikan lecutan semangat bagi santri setiap tahunnya,” kata Kepala Sekolah SDIT Salsabila, Zaelani, Rabu (7/6).

Sepak bola api merupakan momen untuk mengenalkan dan memberi pelajaran kepada santri perihal api itu panas dan api neraka lebih panas dari api dunia. Namun, manusia tidak perlu takut dengan api. Selama manusia berbuat baik (dingin), api tidak memanas, tambah Zaelani.

Sepak bola api dimainkan dengan bola yang terbuat dari kelapa kering dengan sambut yang sudah di rendam minyak tanah selama 1 hari. Dan dimainkan dengan menggunakan telapak kaki untuk menghindari terjadinya luka bakar pada kulit. Selain menanamkan nilai, sepak bola api semula juga bertujuan untuk memperkenalkan keberadaan sekolah kepada masyarakat sekitar.




Sleman Libatkan Tokoh Agama dalam Mengatasi Masalah KB dan Kependudukan

Sleman – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman menggandeng sejumlah tokoh agama dari Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (FAPSEDU) Sleman untuk mengatasi masalah KB dan kependudukan.

Ditemui Selasa (6/6) di Kantor Humas Pemkab Sleman, Kepala Dinas P3AP2KB, dr. Mafilindati Nuraini, , mengutarakan tugas FAPSEDU dalam upaya mengatasi masalah kependudukan itu sendiri.

“Adapun tugas dari FAPSEDU ini adalah membantu dalam memberikan penyuluhan, komunikasi, informasi, edukasi kepada masyarakat dengan bahasa agama terhadap masalah-masalah keluarga sejahtera, KB, dan kependudukan,” terang Linda.

Di Sleman sendiri, Linda mengungkapkan kendala yang dihadapi oleh Dinas P3AP2KB terkait banyaknya pasangan usia subur yang tidak mau ber-KB karena alasan agama.

Ini terlihat dari data pada akhir 2016, sebanyak 9,77 persen dari pasangan usia subur di Kabupaten Sleman yang tercatat belum menggunakan kontrasepsi.

“Data ini ya naik-turun, naik-turun, akhir April kemarin angkanya naik menjadi 12,28 persen dari pasangan usia suburnya ,” lanjut Linda.

Menggandeng FAPSEDU merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Dinas P3AP2KB agar masyarakat mau menggunakan KB.

“FAPSEDU adalah mitra dari Dinas P3AP2KB dan perannya adalah membantu KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi-red) yang hubungannya dengan program KB,” ujar K.H Muhalimi, Ketua Umum Fapsedu Sleman.

Selain itu, tugas forum yang berdiri sejak tahun 2014 ini, adalah sebagai motivator atau memberikan penyuluhan dengan bahasa agama masing-masing.

“Kami yang beragama Islam tentunya mempunyai jemaah-jemaah pengajian atau forum majelis pertemuan yang di situ bisa kita masuki program-program keluarga berencana dan kependudukan,” tambah Muhalimi.

Program nyata yang dilakukan FAPSEDU Islam adalah melakukan suscaten atau kursus calon manten. Dengan suscaten ini, calon pengantin baru akan diberikan pembekalan dan pembinaan dalam rangka menuju keluarga sakinah.

Tak hanya Islam, agama-agama lain, seperti agama Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu, tentunya majelis dengan jemaahnya selalu berupaya memasukkan ide-ide yang memberikan dukungan kepada pemberdayaan perempuan, keluarga berencana, dan penguatan pembangunan keluarga melalui program-program yang dijalankan.