Sleman Libatkan Tokoh Agama dalam Mengatasi Masalah KB dan Kependudukan

Sleman – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman menggandeng sejumlah tokoh agama dari Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (FAPSEDU) Sleman untuk mengatasi masalah KB dan kependudukan.

Ditemui Selasa (6/6) di Kantor Humas Pemkab Sleman, Kepala Dinas P3AP2KB, dr. Mafilindati Nuraini, , mengutarakan tugas FAPSEDU dalam upaya mengatasi masalah kependudukan itu sendiri.

“Adapun tugas dari FAPSEDU ini adalah membantu dalam memberikan penyuluhan, komunikasi, informasi, edukasi kepada masyarakat dengan bahasa agama terhadap masalah-masalah keluarga sejahtera, KB, dan kependudukan,” terang Linda.

Di Sleman sendiri, Linda mengungkapkan kendala yang dihadapi oleh Dinas P3AP2KB terkait banyaknya pasangan usia subur yang tidak mau ber-KB karena alasan agama.

Ini terlihat dari data pada akhir 2016, sebanyak 9,77 persen dari pasangan usia subur di Kabupaten Sleman yang tercatat belum menggunakan kontrasepsi.

“Data ini ya naik-turun, naik-turun, akhir April kemarin angkanya naik menjadi 12,28 persen dari pasangan usia suburnya ,” lanjut Linda.

Menggandeng FAPSEDU merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Dinas P3AP2KB agar masyarakat mau menggunakan KB.

“FAPSEDU adalah mitra dari Dinas P3AP2KB dan perannya adalah membantu KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi-red) yang hubungannya dengan program KB,” ujar K.H Muhalimi, Ketua Umum Fapsedu Sleman.

Selain itu, tugas forum yang berdiri sejak tahun 2014 ini, adalah sebagai motivator atau memberikan penyuluhan dengan bahasa agama masing-masing.

“Kami yang beragama Islam tentunya mempunyai jemaah-jemaah pengajian atau forum majelis pertemuan yang di situ bisa kita masuki program-program keluarga berencana dan kependudukan,” tambah Muhalimi.

Program nyata yang dilakukan FAPSEDU Islam adalah melakukan suscaten atau kursus calon manten. Dengan suscaten ini, calon pengantin baru akan diberikan pembekalan dan pembinaan dalam rangka menuju keluarga sakinah.

Tak hanya Islam, agama-agama lain, seperti agama Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu, tentunya majelis dengan jemaahnya selalu berupaya memasukkan ide-ide yang memberikan dukungan kepada pemberdayaan perempuan, keluarga berencana, dan penguatan pembangunan keluarga melalui program-program yang dijalankan.




Pembinaan Rohani Jelang Peringatan Paskah

Sleman – Pelayanan terhadap masyarakat merupakan kewajiban Pegawai Negeri Sipil (PNS) baik pusat dan daerah. PNS dituntut untuk memberikan pelayanan yang optimal sebagai komitmen dan dedikasi pengabdian kepada masyarakat.

Bertepatan dengan Peringatan Hari Paskah pada Jumat 14 April 2017, Panitia Hari Besar Kristiani Kabupaten Sleman menggelar pembinaan rohani dalam rangka menyambut Hari Paskah 2017.

“PNS Kabupaten Sleman harus memiliki karakter yang kuat dan dapat menjadi teladan bagi masyarakat”, kata Ketua Panitia Hari Besar Kristiani Kabupaten Sleman, Ir. Jenu Santosa, di Gereja Santo Thomas, Seyegan Sleman, Jumat (7/4).

Romo Suyatno Yoseph Suyatno Hadi Atmojo, pr menyampaikan dalam hidup manusia harus selalu menjaga ibadahnya kepada Tuhan dan menjaga toleransi antar umat baik seagama maupun lintas agama. Sebagai PNS harus tertanam jiwa sosial untuk selalu melayani masyarakat baik dalam jam kerja atau ketika sudah berbaur dengan masyarakat. Toleransi antar umat beragama diaplikasikan dalam kegiatan kemasyarakatan tanpa memandang perbedaan di bidang agama.

Hal tersebut sejalan dengan sumpah pegawai pemerintah sebagai pelayan masyarakat tanpa memandang Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Intoleransi agama hanya akan menimbulkan masalah SARA, tambahnya.

Dalam acara tersebut terkumpul kolekte Rp. ,- yang akan diserahkan ke Gereja Druju sebesar Rp ,- dan sisanya untuk bakti sosial pada Minggu (9/4) di Prambanan.




27 Ponpes Ikuti Pospenda Sleman

Sleman – Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Daerah (Pospenda)  Kabupaten Sleman diikuti sebanyak 27 Pondok pesantren  (Ponpes) dengan jumlah peserta 944 santri. Sedangkan jumlah ponpes di Kabupaten Sleman sebanyak 120 ponpes, namun kegiatan ini dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan Pospenda pada tahun 2013 diikuti 13 Pondok pesantren dengan jumlah peserta 461 santri. Pembukaan Pospenda dilakukan di Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (2/3).

Penyelenggaraan Pospenda Tahun 2015 Sleman yang disampaikan Drs H Hery Sutopo MM MSc yang juga  Kepala Bagian Kesra bahwa tujuan dari diselenggarakan Pekan Olahraga dan seni pondok pesantren tingkat Daerah cabang olahraga dan seni. Untuk cabang olahraga meliputi Atletik, Tenis Meja, Bulu Tangkis, Bola Voli, Pencak Silat, Senam Santri, dan futsal dengan 44 nomor Lomba, sedangkan cabang seni meliputi, qosidah, Hadroh, Kaligrafi, Pidato 3 Bahasa, Cipta Puisi, 18 nomor lomba.

Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes menyampaikan bahwa satriwan dan sntriwati dapat memperoleh pembelajaran dalam pembentukan karakter diri, penampaan mental dan wadah untuk berkreasi. Sehingga para santri memiliki mental kompetitif yang sportif dalam menghadapi  persaingan dimasa yang akan datang, ini menjadi poin penting yang perlu ditanamkan dan diajarkan pada generasi muda sedini mungkin.

“Ajang Pospenda ini harus terus dikembanghkan  terlebih saat ini dunia olah raga kita telah giat-giatnya termotovasi oleh para atlet Indonesia yang mampu berprestasi di ajang internasional,” kata Sri Muslimatun.

Oleh karena itu dengan seringya mengikuti berbagai kejuaraan dan kompetisi maka mental para santriwan dan santriwati  akan terlatih dan tertempa, maka diharapkan pula dalam berdakwah nantinya akan lebih fokous.

Keberhasilan pembinaan atlet-atlet  tidak hanya dipengaruhi factor latihan dan sarana latihan,  namun kesempatan untuk bertanding dan berkompetisi guna menambah pengalaman dan mematangkan teknik dan strategi yang diberikan pelatih. Maka mental para atlet akan terlatih dalam menghadapi tekanan baik lawan maupun pendukung/suporter.




Peserta MTQ Sleman Naik 200 Persen

penutupan mtqSleman  – MTQ tingkat Kabupaten Sleman untuk tahun 2015 pesertanya meningkat 200 % dari tahun lalu, yakni diikuti 405 kafilah sementara untuk tahun lalu hanya 170 kafilah. Hal tersebut disampaikan Drs Hery Suptop MM, Kabag Kesra Sleman saat pembukaan MTQ tingkat Kabupaten Sleman yang diselenggarakan di Balai Desa Bokoharjo Prambanan, Minggu (1/11). Hadir membuka MTQ penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi.

Gatot dalam sambutannya mengatakan Penyelenggaraan MTQ ini menjadi begitu penting maknanya bagi kaum muslimin, karena Al Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tak habis-habisnya untuk digali dan dikaji.

“Untuk itu kajian-kajian Al Qur’an perlu digiatkan dilingkungan masyarakat kita, menuju pada pemahaman yang utuh dan benar, serta memerlukan bimbingan dari para ulama yang berkompeten dibidangnya. Dalam Al Quran terkandung nilai-nilai akhlaqul karimah yang seharusnya menjadi perilaku setiap muslim,” kata Gatot.

Gatot juga mengajak kepada seluruh pihak untuk memberikan perhatian serius terhadap pengembangan dan pemasyarakatan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.  Terutama dengan meningkatkan  fungsi dan peranan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Tingkat Kecamatan, menyusun program dengan baik, bukan hanya  bisa membaca tapi bisa memahami serta mampu mengimplementasikan dan mengembangkannya melalui peningkatan kualitas.

Pembukaan MTQ ditandai dengan pelantikan dewan Hakim yang diketuai oleh Drs H Sagimin A Hasbi, MPdi oleh Kepala Kantor Kementrian Agama Sleman dan pemukulan Bedog oleh Penjabat Bupati di dampingi Kabag Kesra dan Kepala KanKementrian Agama Sleman serta Camat Prambanan. Sementara pentupan oleh Kabag Kesra Hery Sutapa dilanjutkan penyampaian hadiah berupa piagam, trophy dan uang pembinaan.

Adapun yang menjadi juara umum yakni Kecamatan Prambanan juara I ada 7 kejuaraan  disusul Kecamatan Tempel juara I  ada 5 kejuaraan dan Ngaglik juara I ada 3 kejuaraan.




Meski Terjadi Musibah Pelaksanaan Haji 2015 Lancar

Mangayubagyo HajiSleman – Pelaksanaan Haji tahun ini dapat dikatakan berjalan lancar sesuai dengan harapan, walaupun terdapat beberapa musibah yang menimpa jamaah haji tahun 2015 ini. Musibah robohnya crane di Masjidil Haram dan  peristiwa jemaah haji berdesakan di Jalan 204, Mina juga menelan banyak korban jemaah haji Indonesia.

“Peristiwa tersebut memang di luar kehendak kita sebagai manusia adalah sesuatu yang kita maknai sebagai takdir Allah,” kata Penjabat  Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi ketika mangayubagyo Haji di Rumah Dinas Bupati, Kamis (22/10).

Lebih lanjut disampaikan Gatot bahwa sukses dalam ibadah haji dengan meraih haji yang mabrur, baik mabrur secara personal maupun secara sosial. Hal ini ditandai dengan peningkatan amal saleh dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kemabruran haji akan sangat ditentukan oleh kita sendiri, apakah setiap kita mau dan mampu mengamalkan dan menebar kebenaran, kebaikan, kebajikan, yang menjadi esensi ibadah haji terhadap diri sendiri dan kepada sesama dalam hidup bermasyarakat,” kata Gatot.

Menurut Gatot, pasca menunaikan ibadah haji  dan pulang ke  kampung halaman dengan menyandang gelar haji atau hajah, bukan berarti jemaah haji telah mencapai ke mabruran  dan karenanya merasa ibadahnya  sudah selesai.  Karena kemabruran tidak otomatis diperoleh setelah selesai menunaikan ibadah haji. Kemabruran adalah proses yang tidak berhenti di mana ibadah haji menjadi awal dari pengamalan segala nilai dan makna yang terkandung di dalamnya sekembalinya dari Tanah Suci.

Yang jelas pribadi haji yang mabrur ditandai oleh peningkatan ketakwaan juga ditandai dengan  sikap cinta dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama, dan saling menghargai terhadap perbedaan.

Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu dikedepankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Saat itu dan juga di Padang Arafah, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah wada yang legendaris, yang menyerukan persaudaraan sesama manusia.