Tingkatkan Keimanan dan Wawasan Jamaah, PRM Balecatur Gelar Wisata Edukasi Religi ke Gunungkidul

Sleman – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan wisata edukasi religi bersama 162 jamaah Pengajian Ahad Pagi pada Minggu (20/9/2026). Kegiatan terpadu tersebut terpusat di kawasan PRM Siraman, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Perjalanan edukasi ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan keagamaan secara praktis sekaligus mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah antarjamaah di luar lingkungan masjid.

Rangkaian agenda diawali dengan latihan manasik umrah yang dipandu langsung oleh Aam dan Wahyu dari PRM Siraman. Para jamaah tampak antusias mempraktikkan tata cara ibadah umrah, mulai dari penataan niat, tawaf, sai, hingga tahalul sebagai bekal pembelajaran sebelum berangkat ke Tanah Suci.

“Alhamdulillah jamaah sangat antusias. Tujuan manasik ini untuk edukasi, memberikan gambaran nyata pelaksanaan umrah, dan menumbuhkan kerinduan untuk beribadah ke Baitullah,” ujar salah satu pemandu manasik.

Usai latihan manasik, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi ketahanan pangan berupa praktik petik sayur kangkung di lahan tandus milik warga binaan PRM Siraman. Aktivitas ini memberikan bukti konkret bahwa lahan kurang subur dapat diolah menjadi area produktif dan bernilai ekonomi jika dikelola secara kreatif. Sebagai penutup, rombongan melakukan tadabur alam dengan mengunjungi Pantai Kukup, Wonosari.

Ketua PRM Balecatur, Imam Sukiman, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan ini dirancang sebagai bentuk rihlah yang sarat akan nilai-nilai ibadah dan pembelajaran hidup.

“Kami ingin jamaah Pengajian Ahad Pagi tidak hanya mengaji di masjid, tetapi juga belajar di luar. Ada manasik umrah, ada edukasi pertanian, dan ada tadabur alam. Semoga menambah keimanan serta kekompakan jamaah,” kata Imam Sukiman.

Seluruh rangkaian acara yang berlangsung tertib dan penuh kehangatan kekeluargaan tersebut diharapkan dapat menjadi agenda rutin PRM Balecatur dalam membina keimanan serta memperkuat kebersamaan jamaah. (Antok/KIM Pararta Guna Gamping)




Perkuat Tata Kelola Zakat, PCNU Sleman Dorong Pengembangan Madrasah Amil Lazisnu

Sleman – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sleman mendorong pengembangan Madrasah Amil sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan profesionalisme pengelola zakat sekaligus memperkuat kualitas pelayanan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu).

Gagasan penguatan kapasitas amil tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam Musyawarah Kerja Bidang II (Iqtishodiyah) PCNU Kabupaten Sleman yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai II Gedung Darul Qur’an Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman pada Minggu (20/9/2026).

Ketua Lazisnu Kabupaten Sleman, Luthfy Avian Ananda, menjelaskan bahwa keberadaan Madrasah Amil sangat krusial untuk membangun sumber daya manusia yang memiliki kompetensi teknis dan integritas tinggi dalam mengelola dana umat.

“Madrasah Amil menjadi penting karena kita ingin membangun sumber daya manusia yang memahami secara utuh tugas dan tanggung jawab amil. Mulai dari penghimpunan, pengelolaan, pendayagunaan, hingga pelayanan kepada masyarakat,” kata Luthfy Avian Ananda.

Ia menambahkan, program Madrasah Amil diproyeksikan menjadi wadah pendidikan dan peningkatan kapasitas berkelanjutan yang menjangkau 17 kapanewon di seluruh Kabupaten Sleman. Kurikulum pembelajaran mencakup fikih zakat, manajemen penghimpunan, administrasi, pendataan muzaki dan mustahik, tata kelola pelaporan, komunikasi publik, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Lazisnu Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi amil sebagai ujung tombak pelayanan akan berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga.

“Amil tidak hanya bertugas menghimpun dana, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, kompetensi, integritas, administrasi, dan kemampuan memberikan pelayanan harus terus diperkuat,” ujar Adnan Iman Nurtjahjo.

Melalui hasil musyawarah kerja ini, Lazisnu Sleman berkomitmen membangun sistem pengembangan amil yang terstruktur dan transparan. Langkah ini diharapkan mampu memastikan amanah para muzaki dikelola secara akuntabel demi menghadirkan kemaslahatan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




PCNU Sleman Jadikan Empat Pilar Sebagai Arah Kerja Demi Kemaslahatan Masyarakat

Sleman — Usai resmi dilantik untuk memimpin Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sleman masa khidmat 2026–2031, Ketua Tanfidziyah PCNU Sleman Dr. H. Ariyanto Nugroho menegaskan empat pilar strategis sebagai arah utama kerja organisasi untuk lima tahun ke depan.

Empat pilar tersebut meliputi kemandirian dalam mengelola potensi umat, sinergi penuh dengan seluruh badan otonom (banom), kolaborasi lintas sektor, serta transformasi digital. Seluruh program ini diarahkan untuk memperluas kemaslahatan masyarakat secara berkelanjutan.

Pelantikan pengurus dilakukan langsung oleh Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH. Mas’ud Masduqi, di Hall Darul Qur’an Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Minggu (20/9/2026).

Ariyanto menyatakan bahwa momentum pelantikan ini merupakan titik awal untuk menerjemahkan visi organisasi ke dalam kerja nyata yang berdampak langsung bagi warga Nahdliyin dan masyarakat Sleman.

“Empat pilar ini menjadi arah gerak PCNU Sleman ke depan agar potensi yang dimiliki umat bisa dikelola secara mandiri, seluruh badan otonom bergerak bersama, kolaborasi diperluas, dan bertransformasi digital yang dilakukan untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat,” tandas Ariyanto.

Ia menjelaskan, pilar pertama mengenai kemandirian pengelolaan potensi umat menjadi fondasi internal. Pemetaan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi, sosial, dan keagamaan dilakukan agar potensi warga Nahdliyin bertransformasi menjadi kekuatan pemberdayaan konkret.

Pilar kedua menekankan sinergi bersama banom guna menyatukan kekuatan kaderisasi, dakwah, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan agar program kerja tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Semua badan otonom harus menjadi bagian dari satu gerakan besar. Jangan sampai masing-masing berjalan sendiri, melainkan bagaimana kekuatan yang ada kita satukan sehingga dampaknya lebih besar bagi masyarakat,” jelasnya.

Untuk pilar ketiga, kolaborasi dibangun bersama pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, pesantren, dan komunitas guna menjawab kompleksitas persoalan sosial. Sementara pilar keempat, yaitu digitalisasi, dihadirkan sebagai akselerator tata kelola organisasi, pendataan umat, dakwah, hingga pemasaran produk ekonomi warga.

Ariyanto menegaskan, seluruh perumusan ini harus terukur agar PCNU Sleman hadir sebagai solusipembawa kemaslahatan di tengah masyarakat.

“Pada akhirnya semua ini bermuara pada kemaslahatan masyarakat. Kita ingin PCNU Sleman tidak hanya hadir sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial kemasyarakatan melalui kerja bersama yang nyata,” pungkas Ariyanto. (Adnan Nurtjahjo / KIM Pararta Guna Gamping)




MWC NU Sleman Dorong Standardisasi Pembelajaran Al-Qur’an melalui TOT Thoriqoh Yanbu’a

Sleman — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kapanewon Sleman mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia pengajar Al-Qur’an melalui Training of Trainer (TOT) Thoriqoh Yanbu’a. Kegiatan yang diinisiasi oleh Lajnah Muroqobah Yanbu’a (LMY) Kabupaten Sleman ini berlangsung di Pondok Pesantren Sulaimaniyah, Kabupaten Sleman, Minggu (20/9/2026).

Mengusung tema “Tata Kelola TPQ, Madin, Lembaga Formal, dan Standardisasi Thoriqoh Yanbu’a”, pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pengajar dan pengelola lembaga pendidikan Al-Qur’an agar proses pembelajaran berlangsung tertib, terarah, dan terstandar.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Kapanewon Sleman, H. Sumaini, ., mengapresiasi penuh terobosan LMY Kabupaten Sleman dalam menyelenggarakan standardisasi metode pengajaran tersebut.

“Atas nama MWC NU Kapanewon Sleman, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada LMY Kabupaten Sleman yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Pelatihan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas para pengajar Al-Qur’an,” ujar Sumaini.

Sumaini menegaskan, penguasaan metode Thoriqoh Yanbu’a harus diimbangi dengan tata kelola kelembagaan yang baik agar dapat diterapkan secara konsisten dan sistematis di seluruh Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) maupun Madrasah Diniyah (Madin).

“Sekaligus memastikan pembelajaran Thoriqoh Yanbu’a dapat dilaksanakan secara tertib, terarah, dan sesuai standar,” lanjutnya.

Ia berharap para peserta dapat menularkan ilmu dan keterampilan yang didapat kepada para pengajar lain di wilayah masing-masing, sehingga peningkatan mutu pendidikan Al-Qur’an dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, mengambil ilmu sebanyak-banyaknya, dan nantinya meneruskannya kepada para guru serta lembaga pendidikan Al-Qur’an di wilayah masing-masing,” tutur Sumaini.

Melalui sinergi antara organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, dan tenaga pengajar ini, MWC NU Kapanewon Sleman optimistis ekosistem pendidikan Al-Qur’an semakin kokoh dalam mencetak generasi muda yang berkarakter.

“Semoga kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar kita bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an dan melahirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi umat,” pungkas Sumaini. (Egi Prayoga / KIM DSN NGAGLIK)




Jaga Kualitas Pengajaran Al-Qur’an, 45 Ustadz dan Ustadzah se-DIY Ikuti Penyegaran Metodologi Qiroati

Sleman – Cabang 2 Qiroati Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar kegiatan penyegaran metodologi pengajaran Al-Qur’an bagi para pengajar di Serambi Masjid At-Tauhid, Padukuhan Jatisawit, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman pada Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan tahunan ini diselenggarakan sebagai langkah berkelanjutan untuk menjaga standar mutu dan kelancaran metode Qiroati, sekaligus memastikan proses pembelajaran Al-Qur’an di tingkat TPA maupun lembaga keagamaan tetap berjalan sesuai kaidah metodologi yang baku. Sebanyak 45 ustadz dan ustadzah perwakilan dari tiga wilayah, yakni Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta, hadir mengikuti agenda yang dimulai pukul WIB tersebut.

Koordinator Panitia, Luluk, mengutarakan apresiasinya kepada para pengajar serta jajaran takmir masjid yang telah mendukung penuh terselenggaranya pelatihan ini.

“Terima kasih kepada para ustadz dan ustadzah yang sudah berkenan hadir, juga tak lupa kepada takmir Masjid At-Tauhid Jatisawit yang sudah berkenan menyiapkan tempatnya untuk acara tersebut. Semoga semua ini akan menjadi amal ibadah kita semua,” ujar Luluk.

Materi utama mengenai Metodologi Qiroati dipandu langsung oleh narasumber Yuniwati. Dalam pemaparannya, ia menggarisbawahi aspek krusial yang wajib dimiliki para pendidik Al-Qur’an demi melahirkan santri yang fasih dan berakhlak.

“Dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada santri, sangat penting untuk memperhatikan keragaman metode, ketepatan bacaan secara tartil, serta penanaman adab,” tegas Yuniwati.

Melalui program penyegaran ini, Cabang 2 Qiroati DIY berharap kompetensi dan profesionalisme para pendidik Al-Qur’an semakin meningkat sehingga mampu mencetak generasi Qur’ani yang berkualitas di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Antok/KIM Pararta Guna Gamping)