Khataman Al-Qur’an dan Doa Bersama Awali Rangkaian Kenduri Banyu Udan XI

Sleman — Rangkaian perayaan Kenduri Banyu Udan XI resmi dimulai dengan menggelar khataman Al-Qur’an dan doa bersama di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Padukuhan Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Selasa (08/09/2026). Kegiatan ini menjadi pembuka tradisi tahunan Komunitas Banyu Bening yang berfokus pada kampanye kelestarian lingkungan serta pemanfaatan air hujan sebagai sumber kehidupan.
Acara khataman Al-Qur’an dan doa bersama dipimpin oleh pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al Quran Karanglo, Gus Yoga Khoiri Ali. Doa yang dilantunkan secara bersama-sama tersebut ditujukan untuk memohon kelancaran seluruh prosesi Kenduri Banyu Udan XI sekaligus mendoakan keselamatan bangsa dan negara dari berbagai bencana alam.
Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, menegaskan bahwa Kenduri Banyu Udan merupakan wujud penghormatan serta rasa syukur atas karunia air hujan yang menopang kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi.
“Manusia adalah tamu. Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa manusia bukanlah pemilik alam, melainkan bagian dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Air hujan yang selama ini kerap dianggap biasa, memiliki peran vital bagi keberlangsungan kehidupan,” ujar Sri Wahyuningsih di sela-sela acara.
Salah satu warga Tempursari, Elisabeth Panti, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Kenduri Banyu Udan yang dinilainya mampu memadukan kearifan lokal budaya dengan pesan edukasi konservasi lingkungan bagi masyarakat luas.
“Selain sebagai hiburan, kami juga mendapatkan ilmu baru. Ini menjadi pengingat bahwa ada nilai-nilai budaya yang diselaraskan dengan konservasi dan penyelamatan lingkungan. Kami berharap pesan mengenai pentingnya menjaga alam dan sumber daya air dapat semakin kuat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Elisabeth Panti.
Rangkaian acara Kenduri Banyu Udan XI akan berlanjut ke acara puncak pada Rabu (09/09/2026). Melalui ajang budaya ini, masyarakat diharapkan makin tergerak untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat kesadaran ekologis dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Kabupaten Sleman. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)



