Bakti Sosial di Berbah Semarakkan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-107

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-107 dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Sleman dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah bakti sosial yang dilaksanakan di 17 kapanewon. Di Kapanewon Berbah, kegiatan bakti sosial berlangsung di Kalurahan Jogotirto pada Rabu (12/4/2023).

HY. Aji Wulantoro selaku Ketua Panitia Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa peringatan tahun ini mengambil tema “Nyawiji lan Murakabi Sesarengan Mbangun Sleman”, sesuai dengan misi kabupaten Sleman sebagai rumah bersama yang cerdas, sejahtera, berdaya saing, menghargai perbedaan, dan memiliki jiwa gotong royong.

Aji juga menyampaikan bahwa bakti sosial ini terselenggara atas kerja sama pemerintah kabupaten, pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan beserta Baznas Kabupaten Sleman.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyampaikan bahwa Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman bukan hanya milik pemerintah namun milik semua elemen masyarakat. Pemberian bantuan sembako kepada masyarakat diharapkan dapat membantu dalam persiapan perayaan Idul Fitri mendatang.

“Sedangkan tali asih yang diberikan kepada rois tidak sebanding dengan apa yang dilakukan para rois sebagai pelestari dan penjaga tradisi budaya masyarakat, pemangku agama yang melayani masyarakat selama 24 jam,” lanjutnya.

Ia melanjutkan, bantuan stimulan RTLH dimaksudkan untuk memberikan tempat tinggal bagi warga yang rumahnya kurang layak huni. Kustini berharap agar bantuan tersebut bisa bermanfaat bagi penerima dan dapat digunakan sebagaimana mestinya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Kalurahan Jogotirto Meriahkan Malam Ramadan dengan Tarling

Sleman – Dalam rangka menyemarakkan malam Ramadan, Pemerintah Kalurahan Jogotirto mengadakan program Tarawih Keliling (tarling) yang terjadwal akan dilaksanakan di 10 padukuhan yang ada di Kalurahan Jogotirto. Salah satunya adalah di Masji Al Amin, Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, pada Selasa (4/5/2023).

Hadir pada kegiatan tarling tersebut Lurah, Carik, dan Pamong Jogotirto, dukuh sepuluh padukuhan, BPKal, LPMkal, Babinsa, Babinkamtibmas, Ketua Takmir Masjid Al Amin, Pengurus Takmir, Rismaja beserta jemaah masjid Al Amin Rejosari.

Hartono, Ketua Takmir Masjid Al Amin dalam kesempatan tersebut melaporkan kegiatan yang telah dilakukan jemaah Masjid Al Amin.

“Bahwa selama bulan Ramadan seperti masjid yang lain takmir Masjid Al Amin menyelenggarakan kegiatan pengajian anak-anak dilanjutkan takjil buka bersama, sholat taraweh dilanjutkan tadarus, sholat subuh dan pengajian subuh,” terang Hartono.

Sementara untuk kegiatan rutin selain bulan Ramadan, Hartono menuturkan bahwa Takmir Masjid Al Amin menyelenggarakan pengajian tiap malam Minggu Kliwon oleh Ustaz Arif Aryono, dan tadarus Al-Quran setiap malam Kamis.

“Juga sebelum Ramadan, takmir masjid mengadakan pengajian menyongsong bulan ramadan untuk menguatkan akidah  agar lebih baik dalam menjalankan ibadah puasa,” imbuh Hartono.

Selain itu, Hartono juga memaparkan kondisi perkembangan pembangunan masjid, dan penggunaan dana infak dan sedekah yang dikumpulkan.

“Untuk pembangunan masjid sebelum puasa renovasi kamar mandi dan tempat wudhu juga pengecatan ulang. Renovasi tersebut menghabiskan dana 12 juta rupiah dari infak sedekah jemaah,” ujar Hartono.

Selain itu, sebagain hasil infak sedekah dari jemaah masjid, lanjut Hartono, juga digunakan untuk membantu para pelaku usaha yang memerlukan tambahan modal, dengan menyediakan fasilitas peminjaman tanpa bunga.

“Harapannya infak sedekah tidak hanya untuk pembangunan fisik tapi juga dipergunakan untuk sosial ekonomi sehingga masjid bisa menjadi penopang ekonomi jemaah,” tukas Hartono.

“Bantuan pinjaman usaha tanpa bunga ini diharapkan bisa membantu pelaku usaha dan mengurangi praktik rentenir, sehingga ukhuwah islamiyah terjaga,” imbuhnya lagi.

Sementara itu, Mitha Mayasari, Lurah Jogotirto dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa kegiatan tarling merupakan kegiatan rutin pemerintah Kalurahan Jogotirto setiap bulan Ramadan, namun sempat terhenti karena Pandemi COVID-19.  “Untuk Ramadan tahun ini kegiatan tarling diadakan yang pertama setelah COVID-19 dirasa sudah relatif aman,” tutur Mitha,

Mitha menambahkan bahwa kedatangannya beserta tim selain silaturahim juga menyampaikan sedikit bantuan berupa sebuah almari. Ia juga mengingatkan jemaah untuk senantiasa menjaga anak-anak dari kejahatan jalanan yang sedang marak.

“Selain itu juga dimohonkan untuk tidak menyalakan petasan karena bisa mengganggu kekhusyukan beribadah juga bisa menimbulkan bencana yang tidak diinginkan,” imbuh Mitha.

Tarling juga diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Arif Aryono. Berbagai macam dibahas oleh Ustaz Arif, di antaranya adalah keutamaan ilmu, dan penghapusan dosa di berbagai waktu.

“Semoga kita diberi kekuatan keiklasan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan sehingga mendapatkan ampunan dan menjadi manusia yang bertakwa,” pungkas Ustaz Arif. (Kusnadi KIM Tirto Gumregah Berbah)




Sekolah Jumat Jogotirto Gelar Pelatihan Bikin Sabun dan Lilin dari Minyak Jelantah

Sleman – Minyak jelantah adalah sisa hasil penggorengan dari minyak goreng, yang seharusnya tidak dipergunakan lagi untuk menggoreng karena banyak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh manusia, salah satunya adalah zat karsinogen yang menjadi sebagai salah satu penyebab kanker. Selain berbahaya untuk tubuh, minyak jelantah juga dapat mencemari lingkungan jika dibuang.

Untuk itu, Tim Penggerak PKK Kalurahan Jogotirto mengadakan Pelatihan Daur Ulang Pemanfaatan Minyak Jelantah di Omah Sampah Setiapura, Dusung Pucung, Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman, DIY, Sabtu (18/3/2023).

Kegiatan pelatihan dihadiri ketua Pokja 3 PKK kapanewon Berbah, PPL pertanian Jogotirto, ketua FLH Berbah, ketua TP PKK Jogotirto, ketua Pokja 2 dan 3 6 Jogotirto, ketua Omah Sampah Setiapura beserta anggota, ketua KWT Nusaindah beserta anggota.

Ketua Team  Pengggerak PKK  Jogotirto, Herlina Rahmawati menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan daur ulang pengolahan minyak jelantah merupakan salah satu program dari TP PKK Jogotirto, bersama Pokja 2 dan 3 PKK Kalurahan Jogotirto melalui sekolah Jumat. Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi limbah minyak jelantah sebagai salah satu implementasi dari program 3 R ( Reuse, Reduce, Recycle) yaitu mengolah limbah sampah menjadi suatu yang bermanfaat.

“Pelatihan kali ini materinya pembuatan sabun dan lilin dari minyak jelantah. Harapannya, dengan pelatihan ini bisa memanfaatkan minyak jelantah menjadi sesuatu barang yang bisa dimanfaatkan sehingga bisa menambah kegiatan serta bisa memberikan peluang usaha menambah penghasilan, di samping juga bisa mengurangi pencemaran dari minyak jelantah,” jelas Herlin.

Ketua Pokja 3 PKK Kapanewon Berbah, Budi Rahayuningsih mengapresiasi kegiatan pelatihan daur ulang pemanfaatan minyak jelantah ini. Dirinya berharap, kegiatan ini tidak hanya berhenti sampai pelatihan saja, namun ditularkan kepada warga yang lain sehingga ilmu yang didapat akan lebih bermanfaat.

“Karena sebentar lagi kalurahan Jogotirto akan mengikuti evaluasi desa inovatif dan aku hatinya PKK. Semoga kegiatan ini bisa memberikan nilai tambah dan harapannya mendapatkan penilaian tertinggi,” ujar Rahayu.

Pelatihan sendiri dibimbing oleh Ketua Forum Lingkungan Hidup Kapanewon Berbah, Kusnadi. Disampaikan Kusnadi, bahwa minyak jelantah sisa penggorengan adalah limbah yang tidak sehat yang jika dibuang sembarangan akan mencemari lingkungan.

“Maka sebaiknya minyak jelantah dikelola dengan baik, dikumpulkan di kelompok pengelola sampah dan dijual ke pengepul. Atau bisa dimanfaatkan menjadi barang lain yang bisa memberi tambahan nilai ekonomi seperti menjadi sabun dan lilin bisa dibuat souvenir atau untuk penerangan saat mati lampu,” ungkap Kusnadi.

Untuk pembuatan sabun sendiri, bahan yang diperlukan adalah minyak jelantah 500 ml, soda api 82 gram, air 170 cc. Cara pembuatannya adalah, pertama mencampurkan soda api dengan air yang kemudian diaduk. Setelah larut, dimasukkan ke dalam minyak jelantah yang kemudian diaduk sampai menjadi adonan yang kental baru dicetak dengan cetakan sesuai selera.

“Yang perlu diperhatikan bahwa pembuatan sabun adalah menggunakan bahan kimia Soda api /NaoH yang mempunyai sifat korosif maka peralatan yang dipergunakan harus memakai bahan stainless steel. Juga dalam pembuatan mengenakan sarung tangan dan masker untuk keamanan. Karena dalam reaksi bahan kimia tersebut akan mengeluarkan gas yang tidak boleh terhirup karena bisa mengganggu kesehatan,” terang Kusnadi.

Kusnadi juga mengingatkan untuk menunggu 3 sampai 4 minggu untuk menggunakan sabun yang baru dicetak tadi. “Sebaiknya tidak dipergunakan untuk  sabun mandi karena terbuat dari jelantah, hanya disarankan untuk sabun cuci,” tegas Kusnadi.

Sementara dalam membuat lilin hanya memanfaatkan 2 bahan, yaitu minyak jelantah dan parafin dengan perbandingan satu banding satu. “Namun bila berkeinginan bisa ditambah pewarna dengan ditambah krayon sesuai warna yang diinginkan. Bisa juga ditambah aroma untuk mengurangi bau dari minyak jelantah,” tambah Kusnadi.

Cara pembuatan hanya dengan mencampur kedua bahan tersebut, setelah melewati proses pemanasan sampai cair. Bahan yang telah tercampur tersebut kemudian langsung dicetak pada wadah yang telah diberikan sumbu lilin.

“Yang perlu diingat bahwa bahan dasar adalah jelantah. Sebaiknya sebelum pembuatan sabun dan lilin jelantah disiapkan minimal 24 jam sebelum dengan memasukkan arang  kayu ke dalam minyak jelantah dengan tujuan zat-zat yang bersifat racun akan terserap oleh arang kayu tersebut,” pungkas Kusnadi. (Kusnadi – Tirto Gumregah Berbah)




Kapanewon Berbah Gelar Lokakarya Lintas Sektoral untuk Puskesmas

Sleman – Pemerintah Kapanewon Berbah melakukan Lokakarya Mini Lintas Sektoral Puskesmas Berbah Trisemester Pertama tahun 2023, bertempat di Aula Puskesmas Berbah, Sleman, DIY, Kamis (16/3/2023).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Panewu Berbah, Kepala UPT Kesehatan Berbah, Danramil dan Kapolsek Berbah, Babinkamtibmas, Babinsa,UPT Pendidikan,  KUA, BP4, SKB, Poskeswan, lurah se-Kapanewon Berbah, serta Forum Lingkungan Hidup Berbah.

Panewu Berbah Rohmiyanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Lokakarya kali ini berisi laporan dan evaluasi yang telah dilakukan tahun 2022 dan menyampaikan inovasi juga kegiatan apa yang akan diagendakan untuk dilakukan pada tahun ini.

Ia menambahkan bahwa penanganan permasalahan di masyarakat baik kesehatan ataupun sosial tidak bisa dilakukan sendiri sendiri.

“Akan lebih baik bila penangan permasalahan dilakukan bersama-sama lintas sektoral sehingga akan menjadi lebih baik karena banyak yang bertanggungjawab dan akan lebih banyak yang mengawasi,” ujar Rohmiyanto.

Rohmiyanto juga menuturkan  bahwa dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat adalah prioritas utama bagi pemerintah dan juga puskesmas Berbah.

“Kejadian yang sudah terlewat hendaklah menjadi pembelajaran untuk  melakukan pelayanan yang lebih baik sesuai ketentuan penugasan yang ditetapkan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala UPT Kesehatan Berbah, dr. Hari Pratono, menyampaikan bahwa di tengah keterbatasan yang ada, pihaknya terus berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.  

“Semoga ke depan bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih baik. Meski terkadang keinginan pelayan terkendala denga SOP yang diberlakukan juga keterbatasan sarana dan prasarana yang kurang mendukung,” ujar Hari.

Dokter Hari menuturkan, pihaknya saat ini masih terkendala dengan keterbatasan ketenagaan dan sarana, sehingga layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Puskesmas Berbah saat ini diubah menjadi Pelayanan Gawat Darurat Terbatas (PGDT).

“Denga berubahnya penyebutan tersebut masyarakat bisa memaklumi kondisi  yang ada di puskesmas,” kata dr. Hari.

Selain itu, lanjut Hari, untuk meningkatkan dalam pelayanan, Puskesmas Berbah juga melakukan komputerisasi  digitalisasi sehingga pelayanan bisa lebih terintegrasi.

“Contohnya pasien bisa mendaftar melalui WA sehingga mengurangi antrian berkumpulnya pendaftar. Ini semua sebagai wujud  dari Motto puskesmas Berbah yaitu BISA ( Bersih, Informatif & inovatif, Santun, Akurat ),” tukas dr. Hari.

Dokter Hari juga mengatakan Puskesmas Berbah juga akan menjalankan re-evaluasi akreditasi dari Dinas Kesehatan Sleman. Untuk itu, dirinya meminta dukungan agar Puskesmas Berbah dapat mencapai level maksimal agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.

“Diharapkan dukungan dari pemerintah kapanewon dan pihak lain dalam penilaian kinerja puskesmas. Harapannya akan mendapatkan nilai akreditasi Paripurna, karena sekarang akreditasi puskesmas Berbahpada level Utama,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Hari juga menyampaikan laporan kinerja tahun 2021 sampai tahun 2022, di antaranya tentang penanganan Covid-19, peningkatan gizi, serta pengendalian penyakit.

“Upaya peningkatan gizi masyarakat 129,40 persen. Upaya pencegahan dan pengendali Penyakit diangka 104,57 persen, harapannya kedepan semua bisa tuntas mencapai seratus persen,” tutup dr. Hari. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Melihat Tradisi Nyadran Agung Wot Galeh di Sendangtirto Berbah.

Sleman – Tradisi Nyadran adalah suatu kegiatan budaya yang masih lestari dilaksanakan masyarakat Jawa khususnya Jogja dan Jawa Tengah. Tujuan dilaksanakannya tradisi ini adalah untuk mendoakan arwah para leluhur yang sudah meninggal. Dalam perkembangannya tradisi Nyadran memuat berbagai kesenian dan budaya lain yang dikemas sesuai dengan kondisi yang ada.

Sedangkan tradisi Nyadran Agung Wot Galeh merupakan tradisi yang setiap tahunan dilaksanakan pada bulan Ruwah menjelang pelaksanaan bulan Suci Ramadan. Tradisi ini digelar di Wot Galeh, tepatnya di Masjid Sulthoni  yang merupakan bangunan Cagar Budaya Kabupaten Sleman. Selain itu, Wot Galeh juga tempat makam Pangeran Purbaya, Putra Panembahan Senopati Raja Mataram Islam pertama.

Untuk itulah, Tradisi Nyadran Agung Wot Galeh termasuk salah satu Calender of Event Upacara Adat Kabupaten Sleman  tahun 2023, dan diselenggarakan pada hari Minggu (12/3/2023 bertempat di komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh, Sendangtirto, Berbah, Sleman, DIY.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Sleman, Utusan Kraton Ngayogyakarta, Dinas Pariwisata DIY, Dinas Kebudayaan DIY, anggota DPR DIY, Danlanud Adisucipto, Gubernur AAU Adisucipto, Dinas Pariwisata Sleman, Dinas Kebudayaan Sleman, Panewu Berbah, kapolsek danramil Berbah, Takmir Masjid Wot Galeh, pengageng pasarean Wot Galeh, Lurah Empat kelurahan beserta pamong, dukuh se kapanewon Berbah, pelaku budaya dan warga masyarakat kapanewon Berbah.

Kegiatan Nyadran Agung dimulai dengan kirab budaya dari kantor Kapenewon Berbah menuju Komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh. Kirab budaya diiringi oleh bregodo Purboyo, disusul empat Lurah Berbah (Sendang tirto, Kalitirto, Tegal tirto, Jogotirto) di mana masing-masing mengendarai kuda mengenakan pakaian keprajuritan.

Berikutnya adalah panewu berbah beserta staf kapanewon dan pamong dari empat kalurahan mengenakan pakaian adat Jawa jangkep mengendarai 11 kereta kuda yang disusul bregodo dari padukuhan yang ada di kalurahan Sendangtirto. Setiap bregodo membawa gunungan berupa hasil bumi yang nantinya akan dibawa ke komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh untuk dibagikan sebagai sedekah untuk warga masyarakat.

Sebelum memasuki  komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh dilakukan upacara UJUB menyerahkan  uborampe sarapan berupa gunungan hasil pertanian, jajanan pasar dan lainnya dari pejabat kabupaten Sleman, kapanewon Berbah, kalurahan Sendangtirto dan kalurahan lain untuk di serahkan kepada pengageng upacara nyadran untuk didoakan dan dibagikan kepada warga masyarakat.

Lurah Sendangtirto, Amir Junawan menuturkan, tradisi Nyadran Agung Wot Galeh adalah event tradisi kabupaten Sleman yang bertempat di Sendangtirto.

“Penyelenggaraannya dilakukan bersama-sama dari pemerintah kabupaten Sleman, kapanewon Berbah, semu kalurahan di kapanewon Berbah kedepan semoga lebih baik lagi,” ujar Amir.

Dirinya juga berharap agar ke depannya, Masjid Wot Galeh dapat menggelar tradisi ini sesuai dengan kapasitasnya.

Sementara itu, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat Berbah yang masih menjaga tradisi Nyadran yang diakui merupakan warisan budaya tak benda milik masyarakat.

“Adapun upacara tradisi Nyadran merupakan bentuk rasa syukur kepada Pencipta atas semua karunia yang diberikan serta sebagai sarana mendoakan arwah leluhur pepunden yang telah mendahului, terutama doa dikhususkan kepada arwah Pangeran Purbaya dan keluarganya yang di makamkan di pemakaman Wot Galeh, semoga diberi ampunan mendapatkan surga yang abadi,” ungkap Kustini.

Menurut Kustini, selain mendoakan leluhur, Nyadran juga sebagai permohonan doa kepada Pencipta untuk senantiasa diberi kesehatan keberkahan dalam menjalankan roda kehidupan.

“Tidak lupa mohon ketika dalam berdoa salah satunya permohonan agar erupsi merapi yang baru kemaren sampe hari ini tidak menimbulkan banyak bencana, harapanya malah sebalik erupsi merapi memberi keberkahan buat masyarakat sekitar merapi umumnya buat warga Sleman, Jogjakarta,” pungkas Kustini. (Kusnadi/KIM Berbah)