SD Muhammadiyah Bulu Mulai Proses Pembangunan Musala

Sleman – Guru dan Siswa SD Muhammadiyah Bulu yang terletak di Kampung Caren, Padukuhan Karongan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah kini boleh bergembira. Pasalnya, tidak lama lagi mereka akan mendapatkan fasilitas beribadah yang memadai setelah dimulainya proses pembangunan musala di Kompleks SD Muhammadiyah Bulu. Proses pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo pada Sabtu (12/3/2022).

Kepala SD Muhammadiyah Bulu, Sri Rokhdiyanti mengatakan pembangunan musala yang akan diberi nama Musala Al-Ikhlas ini bertujuan untuk memberikan sarana beribadah bagi para guru maupun para siswa yang selama ini menggunakan ryangan seadanya.

“Juga dikarenakan dengan perkembangan teknologi pendidikan yang mengharuskan sekolah memiliki ruang ujian yang di lengkapi dengan perangkat komputer, maka ruangan yang tadinya dipergunakan untuk beribadah dialihfungsikan menjadi ruangan komputer,” ungkap Sri.

Sementara itu, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo berharap musala yang akan dibangun dengan ukuran 6×6 Meter ini dapat segera selesai sehingga dapat dimanfaatkan oleh para guru maupun siswa.

“Saya berharap nantinya musala SD Muhammadiyah bulu dapat dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dapat mendukung kenyamanan siswa. Dengan fasilitas musala yang lengkap maka para siswa dan pengajar dapat melakukan ibadah dan aktifitas dengan nyaman,” kata Kustini. (Kusnadi/ KIM Tirto Gumregah Berbah)




Sekolah Jumat PKK Jogotirto Diresmikan

Berbah – Sekolah Jumat binaan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman diresmikan pada Jumat (11/3/2022) di Ruang pertemuan Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah. Sekolah Jumat ini adalah salah satu gagasan yang mulai dikembangkan Tim Penggerak PKK Kalurahan Jogotirt sebagai langkah pemberdayaan di tingkat kalurahan.

Mengambil tema Mengedukasi, Memberdayakan Masyarakat, Herlin Rahmawati, selaku Ketua PKK menuturkan bahwa tujuan Sekolah Jumat adalah memberdayakan, mengedukasi masyarakat agar mandiri dan berdaya,caranya dengan mengadakan pelatihan yang secara teknis akan dilakukan rutin oleh Pokja 2 PKK.

Peresmian tersebut sekaligus dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan Stik Daun Jambu Dalhari yang diikuti oleh sekitar 30 peserta ibu-ibu dari perwakilan padukuhan di Jogotirto. “Dengan adanya pemberdayaan wanita melalui berbagai pelatihan tersebut, para ibu rumah tangga memiliki kegiatan yang positif yang tentunya bisa menginspirasi, mendapat ide dan juga menambah penghasilan keluarga mereka,” ungkap Herlin. (Asti/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Pemilihan Dukuh Rejosari Masuki Tahapan Uji Kemampuan

Sleman – Proses pemilihan Dukuh Rejosari, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah memasuki tahap ujian yang diikuti oleh 12 orang peserta pada Rabu (2/3/2022) di Kompleks Balai Kalurahan Jogotirto, Berbah, Kabupaten Sleman. Ujian merupakan proses lanjutan dari tahapan pemilihan Dukuh Rejosari yang pendaftaraanya telah dibuka pada periode 2-14 Februari 2022 yang lalu.

Ali Rozikin, Sekretaris Panitia Pemilihan Dukuh Rejosari mengatakan bahwa kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan Perda Nomor 10 Tahun 2019 ini pada awalnya akan diikuti oleh 13 peserta yang dinyatakan lolos administrasi dari 14 orang yang mendaftar.

Namun saat batas rangkaian ujian dimulai, ternyata ada 1 orang peserta yang tidak bisa mengikuti ujian sehingga peserta ujian hanya 12 orang, di mana sebagian besarnya adalah peserta berusia muda.

“Partisipasi peserta muda sebagai bukti bahwa jabatan pamong adalah sebuah jabatan yang menarik, salah satu hal lain karena pengisian dukuh bukan melalui pemilihan namun melalui tes, sehingga diharapkan proses pengisian dukuh bisa transparan dan terbuka,” ungkap Ali.

Untuk ujiannya sendiri, panitia pemilihan melakukan kerja sama dengan LPPM Universitas Negeri Yogyakarta, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Samsul Hadi, Ketua LPPM UNY mengatakan bahwa Tim Penguji yang diketuai oleh Sudji Munadi telah memiliki parameter yang bisa dipertanggungjawabkan, sehingga hasi ujian benar-benar menunjukkan kemampuan dari masing-masing peserta.

“Siapapun nanti yang mendapat nilai tertinggi, yang terpilih menjadi dukuh Rejosari. Harapannya peserta lain tidak perlu kecewa karena masih bisa ikut berpartisipasi membangun desa melalui bidang yang lain. Yang harus ditekankan adalah rasa persaudaraan yang harus tetap dijaga,” pesan Samsul Hadi.

Materi ujian sendiri terdiri dari tes psikologi, praktik komputer, ujian tulis, wawancara, serta praktik pidato Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Masing-masing tes tersebut mempunyai bobot penilaian masing-masing yang nantinya akan diakumulasikan, sesuai dengan ketetapan yang sudah ditentukan. Penjumlahan nilai akan dilakukan setelah ujian selesai, dan hasilnya akan diserahkan Tim Penguji kepada panitia.

Dari ujian yang dilakukan, nilai tertinggi didapatkan oleh Muhammad Dalis Kurniawan, dan sesuai peraturan akan menjadi Dukuh Rejosari. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Sarasehan Pegiat Lingkungan Kapanewon Berbah

Pegiat Lingkungan Kapanewon Berbah menggelar Sarasehan pada Minggu (27/2/2022) di Pendopo Kepanjen Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.

Sarasehan yang dihadiri Kepala Jawatan Kemakmuran Berbah Ringgo Antoni Surya, juga dihadiri oleh Anggota DPRD Sleman, Susilo Nugroho dari Fraksi PDI perjuangan. Selain itu, hadir juga Ketua Forum Lingkungan Hidup Kapanewon Berbah Kusnadi beserta pegiat dan pengelola sampah di Kapanewon Berbah.

Sarasehan tersebut sekaligus memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2022 yang mengambil tema Kelola Sampah, Kurangi Emisi, dan Bangun Proklim.

Kegiatan sarasehan ini sendiri terselenggara atas pengajuan pokok pikiran usulan Anggota DPRD Sleman, Susilo Nugroho yang difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman

Dalam sambutannya Kusnadi selalu ketua FLH mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Anggota dewan Susilo Nugroho atas pokir melalui DLH Kabupaten Sleman.

“Semoga ke depan masih banyak program yang diberikan kepada FLH Berbah dan masyarakat Kapanewon Berbah,” ungkap Kusnadi.

Sedangkan Susilo Nugroho, Anggota DPRD Kabupaten Sleman dalam sambutannya memyampaikan apresiasi kepada FLH Kapanewon Berbah atas kegiatannya yang selalu ikut serta merawat bumi dengan slogan BERGAS (Berbah Gumregah Anggulowentah Sampah.

“Dan pokir ini memang usulan dari anggota dewan yang dilaksanakan lewat DLH kabupaten Sleman”, kata Susilo Nugroho.

Susilo menambahkan bahwa Kapanewon Berbah adalah termasuk Kawasan Stategis Cepat Tumbuh (KSCT) dan diproyeksikan termasuk pengembangan sebagai kawasan industri Kabupaten Sleman. 

“Sebagai daerah percepatan perkembangan, konsekuensinya adalah meningkatnya jumlah sampah yang ditimbulkan akibat dari industri dan pertambahan jumlah penduduk. Untuk itu perlu peningkatan kesadaran semua masyarakat untuk peduli dan melakukan pengelolaan sampah dengan baik dan benar. Gerakan ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah terutama pemerintah kalurahan yang mempunyai anggaran,” kata Susilo.

Sedangkan pemateri Agus Hartono, dari LSM Lestari menjelaskan kronologi ditetapkannya tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) atas tragedi kemanusiaan yang terjadi 17 tahun silam di TPA Leuwi Gajah di Kampung Adat Cireundeu, Lalurahan Leuwi Gajah, Kecamatan Cimahi selatan, kota Cimahi pada hari Senin tanggal 21 Februari 2005 jam terjadi ledakan pada gunungan timbunan sampah setinggi 60 meter. Ledakan yang terjadi dimungkinkan akibat tingginya konsentrasi gas methana yang terjebak pada tumpukkan sampah dan dipicu oleh hujan deras yang membuat goyahnya tumpukan sampah.

Ledakan sampah menewaskan 157 jiwa dan menimbun dua perkampungan adat yaitu kampung Cilimus dan kampung Pojok. Tragedi kemanusiaan yang menewaskan banyak orang diakibatkan ada kesalahan  penanganan sampah di TPA sehingga pemerintah menerbitkan UU nomor 18 tahun 2008 sebagai acuan penanganan sampah yang berwawasan lingkungan. Harapannya agar tragedi meledaknya TPA Leuwi Gajah tidak terulang lagi.

“Namun kenyataannya bahwa penangan di TPA di Indonesia kurang bagus  seperti yang terjadi di TPA Piyungan, yang secara tehnis usia sudah berakhir namun karena berbagai pertimbangan digunakan sampai sekarang,” kata Agus Hartono.

Untuk mengurangi masuknya sampah ke TPA dilakukan dengan melaksanakan penanganan dan pengelolaan sampah yang sesuai dengan ketentuan yang diundangkan. Menurut Agus, pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan sendiri sendiri. Harus ada pelibatan seluruh komponen masyarakat untuk lebih peduli dengan sampah.

“Hal yang paling pokok untuk mengatasi penumpukan sampah di TPA peran masyarakat sangat diperlukan melalui pendekatan program 3R (Reduce, Reyuse, Recycle) mengurangi timbulan sampah, memperpanjang usia pemakaian sampah dan daur ulang sampah,” tutur Agus.

Adapun dalam pengelolaan sampah peran bank sampah dan kelompok pengelola sampah yang lain sangat diperlukan dengan mengedukasi masyarakat  berkelanjutan untuk memilah sampah dari rumah tangga. Sampah yang terpilih dengan baik dan benar akan mengurangi masuknya sampah di TPA.

“Dengan melakukan pemilahan sampah di rumah tangga akan dipisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik bisa dibuat pupuk dan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kardus, besi bisa dijual sehingga bisa menjadi tambahan ekonomi keluarga,” jelas Agus Hartono. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah, Berbah)




Serius Kelola Sampah, Warga Klampengan Gelar Pertemuan

Berbah – Kelompok Pengelola Sampah Dusun Klampengan, Jlatren, Kalurahan Jogotirto, Berbah menggelar pertemuan antar anggota di Rumah Makan Mbah Wanto, Tegal Tirto, Berbah, Sleman, pada Kamis (24/2/2022). Kegiatan yang diikuti oleh warga Klampengan ini terlaksana atas dukungan Forum Lingkungan Hidup (FLH) Kapanewon Berbah dan juga Rumah Makan Mbah Wanto.

Awang Kurniawan, Sekretaris FLH mengatakan bahwa kegiatan ini penting dilakukan karena pengelolaan sampah yang baik dan benar dapat mendatangkan banyak manfaat. Selain lingkungan menjadi bersih dan sehat, pengelolaan sampah bisa mendatangkan manfaat ekonomi dari penjualan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, besi, dan lainnya.

“Dalam pengelolaan sampah yang penting adalah pemilahan,” ujar Awang Kurniawan.

Sementara itu, Mbah Wanto, pemilik Rumah Makan Mbah Wanto mendukung penuh masyarakat Klampengan untuk melakukan kegiatan pengelolaan sampah yang memeberikan banyak manfaat.

“Di Rumah Makan Mbah Wanto juga dilakukan pengelolaan sampah. Sampah plastik, dos, kertas di kumpulkan dan dijual satu bulan dapat hasil penjualan  sekitar satu juta rupiah bisa untuk tambahan penghasilan karyawan Rumah Omah Dahar,” kata Mbah Wanto. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)