Berbah – Puskesmas Berbah menggelar Sosialisasi Tentang Penyakit Leptospirosis pada Selasa (15/2/2022) di Rumah Dukuh Klakah, Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman. Sosialisasi dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut dari ditemukannya kasus Leptospirosis yang menyerang salah satu warga Padukuhan Klakah, yaitu Sumargiyono.
Leptospirosis sendiri merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit pada hewan yang bisa ditularkan kepada manusia. “Bisa menumbulkan komplikasi penyakit bila terlambat penanganan, bisa menyebabkan penderita kehilangan nyawa,” jelas dr. Angga, dari Puskesmas Berbah.
Leptospirosis banyak ditularkan dari hewan seperti anjing dan kucing kepada manusia. “Namun yang banyak menulatkan adalah tikus, makanya sering disebut penyakit virus tikus,” terang dr. Angga lagi.
Namun dr. Angga menggarisbawahi bahwa penyakit ini tidak bisa ditularkan melalu perantara manusia.
Leptospirosis sendiri, lanjut dr. Angga, adalah penyakit yang berkembang di daerah tropis, terutama saat musim penghujan dan banjir. Penyebarannya berasal dari Bakteri Latospira Interrogans yang ditularkan melalui gigitan, urin, darah, dan jaringan hewan yang terinfeksi. Biasanya, penularan terjadi lewat air atau tanah basah yang tergenang, sawah, dan danau.
“Bakteri bisa masuk ke tubuh manusia lewat luka, jaringan lunak, hidung, mulut, mata, kelamin, dan juga bisa lewat air yang terminum atau terhirup,” ungkap dokter yang tengah menjalani internship di Puskesmas Berbah tersebut.
Dokter Angga menambahkan bahwa gejala awal penderita Leptospirosis hampir mirip seperti flu biasa. Penderita tidak menyadari telah terinfeksi, sehingga tidak melakukan pemeriksaan secara medis. Penderita akan merasakan gejala selepas masa inkubasi bakteri selama 10 hari, dengan gejala berat yaitu demam tinggi hingga tubuh menggigil, nyeri otot terutama betis, nyeri kepala, perut, sakit tenggorokan disertai batuk kering, mual hingga muntah dan diare, serta mata memerah.
“Para penderita Leptospirosis bila tidak tertangani dengan baik bisa menyerang organ lain dan menimbulkan komplikasi, bisa gagal ginjal, gagal jantung, sakit lever, batuk parah, dan muntah darah,” ungkap dr. Angga.
Untuk pencegahan, dr. Angga mengatakan dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti menjaga kebersihan lingkungan, memakai pelindung seperti sepatu dan sarung tangan ketika melakukan aktivitas di lahan berlumpur, dan mencegah luka bersentuhan langsung dengan air. Selain itu, wagra juga disarankan untuk mengamankan peralatan dan bahan makanan serta peralatan masak, makan, dan minym dari kontaminasi bakteri. Bisa juga dengan menuangkan karbol atau disinfektan pada bagian rumah yang tergenang, dan selalu mencuci tangan pakai sabun setelah melakukan aktivitas di sawah atau di kebun yang mungkin terkontaminasi bakteri.
“Yang penting, lakukan pola hidup sehat dan sanitasi lingkungan,” kata dr. Angga. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)