Gelar Musrenbangkal 2026, Pemkal Sinduadi Fokuskan Penguatan SDM dan Penanganan Stunting

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sinduadi menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal) Tahun 2026 di Aula Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman pada Jumat (25/9/2026).

Agenda tahunan ini diselenggarakan untuk menyelaraskan usulan pembangunan warga dengan penjabaran Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) berbasis RPJM Kalurahan 2020–2028, sekaligus merespons penyesuaian alokasi anggaran daerah.

Musrenbangkal dihadiri Panewu Mlati Dyah Purwanti, Lurah Sinduadi Senen Haryanto, Ketua BPKal Sugiyanto, Pendamping Desa Rini, Carik K. Fendi Ramadhan, jajaran Pamong Kalurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, para Dukuh, serta tokoh masyarakat setempat.

Panewu Mlati, Dyah Purwanti, mengingatkan agar arah perencanaan pembangunan tidak hanya menitikberatkan pada fisik infrastruktur, melainkan seimbang dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pengentasan stunting.

“Memang pada bulan September ini seluruh kalurahan di Kabupaten Sleman melaksanakan Musrenbangkal,” ujar Dyah Purwanti.

Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, mengutarakan bahwa kondisi pendanaan kalurahan dari Dana Desa mengalami penurunan signifikan dari semula Rp2,5 miliar menjadi Rp373 juta. Hal tersebut menuntut efisiensi serta pencarian sumber pendanaan alternatif seperti Bantuan Keuangan Khusus (BKK) yang pada Musrenbangkal kali ini mencakup 50 usulan fisik.

“Karena anggaran yang tersedia terbatas, kita perlu berusaha mencari sumber pendanaan lainnya agar pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tetap dapat berjalan,” tegas Senen Haryanto.

Di samping itu, Senen memaparkan rencana inovasi kalurahan, seperti modernisasi Aula Kalurahan lewat pemasangan videotron serta penyelenggaraan Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) berkonsep layaknya ajang olahraga nasional.

Dipimpin Carik Sinduadi K. Fendi Ramadhan, seluruh peserta Musrenbangkal akhirnya menyetujui dan menandatangani Berita Acara kesepakatan rencana kerja yang terbagi dalam lima bidang utama pemerintahan, pembangunan, pembinaan, pemberdayaan, dan penanggulangan bencana. (Y. Edy Setyoharjo/KIM Pijar Mlati)




Pastikan Pembangunan Tepat Sasaran, Pemkal Sinduadi Gelar Rapat Verifikasi RKPKal 2027

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sinduadi menggelar Rapat Verifikasi Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) Tahun Anggaran 2027 di Ruang Rapat Lantai 2 Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman pada Jumat (25/9/2026).

Rapat verifikasi ini diselenggarakan sebagai tahapan krusial untuk mencermati dan mencocokkan kembali berbagai usulan program pembangunan masyarakat dengan kemampuan alokasi pembiayaan kalurahan, sebelum dibawa ke tingkat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal).

Kegiatan ini dihadiri oleh Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, Carik K. Fendi Ramadhan, Ulu-Ulu Nurul Muktama, Kamituwa Hadiyan, Pangripto Heru Yuniarko, Tata Laksana Zanis Ahmad Kiswara, Tim Penyusun RKPKal, Tim Verifikasi, Pinituwa Tuwanggana, Ketua TP PKK, Ketua Karang Taruna, serta jajaran tokoh masyarakat setempat.

Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, menekankan pentingnya fleksibilitas dan skala prioritas dalam menyusun perencanaan pembangunan guna mengantisipasi dinamika kebijakan pendanaan dari pemerintah pusat.

“Semoga rencana yang sudah kita susun dapat terlaksana pada tahun 2027. Namun kita juga harus melihat kemampuan keuangan, karena dinamika pemerintahan dan kebijakan pemerintah pusat dapat berubah sewaktu-waktu,” ujar Senen Haryanto.

Dalam rapat verifikasi tersebut, peserta menyepakati bahwa alokasi anggaran harus berfokus pada program-program skala prioritas yang menyentuh penguatan ekonomi, infrastruktur dasar, pelayanan publik, sosial, hingga pengembangan potensi kalurahan.

Beberapa masukan strategis yang mengemuka di antaranya pembahasan titik pembangunan infrastruktur memanfaatkan Bantuan Keuangan Khusus (BKK), penambahan green house untuk mendukung usaha BUMKal, usulan fasilitas videotron aula pertemuan, hingga konsep parade kontingen padukuhan untuk menyemarakkan pembukaan Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal).

Seluruh hasil verifikasi RKPKal tersebut langsung dirumuskan menjadi bahan utama Musrenbangkal sebagai dasar penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kalurahan (APBKal) Sinduadi Tahun Anggaran 2027 agar terarah, transparan, dan realistis. (Y. Edy Setyoharjo/KIM Pijar Mlati)




SALWA Angkatan Kedua Dibuka, 40 Mahawredha Siap Belajar dan Berkarya di Usia Emas

Sleman — Usia lanjut bukan menjadi alasan untuk berhenti belajar. Semangat tersebut ditunjukkan 40 perempuan lanjut usia yang mengikuti Sekolah Lansia Wredha Mulya (SALWA) Angkatan ke-2 di Sendowo, Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Pembukaan SALWA Angkatan ke-2 berlangsung di Aula Sasana Wredha Mulya, Kamis (24/9/2026). Mengusung tema “Belajar Tiada Batas, Bahagia di Usia Emas”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus interaksi sosial bagi lansia untuk tetap aktif, sehat, mandiri, dan bermartabat.

Sekolah Lansia Wredha Mulya merupakan unit pelayanan sosial Yayasan Wredha Mulya yang menyelenggarakan pendidikan nonformal bagi lansia. Pembelajaran dirancang secara relevan dan menyenangkan dengan menyesuaikan kebutuhan kehidupan di usia lanjut.

Koordinator SALWA, Suripto, menjelaskan peserta SALWA memiliki sebutan khusus, yakni “mahawredha”.

“Kalau sudah usia lansia, lalu sebutannya apa? Bukan siswa, juga bukan mahasiswa. Karena ini sekolah lansia, kami menyebutnya mahawredha,” ujar Suripto.

Ia berharap seluruh mahawredha dapat mengikuti pembelajaran secara rutin, tekun, dan aktif hingga menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan.

Suripto menyampaikan, pada angkatan pertama SALWA terdapat 35 peserta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 peserta berhasil menyelesaikan pendidikan dan mengikuti wisuda. Ia pun berpesan kepada 40 mahawredha Angkatan ke-2 agar menjaga kehadiran dan mengikuti pembelajaran hingga selesai.

“Harapannya, seluruh mahawredha Angkatan ke-2 dapat mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh sampai selesai,” katanya.

Sebanyak 40 peserta Angkatan ke-2 seluruhnya merupakan perempuan dengan rentang usia 62 hingga 79 tahun. Peserta tertua berusia 79 tahun, sedangkan peserta termuda berusia 62 tahun.

Kepala Sekolah SALWA, Sugiyanto, menjelaskan pendidikan SALWA dilaksanakan selama dua semester dengan 24 kali pertemuan. Kegiatan berlangsung dua kali setiap bulan, yakni pada Kamis minggu kedua dan keempat, pukul – WIB di Aula Sasana Wredha Mulya.

Pembelajaran memadukan materi teori dan praktik. Setelah seluruh rangkaian pembelajaran selesai, pertemuan ke-25 akan diisi dengan kegiatan Wisuda Mahawredha.

SALWA didukung 19 pengajar yang memberikan materi beragam dan dekat dengan kehidupan lansia. Materi tersebut antara lain kedudukan lansia dalam kehidupan domestik, publik, dan politik; strategi menghadapi menantu dan cucu; psikologi dan religi; kematian; literasi dan manajemen keuangan lansia; manajemen tidur, mandi, makan, dan gizi; terapi spiritual dan olahraga; serta hukum keluarga, waris, dan perdata.

Para mahawredha juga mendapatkan materi tentang Dadi Wong Jowo dan makna tembang Jawa, rekreasi dan outing class, terapi sensorimotor, manajemen fungsi sistem organ, pengelolaan emosi di usia emas, fungsi keluarga dalam kehidupan lansia, hingga pemasaran daring, branding packaging, komunikasi media sosial, manajemen komunitas digital, literasi digital, dan penggunaan mobile banking.

Program SALWA bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan pengetahuan lansia, mendorong kemandirian, mengurangi ketergantungan, mempererat interaksi sosial, serta mendukung proses penuaan yang sehat dan bermartabat.

Dengan beragam materi tersebut, SALWA tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga wadah bagi lansia untuk bersosialisasi, mengembangkan potensi, menjaga kesehatan, memperluas wawasan, dan tetap aktif di tengah keluarga maupun masyarakat.

Semangat “Belajar Tiada Batas, Bahagia di Usia Emas” menjadi dorongan bagi para mahawredha SALWA Angkatan ke-2 untuk terus belajar, berkarya, dan menjalani masa emas dengan penuh semangat. (Y. Edy Setyoharjo – KIM Pijar Mlati)




Dari Bantuan Menuju Kemandirian, KPM PKH Mlati Berani Naik Kelas

Sleman — Program Keluarga Harapan (PKH) Kapanewon Mlati terus mendorong Keluarga Penerima Manfaat (KPM) meningkatkan kondisi sosial ekonomi hingga mampu mandiri dan mengakhiri kepesertaan PKH. Hal tersebut menjadi bagian dari kegiatan Apresiasi Graduasi KPM PKH Kapanewon Mlati Tahun 2026 dengan tema “Dari Bantuan Menuju Kemandirian”.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (22/9/2026), di Pendopo Kapanewon Mlati  tersebut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman Wildan Solichin, Panewu Mlati Dyah Purwanti, jajaran Forkopimkap Mlati, para lurah, pendamping sosial PKH, serta penerima manfaat.

Program PKH di Kapanewon Mlati mencakup lima kalurahan, yakni Sendangadi, Sinduadi, Tlogoadi, Tirtoadi, dan Sumberadi. Pada tahap III 2026, tercatat KPM menerima bantuan PKH yang didampingi 12 Pendamping Sosial PKH.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga diarahkan pada peningkatan kapasitas keluarga melalui edukasi, pembinaan ekonomi, dan pemberdayaan. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dan Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE).

Pada 2026, target graduasi meningkat dari 10 menjadi 24 KPM per pendamping per tahun. Dengan 12 pendamping, target graduasi di Kapanewon Mlati mencapai 288 KPM. Hingga kegiatan berlangsung, tercatat 222 KPM telah graduasi, sementara lebih dari 184 KPM lainnya masih dalam proses graduasi sesuai tahapan program.

Panewu Mlati, Dyah Purwanti, mengapresiasi KPM yang telah berani mengambil langkah menuju kemandirian.

“Ini merupakan sebuah keberhasilan. Kami mengapresiasi 50 KPM yang hadir pada kesempatan ini, serta seluruh KPM yang telah graduasi di Kapanewon Mlati,” ungkapnya.

Sementara itu, Pendamping PKH dari Kalurahan Tlogoadi, Suryantoro mengatakan peningkatan target graduasi menjadi dorongan bagi pendamping untuk memperkuat pendampingan.

“Walaupun tahun ini targetnya naik dari 10 menjadi 24 KPM, kami tetap semangat. Justru kami berusaha lebih maksimal dalam melakukan pendampingan,” ujarnya.

Salah satu penerima manfaat yang memilih graduasi adalah Giyati, warga Sumberadi, Mlati. Ia menjadi KPM PKH sejak 2018 hingga 2026. Saat pertama menerima bantuan, keterbatasan ekonomi membuat biaya pendidikan anak menjadi salah satu tantangan bagi keluarganya.

“Saya sering berpikir, bagaimana anak-anak saya bisa terus sekolah? Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan pendidikan mereka dengan kondisi ekonomi keluarga seperti ini?” tuturnya.

Selama menerima PKH, Giyati merasakan bantuan tersebut membantu keluarganya memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Seiring waktu, kondisi keluarganya membaik. Salah satu anaknya telah lulus SMK dan bekerja.

Kondisi tersebut membuat Giyati mantap mengakhiri kepesertaan PKH dan melanjutkan kehidupan secara mandiri. Baginya, graduasi menjadi penanda bahwa dukungan yang diterima selama ini telah menjadi bagian dari perjalanan keluarganya menuju kemandirian.

(Y. Edy Setyoharjo/KIM Pijar Mlati)




Susur Sungai Code: Menjaga Ekologi, Membuka Peluang Wisata dan Ekonomi Warga

Sleman — Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa Susur Sungai Code pada Jumat (04/09/2026). Perhelatan yang digelar dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-43 SPs UGM tersebut bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas lokal dalam menjaga kelestarian ekosistem air sekaligus merintis potensi wisata sungai.

Rangkaian acara diawali dengan pelepasan jangkrik, burung, dan ikan di bantaran sungai sebagai simbol keberlanjutan ekologi. Pelepasan satwa tersebut dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, serta Dekan Sekolah Vokasi UGM, Agus Maryono. Peserta kemudian melakukan susur sungai menggunakan perahu dayung menyusuri rute kawasan Sendowo/Blimbingsari hingga Pasar Minggon di dekat Jembatan Sarjito, Jetis.

Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Siti Malkhamah, menegaskan pentingnya aksi nyata lintas sektor agar keberadaan sungai dapat terus memberikan manfaat ekologis sepanjang tahun tanpa menimbulkan bencana.

“Bagaimana kita bersama-sama menjaga sungai, dengan harapan pada musim kemarau sungai tidak kering dan ketika musim hujan tidak menimbulkan banjir. Membantu masyarakat tidak cukup hanya dengan menjadi narasumber, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata,” ujar Siti Malkhamah di sela-sela kegiatan.

Dukungan serupa disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar. Pihaknya menggarisbawahi komitmen Pemkab Sleman untuk berkolaborasi dengan Pemkot Yogyakarta dan UGM demi mengintegrasikan pemeliharaan lingkungan dengan pengembangan kawasan wisata.

“Sleman dan Kota berkolaborasi bersama UGM. Hari ini kita perjuangkan agar Kali Code menjadi satu-satunya wisata susur sungai dari Sendowo/Blimbingsari sampai Jetisharjo, dengan harapan masyarakat bisa bahagia karena lingkungannya bersih,” tutur Abu Bakar.

Melalui kegiatan susur sungai ini, para pemangku kepentingan berharap pemantauan kondisi lingkungan dan deteksi dini kebencanaan di sepanjang aliran Sungai Code dapat dilakukan secara rutin. Selain itu, kolaborasi dengan komunitas Pemetri Sungai Code dan operator perahu diharapkan mampu mewujudkan paket wisata berbasis lingkungan yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar. (Y. Edy Setyoharjo/KIM Pijar Mlati)