Bangun Tata Nilai Budaya lewat Majalah Digital Bahasa Jawa Belik

Tata nilai yang ada di masyarakat akan mudah diterima ketika disampaikan melalui kebudayaan. Hal tersebut yang ditekankan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, H.Y Aji Wulantara pada acara Peluncuran Majalah Digital Bahasa Jawa Belik pada Kamis (20/5/2021) di Rumah Makan Kembang Desa Senuko Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman.

“Terbitnya majalah Digital Basa Jawa Belik juga berfungsi sebagai sarana mendokumentasikan berbagai potensi kebudayaan dan pengetahuan yang ada di masyarakat. Semoga Belik bisa dijadikan sumber pengetahuan kehidupan perihal kebudayaan bagi siapapun,” ungkap Aji.

Aji mengapresiasi Paguyuban Sastra Budaya Jawa Kabupaten Sleman (Pasuja Kawi Merapi) atas inovasi dalam menerbitkan Majalah Digital Belik ini, yang bertepatan juga dengan hari Kebangkitan Nasional. Majalah Belik ini kata Aji ibarat sumber mata air, sumber kehidupan yang tak pernah habis. Keberadaannya perlu didukung dan dikembangkan lebih lanjut, seperti ada terjemahaan untuk masyarakat umum.

“Hadirnya Belik diharapkan turut mendukung keistimewaan Yogyakarta, agar masyarakat benar-benar mengetahui jati dirinya serta mengejawantahkan nilai keistimewaan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Peluncuruan Majalah Digital Belik sendiri ditandai dengan pemotongan tumpeng dan pembukaan laman Majalah Belik di alamat resmi yang dilakukan oleh Aji sendiri. Khusus untuk edisi perdana, masyarakat bisa mengaksesnya dengan gratis.

Pada kesempatan yang sama, Sutopo, Ketua Pasbuja Kawi Merapi menyampaikan bahwa lahirnya Majalah Belik ini dilandasi atas semangat dan tekad para pengurusnya yang berasal dari berbagai macam profesi, seperti novelis, redaktur, ilustrator wayang, dan lainnya. Para pengelola tersebut tidak hanya menyumbangkan karya mereka, namun juga berusaha mengumpulkan sponsor demi terbitnya Majalah Belik.

“Harapannya majalah tersebut bisa dijadikan wahana untuk berkarya bagi pecinta dan penggiat sastra Jawa hingga masyarakat luas,” kata Sutopo.

Sementara itu, Pimpinan Redaksi Majalah Belik, Suhindriyo menerangkan bahwa Belik akan terbit setiap triwulan, dengan edisi pertama yang terbit pada tanggal 20 Mei 2021 terdiri dari 52 halaman.

”Dipilihnya 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional penanda bangkitnya para penulis untuk terus berkarya. Era digital sangat memungkinkan Belik mendunia,” ujar Suhin.

Selain itu, Belik menurut  Suhin akan membangun relasi dengan beberapa penulis, terutama para penggiat sastra Jawa di berbagai daerah, dan kalangan untuk penerbitan yang akan datang.

Selain Dinas Kebudayaan Sleman, peluncuran Majalah Belik juga dihadiri oleh para penggiat sastra Jawa perwakilan dari Gunungkidul dan Kulon Progo. Acara dimeriahkan dengan pembacaan gurit yang dimuat di Belik oleh H.Y. Aji Wulantara, Tity Sutarti dan macapat oleh Yohanes Siyamta, serta penampilan iringan siter sehingga nuansa kejawaan semakin kental. Kegiatan tetap mengedepankan protokol kesehatan ketat, yaitu dengan pemantauan suhu, semua yang hadir mencuci tangan, mengenakan masker serta menjaga jarak. (Edy/Kim Moyudan)   




PISEW Diharapkan Dapat Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Moyudan

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang besar di berbagai sektor. Tidak hanya aspek kesehatan, pandemi yang telah berlangsung selama lebih dari 1 tahun ini juga mempengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi di masyarakat. Salah satu yang paling terdampak adalah kondisi ekonomi masyarakat. Menurunnya daya belu membuat aktivitas perdangangan terganggu yang menyebabkan banyak usaha yang mengalami kemacetan hingga kebangkrutan. Sehingga, diperlukan langkah strategis guna mendorong dan mengembangkan kebutuhan ekonomi tersebut.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Pekekrjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengembangkan program unggulan yakni Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW).

“PISEW bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan infrastruktur yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” papar Arifin, Panewu Moyudan pada Jumát (07/05/2021) saat melakukan peninjauan dan monitoring lapangan pekerjaan PISEW berupa pembangunan kios-kios di Pasar Gamplong, Sumberahayu dan Pertashop d Gesikan Sumbersari, Moyudan, Kabupaten Sleman.

Program PISEW ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi geliat ekonomi warga masyarakat di Padukuhan Gamplong, karena juga didukung oleh keberadaan studio alam yang dapat menarik perhatian banyak wisatawan untuk berkunjung. Sementara tu, adanya Pertashop di Gesikan, Kalurahan Sumbersar akan memberikan kemudahan bagi masyarakat memperoleh bahan bakar berkualitas.

“Kemudahan ini sangat mendukung aktivitas perekonomian masyarakat setempat,” ujar Arifin. (Edy/KIM Moyudan)




Penuhi Kebutuhan, Siswi MAN 4 Sleman Produksi Mandiri Kue Lebaran

Momen lebaran membuat permintaan terhadap kue lebaran meningkat pesat. Tradisi yang telah melekat dengan masyarakat membuat kebutuhan akan kue lebaran menjadi cukup penting, sehingga tidak jarang harga kue-kue tersebut melambung di pasaran.

Memanfaatkan hal tersebut, Siswi MAN 4 Sleman melakukan praktik pembuatan kue lebaran yang nantinya akan dijual di pasaran.

“Beberapa Siswi program peserta program Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) melakukan praktik memproduksi kue kering khas lebaran. Produknya antara lain nastar, kastengel dan cornflake cookies pesanan dari Bapak Ibu guru Manesa,” jelas Umi Hidayati guru APHP usai mendampingi praktikan Kamis (6/5/2021) di ruang tata boga MAN 4 Kabupaten Sleman.

Hasil dari produksi para siswi tersebut, kata Umi, mendapat apresiasi dan ketertarikan yang tinggi dari para guru dan pegawai di MAN 4 Sleman. Seluruh hasil produksinya habis dipesan oleh para guru dan pegawai, bahkan ada yang tidak kebagian.

“Hari ini anak-anak kita ajak praktek produksi lagi dan mereka cukup bersamangat. Minggu lalu anak-anak memproduksi roti serupa hingga 50 toples dan semua terjual. Mudah-mudahan ini jadi pengalaman praktek dan bagaimana melihat peluang bisnis,” lanjut Umi.

MAN 4 Sleman sendiri telah melengkapi peralatan canggih dalam mendukung kegiatan praktik produksi APHP. Beberapa diantaranya adalah peralatan mesin oven berlabel GETRA yang mendukung kapasitas produksi cukup besar.

“Kapasitas Getra Gas Baking Oven 2 deck untuk 4 loyang besar ukuran 60 x40 cm. Mesin ini mempergunakan sumber energi listrik dan gas. Semua bisa diprogram mulai dari suhu, durasi waktu masak, terpantau sejak awal hingga selesai otomatis. Panas maksimal bisa mencapai 300 derajat, bisa memproduksi makanan dalam jumlah besar, sangat cocok untuk praktek produksi APHP sebagai bekal berwirausaha,” jelas Umi.

Produksi kue kering dari para Siswi MAN 4 Sleman tersebut diberi brand dengan nama Manesa Cookies and Bakery.

“Masih ada banyak permintaan, maka kami memberi tantangan kepada siswa untuk praktek lagi, dan Insyaallah Sabtu 8 Mei akan praktek produksi lagi, guna memenuhi permintaan warga madrasah,” pungkas Umi.

Mohamad Yusuf, kepala madrasah menyambut baik pelaksanaan praktek produksi para siswa. Ia berharap program APHP ini bisa memberikan bekal life skills bagi siswa sehingga kelak menjadi warga masyarakat yang kreatif dan tangguh, serta survive di zamannya. Mengingat masih pandemi, kegiatan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (edy/KIM Moyudan)




Moyudan Gelar Pasar Lebaran Guna Cukupi Kebutuhan Masyarakat Jelang Idulfitri

Moyudan – Tingginya kebutuhan masyarakat akan barang konsumsi dan jasa jelang Idulfitri menjadi alasan Pemerintah Kapanewon Moyudan menggelar Pasar Lebaran dan Pembagian Bantuan Sosial (Bansos) pada Selasa (4/5/2021). Kegiatan yang berlangsung di Pendopo dan Halaman Kantor Kapanewon Moyudan ini dibuka langsung oleh Panewu Moyudan, didampingi Forkompim Kapanewon Moyudan, Perwakilan Bank BPD DIY Cabang Sleman, dan Kamituwo.

Panewu Moyudan, Arifin menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk membangkitkan ekonomi yang terdampak pandemi COVID-19. ”Sangat diharapkan pula pasar lebaran ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi pelaku UMKM dan masyarakat Moyudan, dan sekitarnya,” terang Arifin.

Arifin berharap, gelaran pasar lebaran ini juga dapat memotivasi masyarakat untuk berbelanja di UMKM asli Sleman, sesuai dengan moto kegiatan yaitu “Borong Bareng Produk UMKM”.

Pelaksanaan kegiatan pasar lebaran di Moyudan sendiri melibatkan para pelaku UMKM di Kapanewon Moyudan yang tergabung dalam wadah Forkom UMKM Moyudan. Berbagai produk unggulan yang ada disediakan antara lain aneka kuliner, kerajinan, dan fashion.

Kegiatan tetap menerapakan protokol kesehatan ketat dengan dilakukannya pemantauan suhu badan, menjaga jarak, cuci tangan dengan sabun/handsanitizer, dan semua yang hadir mengenakan masker.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan sembako dari Bank BPD DIY Cabang Sleman sebanyak 100 paket sembako. (Edy/KIM Moyudan)




Lakukan Penelitian Emisi Karbondioksida, Siswi MAN 4 Sleman Raih Medali Internasional

Karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari emisi kendaraan roda 2 maupun roda 4 sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, bahkan menjadi salah satu dari silent killers. Dibutuhkan tindakan dan inovasi untuk menghadapinya.

Hal tersebut yang menarik perhatian dua siswi MAN 4 Sleman, Siti Aisyah dan Nuraini Ratna Wulandari. Mereka berdua melakukan penelitian mengenai pemanfaatan biji mahoni (Swintenia Biofiler) untuk menyerap karbondioksida (CO2). Atas penelitian tersebut, kedua remaja ini menerima penghargaan medali perunggu dari Youth International Science Fair (YISF) dan Indonesian Young Scientists Association (IYSA) untuk kategori Enviromental Research.

“Diperlukan antisipasi dengan menciptakan masker yang bisa menyerap karbondioksida. Kami meneliti biji mahony (Swietenia Biofilter) untuk menyerap karbondioksida (CO2). Biji mahony diolah dan dibuat masker sebagai filter. Masker tersebut dijadikan alternatif mencegah keracunan karbondioksida,” kata Siti Aisyah bersama Nuraini Ratna Wulandari ketika mengikuti acara pengumuman penghargaan yang disiarkan secara langsung melalui platform Youtube, Sabtu (17/04/2021), di MAN 4 Sleman, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman.

Kedua remaja putri tersebut menuturkan, bahan yang mereka gunakan dalam penelitian adalah kertas filter, bubuk biji mahoni (Swietenia Biofilter), kanji, air dan masker. Dari hasil percobaannya diketahui bahwa mahoni (Swietenia Biofilter) mampu menurunkan kadar CO2 dari 875 PPM menjadi 184 PPM.

“Hal ini mengindikasikan bahwa biji mahoni (Swietenia Biofilter) mampu mengikat CO2 lebih baik dari pada penyaring (filter) biasa.  Ikatan CO oleh filter mahoni mampu mencapai 79.5%, sedangkan filter biasa hanya mampu mengikat 20.5% CO di udara. Biji mahoni  cocok digunakan sebagai penyerap karbondioksida (CO),” beber Nuraini.

Hasil percobaan yang mereka lakukan kemudian ditulis dalam satu artikel bahasa Inggris dengan judul Natural Adsorbent from Mahogany Seeds (Swietenia Macrophylla) to Reduce Motor Vehicle Emissions (Penyerapan alami biji mahoni untuk menurunkan emisi kendaraan bermotor), dan diikutsertakan dalam acara Youth International Science Fair (YISF) yang kemudian meraih penghargaan.

Prestasi yang diraih Siti Aisyah dan Nuraini Ratna Wulandari ini juga mendapat apresiasi oleh Kepala MAN 4 Sleman, Muhammad Yusuf serta para guru dan pegawai MAN 4 Sleman. (Eds/KIM Moyudan)