Sosialisasi Pilurah Secara Elektronik di Padukuhan Sombangan Moyudan

Jumat (19/3/2021), warga di Padukuhan Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman menerima sosialisasi proses Pemilihan Lurah (Pilurah) secara elektronik (E-Voting). Kegiatan yang diadakan di rumah Dukuh Sombangan ini diikuti oleh tokoh masyarakat, Ketua RT, RW dan sebagian warga. Selain itu, hadir pula Carik Kalurahan Sumbersari serta perwakilan Tenaga Teknik Utama (TTU) Kabupaten Sleman.

Pada kesempatan tersebut, Carik Sumbersari Junaidi pemilihan Lurah di Sumbersari akan dilaksanakan serentak bersama dengan 35 kalurahan yang ada di Kabupaten Sleman. “Kalau tidak ada perubahan akan dilaksanakan tanggal 22 Agustus 2021. Sedangkan masa tugas Lurah sekarang akan berakhir pada tanggal 15 September 2021,” terang Junaidi.

Sementara itu, Tenaga Teknik Utama (TTU) Kabupaten Sleman, Ahyar Nasukha menyebutkan bahwa pelaksanaan Pilurah secara elektronik ini dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan akurat. “Mudah karena setiap orang bisa melakukanya. Cepat, karena setelah selesai cepat bisa diketahui dengan tidak menghitung. Serta akurat, hasilnya bisa dipertanggung jawabkan dan kerahasiaan tetap dijamin,” jelas Ahyar.

Selesai sosialisasi, acara kemudian dilanjutkan dengan simulasi pemilihan secara E-Voting.  Sugiyanto, salah satu peserta menyampaikan bahwa sistem ini cukup ptaktis dan mudah dipahami. “ Sangat mudah dipahami, baik oleh kaum milenial maupun lansia,” ucapnya. (Giek/KIM Moyudan)




MAN 4 Sleman Aktif Dukung Para Murid untuk Bebas Anemia

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Sleman mendapat penghargaan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman atas dukungan terhadap program Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk mencegah anemia pada Jum’at (12/3/2021). Penghargaan diserahkan oleh petugas Puskesmas Pakem, dan diterima oleh Ihsan Sanusi, Kepala Tata Usaha (KTU) MAN 4 Sleman.

“Atas nama madrasah kami sampaikan terima kasih atas penghargaan ini. Sudah menjadi komitmen kami untuk memberikan layanan terbaik bagi siswa serta turut mensukseskan program Pemerintah Kabupaten Sleman dalam upaya meningkatkan kesehatan remaja putri,” jelas Ihsan mewakili Kepala MAN 4 Sleman ketika menerima penghargaan di MAN 4 Sleman, di Kalurahan Harjobinangun Sleman.

Sementara itu, Pembina UKS MAN 4 Sleman, Yulianto yang mendampingi penerimaan penghargaan menuturkan bahwa MAN 4 Sleman sangat mendukung program dari Dinkes Sleman ini, karena MAN 4 menyadari pentingnya agar remaja putri untuk terbebas dari anemia. Hal tersebut agar nantinya ketika remaja putri tersebut hamil, anaknya nanti sehat dan terbebas dari stunting (kerdil).

“Beberapa sekolah menolak TTD dengan alasan teknis penyampaian. Kami dari madrasah tetap komitmen untuk membagikan TTD ini,” terang Yulianto.

Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah melalukan berbagai cara agar program dari Dinkes Sleman ini dapat mencapai targetnya, yaitu para remaja putri yang ada di sekolah.

Secara teknis kami minta siswa perwakilan kelas datang, kemudian membagikan ke teman-temannya. Juga kita berikan saat kegiatan tatap muka terbatas seperti pendampingan,  pengambilan  tugas  atau   Achievement Motivtion Training (AMT) yang digelar dua shift,” jelasnya lagi.

Anemia sendiri merupakan kondisi yang rentan diderita oleh para remaja, khususnya putri. Hal tersebut ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 12 mg/100 cc darah. Rendahnya hemoglobin mengakibatkan remaja putri (rematri) rawan 5 L, yaitu lemah, letih, lesu, lunglai, lemas yang ditandai dengan wajah pucat, telapak tangan pucat dan juga kelopak mata yang pucat. (KIM Moyudan/eds)




Karakter Mulia dan Tujuan yang Jelas adalah Kunci Sukses Seseorang

Salah satu hal yang harus diperhatikan bagi peserta didik adalah akhlak dan karakter mulia. Seorang peserta didik harus memiliki karakter dan kepribadian yang disiplin, serta menjunjung tinggi kejujuran. Hal itu yan disampaikan oleh Mohamad Yusuf, Kepala Sekolah MAN 4 Sleman, ketika membuka acara Achievement Motivation Training (AMT) bagi peserta didik kelas XII IPS dan IIK, Rabu (10/3/2021) di Aula MAN 4 Sleman.

Yusuf mengingatkan agar para peserta didik memiliki niat dan hasrat untuk menomorsatukan pendidikan, supaya dapat meraih kesuksesan hidup.

“Sebagai peserta didik madrasah, untuk dapat mencapai kesuksesan harus lulus terlebih dahulu dari madrasah ini. Oleh karena itu, ikuti dan jalani semua persyaratan yang diberlakukan di madrasah agar lulus dengan nilai baik. Dengan nilai baik akan lebih mudah studi lanjut kuliah di Perguruan Tinggi yang diinginkan,“ pesan Yusuf.

Sementara itu, Nurwahyudin Al-Azis, seorang motivator yang sudah sering mengisi di tingkat nasional menegaskan bahwa sukses itu harus dibangun dari diri sendiri. Menurutnya salah satu cara usaha yang dapat dilakukan oleh peserta didik adalah rajin berolahraga, seperti senam dan senam otak untuk memicu otak bagian Neurocortex lebih aktif.

Azis juga menambahkan bahwa penting bagi peserta didik untuk mengenali penyebab kegagalan dalam diri seseorang, seperti tujuan yang tidak jelas, menganggap tujuan mustahil, tidak merasa harus, tidak fokus, pembenaran kesalahan, beralasan, menyalahkan, dan tidak tahu jalur menuju sukses.

“Peserta didik kelas XII ibarat berada di tempat yang posisinya genting. Maka harus sadar posisi, supaya tidak terjatuh. Untuk sukses perlu memiliki tujuan yang jelas, pastikan tujuan dituliskan,” beber Azis ketika memberikan materi mengenai Auto Suggestion Power.

Untuk menghindari kegagalan, seseorang harus menghapus beberapa sifat yang dapat menjadi penyebabnya seperti minder, pesimis, malas, dan ceroboh. “Minder adalah penghambat kesuksesan, pesimis penghalang kesuksesan, malas adalah musuh utama kesuksesan, sedangkan ceroboh adalah penghancur kesuksesan. Ingat prestasi luar biasa tidak bisa diraih dengan biasa,” tandas motivator yang juga pernah mengisi pelatihan di berbagai provinsi itu. (KIM Moyudan/eds)




Public Hearing Kenalkan Lebih Jauh tentang RTH pada Masyarakat

Pada Jumat (24/7/2020) bertempat di Kecamatan Ngaglik telah
diselenggarakan Public Hearing tentang Raperda Ruang Terbuka Hijau oleh anggota
DPRD Sleman, Abdul Kadir, dengan mengundang dua narasumber yaitu Dwi Anta
Sudibya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman dan Aksan Susanto, Konsultan
Lingkungan.

Public Hearing diselenggarakan dengan tetap mengikuti protokol Covid-19 yaitu menyediakan cuci tangan, menggunakan masker, dan jaga jarak.

Dijelaskan Dwi Anta Sudibya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area yang memanjang berbentuk jalur dan atau area mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

“Dalam penataan ruang diatur bahwa 30% suatu wilayah/area
harus berupa RTH yang terdiri dari 20% publik dan 10% privat,” beber Dwi Anta.

Ditambahkannya, RTH publik adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum, contohnya taman kota, hutan kota, sabuk hijau (green belt), RTH di sekitar sungai, pemakaman, dan rel kereta api. Sedangkan RTH Privat adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas, antara lain kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.

Dwi Anta kemudian menjelaskan manfaat RTH yakni untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, serta mencegah terhadap kerusakan lingkungan.

Selain itu dijelaskan pula empat fungsi RTH, yakni fungsi
ekologis, antara lain paru-paru kota, pengatur iklim mikro, sebagai peneduh,
produsen oksigen, penyerap air hujan, penyedia habitas satwa, penyerap polutan
dalam udara, air dan tanah, serta penahan angin. Fungsi sosial budaya adalah
untuk menggambarkan ekspresi budaya lokal, media komunikasi, dan tempat rekreasi
warga. Fungsi ekonomi adalah untuk sumber produk yang bisa dijual seperti
tanaman bunga, buah, daun, dan sayur mayur. Beberapa juga berfungsi sebagai
bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain. Sementara, fungsi
estetika antara lain untuk meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota
baik skala mikro (halaman rumah atau lingkungan pemukiman), maupun makro
(lansekap kota secara keseluruhan), menciptakan suasana serasi dan seimbang
antara area terbangun dan tidak terbangun.

Di sisi lain, Aksan Susanto, Konsultan Linkungan mengemukakan gagasan menarik dalam Public Hearing ini yaitu dibangunnya RTH sekaligus membangun jalur sepeda di sepadan sungai.

“Track di sepadan sungai yang tertata dengan baik
akan memiliki manfaat ganda, pertama sebagai RTH jalur wisata sepeda dan kedua
mencegah orang buang sampah dan BAB di sungai sehingga kelestarian sungai tetap
terjaga,” usulnya. (KIM Moyudan/Harjito)




Grojogan Watu Purbo Siapkan Sejumlah Protokol Kesehatan

Sektor pariwisata di Kabupaten Sleman harus mulai menata diri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo bahwa sektor pariwisata Sleman harus menyiapkan, melatih, dan   melaksanakan protokol kesehatan apabila ingin memulai lagi geliat perekonomian wisata. Hal ini tidak lain untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Salah satu obyek wisata yang sudah menata diri untuk menyambut kunjungan wisatawan kembali adalah Grojogan Watu Purbo yang berlokasi di Bangunrejo, Merdikorejo, Tempel, Sleman.

Kesiapan Grojogan Watu Purbo ini mendapatkan perhatian. Terbukti menjadi titik pertama yang disambangi oleh rombongan Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo dalam kegiatan keliling bersama stafnya, perwakilan dari Badan Otorita Borobudur, PHRI, GIPI, dan media ke sejumlah objek wisata di Sleman pada Sabtu (4/7/2020).

Dalam kesempatan tersebut, Singgih Raharjo menyampaikan bahwa untuk menyongsong pembukaan secara resmi destinasi wisata selain telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat juga harus mendapat rekomendasi dinas terkait.

“Fenomena
di lapangan menunjukkan saat ini meskipun belum dibuka resmi, pengunjung mulai
banyak yang datang terutama hari Sabtu dan Minggu kebanyakan para pesepeda yang
sudah merasakan suntuk dan bosan berada di rumah sehingga mememerlukan refreshing,”
ujarnya.

Sementara itu, Aris Wibawa, Kepala Desa Merdikorejo membeberkan sejumlah persiapan dari pengelola objek wisata, yakni wajib pakai masker bagi pengelola dan wisatawan, disediakan tempat cuci tangan dengan sabun di beberapa titik, cek suhu tubuh menggunakan thermo gun di pintu masuk, dan jaga jarak.

“Jalur
masuk dan keluar pengunjung yang berbeda serta warung-warung yang ada di Watu
Purbo telah dibuat pemisah antara penjual dan pembeli dengan pembatas plastik
dan tentunya kami masih harus mengajukan dan surat permohonan untuk kesiapan
destinasi wisata,” tandasnya. (Harjito/KIM Moyudan)