Permudah Administrasi Asesmen Guru, IGABA Moyudan Kenalkan Platform SIMETRI Berbasis AI

Sleman – Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA) Moyudan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Inovasi Assessment Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di SD Muhammadiyah Ngijon 1, Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman pada Sabtu (26/9/2026).

Pelatihan yang diikuti para kepala sekolah dan guru PAUD serta TK Aisyiyah di bawah naungan Muhammadiyah tersebut menghadirkan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kulsum Nur Hayati, sebagai narasumber utama.

Dalam paparan bertajuk Sistem Monitoring dan Evaluasi Tumbuh Kembang Anak Terintegrasi (SIMETRI), Kulsum mengenalkan platform pintar berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk mendukung pelaksanaan asesmen autentik pada anak usia dini secara praktis dan otomatis.

“Keunggulan SIMETRI meliputi pengisian asesmen anak secara praktis, pengelolaan assessment yang terintegrasi, analisis assessment dengan bantuan AI, pembuatan narasi perkembangan otomatis, analisis assessment per topik, dan penyusunan laporan semester dengan bantuan AI,” ujar Kulsum Nur Hayati.

Kulsum menambahkan, penggunaan SIMETRI mempermudah pendidik dalam menghasilkan rekam data yang komprehensif tanpa terbebani administrasi manual.

“Output yang diperoleh dari SIMETRI antara lain riwayat assessment harian, laporan dan analisis perkembangan anak per topik, dan laporan semester,” jelas Kulsum Nur Hayati.

Melalui praktik langsung simulasi pengisian data harian hingga pencetakan laporan otomatis, platform AI ini diharapkan dapat mengefisiensikan waktu administratif guru PAUD, sehingga fokus pendampingan tumbuh kembang anak dapat lebih optimal. (Giek/KIM Moyudan)




MPK dan OSIS MAN 4 Sleman Gelar Musyawarah Besar, Sampaikan LPJ Kepengurusan

Sleman — Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) MAN 4 Sleman menggelar Musyawarah Besar (Mubes) sebagai bentuk pertanggungjawaban kepengurusan selama satu periode. Kegiatan berlangsung di Aula 2 MAN 4 Sleman, Jumat (25/9/2026), dengan agenda utama penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) masing-masing organisasi.

Mubes diikuti 43 murid yang merupakan anggota MPK dan OSIS. Kegiatan turut dihadiri Staf Wakabid Kesiswaan MAN 4 Sleman Edy Suparyanto, Pembina OSIS Agus Musthofah, dan Pembina MPK Nira Intan Sari.

Mewakili madrasah, Edy Suparyanto menyampaikan bahwa Mubes tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran murid dalam berdemokrasi dan berorganisasi.

“Mubes merupakan proses belajar berdemokrasi, belajar bermusyawarah, belajar menyampaikan pendapat, sekaligus belajar menghargai pendapat orang lain,” ujar Edy saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.

Ia juga mengajak para murid menjadikan organisasi sebagai ruang untuk belajar kepemimpinan, mengembangkan kreativitas, membangun kepedulian sosial, dan menumbuhkan karakter yang baik. Menurutnya, kepemimpinan tidak selalu ditunjukkan melalui banyak berbicara, tetapi juga melalui keteladanan, tindakan, dan kesediaan memberikan manfaat bagi orang lain.

Dalam forum tersebut, masing-masing organisasi menyampaikan laporan kegiatan, tingkat keterlaksanaan program, hingga laporan keuangan. Penyampaian LPJ dilakukan secara terbuka sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban pengurus.

“Semua kami sampaikan secara transparan. Terima kasih atas kerja sama selama ini dan terima kasih atas kritik serta saran terhadap laporan pertanggungjawaban kami,” ujar Wakil Ketua OSIS, Rezika Nur Safitri saat menyampaikan LPJ.

Melalui Mubes, evaluasi kepengurusan tidak hanya menjadi bentuk pertanggungjawaban, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran untuk meningkatkan kualitas tata kelola organisasi pada periode berikutnya.

Kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme peserta selama proses penyampaian laporan, tanggapan, dan evaluasi. Mubes diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi murid untuk semakin dewasa dalam berorganisasi, bertanggung jawab, serta mampu menyampaikan gagasan secara santun dan konstruktif. (Edy/KIM Sumber Biwar Moyudan)




Perkamuda MA DIY 2026 Resmi Ditutup, Perkuat Karakter dan Kepemimpinan Generasi Madrasah

Sleman — Perkemahan Murid Madrasah (Perkamuda) Madrasah Aliyah (MA) DIY Tahun 2026 resmi berakhir pada Rabu (23/9/2026). Sebanyak 456 murid MA se-DIY mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya mengasah keterampilan dan jiwa kompetitif, tetapi juga menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, serta karakter kepemimpinan.

Penutupan Perkamuda ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Sidik Pramono. Dalam sambutannya, Sidik menegaskan bahwa kegiatan kepramukaan di madrasah memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berkarakter dan mandiri.

Selama perkemahan, peserta mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan dan perlombaan. Mereka juga terlibat dalam aktivitas kelompok yang menuntut kedisiplinan, kerja sama, kemandirian, dan tanggung jawab. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas yang diharapkan dapat membekali peserta dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Menurut Sidik, Perkamuda tidak sekadar menjadi ajang berkumpul dan berkompetisi, tetapi juga merupakan bagian dari proses pendidikan karakter di lingkungan madrasah.

Ia menyampaikan empat pesan utama kepada para peserta. Pertama, menjaga integritas iman dan nasionalisme. Kedua, membangun keterampilan dan kemandirian. Ketiga, menumbuhkan semangat moderasi beragama dan kepedulian sosial. Keempat, membangun karakter melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

“Dalam pelaksanaannya, kegiatan perkemahan madrasah tetap melaksanakan kewajiban salat dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta rasa nasionalisme,” ungkapnya.

Terkait Kurikulum Berbasis Cinta, Sidik menekankan pentingnya menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, ilmu pengetahuan, diri sendiri, sesama, serta alam.

“Terbangunnya karakter yang berdasar Kurikulum Berbasis Cinta agar senantiasa disebarluaskan sehingga terbangun di lingkungan sekitar akan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya makin meningkat, kecintaan terhadap ilmu, diri sendiri dan sesama, dan kecintaan terhadap alam,” jelas Sidik.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama Perkamuda tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Para peserta diharapkan mampu menjadi duta pramuka yang membawa dan membagikan praktik baik di madrasah maupun lingkungan sekitar, khususnya dalam membangun toleransi, moderasi beragama, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap lingkungan.

“Pramuka madrasah harus mampu melahirkan generasi muda yang berkarakter, mandiri, kreatif, inovatif, berdedikasi, memiliki akhlak dan budi pekerti luhur, tanggung jawab, kepedulian sosial, moderasi beragama serta cinta lingkungan,” pesan Sidik.

Pada penutupan Perkamuda MA DIY 2026 turut diumumkan para juara dari berbagai cabang lomba dan kontingen terbaik. Dari 14 cabang lomba yang dipertandingkan, Kontingen MA Kabupaten Sleman menduduki peringkat pertama, disusul Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo.

Menutup sambutannya, Sidik mengingatkan bahwa semangat berprestasi tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari proses dan usaha yang dilakukan.

“Prestasi bukan hanya tentang siapa yang berada di urutan pertama, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memberikan yang terbaik. Terus berkarya, terus berprestasi dan terus menginspirasi. Pramuka Madrasah Istimewa, berkarakter tangguh berbasis cinta,” pungkasnya. (Edy – KIM Sumber Biwara)




WKSBM ke-100 Terbentuk di Sleman, Perkuat Kepedulian Sosial Berbasis Masyarakat

Sleman — Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sleman terus mendorong pembentukan Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) di tingkat padukuhan sebagai upaya memperkuat peran masyarakat dalam menangani permasalahan sosial.

Hal tersebut disampaikan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kapanewon (TKSK) Ngemplak, Suwarni, dalam sosialisasi penumbuhan WKSBM di Padukuhan Cokrogaten, Kalurahan Bimomartani, Kapanewon Ngemplak, Kamis (24/9/2026).

Suwarni menjelaskan, pembentukan WKSBM memiliki dasar hukum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial dan Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 42/HUK/2004 tentang Pelaksanaan Pemberdayaan WKSBM.

Menurutnya, WKSBM merupakan sistem pengerahan potensi, sumber daya, dan usaha kesejahteraan sosial yang tumbuh, berkembang, serta dikelola oleh masyarakat.

“Tujuan WKSBM meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat solidaritas warga, serta memperluas jaringan pelayanan kesejahteraan sosial bagi masyarakat kurang mampu dan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS),” jelasnya.

Ia menambahkan, WKSBM juga berfungsi sebagai wadah koordinasi, kerja sama, dan pembelajaran bersama antarlembaga kesejahteraan sosial di tingkat lokal.

Sementara itu, anggota Forum Koordinasi (FK) WKSBM Kabupaten Sleman, Lilia Ciptaningsih, mengatakan WKSBM menjadi wadah untuk menghimpun berbagai potensi masyarakat di tingkat akar rumput dalam membantu menangani permasalahan sosial.

“Kami yakin selama ini kegiatan sosial sudah dijalankan masyarakat, tetapi belum terstruktur. Melalui WKSBM, seluruh potensi yang ada kita gabungkan agar menjadi lebih kuat dan kokoh,” ujarnya.

Lilia menjelaskan, permasalahan sosial tidak hanya berkaitan dengan anak terlantar, lanjut usia terlantar, dan masyarakat kurang mampu, tetapi juga warga yang menghadapi berbagai persoalan sosial lainnya.

Menurutnya, penanganan dapat dilakukan melalui bantuan material maupun pendampingan dan rujukan bagi warga yang membutuhkan dukungan secara psikososial.

“Secara lahiriah yang kasatmata bisa kita bantu dengan material, tetapi bagi yang menghadapi masalah sosial secara batiniah, kita berikan pendampingan dan rujukan,” katanya.

Melalui semangat kebersamaan dan musyawarah, masyarakat Padukuhan Cokrogaten kemudian membentuk WKSBM yang diberi nama WKSBM Cokro Bakti. Pembentukan tersebut menjadikan WKSBM Cokro Bakti sebagai WKSBM ke-100 di Kabupaten Sleman.

Dinsos Kabupaten Sleman berharap keberadaan WKSBM Cokro Bakti dapat memperkuat peran masyarakat sekaligus membantu pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan sosial di tingkat lokal.

Ke depan, Dinsos Sleman terus mendorong terbentuknya WKSBM di seluruh padukuhan. Dari total padukuhan di Kabupaten Sleman, diharapkan setiap padukuhan memiliki WKSBM sebagai wadah penguatan kepedulian dan kesejahteraan sosial berbasis masyarakat. (Giek/KIM Moyudan)




Ciptakan Campaign Board, Mahasiswa UNY Gaungkan Kesadaran Hidup Sehat di MAN 4 Sleman

Sleman — Pembelajaran Bahasa Inggris di MAN 4 Sleman dikemas secara kreatif melalui tema “Healthy Life, Healthy Future”. Siswa kelas XI A diajak mengembangkan kemampuan menulis descriptive text sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut dipandu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nur’aini Kholisa Sa’idah, di bawah bimbingan guru pamong MAN 4 Sleman, Edy Suparyanto, Selasa (22/9/2026).

“Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan menulis, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kesadaran pola hidup sehat sejak usia remaja,” ujar Nur’aini Kholisa Sa’idah.

Menurutnya, pembelajaran tersebut juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan (Good Health and Well-being) serta SDG 4 tentang pendidikan berkualitas (Quality Education).

Pembelajaran menggunakan Genre-Based Approach (GBA), yakni pendekatan yang membimbing siswa memahami, menyusun, hingga menghasilkan teks secara bertahap. Setelah mempelajari karakteristik dan unsur kebahasaan descriptive text, siswa mengaplikasikan pemahamannya melalui topik makanan dan minuman sehat.

Pada tahap Joint Construction of the Text (JCOT), sebanyak 35 siswa dibagi menjadi 12 kelompok untuk berkolaborasi menyusun teks deskriptif. Nur’aini berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa dalam mengembangkan ide, memperbaiki tata bahasa, hingga mengolah hasil tulisan menjadi karya visual.

Hasil karya tersebut kemudian dirangkai menjadi Campaign Board bertajuk “Healthy Life, Healthy Future”. Media visual ini memuat berbagai deskripsi mengenai makanan dan minuman sehat karya siswa. Kegiatan tersebut sekaligus mengintegrasikan literasi bahasa dengan literasi kesehatan dalam proses pembelajaran.

Salah satu siswa kelas XI A, Khaula, mengaku antusias mengikuti pembelajaran kolaboratif tersebut.

“Belajar Bahasa Inggris kali ini terasa lebih seru dan berbeda karena kami bisa berdiskusi membuat Campaign Board bersama teman-teman. Selain melatih kemampuan menulis descriptive text, kami juga makin paham pentingnya memilih makanan dan minuman sehat untuk kegiatan sehari-hari,” ungkapnya.

Guru pamong MAN 4 Sleman, Edy Suparyanto mengapresiasi inovasi pembelajaran yang diterapkan tersebut. Menurutnya, siswa menjadi lebih antusias karena materi Bahasa Inggris tidak hanya dipelajari secara teoritis, tetapi juga dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Pembelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan nyata dan memberikan manfaat. Apalagi disampaikan oleh mahasiswa yang usianya tidak terpaut jauh dengan siswa, sehingga komunikasi dan penyampaian materi menjadi lebih dekat,” jelas Edy.

Nur’aini berharap Campaign Board yang dihasilkan siswa tidak berhenti sebagai tugas pembelajaran di kelas, tetapi dapat menjadi media edukasi bagi warga sekolah.

“Kehadiran Campaign Board ini membuat hasil pembelajaran tidak berhenti sebagai tugas kelas saja, tetapi menjadi media edukasi untuk menyampaikan pesan pilihan hidup sehat kepada seluruh lingkungan sekolah,” tuturnya.

Nur’aini melaksanakan PK di MAN 4 Sleman selama 10 minggu atau sekitar 2,5 bulan dan mengajar di empat kelas. Selain melaksanakan praktik mengajar, ia juga terlibat dalam berbagai tugas lain dalam pengelolaan madrasah sebagaimana yang dilakukan oleh guru.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa PK UNY menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan kompetensi akademik dengan kebutuhan nyata siswa. Pembelajaran yang kontekstual dan kolaboratif diharapkan dapat mendukung pendidikan berkualitas sekaligus mendorong terbentuknya generasi muda yang memiliki kesadaran terhadap pola hidup sehat.

(Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)