Pertama di Sleman, Forum WKSBM Tingkat Kapanewon Terbentuk di Ngemplak

Sleman – Sebanyak 12 Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) se-Kapanewon Ngemplak resmi membentuk Forum WKSBM Kapanewon Ngemplak. Forum tersebut menjadi forum WKSBM tingkat kapanewon pertama yang terbentuk di Kabupaten Sleman.

Pembentukan forum berlangsung pada Selasa (15/9/2026) di Kapanewon Ngemplak.  Forum tersebut dihadiri Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Ngemplak Ribut Wahyuni, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kapanewon (TKSK) Ngemplak Suwarni, Perwakilan Forum WKSBM Sleman Tri Yoga Zuliyanto, serta perwakilan 12 WKSBM di Kapanewon Ngemplak.

Ribut Wahyuni mengapresiasi terbentuknya forum tersebut. Menurutnya, WKSBM memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam menangani berbagai persoalan sosial di tingkat masyarakat.

Ia mendorong WKSBM untuk memperkuat sinergi, meningkatkan akurasi pendataan, serta mendorong kemandirian warga. Menurutnya, data yang akurat diperlukan sebagai dasar dalam menentukan langkah dan kebijakan.

“WKSBM bergerak dengan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat. Karena itu, semangat kebersamaan perlu terus dijaga,” ujarnya.

Menurut Ribut, pembentukan Forum WKSBM tingkat kapanewon diperlukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperkuat jejaring antar-WKSBM. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi dalam menjalankan program kesejahteraan sosial.

Sementara itu, perwakilan Forum WKSBM Sleman, Tri Yoga Zuliyanto mengatakan WKSBM dapat menjadi wadah untuk mengembangkan potensi masyarakat. Menurutnya, WKSBM yang berjalan baik perlu didukung pengurus yang aktif, program yang nyata, perencanaan yang baik, serta pelaksanaan kegiatan yang akuntabel.

“Administrasi yang tertib dan akuntabilitas juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan WKSBM,” katanya.

Tri menambahkan, keberadaan WKSBM sekaligus menjadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai sosial dan budaya lokal, seperti kepedulian, tepa selira, dan gotong royong.

Dengan musyawarah mufakat dan semangat gotong royong, 12 WKSBM se-Kapanewon Ngemplak sepakat membentuk Forum WKSBM Kapanewon Ngemplak. Forum ini menjadi yang pertama terbentuk pada tingkat kapanewon di Kabupaten Sleman. (Giek/KIM Moyudan)




AI Jadi Jembatan Pendidikan Inklusif, Kepala MAN 4 Sleman Presentasi di KICE

Sleman — Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya menawarkan kemudahan teknologi, tetapi juga membuka akses terhadap informasi dan pendidikan bagi penyandang disabilitas. Hal tersebut menjadi salah satu gagasan yang disampaikan Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Ma’ruf, dalam Kalijaga International Conference on Education (KICE) di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (15/9/2026).

Dalam forum tersebut, Arif mempresentasikan penelitian bertajuk “Utilization of Artificial Intelligence by Blind Students in Yogyakarta”. Penelitian kualitatif deskriptif ini melibatkan empat mahasiswa tunanetra dari empat perguruan tinggi di Yogyakarta, terdiri atas tiga perguruan tinggi negeri dan satu perguruan tinggi swasta.

Penelitian tersebut mengungkap pemanfaatan berbagai aplikasi berbasis AI, antara lain ChatGPT, Gemini, NotebookLM, Perplexity, AI Studio, Suno AI, Be My Eyes, Envision AI, dan Cash Reader. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa tunanetra dalam membaca teks, memahami informasi, mengakses dokumen, mengenali objek, hingga mendukung aktivitas akademik secara lebih mandiri.

“Bagi mahasiswa tunanetra, AI bukan sekadar teknologi. AI dapat menjadi jembatan menuju informasi, pengetahuan, dan kemandirian,” ujar Arif.

Menurutnya, perkembangan AI perlu dilihat dalam perspektif pendidikan inklusif. Teknologi tidak hanya dinilai dari kecanggihannya, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan oleh semua orang, termasuk mahasiswa tunanetra.

Dalam paparannya, Arif turut mengangkat berbagai tantangan yang masih dihadapi mahasiswa tunanetra dalam memperoleh akses pendidikan. Bahan bacaan yang tidak aksesibel, dokumen visual, gambar, serta kebutuhan memperoleh informasi secara cepat menjadi sejumlah kendala dalam aktivitas akademik.

Teknologi asistif berbasis AI, seperti computer vision, pembaca teks, dan conversational AI, dapat membantu menerjemahkan informasi menjadi suara atau teks yang lebih mudah diakses. Meski demikian, Arif menekankan bahwa AI bukan solusi tanpa risiko.

Sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan antara lain akurasi informasi, privasi dan keamanan data, bias AI, ketergantungan terhadap teknologi, serta kebutuhan peningkatan literasi digital dan literasi AI bagi pengguna tunanetra.

Presentasi tersebut mendapat perhatian dari peserta konferensi. Salah seorang audiens bahkan menggambarkan kesannya dengan satu kata, “Speechless”.

Ungkapan tersebut mencerminkan kesan bahwa pembahasan AI tidak berhenti pada kecanggihan teknologi, tetapi juga menyentuh persoalan akses dan kesetaraan dalam pendidikan.

Melalui penelitian tersebut, Arif membawa pengalaman mahasiswa tunanetra ke ruang akademik internasional sekaligus mengajak peserta melihat AI dari perspektif yang lebih inklusif. Teknologi, menurutnya, akan semakin bermakna ketika mampu membuka akses dan memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.

(Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Pos Jaga Warga Semingin Diresmikan, Perkuat Keamanan Lingkungan

Sleman – Lurah Sumbersari, Sukadi meresmikan Pos Jaga Warga di Padukuhan Semingin, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Senin (14/9/2026). Keberadaan pos tersebut diharapkan memperkuat keamanan dan ketertiban lingkungan melalui partisipasi aktif masyarakat.

Peresmian dihadiri Babinsa, Bhabinkamtibmas Sumbersari Aiptu Endri Destana, Dukuh Semingin Edi Saputra, Ketua RT/RW, serta warga setempat.

Sukadi mengapresiasi swadaya dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan Pos Jaga Warga. Menurutnya, keamanan dan ketertiban tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Dengan adanya Pos Jaga Warga ini, kami berharap kebersamaan dan kewaspadaan kolektif semakin meningkat dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujarnya.

Sukadi menjelaskan, sesuai Peraturan Gubernur DIY Nomor 28 Tahun 2021, Jaga Warga berperan membantu aparat dan pamong kalurahan dalam menjaga keamanan lingkungan. Selain mendukung pencegahan gangguan kamtibmas, Jaga Warga juga berperan dalam penyelesaian konflik sosial secara damai, penyampaian aspirasi masyarakat, serta pelestarian budaya gotong royong dan tepo seliro.

Bhabinkamtibmas Sumbersari, Aiptu Endri Destana mengatakan keberadaan Pos Jaga Warga dapat memperkuat sistem keamanan lingkungan (siskamling) dan deteksi dini terhadap potensi gangguan kamtibmas.

“Pos ini bisa memperkuat siskamling sebagai antisipasi kriminalitas sekaligus membantu mendeteksi secara dini gangguan keamanan dan ketertiban di tingkat padukuhan,” katanya.

Sementara itu, Dukuh Semingin, Edi Saputra menyampaikan bahwa pembangunan Pos Jaga Warga dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Ia berharap semangat gotong royong tersebut terus dipertahankan dan menjadi modal dalam menjaga keamanan lingkungan.

“Peresmian ini bukan hanya seremonial, tetapi menjadi titik awal pembangunan yang berkelanjutan. Kami berharap mendapat bimbingan dari Pemerintah Kalurahan Sumbersari, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas agar warga Semingin tetap konsisten menjaga lingkungan,” ujarnya. (Giek/KIM Moyudan)




Pendakwah Dituntut Solutif dan Adaptif, Muballigh Muhammadiyah Moyudan Dibekali Psikologi Dakwah

Sleman – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Moyudan membekali para pendakwahnya dengan wawasan psikologi dakwah dalam Pembinaan Korp Muballigh yang digelar di Aula SMK Muhammadiyah 1 Moyudan, Sleman pada Minggu (13/9/2026). Pelatihan ini diselenggarakan untuk mendorong para muballigh agar tidak sekadar berkhotbah, melainkan mampu memahami keanekaragaman karakter jamaah serta memberikan solusi konkret atas permasalahan umat.

Narasumber materi Psikologi Dakwah, Ahmad Ahsan Jihadan, menegaskan bahwa pendekatan psikologis sangat krusial mengingat objek dakwah adalah manusia dengan latar belakang dan dinamika sosial yang beragam. Menurutnya, keteladanan sikap dan perilaku seorang dai di kehidupan sehari-hari justru menjadi cerminan dakwah yang berbobot.

“Dakwah adalah ajakan kepada umat, harus informatif, persuasif, dan entertain. Saat berdakwah, harus ada informasi baru, atau informasi lama tetapi dengan perspektif baru,” ujar Ahsan Jihadan.

Ia menerangkan bahwa aspek informatif menuntut muballigh memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperluas jangkauan dakwah yang relevan dengan zaman. Sementara aspek persuasif membutuhkan teladan nyata dan support system yang mendampingi jamaah menuju perubahan perilaku positif.

Mengenai aspek entertain, Ahsan menggarisbawahi bahwa daya tarik dakwah yang sesungguhnya terletak pada efektivitasnya dalam menjawab persoalan masyarakat, bukan sekadar humor di atas panggung.

“Hiburan yang sejati adalah berupa solusi terhadap suatu permasalahan yang dihadapi umat, problem solving. Humor boleh, tapi dengan porsi secukupnya, jangan sampai melanggar syariat dan etika,” tegasnya.

Selain itu, Ahsan berpesan agar para pendakwah senantiasa bersikap ramah, bersahaja, serta memiliki kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi respons jamaah yang bervariasi. Melalui pembinaan ini, para muballigh PCM Moyudan diharapkan mampu tampil sebagai sosok pendakwah yang adaptif, komunikatif, dan membawa manfaat nyata di tengah kehidupan bermasyarakat. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Muhammadiyah Moyudan Gelar Pembinaan Korp Muballigh untuk Cetak Pendakwah Profesional

Sleman – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Moyudan menggelar Pembinaan Korp Muballigh di Aula SMK Muhammadiyah 1 Moyudan, Sleman pada Minggu (13/9/2026). Kegiatan ini diselenggarakan untuk mencetak pendakwah yang profesional, kontekstual, serta mampu menjawab berbagai tantangan kebutuhan masyarakat secara efektif.

Dalam sambutannya, Ketua PCM Moyudan, Abu Hanifah, menekankan pentingnya sinergisitas antar-pendakwah. Menurutnya, keberhasilan gerakan dakwah tidak hanya bertumpu pada kemampuan individu, tetapi juga pada ikatan persatuan dan ketulusan aqidah para muballigh.

“Tak kalah penting adalah antara muballigh satu dengan yang lain harus saling menguatkan dan bersinergi dalam berdakwah,” tegas Abu Hanifah.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Harjaka, menghadirkan dua materi utama. Materi Psikologi Dakwah dipaparkan oleh Ahmad Ahsan Jihadan, sementara Penguatan Ideologi Muhammadiyah disampaikan oleh Untung Cahyono.

Saat membuka acara, Harjaka mengingatkan para peserta agar bangga dengan amanah sebagai pendakwah. Ia juga menguraikan tiga karakter penting Muhammadiyah, yaitu sebagai jami’ah (wadah silaturahmi), sirkah (ruang kerja sama bermanfaat), dan harokah (gerakan amar makruf nahi munkar serta pembaharuan).

“Sehingga umat atau warga Muhammadiyah menjadi orang-orang cerdas, encere nang endas, mengedepankan ridha Allah. Karena umat cerdas akan memiliki pendirian kuat, tak mudah diombang-ambingkan keadaan,” ujar Harjaka.

Lebih lanjut, Harjaka berpesan agar muballigh mampu memahami keberagaman kondisi jamaah dengan memegang filosofi urip, urup, lan urap. Pendakwah diharapkan memiliki tujuan hidup yang jelas, memberikan kemanfaatan luas, serta menyampaikan materi dakwah yang bermakna bagi kehidupan sosial.

Melalui pembinaan ini, para peserta dibekali wawasan komprehensif agar dapat terjun langsung ke masyarakat dengan pendekatan dakwah yang arif dan relevan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)