Memasifkan Penggunaan Aksara Jawa Melalui Teknologi Digital

Ngemplak – Sebagai upaya untuk melestarikan Aksara Jawa pada generasi muda, Pemerintah Kalurahan Wedomartani menggelar Pelatihan Aksara Jawa dengan tema Sejarah, Filosofi, dan Digitalisasi Aksara Jawa yang diselenggarakan selama 2 hari yaitu, Jumat (24/9/2021) dan Sabtu (25/9/2021) di Aula TK SD Model Blotan, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Pelatihan yang terselenggara atas kerja sama Pemerintah Kalurahan Wedomartani dengan Komunitas Aksara Segajabung dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wijaya Kusuma ini diikuti oleh 28 orang Guru SD yang berada di Kalurahan Wedomartani.

Materi pelatihan disampaikan langsung oleh para praktisi Aksara Jawa, yaitu Setya Amrih Prasaja, Arief Budiarto, Joko Elysanto, dan Kingkin Winanti Nurdiana yang membahas sejarah, tata tulis, penggunaan, kesantunan, filosofi, dan digitalisasi Aksara Jawa.

Kamituwa Wedomartani, Mujiburokhman menuturkan, tujuan dilaksanakannya pelatihan ini adalah untuk melatih guru-guru sebagai agen perubahan, agar dapat memberikan wawasan dan cara pandang tentang pentingnya melestarikan Aksara Jawa pada siswanya.

“Di zaman yang serba digital ini, anak-anak mengalami berbagai gempuran teknologi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pola pikir dan tata nilai budaya di masyarakat,” ungkap Mujiburokhman.

Menurutnya, teknologi yang berkembang saat ini jutru dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan tata nilai budaya dan kemasyarakatan kepada generasi muda. “Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan mengenalkan teknologi dalam mempelajari Aksara Jawa,” imbuhnya.

Mujiburokhman mengatakan bahwa selama ini siswa di sekolah selalu menganggap pelajaran Aksara Jawa sebagai pelajaran yang sulit. Untuk itu, dengan pemanfaatan teknologi, Mujiburokhman berharap pembelajaran mengenai Aksara Jawa dapat menjadi pelajaran yang menyenangkan.

“Anak-anak dapat mempelajari Aksara Jawa dengan cara kekinian yaitu melalui digitalisasi Aksara Jawa. Hanya dengan menekan tombol keyboard di HP atau laptop, anak-anak sudah bisa berkomunikasi dengan menggunakan Aksara Jawa,” ujarnya.

Digitalisasi tersebut menurut Mujiburokhman, dapat menjadi metode yang digunakan untuk memasifkan penggunaan Aksara Jawa di masyarakat. “Sehingga tetap terjaga dan lestari keberadaannya, dan dapat menjadi tuah rumah di tanah kelahirannya,” tutup Mujiburokhman. (Hastuti Setyaningrum/KIM Lumintu Ngemplak)




Forkom UMKM Jembatani Pelaku UMKM dengan BUMDes

Geliat pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terus tumbuh di di Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman. Untuk mendukung gerak maju UMKM, saat ini telah terbentuk Forum Komunikasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Forkom UMKM) di lima kalurahan yang ada di Kapanewon Ngemplak yaitu Kalurahan Widodomartani, Kalurahan Wedomartani, Kalurahan Umbulmartani, Kalurahan Sindumartani, dan Kalurahan Bimomartani.

“Melalui forkom kalurahan ini, diharapkan bisa menjembatani pelaku UMKM dengan pemerintah setempat, terutama dalam hal verifikasi data UMKM sehingga dapat memetakan pembinaannya, agar mempunyai daya saing yang tinggi di wilayah Kapenewon Ngemplak,” ujar Panewu Ngemplak, Siti Wahyu Purwaningsih saat menghadiri workshop Penumbuhan Forum Komunikasi UMKM Tingkat Desa di Kapanewon Ngemplak di Hotel Grand Keisha, Jalan Affandi, Kabupaten Sleman, Rabu (7/4/2021).

Dilanjutkan Siti, Kapanewon Ngemplak mendukung keberadaan forum UMKM Kalurahan sebagai ujung tombak penanganan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat dari wabah Covid19 yang berkepanjangan.

Dalam workshop selama tiga hari ini, pelaku UMKM memperoleh materi tata kelola UMKM dan sinergi UMKM dengan BUMDes. Upaya menghubungkan UMKM dengan BUMDes ini dilakukan karena BUMDes mempunyai legalitas terkait pengelolaan dana bersumber dari APBDes. Hadir sebagai narasumber adalah Dewi Hadhy, konsultan BUMDes; Eko Pambudi, Direktur BUMDes Panggungharjo; dan Wahyudi Anggoro Hadi, Lurah Panggungharjo Kabupaten Bantul.

Terbentuknya forum UMKM Kalurahan diharapkan menjadi upaya untuk memberikan wadah bagi pelaku UMKM di wilayah kalurahan agar terjalin koordinasi dan komunikasi yang lebih baik. Forkom UMKM Kalurahan diharapkan menjadi muara para pelaku UMKM agar lebih maju dan mempunyai daya saing yang tinggi sehingga bisa mendukung eksistensi dan kemandirian usahanya. Diharapkan selanjutnya mereka bisa bersinergi dengan badan usaha milik kalurahan. (Nuradi/KIM Ngemplak)




Memasyarakatkan Aksara Jawa melalui Perangkat Digital

Ngemplak – Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati pada tanggal 21 Februari lalu rupanya menjadi momentum bagi Taman Baca Masyarakat (TBM) Wijaya Kusuma untuk mengadakan kegiatan pelatihan aksara Jawa dengan mengusung tema Digitalisasi Aksara Jawa di Padukuhan Karanganyar, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Minggu (14/3/2021).

Didukung Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, pelatihan ini diikuti oleh peserta yang terdiri dari masyarakat umum mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa dan pegiat literasi.

Hastuti Setyaningrum, Ketua TBM Wijaya Kusuma sekaligus penyelenggara kegiatan menyampaikan bahwa tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk mengajak masyarakat untuk mau mengenal serta melestarikannya. “Aksara Jawa tidak hanya dipandang sebagai mata pelajaran di sekolah saja namun lebih dari itu, sebagai sebuah budaya yang melekat dan dipergunkan sehari-hari dalam kehidupan di masyarakat terutama keluarga,” tuturnya.

Hastuti menambahkan bahwa selama ini aksara Jawa hanya dilihat sebagai sebuah warisan budaya saja, namun belum nampak upaya yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan dan membudayakannya lagi. “Pelatihan ini diharapkan menjadi satu cara agar aksara Jawa dapat dijaga dan tidak punah oleh peadaban modern,” lanjutnya.

Setya Amrih Prasaja, filolog dari Dinas Kebudayaan DIY yang menjadi narasumber dalam pelatihan ini juga mengatakan bahwa aksara Jawa masih dipandang sebelah mata dan belum bisa menjadi tuan rumah. “Berbeda dengan aksara Cina, Korea, dan Jepang yang sudah dikenalkan sejak dini pada generasi muda. Aksara Jawa baru dikenalkan sejak anak belajar di sekolah dasar, bahkan kurikulum sekolah juga belum bisa mengakomodir aksara Jawa maupun pendidikan budaya Jawa pada umumnya,” imbuh Amrih.

Menurut Amrih pada pelatihan ini peserta diberikan metode belajar yang praktis serta tepat guna agar dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tidak ketinggalan jaman dan bisa menjadi pelajaran yang disukai karena menyenangkan. Metode belajar yang menyenangkan dan sesuai perkembangan jaman akan membuat siapa saja yang belajar menjadi berminat untuk menyukainya. “Bukan menjadi momok pelajaran yang paling ditakuti dan dihindari,” ujarnya.

Pelatihan Aksara Jawa berbasis digital ini mempergunakan teknologi digital sebagai perangkat pembelajarannya. Materi pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan aksara Jawa, mulai dari cerita Aji Saka, periodisasi aksara Jawa, hingga paugeran aksara Jawa dari segi tata tulis.

Penyajian materi digital membahas tuntas terkait unicodisasi aksara Jawa agar bisa dipergunakan dan diaplikasikan pada komputer maupun gawai berbasis android.
Peserta dibekali sarana aplikasi software yang akan memudahkan penulisan aksara Jawa pada perangkat komputer maupun gawai. Tak kalah menariknya pelatihan ini juga memberikan cara bagaimana memanfaatkan aplikasi whatsapp menggunakan aksara Jawa. (Nuradi/KIM Ngemplak)




Tanamkan Generasi Muda Peduli Lingkungan

Sebagai tonggak sejarah yang mempersatukan beragam suku bangsa di Indonesia kala itu, maka momentum Sumpah Pemuda menjadi sangat penting untuk terus dimaknai dan dihidupkan. Begitu juga dalam merawat dan menjaga lingkungan. Semua warga lintas generasi dan lintas teritori harus bersatu, berkomitmen bergerak dalam pelestarikan alam.

Berlatar hal tersebut, para pegiat sungai yang tergabung dalam Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) bersama Karang Taruna “Parikesit” Kalurahan Wedomartani, Pramuka Saka Kalpataru Sleman, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman dan warga sekitar bantaran sungai menggelar Upacara Bendara Peringatan Sumpah Pemuda ke-92 di Jembatan Dam Sungai Kuning, Sempu, Wedomartani, Ngemplak Sleman, Rabu (28/10/2020) pagi.

Upacara bendera yang berlangsung kidmat dipimpin langsung Kepala DLH Sleman, Dwi Anta Sudibya. Sudibya menyampaikan pentingnya generasi muda untuk kian peduli kelestarian lingkungan khususnya sungai.

“Sungai-sungai kita ini kian tercemar. Bukan hanya disebabkan perilaku warga yang membuang sampah ke sungai tapi juga aturan yang mengizinkan sejumlah usaha membuang limbahnya ke sungai,” terang dia.

Sudibya menambahkan, perlunya keterlibatan masyarakat dalam ikut menjaga lingkungan. “Jika melihat ada industri atau unit usaha yang membuang limbah atau sampahnya ke sungai, segera lapor kami,” tandasnya.

Menurutnya, sejumlah titik sungai yang masih bersih, seperti di Dam Kali Kuning Sempu ini, perlu dijaga. Air yang jernih menjadikan ikan-ikan sungai hidup bebas tanpa terganggu limbah dan sampah.

“Momentum Sumpah Pemuda memberi pengingat pada kita semua, khususnya generasi muda, generasi milenial ini bersatu merawat dan melindungi sungai dari beragam polutan pengganggu,” kata dia.

Setelah upacara dilanjutkan bersih Sungai Kuning, Sempu sepanjang 800 meter dan penebaran sekitar 200 bibit ikan wader dan melem, yang merupakan ikan asli sungai. Sebagai bentuk apresiasi dilakukan potong tumpeng oleh Kepala DLH Sleman yang diserahkan kepada perwakilan pemuda karang taruna setempat.

Dalam acara sarasehan yang juga dihelat di pinggir sungai dan beralas rerumputan khas pinggir sungai, Ivan salah satu pegiat Sungai Adem, Girikerto, Turi, mengatakan, acara bincang lingkungan ini bagus apalagi digelar di pinggir sungai. “Tempat seperti ini membuat kita kian akrab dan cinta dengan lingkungan, kita jadi ingin terus lihat sungai yang bersih,” ujarnya.

Restu Wahyuni dari Karang Taruna “Parikesit”, berkeinginan menjadikan bantaran sungai yang masih asri ini sebagai “kampung karang taruna”. Hal ini berguna untuk kegiatan anak-anak muda dalam melestarikan alam.

Hadir pula dalam bincang-bincang pinggir sungai Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Krido Suprayitno. Pihaknya sangat mendukung gerakan pelestarian sungai yang dimotori anak muda generasi milenial ini.

“Kami senang dengan keterlibatan generasi milenial dalam pelestarian lingkungan. Kami akan dukung pemanfaatan lahan kas desa yang dikelola karang taruna setempat,” tegas dia.

Hal senada disampaikan pengelola Wisata Ledok Blotan, Abdullah Lubis. Pihaknya terus mengelola lingkungan pinggir di daerahnya. “Ternyata wisata pinggir sungai peminatnya banyak. Jika bisa dikelola warga khususnya anak-anak muda setempat, tentu lebih pas. Jadi tidak perlu bingung cari kerjaan ke luar kota,” ungkapnya.

Sarasehan dan bincang-bincang sungai yang dikemas santai dengan formasi duduk di alam bebas, menjadikan sejumlah persoalan lingkungan mampu terungkap lugas. Sesekali ada canda, tawa juga ajakan yang menuntut konsistensi. Demikianlah merawat dan melindungi sungai, butuh generasi yang peduli guna menjaga agar lingkungan lestari. (KIM Ngemplak/Bibit Babe)




SMPN 4 Pakem Juarai Kompetisi Cerkak

Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman mengumumkan pemenang Kompetisi Bahasa dan Sastra 2020 di Gedung Kesenian Sleman, Kabupaten Sleman, Jumat (18/9/2020). Mengambil tema “Ngleluri lan Ngrembakakake Tata Nilai Budaya Jawa ing Daerah Istimewa Yogyakarta kanggo Memayu Hayuning Bawana”, lomba ini diikuti oleh 35 peserta dari SMP/MTs se-Kabupaten Sleman baik negeri maupun swasta.

Nayahani Imara Wijaya dan Salma Nayatullah, siswa kelas 8 SMP Negeri 4 Pakem Sleman berhasil meraih penghargaan sebagai juara 1 dan juara 2 Kompetisi Bahasa dan Sastra Tahun 2020 bidang Maca Cerkak (Cerita Cekak/Cerita Pendek).

Kompetisi bahasa dan sastra ini merupakan kegiatan dalam rangka mencari peserta terbaik pada jenjang dan jenis kemampuan bahasa dan sastra Jawa yang dikuasai. Cerita yang harus dibawakan oleh peserta berjudul “Suruh” karya Suwardi Endraswara. Cerita tersebut diambil dari majalah Djoko Lodang edisi 50 tahun 2019.

Menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini tentu saja menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarga besar SMPN 4 Pakem Sleman. Menurut Ganis Samsiawarti, guru bahasa Jawa, adanya lomba ini menjadi ajang bagi siswanya untuk menggali dan mengembangkan kemampuan nonakademis khususnya di bidang seni sastra.

“Ini adalah buah kerja keras pembelajaran bahasa Jawa sebagai bahasa daerah yang dipraktikkan dalam gerakan literasi sekolah terutama seni sastra membaca Cerkak,” ujar pembimbing lomba sekaligus guru bahasa Jawa tersebut.

Sebagai Juri maca cerkak ini adalah: Titik Renggani, SE, MM., Agus Yuniawan, dan Sancoko, . Urutan pemenang Kompetisi Bahasa Dan Sastra Tahun 2020 bidang Maca Cerkak adalah sebagai berikut:
Utama Adiwara (Juara 1): Nayahani Imara Wijaya, SMPN 4 Pakem, nilai 924
Madya Adiwara (Juara 2): Salma Nayatullah, SMPN 4 Pakem, nilai 923
Pratama Adiwara(Juara 3): Niha Khairunnisa, SMPIT Ibnu Abbas, Godean, nilai 916
Magang 1(Harapan 1): Dian Wahyu Romadhan, SMPN 1 Moyudan, nilai 889
Magang 2(Harapan 2): Muhammad Aziz Nur A, SMPN 1 Minggir, nilai 882
Magang 3(Harapan3): Berliana Melia Putri, SMPN 2 Sleman, nilai 877.

Dalam Kompetisi Bahasa dan Sastra 2020 ini Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menyelenggarakan empat bidang lomba yaitu: sesorah untuk tingkat SMA/SMK/MA, maca geguritan dan maca cerkak untuk tingkat SMP/MTs, serta lomba alih aksara tingkat SD/MI. Pemenang satu hingga tiga tiap mata lomba akan mewakili Kabupaten Sleman di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. (Nuradi/KIM Ngemplak)