Siswa Sleman Wakili DIY di Lomba Bercerita Tingkat Nasional

Ngemplak – Mengenalkan sejarah serta budaya lokal ternyata menjadi lebih menarik, apik, dan atraktif ketika disajikan dengan media dongeng atau bercerita. Apalagi jika yang menjadi juru dongeng ternyata masih kategori usia anak.

Prema Eka Jati Iswara salah satunya. Siswa kelas 5 SDN Gambiranom ini adalah duta Daerah Istimewa Yogyakarta yang akan mengikuti Lomba Bercerita Bagi Siswa SD/MI Tingkat Nasional .

“Panggil aku Jati ya,” sapanya sebelum tampil mendongeng disaksikan kepala sekolah dan para gurunya di SDN Gambiranom, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (3/9/2020). Penampilan mendongeng Jati ini dalam rangka persiapan sekaligus memohon doa restu sebelum berlaga di tingkat nasional.

Tampil memukau di hadapan para gurunya, pendongeng cilik ini membawakan cerita yang berjudul Kali Konteng, kisah asal-usul terjadinya salah satu sungai yang unik di wilayah Sleman ini. Dongeng itu dibawakannya dengan menampilkan teknik bercerita yang variatif dan nuansa khas budaya anak Jogja.

Pendongeng cilik ini tampil natural dengan kelucuan dan keluguannya saat membawakan cerita. Meski demikian, Jati tetap mampu menampilkan ekspresi dan teknik bercerita untuk terbawa dalam alur cerita yang imajinatif.

“Percaya diri dan semangat untuk menampilkan yang terbaik haruslah menjadi bekal saat mengikuti lomba. Jati diharapkan dapat menjadi teladan dan memotivasi bagi teman-teman di sekolahnya,” tutur Isti Tumiasih, Kepala Sekolah SDN Gambiranom. Wanita ini menambahkan bahwa dukungan yang kompak antara pihak sekolah, orang tua dan masyarakatlah yang dapat mengantarkan prestasi seorang anak.

Saat memberikan evaluasi, Sadimin, seorang guru senior mengutarakan sangat menikmati dengan dongeng yang dituturkan oleh siswanya tersebut. Alur serta isi ceritanya dirasa benar-benar sesuai dengan keadaan Kali Konteng yang sebenarnya. “Saya merasa hanyut dalam kisah tersebut, apalagi saat adegan ikan yang berenang di sungai,” kata guru yang memang hobi memancing di sekitar Kali Konteng ini.

Jati memiliki segudang prestasi dalam kejuaraan dongeng yang pernah diikutinya. Di antaranya Juara 1 Lomba Minat Baca Tingkat SD / MI Tingkat Provinsi Tahun 2020,  Juara 1 Lomba Dongeng Festival Sastra UGM, serta Juara 3 Lomba Cerita Budaya Daerah Tingkat SD/ MI Kabupaten Sleman 2020.

“Mendongeng itu asyik dan menyenangkan karena bisa belajar dari pesan yang terkandung dalam cerita, serta dapat mengajak teman-teman untuk belajar bersama dengan cara yang menyenangkan,” kata siswa yang hobi membaca buku dan membuat program komputer (coding) ini.

Selama satu minggu ini, Jati akan berkonsentrasi dalam mengolah dan mematangkan tekhnik suara, blocking panggung, ekspresi bercerita, serta sulih suara atau pergantian karakter suara. “Keunikan serta ciri yang khas harus dimiliki oleh setiap pendongeng, tentunya disesuaikan juga dengan kemampuan dan dunia anak yang ceria, sehingga anak tetap merasa rileks, gembira, dan tidak merasa terbebani,” terang Indrawijaya sebagai pembimbing cerita Jati.

Lomba yang digelar oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) diadakan secara berjenjang serta diadakan setiap tahun. Tahun 2020 ini Kabupaten Sleman berhasil menjadi wakil DIY ke Tingkat Nasional setelah mengalahkan Kabupaten Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul dan Kota Yogyakarta.

Lomba tingkat nasional akan dihelat mulai tanggal 7 September 2020 dan dilaksanakan secara online melalui aplikasi Zoom yang diikuti oleh 34 provinsi se-Indonesia. Dengan mengangkat cerita dan budaya lokal Sleman, diharapkan bisa menjadi wahana dan sarana yang efektif dalam mensosialisasikan sejarah dan budaya lokal serta sarana promosi pariwisata yang efektif.

Lomba bercerita ini diharapkan juga dapat menumbuhkan budaya minat dan gemar membaca bagi anak-anak melalui berbagai bahan bacaan dan media. Selain itu juga menanamkan cinta budaya bangsa, membangun karakter, kecerdasan, inovasi dan daya kompetitif anak anak. (Nuradi/KIM Ngemplak)




Ngemplak Agendakan Bulan Imunisasi Anak Sekolah

Hak anak untuk sehat dan imun terhadap penyakit merupakan prioritas yang tetap harus dikedepankan meskipun dalam suasana wabah Covid-19 berlangsung.  Demikian dr Seruni Anggraini selaku Kepala Puskesmas Ngemplak 1 menegaskan dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral di Balai Desa Bimomartani, Ngemplak, Rabu (26/8/2020).

Koordinasi lintas sektoral di Kecamatan Ngemplak ini menjadi dasar dalam upaya, tetap digelarnya  penyelenggaraan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di masa pandemi Covid-19. Disampaikan Seruni, protokol kesehatan harus ditaati sekaligus menjadi panduan dalam mempertimbangkan penyelenggaraan BIAS ini.

“Harus aman untuk anak yang akan diimunisasi juga aman bagi petugas kesehatan yang melaksanakan imunisasi,” tambah Seruni.

BIAS merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang digelar oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Jenis Imunisasi yang segera akan dilaksanakan di seluruh SD/MI wilayah Kecamatan Ngemplak adalah MR (Measless Rubella), DT (Diphteria Tetanus), dan TD (Tetanus Diphteria). Sasarannya adalah siswa kelas 1, 2, dan 3. Sedangkan untuk kelas 5 dan kelas 6 dilakukan imunisasi vaksin HPV untuk pencegahan kanker serviks khususnya siswa putri.

Sementara itu, Slamer, Sekretaris Kecamatan Ngemplak menegaskan peran penting komite sekolah dalam menyampaikan informasi terkait program ini.

“Pelaksanaan program ini harus sesuai dengan prosedur sehingga benar benar aman dalam pelaksanannya,” timpal Slamet.

Slamet juga berharap sekolah bersama komite mengatur jadwal pemberian imunisasi ini sehingga kebutuhan anak dapat terpenuhi. “Apa saja harus dilakukan pihak sekolah, juga dilakukan petugas kesehatan serta masyarakat, yang intinya meminimalisir agar nantinya tidak terjadi kluster baru di wilayah Kecamatan Ngemplak,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama Tri Yuli Setyowati selaku Kepala UPT Ngemplak menyampaikan perlunya persetujuan orang tua sebagai salah satu prosedur yang dijadikan landasan peraturan oleh Dinas Pendidikan Sleman.

“Jadwal kegiatan imunisasi secara pasti masih menunggu surat resmi dari Dinas Pendidikan yang segera akan disampaikan,” imbuh Tri.

Puskesmas Ngemplak 1 dan 2 nantinya akan melakukan screening peserta imunisasi. Dalam pelaksanaannya, faktor keamanan menjadi perhatian dan pertimbangan utamanya.

Formulir screening menjadi salah satu instrumen pengaman dalam pelaksanaan program BIAS. Pengisian formulir dapat dilakukan secara online dan offline. Khusus untuk pengambilan dan pengembalian formulir secara offline dilakukan secara bertahap agar tidak terjadi kerumunan yang berisiko. Bahkan saat pelaksanaan imunisasi nanti akan dilakukan observasi dan evaluasi dalam screening awal dan screening saat pelaksanaan imunisasi.

Mengakhiri pertemuan tersebut, dr Seruni menegaskan Kembali bahwa pelaksanaan imunisasi di sekolah nantinya akan dibantu oleh tim dekontaminasi baik dari petugas puskesmas, kecamatan, maupun satgas dari desa yang bertugas membantu sterilisasi ruang sebelum dan pasca kegiatan. (Nuradi/KIM Ngemplak)




Sinergi Perguruan Tinggi dengan BUMDes Kembangkan UMKM

Dr. Nanik Dara S, Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta menyatakan pentingnya kerjasama yang dilakukan antara UMKM, BUMDes dan perguruan tinggi.

“Saat ini universitas memiliki kurikulum “Merdeka Belajar” yang sangat memungkinkan pihak kampus terutama mahasiswa agar berpartisipasi aktif, bersinergi mendampingi masyarakat pelaku UMKM bidang agribisnis,” ujar Nanik saat pertemuan antara unsur pengurus Forkom UMKM, pelaku UMKM, BUMDes dan tokoh masyarakat di Pendopo Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Selasa (25/8/2020).

Pemerintah Kecamatan Ngemplak bersama Forum Komunikasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Forkom UMKM) Ngemplak menggagas kerjasama dengan pihak kampus UPN Fakultas Pertanian dalam rangka membangun sinergitas kampus, BUMDes dan UMKM di wilayah kecamatan Ngemplak.

Pertemuan ini sebagai pembinaan terhadap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terus diupayakan di tengah wabah Covid-19 yang sangat memukul pada sektor ekonomi dan dunia usaha.

Potensi industri kecil skala rumah tangga diakui sebagai modal utama pengembangan usaha mikro. Ini dapat mendukung proyeksi industrialisasi pedesaan melalui BUMDes untuk mewadahi permasalahan perekonomian di desa.

“Pendampingan yang dilakukan pihak kampus benar-benar akan fokus pada permasalahan yang ada, terutama yang menyangkut permasalahan perijinan serta prasyarat teknis pengujian sampai pada pengemasan produk, kami siap membantu,” Nanik menambahkan.

Kecamatan Ngemplak saat ini telah memiliki BUMDes di wilayahnya. Namun memang belum semuanya terbentuk, oleh sebab itu dengan adanya kerjasama dengan pihak kampus diharapkan semua desa memiliki BUMDes. Tidak berhenti hanya memiliki saja, namun harus baik dalam tata kelolanya sehingga dapat merangsang tumbuhnya UMKM sebagai mitra kerjanya yang kemudian akan menyerap tenaga kerja yang dibutuhkan masyarakat.

Selanjutnya kampus juga dapat menjadi mentor bagi BUMDes dan UMKM dalam pengembangannya. “Nota kerjasama (MOU) antara pihak kampus dengan UMKM dan BUMDes di Ngemplak akan segera direalisasikan,” pungkas Nanik.

Sri Wahyuni Budiningsih, Kepala Seksi Pengembangan Usaha Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman menyampaikan pentingnya penguatan kelembagaan forum komunikasi UMKM. Menurutnya, potensi UMKM sangatlah banyak.

Data terbaru yang ada di Dinas Koperasi dan UMKM Sleman tercatat ada sekitar UMKM. Hal inilah yang mendasari pentingnya peranan Forkom UMKM tersebut. Bagaimana forum ini dapat sebagai wadah dan jalur komunikasi dari berbagi UMKM yang membutuhkan koordinasi dan akses informasi yang memadai.

Seperti diketahui bahwa saat ini pemerintah sedang gencar melaksanakan bantuan bagi pelaku usaha mikro (BPUM) sebagai penguat ketahanan ekonomi. Bagaimana menindaklanjuti program pemerintah tersebut, bagaimana memenuhi prasyaratnya seperti membuat ijin usaha mikro kecil (IUMK), atau bagaimana melaksanakan pembuatan ijin usaha secara online one single submission(OSS), semua informasi ini diharapkan dapat disampaikan dan didampingi oleh Forkom UMKM. Banyak informasi serta kemudahan yang dapat diakses UMKM. Oleh sebab itu keberadaan Forkom UMKM menjadi vital peranannya.

“Potensi UMKM luar biasa di Sleman bahkan pada situasi pandemi ini. Kejelian pengurus Forkom sangat penting dalam pendampingan membuka wawasan dalam mengembangkan usaha mulai dari hulu sampai hilir,” ujar Sri Wahyuni.

Forkom menjadi rumah, dan mewadahi semua pelaku UMKM sehingga dapat bersinergi untuk saling mendukung dan menguatkan.

Sri Wahyuni memandang, penguatan kelembagaan Forkom UMKM Kecamatan Ngemplak haruslah berbentuk koperasi. Dengan koperasi, banyak akses yang bisa diambil sehingga benar-benar menjadi payung bagi rekan-rekan UMKM di wilayah Ngemplak untuk mengembangkan usaha ekonomi yang lebih mumpuni.

“Sebagai Forum Komunikasi UMKM yang pertama dikukuhkan keberadaannya di Kabupaten Sleman, Forkom UMKM kecamatan Ngemplak telah siap dan memenuhi kriteria untuk naik kelas. Selanjutnya kelembagaan agar diperkuat dalam bentuk koperasi. Banyak akses yang bisa diambil kesempatannya dengan bentuk koperasi tersebut,” kata Sri Wahyuni.

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan secara simbolis SK perubahan susunan personalia pengurus FORKOM UMKM Ngemplak periode 2019 – 2024. (Nuradi – KIM Ngemplak)




Literasi Petani Muda yang Hasilkan Inovasi Pertanian

Pandemi Covid 19 tidak menyurutkan kerja keras, bahkan menjadi penyemangat sekelompok petani muda Dusun Sambirejo, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Hasilnya, Kelompok Tani Muda Putra Mandiri Sejahtera, demikian mereka menamakannya, melaksanakan panen raya perdana bawang merah, Jumat (10/07/2020), tepat sesuai perencanaan sekitar 70 hari panen sejak dimulai penanaman pada 4 Mei lalu.

Kepala Desa Selomartani, Nur Widayati, dalam sambutannya menyampaikan optimisme bahwa potensi pertanian bawang merah terbukti dapat dikembangkan di desanya terutama oleh petani muda milenial yang berani mencoba varian baru selain padi dan cabai yang selama ini ditanam.

“Saya berharap dengan kemandirian bertanam bawang merah ini dapat memberi teladan sebagai demplot panutan kepada para petani yang ada di desanya. Sinergi hendaknya terus dilakukan antara kelompok tani dengan dinas terkait dalam hal kemitraan pendampingan serta kerjasama, baik berupa pengadaan bibit, perawatan, serta penjualan sehingga diperoleh hasil yang maksimal dan harga yang memuaskan saat musim panen,” imbuh Nur Widayati.

Sementara itu Heru Saptono, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman dalam kesempatan yang sama mengatakan atas nama Pemerintah Kabupaten Sleman menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat kelompok tani yang telah berhasil dalam mengembangkan pertanian bawang merah. “Kita harus yakin bahwa bawang merah ini dapat menjadi salah satu komoditi utama dari Kabupaten Sleman,” ujar Heru.

Heru berharap acara panen dapat memicu semangat dan menginspirasi warga masyarakat yang lain. Edukasi harus dilakukan agar tepat menyiasati keadaan sehingga diperoleh nilai ekonomi yang tinggi, “Jangan sampai panen di harga yang sedang rendah,” tambah Heru.

Sri Mulyadi, Ketua Kelompok Tani Muda Putra Mandiri Sejahtera menyatakan bertani itu tidak hanya sekadar melaksanakan pola turun menurun namun harus melek ilmu sehingga dapat meraih kesuksesan. Caranya dengan mengkaji dan mendapatkan pengetahuan dari sejumlah koleksi buku di Taman Bacaan Omah Edutani yang juga didirikannya. “Literasi sains menjadi dasar dalam kelompok tani untuk memperkuat pengetahuan terapan pertanian terutama pertanian yang ramah lingkungan,” terangnya.

Sri Mulyadi menyampaikan bahwa bawang merah yang ditanamnya ini merupakan terobosan dalam upaya edukasi kepada masyarakat desa agar mau dan mampu melihat peluang pasar agar ekonomi petani menjadi lebih baik. Ia pun memberi contoh demplot seluas 800 m2 yang mereka kelola dapat menghasilkan 1 ton 120 kg bawang merah.

Harapan kelompok tani yang beranggotakan 20 orang petani muda ini adalah terus melakukan inovasi. Gagasan berani dalam diskusi-diskusi dan kajian pertanian yang sering dilakukan telah membuahkan hasil, bahkan saat ini mereka mulai mengembangkan agro wisata yang akan dijadikan salah satu ikon.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman melakukan pemanenan bawang merah secara simbolis di demplot. Turut hadir dalam acara panen tersebut, perwakilan Camat dan unsur muspika kecamatan, Kepala UPT BP IV wilayah Prambanan dan Tim, Ketua FTBM DIY, Ketua GPMB Sleman dan Ketua Gapoktan Selomakmur. (Nuradi-KIM Ngemplak)




Hadapi Pandemi, Masyarakat Harus Patuhi Anjuran Pemerintah

Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabu Kusuma perwakilan PMI DIY
mengatakan bahwa untuk menghadapi pandemi ini masyarakat harus menjalankan
anjuran pemerintah, termasuk penggunaan tempat ibadah. Ditambahkan Gusti Prabu,
PMI sendiri sudah bekerja keras dalam menangani penyebaran Covid-19 mulai dari
pembagian tim di antaranya tim ambulan, tim pemakaman, tim rapid test, dan
sebagainya. Hal ini disampaikannya saat kegiatan kunjungan PMI Indonesia
bersama dengan PMI DIY ke Dusun Tegalsari, Wedomartani, Ngemplak pada Minggu
(30/5/2020).

Sementara itu di kesempatan yang sama Camat Ngemplak, Siti Wahyu Purwaningsih membeberkan
terkait kasus PDP di wilayah Ngemplak.

“Dari sekian warga yang positif saat ini sudah dinyatakan
negatif dan tinggal satu orang yang masih dirawat,” bebernya.

Kegiatan kunjungan juga diisi dengan pemberian bantuan dari PMI DIY pun pengadaan rapid test gratis yang bekerja sama dengan Puskesmas Ngemplak. Karang Taruna Parikesit Desa Wedomartani juga tak mau ketinggalan, memberikan bantuan berupa masker untuk warga Dusun Tegalsari. (Bibit ‘babe’ Widayoko/KIM Ngemplak)