Marka Jalan Anggajaya 2 Rampung, Tingkatkan Keselamatan Pengguna Jalan

Sleman –  Pekerjaan pembuatan marka Jalan Anggajaya 2 di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, rampung pada Kamis (29/10/2026) sekitar pukul WIB. Pekerjaan yang sempat tertunda akibat hujan pada Rabu (28/10/2026) tersebut kini melengkapi peningkatan infrastruktur jalan yang menghubungkan kawasan Gejayan, Sanggrahan, dan Manukan.

Pelaksana lapangan CV Atmo Putro, Hariyanto menjelaskan bahwa kondisi permukaan aspal harus benar-benar kering agar material marka termoplastik dapat melekat dengan baik. Setelah gerimis sempat reda, petugas menggunakan alat pengering jalan (road dryer) sebelum melanjutkan pekerjaan.

“Kalau permukaan aspal masih basah, bahan marka termoplastik tidak bisa menempel dengan baik. Jika dipaksakan, garis marka bisa cepat mengelupas akibat gesekan ban kendaraan yang melintas. Karena itu, permukaan jalan harus benar-benar kering,” jelas Hariyanto.

Pada Kamis pagi, petugas melanjutkan pekerjaan dengan menyelesaikan marka chevron dan zebra cross. Marka chevron berfungsi memperjelas pemisahan arus kendaraan di area pertigaan agar pengendara tidak sembarangan memotong jalur ketika berbelok.

“Marka chevron dibuat untuk memperjelas pemisahan jalur kendaraan di pertigaan agar pengendara tidak langsung memotong jalur ketika berbelok. Sementara itu, zebra cross di depan Kantor Kalurahan Condongcatur disiapkan sebagai fasilitas penyeberangan bagi masyarakat yang mengakses pelayanan pemerintahan,” jelas Hariyanto.

Keberadaan zebra cross di depan Kantor Kalurahan Condongcatur diharapkan memberikan titik penyeberangan yang jelas bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kewaspadaan pengendara. Pengguna jalan diimbau mengurangi kecepatan dan memberikan prioritas kepada pejalan kaki yang menyeberang.

Peningkatan Jalan Anggajaya 2 merupakan bagian dari program pembangunan infrastruktur Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP). Sebelum pengaspalan, pekerjaan telah melalui tahapan normalisasi saluran drainase sepanjang sekitar 300 meter dan pengecoran bahu jalan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur, Budi Arto, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sleman atas terealisasinya peningkatan jalan yang selama ini menjadi salah satu aspirasi masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sleman atas terealisasinya peningkatan Jalan Anggajaya 2. Dengan kondisi jalan yang kini lebih mulus dan dilengkapi marka, kami berharap akses masyarakat semakin lancar, keselamatan pengguna jalan meningkat, serta aktivitas sosial dan perekonomian warga semakin terbantu,” ujarnya.

Budi juga berharap perbaikan infrastruktur dapat dilanjutkan pada ruas jalan kabupaten lainnya yang mengalami kerusakan dan telah diusulkan masyarakat.

“Kami berharap aspirasi masyarakat terkait perbaikan jalan kabupaten lainnya juga dapat direalisasikan secara bertahap. Kepada masyarakat, kami mengajak untuk bersama-sama menjaga dan merawat jalan yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tambahnya. (Wasana/KIM Depok)




PSM Tempel Didorong Tingkatkan Kepekaan terhadap Persoalan Sosial Masyarakat

Sleman — Kepedulian sosial tidak cukup berhenti pada rasa iba. Kepedulian perlu diwujudkan melalui kehadiran, pendampingan, dan tindakan nyata bagi warga yang membutuhkan. Di tengah masyarakat, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) memegang peran penting untuk memastikan persoalan sosial mendapat perhatian dan penanganan yang tepat.

Semangat pengabdian tersebut menjadi penekanan dalam pertemuan PSM Kapanewon Tempel yang berlangsung di Kopi Krasak, Lumbungrejo, Tempel, Kabupaten Sleman, Kamis (29/10/2026). Kegiatan ini dihadiri Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, didampingi Kepala Jawatan Sosial dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kapanewon Tempel.

Dalam pertemuan tersebut, Rasyid menegaskan kembali pentingnya memahami ke-PSM-an sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar identitas organisasi. PSM diharapkan terus menjaga semangat sukarela dan meningkatkan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Ke-PSM-an bukan sekadar organisasi atau kegiatan sosial, tetapi merupakan wujud nyata kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat. Pekerja Sosial Masyarakat harus terus menjaga semangat sukarela, kepekaan terhadap persoalan sosial, serta kesediaan hadir membantu warga yang membutuhkan,” tuturnya.

“Saya berharap PSM semakin solid, memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan TKSK, serta menjadi bagian penting dalam membangun kesejahteraan sosial di tengah masyarakat. Pengabdian ini membutuhkan ketulusan, komitmen, dan semangat gotong royong agar tidak ada warga yang merasa sendiri ketika menghadapi kesulitan,” tegas Rasyid.

Ia berharap anggota PSM di Kapanewon Tempel terus meningkatkan kemampuan dalam mengenali persoalan sosial, melakukan pendataan dan pelaporan, serta mendampingi warga yang membutuhkan bantuan. Kepekaan dan ketepatan informasi menjadi bagian penting agar persoalan yang ditemukan di masyarakat dapat ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

“Saya berharap kinerja PSM di Kapanewon Tempel terus ditingkatkan, terutama dalam kepekaan mengenali persoalan sosial, melakukan pendataan dan pelaporan, serta mendampingi warga yang membutuhkan bantuan. PSM harus mampu menjadi mata dan telinga di tengah masyarakat, sehingga persoalan sosial dapat diketahui lebih awal dan diteruskan kepada pihak yang berwenang untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada anggota PSM yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu masyarakat. Menurutnya, semangat sukarela tersebut perlu dipertahankan sekaligus diperkuat dengan peningkatan kapasitas dan koordinasi lintas unsur.

“Saya mengapresiasi pengabdian para anggota PSM yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk masyarakat. Semoga semangat sukarela dan gotong royong ini terus terjaga, disertai peningkatan kapasitas serta koordinasi dengan TKSK, pemerintah kapanewon, dan Dinas Sosial. Dengan kerja sama yang baik, pelayanan sosial diharapkan semakin tepat sasaran dan warga yang membutuhkan tidak terabaikan,” tuturnya. (SBD/KIM TEMPEL)




Geliat Pengrajin Genteng Kwagon di Tengah Peningkatan Program Bedah Rumah

Sleman – Gemuruh tiga mesin diesel terdengar bersahutan di pelataran rumah Slamet, produsen genteng tanah liat sekaligus warga Dusun Kwagon, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Kamis (29/10/2026). Di atas pelataran tanah, tumpukan lempung yang semula tertutup terpal plastik mulai disiapkan untuk diolah menjadi genteng tanah liat.

Aktivitas tersebut menjadi gambaran kembali bergeliatnya industri rumahan genteng di kawasan Kwagon. Setelah beberapa tahun menghadapi lesunya pasar genteng tanah liat yang berdampak pada penurunan produksi, para pengrajin kini mulai merasakan peningkatan permintaan.

Berkembangnya industri perumahan serta kebijakan pemerintah yang meningkatkan target program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) atau bedah rumah turut memberikan dampak positif bagi industri genteng lokal. Dengan mengandalkan bahan baku dan tenaga kerja setempat, para pengrajin perlahan kembali menggerakkan usaha yang telah menjadi tradisi turun-temurun tersebut.

Meski demikian, peningkatan permintaan bukan berarti tanpa tantangan. Salah satu kendala yang dihadapi pengrajin adalah kualitas bahan baku tanah liat yang tidak lagi sebaik dahulu.

“Lempungnya (tanah liatnya) sekarang tidak sebagus dulu,” kata Slamet, yang mengambil bahan baku lempung dari Gunung Kwagon.

Kondisi tersebut membuat proses pengolahan membutuhkan perlakuan khusus, terutama pada tahap penggilingan. Jika sebelumnya cukup menggunakan dua mesin penggiling, kini Slamet harus mengoperasikan tiga mesin sekaligus agar campuran tanah lebih sempurna.

“Dulu cukup dua mesin giling, sekarang harus tiga mesin,” lanjutnya.

Penambahan mesin tersebut bertujuan menghasilkan adonan tanah yang lebih liat dan mudah dibentuk, sekaligus mempercepat proses pengeringan agar genteng tidak mudah retak maupun pecah.

Pengrajin yang telah menjalankan usaha selama lebih dari 30 tahun ini melibatkan sedikitnya 12 pekerja dalam proses produksi. Mereka bertugas mulai dari penggilingan bahan baku, pencetakan, pengeringan, hingga penyelesaian akhir (finishing).

“Setiap proses giling ini menghasilkan sekitar genteng,” katanya sambil menunjuk tobong pembakaran yang telah terisi genteng-genteng siap dibakar.

Bagi Slamet, memproduksi genteng tanah liat bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Lebih dari itu, usaha tersebut menjadi bagian dari merawat tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun di Dusun Kwagon.

Ia mengakui, beberapa waktu lalu pesanan genteng sempat mengalami penurunan drastis. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga dan pekerja beralih profesi. Situasi semakin sulit karena harga jual genteng cenderung stagnan, sementara biaya bahan baku terus meningkat.

Hal senada disampaikan Atun, salah seorang pekerja bagian finishing genteng. Ia mengaku mulai merasakan adanya peningkatan penjualan dibandingkan periode sebelumnya.

“Iya sekarang penjualannya agak meningkat,” ujarnya.

Di sisi lain, keberadaan merek GODEAN SMS 01 yang tertera pada genteng produksi setempat juga memiliki cerita tersendiri. Menurut Atun, pencantuman kode tersebut berawal dari adanya kebingungan dalam membedakan produk genteng lokal dengan genteng sejenis yang didatangkan dari luar daerah dan menggunakan merek hampir serupa.

“Lalu muncullah kesepakatan merek dengan kode angka di belakangnya ini. Untuk genteng produksi Kwagon, dengan kode 01,” ungkapnya.

Kode angka tersebut kemudian digunakan sebagai penanda asal produksi genteng. Dengan demikian, produk dari masing-masing wilayah pengrajin dapat dibedakan, meskipun hingga kini masih ada pengrajin yang menggunakan merek lama.

Di balik kembali menggeliatnya aktivitas produksi, para pengrajin masih menyimpan kekhawatiran mengenai keberlanjutan ketersediaan bahan baku. Ketergantungan terhadap lempung dari Gunung Kwagon menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian agar industri genteng tradisional ini tetap bertahan.

“Saat ini kami masih bisa memenuhi walau dengan bahan baku yang ada. Bagaimana jika Gunung Kwagon besok sudah habis?” tanya Slamet. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)




Mahasiswa Ners UGM Perkuat Kesadaran Kesehatan Warga Kronggahan II

Sleman – Pengabdian mahasiswa stase Ners Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) di Padukuhan Kronggahan II, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (28/10/2026) malam, menjadi langkah strategis untuk memperkuat kesadaran warga dalam mencegah penyakit dan menjaga kesehatan keluarga.

Melalui pendekatan keperawatan berbasis komunitas, kegiatan ini menegaskan pentingnya edukasi dan pemberdayaan masyarakat sebagai fondasi peningkatan derajat kesehatan, bukan sekadar mengandalkan pengobatan ketika penyakit telah muncul.

Menurut Dukuh Kronggahan II, Anto Sudadi, kehadiran mahasiswa stase Ners di wilayahnya membuka ruang interaksi antara calon tenaga profesional kesehatan dengan warga. Melalui komunikasi dan pendekatan partisipatif, mahasiswa dapat memahami persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat, sekaligus menumbuhkan kepedulian warga terhadap upaya menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan.

“Mahasiswa berkesempatan mengembangkan keterampilan komunikasi, pengkajian kebutuhan kesehatan komunitas, edukasi kesehatan, serta kerja sama dengan berbagai unsur masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan membentuk tenaga keperawatan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial,” terangnya.

Sementara itu, bagi masyarakat, kegiatan semacam ini berpotensi memperluas akses terhadap informasi kesehatan yang benar dan mudah dipahami. Edukasi yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan sesuai kebutuhan warga dapat membantu mengurangi kesalahpahaman mengenai kesehatan, mendorong perilaku hidup sehat, serta meningkatkan kesadaran untuk mencari pertolongan tenaga kesehatan ketika muncul gejala penyakit.

Keberhasilan pengabdian masyarakat tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari keberlanjutan pengetahuan dan perilaku sehat setelah mahasiswa menyelesaikan praktiknya. Karena itu, keterlibatan tokoh masyarakat, pengurus padukuhan, kader kesehatan, dan keluarga menjadi faktor penting agar pesan kesehatan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui kegiatan yang berkesinambungan, kebutuhan kesehatan warga dapat dikenali lebih baik, sementara hasil pembelajaran mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai mitra aktif dalam upaya peningkatan derajat kesehatan,” sambung Anto. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Gebyar PAUD Tempel, Tanamkan Karakter Pemimpin Sejak Usia Dini

Sleman — Pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berkarakter, mandiri, kreatif, dan percaya diri. Melalui pendidikan, keteladanan, serta pendampingan yang tepat, potensi anak dapat dikembangkan sebagai bekal menghadapi masa depan.

Hal tersebut mengemuka dalam Gebyar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kapanewon Tempel di Kalurahan Pondokrejo, Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Panewu Tempel, Bunda PAUD Kapanewon Tempel dan kalurahan se-Kapanewon Tempel, Ketua Dewan Pimpinan Ranting Perkumpulan Penyelenggara PAUD (DPR PP PAUD) Kapanewon Tempel, perwakilan BPKal Pondokrejo, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.

Mengusung tema “Bersama PAUD, Wujudkan Anak Hebat untuk Indonesia Kuat”, kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong tumbuh kembang anak sekaligus menyiapkan generasi berkualitas.

Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Wahyudi Kurniawan menyampaikan bahwa Gebyar PAUD bukan sekadar ajang bagi anak-anak untuk tampil, tetapi juga menjadi sarana melatih keberanian, kreativitas, inovasi, kemandirian, dan kepercayaan diri.

“Membersamai anak-anak dalam Gebyar PAUD HIMPAUDI Kapanewon Tempel bukan sekadar memberikan ruang untuk tampil, tetapi juga menanamkan keberanian, kreativitas, inovasi, kemandirian, dan kepercayaan diri sejak dini,” ujar Wahyudi.

Menurutnya, anak-anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berekspresi, mencoba hal baru, dan mengembangkan potensi sesuai tahap pertumbuhannya.

“Anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan. Mereka perlu didampingi, diberi kesempatan untuk berekspresi, berani mencoba hal baru, serta tumbuh dalam lingkungan yang mendukung potensi dan karakter mereka,” katanya.

Ia menambahkan, investasi pendidikan sejak dini merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga perlu diimbangi dengan pembentukan generasi yang berpengetahuan dan berkarakter.

“Investasi terbaik bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi menyiapkan sumber daya manusia yang berilmu, berkualitas, berintegritas, berkarakter, dan beradab,” tutur Wahyudi.

Pembentukan karakter tersebut membutuhkan sinergi antara keluarga, satuan PAUD, pemerintah, dan masyarakat. Keluarga menjadi lingkungan pertama dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian, sementara satuan PAUD memberikan ruang bagi anak untuk belajar berinteraksi, bekerja sama, dan mengembangkan potensi.

Wahyudi mengingatkan bahwa menyiapkan generasi masa depan membutuhkan proses panjang melalui pendidikan dan pendampingan yang berkelanjutan.

“Sebab, masa depan yang hebat tidak hadir dengan sendirinya. Ia dibangun sejak dini melalui pendidikan, keteladanan, kasih sayang, dan komitmen bersama,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung tumbuh kembang anak.

“Mari terus membersamai tumbuh kembang anak-anak kita, karena dari merekalah masa depan bangsa dan daerah ini akan ditentukan,” kata Wahyudi. (SBD/KIM TEMPEL)